NovelToon NovelToon
ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.

Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENGADILAN

Ruang sidang pengadilan negeri terasa dingin, bukan karena AC yang disetel terlalu rendah, tapi karena aura ketegangan yang bisa dipotong dengan pisau mentega. Lina duduk tegak di bangku penggugat, mengenakan blazer merah marun yang membuatnya terlihat seperti jaksa penuntut umum dalam film Hollywood. Di sebelahnya, Pak Hendra sedang mengasah pena bulpointnya dengan tatapan tajam, seolah-olah itu adalah pedang samurai.

sedangkan Di seberang sana, Raka duduk dengan gelisah. Kemejanya tampak kusut, matanya cekung. Dia terlihat seperti pria yang sudah tiga hari tidak tidur karena dihantui rasa bersalah atau lebih tepatnya, dihantui ketakutan akan kehilangan aset. Dan di samping Raka, Ada Dinda,Gadis itu mengenakan gaun putih polos, wajahnya pucat, tangannya terus-menerus meremas ujung kain gaunnya. Dia terlihat seperti korban angin topan, padahal dialah salah satu penyebab badai itu.

"Hakim Yang Mulia," suara Pak Hendra bergema jelas. "Penggugat menuntut perceraian dengan alasan perselingkuhan yang terbukti secara sah dan melalaikan kewajiban suami. Selain itu, kami menuntut pembagian harta gono-gini sesuai undang-undang, mengingat rumah dan kendaraan dibeli selama masa pernikahan."

Hakim, seorang pria tua dengan kacamata tebal, menatap Raka. "Terdakwa, apa tanggapan Anda?"

Raka berdiri, suaranya bergetar. "Yang Mulia, saya... saya mengakui kesalahan saya. Tapi soal harta, itu tidak adil! Rumah itu warisan dari orang tua saya yang direnovasi oleh Lina! Dan mobil itu untuk saya pakai kerja !"

"Renovasi menggunakan uang bersama, Tuan," potong Pak Hendra dingin. "Dan 'keperluan kerja' Anda termasuk mengantar selingkuhan ke apartemen? Jika iya, maka mobil itu adalah alat kejahatan moral. Seharusnya disita negara."

Beberapa orang di ruang sidang menahan tawa. Wajah Raka berubah memerah padam.

"Tidak bisa!" teriak Raka tiba-tiba, membanting meja. "Lina itu istri yang gagal! Dia cuek! Dia nggak pernah mengerti aku! sedangkan Dinda... Dinda satu-satunya orang yang membuatku merasa hidup lagi! Kalian mau ambil semua hartaku hanya karena aku mencari kebahagiaan?"

Dinda langsung menarik lengan Raka. "Kak Raka, jangan marah-marah..."

"Diam!" bentak Raka pada Dinda, lalu menoleh ke Lina dengan mata menyala. "Kau puas sekarang, Lin? Kau hancurkan hidupku di depan umum? Kau senang melihatku menderita?"

Lina menatap Raka datar. Tidak ada amarah. Hanya kelelahan. "Saya tidak menghancurkan hidupmu Raka, Kamu yang membakarnya sendiri. Saya cuma datang membawa pemadam kebakaran. Dan soal harta, itu bukan tentang keserakahan. Itu tentang keadilan. Kamu mendapatkan cinta palsu dari adikku, biarlah itu jadi bagianmu. Tapi materi yang dibangun dengan keringat saya? Itu hak saya."

Hakim mengetuk palu. "Cukup! Sidang ditunda sebentar untuk deliberasi. Para pihak harap tenang."

Suasana menjadi kacau. Pengunjung mulai bergosip. Raka masih ngotot berdebat dengan pengacaranya sendiri. Dinda tampak semakin pucat, tangannya menekan perutnya.

Saat jeda istirahat, Lina berjalan keluar ruangan untuk mengambil udara. Arka menunggu di lorong, menyandarkan tubuh di dinding sambil memainkan ponselnya.

"Gimana?" tanya Arka tanpa menoleh.

"Biasa," jawab Lina. "Raka masih banyak drama. Hakim sepertinya condong ke kita. Tapi rasanya... hampa. Menang pun rasanya seperti kalah karena harus melalui proses ini."

Arka finally menoleh. "Proses itu penting, Lin. Biar kamu sadar bahwa melepaskan itu butuh usaha. Bukan cuma klik 'unfollow' di Instagram."

Tiba-tiba, pintu ruang sidang terbuka. Dinda keluar dengan langkah goyah. Wajahnya sangat pucat, keringat dingin mengucur di dahinya. Dia langsung berlari kecil menuju toilet umum di ujung lorong.

Raka, yang baru saja keluar, melihat Dinda lari. Wajahnya panik. "Dinda! Tunggu!"

Raka mengejar Dinda masuk ke area toilet wanita (dengan nekatnya, atau mungkin karena saking paniknya lupa norma).

Lina mengerutkan kening. Ada yang aneh. Dinda terlihat sangat sakit. Bukan sekadar sakit perut biasa. Dan reaksi Raka... terlalu protektif dan cemas.

"Lin?" panggil Arka saat melihat Lina diam mematung.

"ikut aku" kata Lina singkat.

"Mau apa? Mau muntah bareng?" goda Arka, tapi dia tahu Lina serius.

Lina tidak menjawab. Dia berjalan mengikuti arah mereka. Hatinya berdegup kencang. Bukan karena cemburu, tapi karena firasat buruk. Firasat bahwa ada babak tambahan dalam drama sinetron kehidupan mereka yang belum terungkap.

Sesampainya di depan pintu toilet wanita, Lina mendengar suara Dinda sedang muntah-muntah di dalam bilik. Suara Raka terdengar dari luar bilik, suaranya berbisik tapi terdengar jelas di lorong yang sepi itu.

"Din, kamu baik baik saja? ini Minum air dulu."

"Aku nggak kuat, Kak..." suara Dinda terdengar lemah, disertai isakan. "Mualnya parah banget. Sejak kemarin."

"Sudah minum obat?"

"Nggak berani. Takut kenapa-napa sama janinnya."

Hening.

Dunia Lina berhenti berputar. Kata kata itu menggantung di udara seperti bom waktu yang baru saja diaktifkan.

Janin.

Lina merasakan darahnya membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak selama tiga detik penuh. Tangannya mencengkeram tasnya begitu kuat hingga kukunya memutih.

Raka sempat terdiam lama. Lalu suaranya kembali terdengar namun pelan, gemetar, tapi penuh dengan sesuatu yang mirip... kebahagiaan? Atau mungkin ketakutan?

"Yakin itu... anakku?" tanya Raka.

"Iya, Kak," jawab Dinda sambil menangis. "Tes pack-nya positif dua garis. Dokter bilang usianya sudah tiga bulan. Tepat saat... saat kita sering bertemu di apartemen."

Lina merasa lantai di bawah kakinya ambruk. Tiga bulan. Saat itu, Lina masih berusaha menjadi istri sempurna. Saat itu, Lina masih memasak sup ayam untuk Raka. Saat itu, Lina masih percaya bahwa suaminya mencintai keluarganya.

Ternyata, di balik punggungnya, Raka tidak hanya bermain-main. Dia menciptakan nyawa baru. Nyawa yang merupakan produk dari pengkhianatan terbesar dalam hidup Lina.

Raka menghela napas panjang. "Lina harus tau soal Ini...Din. Kalau hakim tahu kamu hamil, pembagian harta bisa berubah. Atau malah perceraian ku bisa lebih di permudah"

"Jangan bilang Kak Lina dulu," pinta Dinda panik. "Dia pasti bakal makin benci aku. Aku takut, Kak."

Lina menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak. Matanya panas. Air mata ingin tumpah, tapi kemarahan menahannya.

Lina perlahan mundur menjauh dari pintu toilet sebelum Raka atau Dinda keluar. Langkahnya berat, seperti kaki yang dibebani timah.

Arka melihat wajah Lina yang pucat pasi saat kembali ke hadapannya.

"Lin? Kenapa mukamu kayak lihat hantu?" tanya Arka khawatir.

Lina menatap Arka. Matanya kosong, tapi ada api kemarahan yang membakar di dalamnya.

"Dinda hamil," bisik Lina. Suaranya serak, hampir tak terdengar.

Arka terbelalak. "Apa? Dengan...?"

"Dengan Raka," potong Lina. "Tiga bulan. Saat aku masih sibuk membelikan dia kaus kaki motif garis-garis."

Arka mendesis pelan. "Waduh. Ini plot twist level dewa. Sekarang situasinya jadi jauh lebih rumit. Secara hukum, anak di luar nikah punya hak waris, tapi..."

"Lupakan hukum dulu," kata Lina, suaranya tiba-tiba dingin dan tajam. "Aku ingin tahu satu hal, Rak. Apakah mereka berencana menggunakan bayi itu sebagai senjata untuk mengambil hartaku? Atau sekadar bukti bahwa pengkhianatan mereka 'nyata'?"

Arka menatap Lina dengan prihatin. "Apapun alasannya, ini pukulan berat, Lin. Tapi ingat satu hal: Bayi itu tidak bersalah. Orang tuanya yang busuk. Jangan salahkan janinnya atas dosa-dosa mereka."

Lina tertawa pahit. Tawa yang terdengar mengerikan.

"Tenang, Rak. Aku nggak akan menyakiti bayi itu. Tapi aku pastikan, Raka dan Dinda akan menyesal telah menjadikan kehamilan itu sebagai tameng. Karena kali ini, aku tidak akan bertarung hanya untuk harta. Aku akan bertarung untuk harga diri yang mereka injak-injak sampai ke dasar tanah."

Lina menatap pintu toilet di kejauhan. Perasaan sedih itu masih ada, mendalam dan menyakitkan. Tapi kini, ia bercampur dengan tekad baja yang dingin.

Permainan baru saja dinaikkan levelnya. Dan Lina siap menghadapi boss terakhirnya.

1
Allea
kok bisa dapet harta selama baca novel anak haram nasabnya ( bener ga) ikut ibu jd ga berhak atas warisan ( kata cerita2 novel ya bukan kata saya)😄
Nuna_Pena: bikin berbeda dari yang lain🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!