Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Trauma Aquilla bangkit dalam semalam
Jam 17.45. Langit mulai gelap dan lampu jalanan belum sepenuhnya menyala.
Aquilla duduk sendirian di bangku beton depan Supermarket Mitra Segar. Ia menatap jalanan dengan cemas. Sudah lebih dari satu jam ia menunggu, tapi Ducati milik Altair belum juga muncul. Ponselnya sepi tak ada pesan maupun panggilan.
Karena hari makin malam dan jalanan mulai sepi, Aquilla memutuskan untuk pulang sendiri. Rumahnya tak jauh, hanya 15 menit jalan kaki melewati Gang Melati.
Ia memeluk tas selempangnya erat-erat dan mempercepat langkah. Namun, di tengah gang yang remang-remang, tiga pria berpenampilan kumal tiba-tiba menghadang jalannya.
"Malam, Neng. Cantik-cantik jalan sendirian, mau ditemenin bang?" goda salah satu dari mereka yang berambut gondrong dan berbau alkohol.
"Permisi, saya mau lewat," tolak Aquilla sambil mundur.
Si gondrong malah makin mendekat dan mencoba menyentuh lengannya. Detik itu juga, ingatan buruk masa lalu Aquilla mendadak bangkit. Trauma kejadian empat tahun lalu saat seseorang hampir melecehkannya menghantam kepalanya seketika.
"JANGAN! JANGAN TOUCH GUE!" teriak Aquilla histeris. Ia berjongkok, menutup telinganya rapat-rapat, dan menangis ketakutan.
Ketiga preman itu kebingungan. Namun, saat si gondrong hendak menyentuh bahunya lagi...
Brak!
Sebuah tendangan keras mendarat tepat di dada si gondrong hingga ia tersungkur.
Lima anggota geng motor kenalan Altair muncul. Mereka memang ditugaskan Altair untuk menjaga Aquilla dari jauh. Tanpa basa-basi, mereka langsung merobohkan ketiga preman tersebut hingga tak berkutik.
Setelah situasi aman, salah satu anak geng mendekati Aquilla pelan-pelan. "Mbak Aquilla, tenang... udah aman kok."
Namun Aquilla yang masih trauma makin panik. "JANGAN DEKET-DEKET! JANGAN SENTUH GUE!"
Sadar kondisi Aquilla tidak stabil, Dika, salah satu anak geng langsung menelepon Altair. "Bang Al, Mbak Aquilla histeris trauma gara-gara dihadang preman. Dia gak mau dideketin siapa pun!"
***
Tak sampai 15 menit, suara raungan mesin Ducati terdengar membelah gang. Altair melompat turun dari motornya dan langsung berlari menghampiri Aquilla. Ia tidak pernah melihat Aquilla serapuh ini. Terakhir ia melihatnya saat gadis ini tahu dirinya bukan anak kandung Daniel. Tapi tidak separah ini.
Melihat ada sosok tinggi mendekat, Aquilla melemparkan kardus kosong di dekatnya. "PERGI! JANGAN DEKET-DEKET!"
Altair berhenti tepat dua langkah di depannya. Matanya menatap Aquilla penuh rasa bersalah dan khawatir.
"Illa... ini gue, Al," bisik Altair lembut. Ia ikut berjongkok, memberi jarak agar istrinya tak merasa terancam. "Gue nggak bakal sentuh lo kalau lo nggak mau. Tapi gue di sini, lo aman."
Altair terus memanggil namanya dengan nada tenang. Perlahan tapi pasti, napas Aquilla mulai teratur. Isak tangisnya melambat.
"Boleh gue pegang tangan lo?" tanya Altair pelan sambil mengulurkan tangannya.
Dengan tubuh yang masih gemetar, Aquilla meraba dan memegang jemari Altair. Tanpa menunggu lama, Altair langsung menariknya ke dalam pelukan hangat.
"Udah... nggak apa-apa. Ada gue di sini, nggak akan ada yang bisa nyakitin lo lagi," bisik Altair sambil mengelus lembut rambutnya.
Aquilla akhirnya tumpah dalam tangisan di dada Altair. "Kenapa... kenapa lo lama banget..."
"Maaf, salah gue," jawab Altair penuh penyesalan. Ia mengusap punggung istrinya tenang.
Rupanya, Altair keasyikan mengobrol di bengkel hingga lupa waktu. Rasa bersalah menghantam dadanya melihat keadaan Aquilla. Seharusnya ia ingat, istrinya ini bukan hanya manja tapi penakut juga. Ia sudah dia kali membuat Aquilla ketakutan karena ulahnya meninggalkannya sendirian.
"Gue minta maaf ya, Illa. Gue janji ini nggak akan terulang lagi. Lo prioritas gue sekarang," tegas Altair tulus. Ia menangkup wajah Aquilla dan mengecup pucuk kepalanya lama.
Aquilla perlahan luluh. Ia membalas pelukan Altair erat-erat. "Jangan tinggalin gue lagi..."
"Nggak akan," janji Altair.
Setelah membereskan urusan dengan para preman lewat anak buahnya, Altair langsung menggendong Aquilla ke motor. Ia mengendarai Ducati-nya sangat pelan, menyusuri jalanan malam sembari sesekali menggenggam tangan Aquilla yang melingkar di pinggangnya.
Aquilla menyandarkan kepalanya di punggung tegap Altair, merenung dalam hati. "Dia cowok jahat, Al. Dia pernah hampir melecehkan gue... Kalau suatu saat gue ketemu dia lagi, lo bakal terus lindungi gue kan, Al?"