Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Pingsan mendadak
Senja berganti malam dengan cepat. Lampu jalan depan rumah Altair yang tadinya redup kini kalah terang oleh tawa dan lampu gantung portable yang digantung di dahan pohon mangga. Halaman rumah sederhana itu yang sore tadi masih lengang untuk latihan bela diri, kini penuh sesak.
Anak-anak geng motor Black Hounds berdatangan. Satu per satu. Berkelompok. Mereka membawa kantong plastik hitam, styrofoam, dan arang. Alasannya klasik: barbeque malam-malam dengan ketua lama mereka, Altair.
Aquilla sampai terkejut. Matanya melebar. Ia dan Kinara baru saja selesai masak. Rencana awalnya sederhana. Makan malam berempat. Aquilla, Kinara, Steve, dan Altair. Duduk di tikar, makan hasil masakan mereka.
Sekarang rencananya hancur.
Ia menatap segerombolan anak laki-laki yang sudah menguasai halaman rumahnya. Ada yang duduk di motor, ada yang gelar tikar, ada yang sibuk kipas-kipas arang. Bau asap dan saus barbeque bercampur.
Aquilla sedikit risih. Lebih dari itu, ia malu. Ia ingat malam kemarin. Ia menjadi gadis ketakutan yang hanya bisa memeluk lengan Altair sambil terisak. Sekarang ia harus menghadapi puluhan pasang mata yang mengenal Altair jauh lebih lama darinya.
"Ketua!" teriak salah satu anak Hounds. Ia melempar bungkus sate ke arah Altair.
Altair menangkapnya. Ia hanya mengangguk. Tidak banyak senyum.
Mereka duduk berkumpul melingkar beralaskan tikar besar milik salah satu anggota.
Aquilla hanya duduk diam di samping Altair. Ia mengambil piring kertas, mengisi dengan ayam bakar dan jagung. Makan pelan. Matanya menunduk.
Berbeda dengan Kinara. Kinara justru lebih akrab. Ia sudah berbagi tawa dengan dua anggota Hounds yang ia kenal sejak SMA. Ia mengambil sate, menawari, bercanda.
Suaminya, Altair, juga sibuk berbincang dengan Steve di sisi tikar. Nada suara mereka rendah. Serius. Membicarakan hal-hal yang enggak ia pahami. Aquilla tidak mengambil pusing. Memang ia orang baru dalam lingkaran mereka.
Dia pikir bisa mengurangi kecanggungan di antara mereka dengan sebab ada Ryan, karena hanya Ryan yang berani mengajaknya bicara. Tapi, cowok itu atau adik angkatnya itu tidak terlihat batang hidungnya. Mungkin saja cowok itu sedang ada acara penting dengan keluarganya.
Ia memilih fokus pada piringnya. Ia menggigit potongan ayam barbeque. Terlalu besar. Terlalu cepat.
Tiba-tiba ia tersedak.
"Kekh..."
Tangan kirinya masih memegang tusuk barbeque. Wajahnya langsung merah. Ia memegang lehernya. Batuk. Kencang. Air matanya keluar.
"Batuk! Batuk!"
Suasana yang tadinya riuh langsung pecah.
Altair yang mendengar itu langsung panik. Wajah datarnya berubah. Ia menoleh cepat. Tanpa pikir, ia mengusap punggung Aquilla dengan telapak tangannya yang kasar.
"Pelan-pelan," bisik Altair. Ia meraih gelas air mineral di sampingnya. "Minum."
Ia menyodorkan gelas itu ke bibir Aquilla. Dengan cepat Aquilla meneguknya. Air dingin itu membuat tenggorokannya lega, tapi batuknya masih tersisa.
"Bodoh," omel Altair. Tapi tangannya tetap di punggung Aquilla. Mengusap naik turun. "Makan pelan-pelan. Nggak ada yang rebutan."
Aquilla tidak membalas. Ia sibuk menetralkan reaksi tubuhnya. Ia menghirup napas dalam-dalam. Mengeluarkan. Mengulang. Teknik grounding.
Hingga ia menyadari sesuatu.
Suasana hening.
Tawa Black Hounds berhenti. Belasan pasang mata kini menatap ke arah mereka. Menatap Aquilla yang masih batuk dan wajah Altair yang panik.
Sekietika Aquilla jadi malu. Wajahnya yang merah karena tersedak kini merah karena malu. Ia refleks berdiri.
Semua orang mendongak. Menatap heran.
"Eh... Gue... mau ke toilet," kata Aquilla gugup. Suaranya kecil. Ia meletakkan piringnya begitu saja. Lalu ia berlari masuk ke dalam rumah.
Langkahnya cepat. Hampir tersandung anak tangga.
Kinara melihat itu. Ia langsung panik. Ia mengenal Aquilla. Ia tahu apa yang akan terjadi pada Aquilla setelah tersedak. Ada suatu trauma yang terjadi padanya dulu.
Ia menyusul Aquilla. Tanpa pikir panjang.
Sebelum masuk ke dalam, ia menoleh ke arah halaman. Menatap Altair lurus.
"Ini bisa membahayakan tubuhnya, Al!" teriak Kinara panik dari dalam. Suaranya lantang, memecah keheningan malam.
"Al!"
Pintu rumah tertutup. Meninggalkan halaman yang kembali hening. Para anggota Black Hounds saling pandang.
Altair juga merasakan hal yang sama. Ada sesuatu yang tidak beres. Sepertinya dia tahu tentang yang terjadi pada istrinya.
Setiap kali Aquilla tersedak parah, tubuhnya selalu bereaksi aneh. Jantungnya berdebar terlalu cepat, lalu pandangan matanya gelap. Kebiasaan aneh yang ia pendam sejak kecil. Dokter bilang vasovagal syncope. Ia menyebutnya "pingsan mendadak".
Di dalam sana. Mata Aquilla berkunang-kunang. Ia menoleh ke Kinara, ingin bicara, tapi bibirnya tidak sanggup bergerak. Kinara hanya mengenggam tangan Aquilla. Dia tidak bicara. Tidak bertanya.
"Al..." bisiknya lirih.
Lalu gelap.
Tubuhnya terkulai lemas ke samping. Kepalanya jatuh ke pangkuan Kinara.
"ILLA!"
Kinara yang melihat itu langsung menjerit panik. Ia berlari ke pintu depan memanggil Altair. "Al!"
"Illaaa Al!" teriak Kinara kembali berlutut di depan Aquilla yang sudah tergeletak di ruang utama rumah itu. Tidak sadarkan diri. Bibirnya pucat.
"Illa bangun!" teriak Kinara sambil mengguncang bahu Aquilla. Ia panik. Tangannya gemetar. "Dia pingsan lagi! Dia selalu gini tiap habis tersedak parah!"
Altair langsung menggendong Aquilla. Ia mengangkatnya dari lantai dingin. Wajahnya yang biasanya datar kini kosong. Hanya ada panik yang ia tahan.
"Jauh! Kasih napas!" perintah Altair pada beberapa anggota Black Hounds yang penasaran mengikutinya. Suaranya tegas. Ia berlutut di lantai, membaringkan Aquilla pelan. Para anggota itu segera meninggalkan tempat itu, memberi privasi kepada ketua lama mereka menenangkan istrinya.
Altair menepuk pipi Aquilla. Pelan.
"Illa. Liat gue. Bangun," kata Altair. Ia menggenggam tangan Aquilla. Dingin.
Kinara sudah menangis. "Dia nyebut nama lo, Al! Tadi sebelum pingsan dia nyebut nama lo!"
Steve langsung menyingkirkan orang-orang. "Kipas! Kipas!" Ia menyerahkan kipas tangan ke Kinara.
Altair menempelkan telinganya ke dada Aquilla. Mendengar detak jantungnya. Masih ada. Lemah, tapi ada. Ia mengusap punggung tangan Aquilla dengan ibu jarinya.
"Gue di sini," bisik Altair di telinga Aquilla. Suaranya pecah. "Gue janji gue di sini. Jangan pergi. Bangun, Ill."
Ia mencium kening Aquilla. Lama.
Beberapa detik yang terasa seperti jam.
Lalu, bulu mata Aquilla bergetar. Ia menarik napas panjang. Tersengal.
"Hah..."
Matanya terbuka perlahan. Kabur. Lalu fokus ke wajah Altair yang ada di atasnya.
"Al..." gumam Aquilla. Suaranya serak.
"Gue di sini," jawab Altair cepat. Napasnya yang tertahan akhirnya keluar. Ia memeluk Aquilla. Kuat. "Jangan bikin gue jantung copot lagi."
Kinara mengusap dadanya, lega. Ia menangis, tapi kali ini karena lega.
Aquilla masih lemah. Ia menatap Altair bingung. "Gue... pingsan lagi?"
"Iya," kata Altair. Ia mengusap pipi Aquilla dengan jempolnya. "Kebiasaan aneh lo itu."
Aquilla memalingkan muka, malu. "Maaf... ngerepotin..."
"Udah gue bilang nggak ngerepotin," kata Altair. Ia mengangkat Aquilla dalam pelukannya, berdiri. "Udah, Steve bubarin anak-anak. Barbeque lain kali saja."
Altair membawa Aquilla masuk ke kamar. Kinara ikut. Steve berjaga di luar.
Keheningan di kamar mandi pecah oleh suara langkah berat di teras. Disusul dentingan logam sepatu dan suara menggeram rendah dari beberapa pria.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan itu keras. Tidak sopan.
Pintu kamar itu terbuka. "Al, mr. Daniel di depan!" Kasih tahu Steve kepada Altair yang sudah mengeraskan rahangnya.