Kegelapan dan Cinta sangat cocok untuk menggambarkan cerita ini. Karakter utamanya adalah seorang pemuda bernama Hayakawa Yugioh.
Ia bertemu dengan tiga gadis cantik di tempat yang berbeda-beda. Kuroyuki Yukino (Stasiun Kereta), Minazuki Reina (Klub Voli), dan Hanamori Airi (Hujan Badai).
Yugioh membantu semuanya untuk menyelesaikan masalah hidup masing-masing. Seiring berjalannya waktu, ketiganya mulai jatuh cinta padanya.
Dimulai dengan mengancamnya menggunakan benda tajam, menguntitnya ke manapun ia pergi, dan paling parah mengajaknya mati bersama.
Diakhir... Mereka mengajukan pertanyaan yang intinya: 'Siapa yang akan ia pilih untuk menjadi istrinya?.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Giraldin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1.10: Stasiun Tokyo
Dan aku baru sadar bahwa setiap tahun mansion ini walau tetap megah, terus berkurang ukurannya.
Hahaha, bisa-bisa nanti jadi kecil dong ya! Enggak sih. Soalnya... kadang bertambah juga berkurang.
Yahh... begitulah papa. Dan... mari abaikan ruangan ini serta terus mencari kamar mandi ada di mana.
Sekarang, aku memilih ke arah kanan begitu membalikkan tubuh ke belakang. Di lurusan tersebut, kamar mandi ada.
“Untungnya nggak jauh-jauh amat. Hehehe, papa masih normal untuk saat ini.”
Tulisan ruangannya adalah ‘Bath Room’. Baiklah, ini sudah pasti. Begitu berpikir demikian, aku membukanya dan...
“Sia*an! Namanya saja ‘Bath Room’, tapi isinya barang-barang bekas yang seharusnya ada di gudang.”
Berarti... aku coba cari gudang kali ya! Di sini, ada pilihan yakni kanan dan kiri. aku memilih arah kiri.
Begitu sampai di ujung, sampai di ruangan bernama ‘Storage’. Baiklah, gudang itu berhubungan dengan penyimpanan.
Begitu ku buka, isinya malah kumpulan boneka lucu dan seram.
Aku yang terus mengalami pola menyebalkan ini menatap ruangan dengan mata kejam + kemarahan besar di dalam benak terdalamku.
Dengan cepat aku mulai berlari tanpa arah sambil loncat-loncatan. Ruangan selanjutnya yang ku temukan adalah ‘Toy’s’.
Berhubungan dengan mainan kan! Baiklah... “BUKAA!!!”
...Hahaha, papa benar-benar menyebalkan! Namanya aja Toy’s, tapi isinya malah dapur.
“Karena capek, makan-makan dulu kali ya!”
Aku memutuskan duduk dulu di kursi mewah khas bangsawan. Di atas meja sudah disediakan bermacam-macam makanan.
Kalau biasanya di atas beginian pasti nggak jauh-jauh dari buah-buahan dan daging, aku...
Aku malah harus memakan berbagai macam bubur aneh yang tampak mencurigakan.
“Kenapa ada bubur berwarna hijau? Apakah ini beracun? Pa-pastinya aman kan! D-dan juga... ma-makanan biasaku sehari-hari pada ke mana?”
Papa sia*an!!! Hobi apa lagi ini!? Perasaan dulu nggak sampai memengaruhi sejauh ini kan!
Jangan bilang...!! Mama!? Eemm... kayaknya enggak sih. Mama itu orang yang baik dan dia suka bekerja menjadi kuli bangunan.
Wanita tangguh yang jarang ditemukan di tempat apapun itu. ku-kurang lebih, seperti itulah mamaku sesungguhnya.
Hari ini, sepertinya dia masih kerja jadi kuli bangunan.
Ahaha, aneh sekali ya! Tapi... mungkin karena dia tak mau menjadi kayak bangsawan gitu, memilih pekerjaan berat serta dapat membuatnya melindungi putrinya serta ayahnya yang lemah... merupakan keinginannya.
Kami tak bisa menolak hal tersebut dan membiarkan mama melakukan apapun semaunya.
Mana mungkin kami bisa menolaknya juga sih. soalnya... mama itu baik hati dan membuat keluarga ini nggak terlalu salah arah.
Dan tetap saja, yang harus di salahkan adalah papa. Bisa-bisanya dia terus menghambur-hamburkan uang untuk membeli hal-hal aneh.
Merenovasi hingga menjadi abstrak dan lain sebagainya.
“Lalu... haruskah aku memakannya! Entah kenapa, kalau memasukkannya ke dalam mulut, bisa mual. Hahaha... y-ya... nggak usah dimakan deh.”
Yukino yang tampak enggan untuk memakannya membuat sebuah suasana sedih datang dari sisi kanan bagian dalam ruangan ini.
Di pojokan tersebut, seorang wanita muda yang tampak cantik serta mirip sekali dengannya sedang menangis.
Tangisan tersebut terdengar jelas oleh Yukino dan membuatnya memalingkan wajah ke arah situ.
“...Ma-mama! Ke-kenapa kau menangis?!”
Dengan cepat, Yukino menghampiri mamanya dan mengangkat tubuhnya. Wajahnya tak mau diperlihatkan padanya.
Kayaknya aku sudah berbuat salah pada mama. “Ma-maaf!”
Ia dalam sekejap langsung tersenyum dan wajahnya menjadi sangat cerah. Tangisan tadi hilang begitu saja. “Ahaha, nggak apa-apa kok.”
“Mama emang nggak bisa masak. Pastinya menjijikan bukan! bisa buat kamu mual kan! Hahahahahaha__haa...”
Tubuh mama Yukino perlahan pudar dan mengapung entah kemana. “Awawawa—e-enak kok! Ka-kalau papa, pasti nggak bakalan suka!”
Begitu mendengar hal tersebut, wajahnya memerah kesal. “Benarkann...!!! Dia ini memang tak mengerti wanita ya! Kau juga setuju denganku kan, Yukin-chan!”
“Y-ya... te-tentu saja, mama.”
Gawat! Aku malah menghina makanan yang susah payah mamaku bikin. Ku kira dia nggak bakalan masak lagi, ternyata masih.
Terakhir kali...
“Apa-apaan bentuk menjijikan ini!? Hahaha, siapa yang masak? Bibi Kasumi kayaknya lagi galau ya! Pantas saja hasilnya buruk.”
Bibi Kasumi adalah nama salah satu pelayan kami yang di mana panggilan tersebut berlaku untuk papaku seorang.
Aku dan mama lebih sering memanggilnya Nek Kasumi. Mungkin karena papa sangat menghormatinya serta sudah kayak teman dekat, jadinya dipanggil seperti itu.
Kalau lagi galau karena suaminya jarang memperhatikannya dikarenakan fokus main game petualangan, hasil kerjaannya biasanya kurang maksimal.
Dalam hal masakan bisa jadi tidak enak serta bentukannya aneh. Tapi... bukan Nek Kasumi, melainkan...
“Ma-maaf ya, sayang! Aku emang nggak jago masak, hehehe.”
Papa mendengar hal tersebut keluar dari mulut mama, harusnya sebagai seorang suami normalnya meminta maaf atau memakannya sampai habis mau gimanapun rasanya.
Dia malah tertawa lagi dan membalas: “Pantas saja, hahaha. Aoi dari dulu emang nggak bisa masak.”
Bisa disimpulkan, papa malah menghina mama balik dan berakhir dipukul habis-habisan olehnya.
Itu salah satu kejadiannya dan bisa tambah mengerikan tergantung situasi mama. Kalau langsung minta maaf, harusnya bakalan aman-aman aja.
Papa memang aneh, hahaha.
“Oke bagus. Yukin-chan memang selalu ada dipihak mama. Mamamu makin sayang padamu, hehehe.”
Baiklah, aku sudah memenangkan kelembutan hatinya. Sekarang tinggal... “Mama, aku pengen ke kamar mandi. Sesekali, marahi papa dong!”
“Suruh dia untuk tak mengotak-atik lagi ruangan! Dan... beralih dari situ, kamar mandinya di mana sekarang?”
“Ahaha! Papamu dari dulu memang seperti itu. kau tahu sendiri kan! Kita tak bisa memaksakan sebuah hobi menjadi tak dilaksanakan lagi. Terus... kamar mandinya berada di dalam kulkas.”
“Hahaha, sekarang malah dipindahkan ke ruangan aneh. Baiklah, aku mau mandi dulu. makanannya nanti akan ku habiskan kok, mama!”
Sebenarnya tidak, tapi... begitu mama mendengarnya, dia tampak bahagia sekali. “Hehehe! Yukin-chan memang baik hati.”
“Baiklah. Silakan mandi dulu! Kau pasti lelah sudah bepergian jauh kan! Nanti istirahat saja setelah ketemu papa. Mama mau cuci piring dan... Nek Kasumi kayaknya lagi tidur di sofa biasanya.”
“Oke mama.”
Setelah itu, aku pun memutuskan pergi masuk ke dalam kamar mandi tanpa memedulikan Nek Kasumi.
Ketika Yukino berada di dalam kamar mandi, tempatnya begitu luas. Lemari es atau kulkas yang dimasukinya sama sekali tidak dingin.
Alasan hal tersebut bisa terjadi adalah faktor suhu dingin dihilangkan atau mudahnya sebuah pintu dimodif dikit jadi kayak kulkas.
Kulkas ini juga menyatu dengan tembok dan ternyata rumah ini masih bisa lebih besar lagi dan belum sampai ujungnya.