NovelToon NovelToon
GODJEK

GODJEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lihazel

Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.

Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.

Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Super Model Pedas Mampus!

​​Suasana di luar Warkop Mbak Sri berangsur-angsur mencair, namun sisa-sisa ketegangan dari konfrontasi antara Citra Kirana sang CEO raksasa bisnis dan Alya Nindita sang mahasiswi kedokteran tercantik se-Jakarta masih terasa pekat di udara. Deru mesin Mercedes-Maybach yang merayap mundur meninggalkan gang sempit Tambora menyisakan kepulan asap tipis yang langsung disapu angin pagi. Citra telah pergi dengan sejuta gelora asmara yang tertahan di balik dadanya yang kencang, sementara Alya terpaksa berpamitan dengan mata berkaca-kaca karena harus mengejar jadwal responsi anatomi, meninggalkan Arya Prasetya yang kini berdiri mematung di samping motor Supra Fit tahun 2006 miliknya.

​Arya mengembuskan napas panjang hingga bahunya yang tegap di balik jaket premium Anti-Gosong Indestructible tampak merosot sedikit. Di sekelilingnya, riuh rendah warga Tambora mulai pecah bagai pasar malam yang baru saja kedatangan artis ibu kota.

​"Gila lu, Ya! Asli, gua kalau jadi lu, langsung gua tanda tangan itu kontrak lima puluh juta!" Dedi "Gacor" mendekat, matanya masih melotot tidak percaya sambil menjambak rambutnya sendiri yang acak-acakan. "Lu tahu gak, lima puluh juta itu kalau dibelikan bakso gerobakan bisa buat tenggelamin ini gang beserta RT-RT sebelahnya! Lu nolak demi apa? Demi harga diri pekerja mandiri? Haduh, harga diri gua aja kalau ditawar sejuta udah gua paket kilat pakai bubble wrap!"

​Bang Jay ikut menepuk pundak Arya dengan keras, membuat serat karbon jaket premium itu mengeluarkan kilau perak yang memukau. "Jangan dengerin si Dedi, Ya. Langkah lu udah bener sebagai laki-laki. Laki-laki itu yang dipegang omongannya, prinsipnya. Kalau lu langsung mau dibeli sama perempuan kaya, lu gak bakal punya taring lagi di depan dia. Tapi ya... kalau dipikir-pikir, emang agak bikin nyesek juga sih ya di dada bagian kiri bawah."

​Mbak Sri yang sejak tadi merengut di balik meja kayu warkop akhirnya keluar sambil membawa segelas es teh manis berukuran raksasa. Pinggulnya yang padat bergoyang pelan saat dia menghentakkan gelas itu ke atas meja luar. "Nih, minum dulu, Pangeran Tambora! Biar otaknya gak konslet gara-gara dikerubutin dua ratu kaya. Lagian lu juga sih, Ya, auranya sekarang kenapa jadi wangi begini? Biasanya kan bau matahari campur oli samping bocor, sekarang harumnya kayak ruangan eksekutif ber-AC!"

​Arya hanya bisa tersenyum kecut menerima es teh manis tersebut. Dia buru-buru meneguknya hingga tenggorokannya yang kering terasa segar kembali. Namun, di dalam lubuk hatinya, badai monolog batin yang berlapis sedang berkecamuk dengan kecepatan penuh.

​“Aduh, Mbak Sri... lu gak tahu aja kalau ini semua gara-gara sistem sialan di HP gua! Apa katanya tadi? Skill Aura Pekerja Mandiri? Ini mah bukan skill ojol, ini mah skill pemikat wanita tingkat tinggi berkedok kemandirian ekonomi! Lihat aja itu tadi, si Nona CEO yang biasanya dingin kayak es balok di pasar ikan, matanya sampai berkaca-baper pas gua tolak. Terus Nona Mahasiswi yang mukanya polos itu, mukanya merah merona kayak kepiting rebus. Gua ini cuma pengen nyari duit halal buat bantu emak beli beras wangi sama bayar cicilan panci, kenapa plot hidup gua malah bergeser jadi drama rebutan cowok di sinetron prime time?! Kalau sistem ini terus-terusan ngasih orderan spek bidadari begini, bisa-bisa gua mati muda gara-gara serangan jantung romantis!”

​Tepat ketika Arya sedang meratapi nasib karismatiknya yang berlebihan, kantong celana jins ketatnya kembali bergetar dengan pola getaran yang sudah sangat dia kenali. Sebuah getaran ritmis yang seolah menyedot sedikit sisa kewarasan logikanya. Arya meraba kantongnya, menarik keluar God-Phone 13 Pro Max yang layar holografisnya langsung mencuat ke udara, memancarkan cahaya keemasan yang untungnya hanya bisa dilihat oleh mata Arya sendiri.

​TING-TONG!

​[NOTIFIKASI ORDERAN BARU DARI TAKDIR: GODJEK-FOOD EXPEDITION!]

​Nama Pelanggan: Nadia Anastasia (24 tahun)

​Profil Visual: Putri tunggal dari Raja Properti Jakarta, mantan supermodel internasional yang kini mengelola galeri seni mewah di kawasan Menteng. Memiliki tinggi 172 cm, tubuh dengan rasio emas yang sangat seksi, kulit seputih porselen Eropa, dan mata tajam yang sanggup meruntuhkan iman para pria dalam sekali kedip.

​Detail Pesanan: 1 Porsi "Ketoprak Spesial Ekstrem Level Pedas Mampus 50 Cabai" dari warung legendaris Pak Kumis di pinggir rel kereta api Tambora, untuk diantarkan ke Galeri Seni L'Amour di Menteng, Jakarta Pusat.

​Status Khusus Pelanggan: Target sedang mengalami stres berat akibat tekanan perjodohan bisnis keluarga dan kehilangan selera makan selama tiga hari.

​Peringatan Sistem: Jika makanan sampai dalam kondisi dingin atau level kepedasan berkurang akibat penguapan, rating Anda akan jatuh menjadi Bintang 1, dan motor Supra Anda akan otomatis berubah warna menjadi merah jambu menyala dengan stiker "Aku Imut" di seluruh bodinya selama satu minggu penuh!

​Item Peminjaman Sementara Diberikan: "Kotak Pengantar Termal Dimensi Keempat (Kapasitas Tak Terbatas)".

​Arya hampir saja menyemburkan es teh manis di mulutnya begitu membaca hukuman sistem yang sangat tidak ramah psikologis tersebut.

​“Merah jambu menyala?! Stiker 'Aku Imut' di seluruh bodi Supra gua?! Wah, ini sistem bener-bener mau menghancurkan reputasi gua sebagai ojol paling ganteng dan gagah se-Tambora! Bayangin gua lewat di depan pangkalan Bang Jay pakai motor pink stiker imut, apa gak bakal dilemparin ban dalam bekas sama mereka?! Mana ini pesanannya ketoprak lima puluh cabai lagi! Itu mah bukan makanan, itu racun tikus berkedok bumbu kacang! Dan siapa tadi namanya? Nadia Anastasia? Mantan supermodel? Raja properti? Ya Allah, kenapa daftarnya bertambah lagi?! Kemarin CEO, tadi mahasiswi kedokteran, sekarang supermodel! Ini aplikasi Godjek apa aplikasi biro jodoh kalangan konglomerat sih?!”

​Meskipun hatinya menjerit-jerit protes, tangan Arya secara otomatis menekan tombol "Terima Orderan" di layar. Profesionalisme sebagai driver kelas pekerja yang terikat kontrak gaib dengan sistem memaksanya untuk tetap patuh demi keselamatan estetika motornya.

​"Bang Jay, Ded, Mbak Sri! Gua ada orderan masuk nih, agak jauh ke daerah pusat," seru Arya sambil memasukkan ponsel pintarnya kembali ke kantong dan bersiap memakai helm INK bututnya.

​"Walah, baru juga napas udah dapet orderan lagi. Gacor bener lu hari ini, Ya! Jangan lupa bagi-bagi tips kalau tembus target!" teriak Dedi sambil melambaikan tangan dari atas motor matic-nya.

​Arya segera menstarter motor Supranya. Berkat sisa energi modifikasi mesin yang dilakukan sistem pada orderan sebelumnya, mesin tua itu langsung menyala dengan suara knalpot yang berat, mantap, dan tidak lagi cempreng seperti biasanya. Arya menarik gas, melesat menuju warung ketoprak Pak Kumis yang terletak hanya beberapa ratus meter dari pangkalan mereka.

​Kontras deskriptif yang tinggi langsung terlihat saat Arya sampai di warung Pak Kumis. Warung itu hanyalah sebuah gerobak kayu tua yang dinaungi tenda biru kusam yang sudah bolong di beberapa sudut, terletak tepat di samping rel kereta api yang berdebu dan panas. Pak Kumis, seorang pria tua dengan kumis tebal melintang khas pahlawan komik jadul, sedang sibuk mengulek bumbu kacang di atas cobek batu raksasa. Bau bawang putih goreng dan cabai rawit hijau yang menyengat langsung menusuk hidung Arya saat dia turun dari motor.

​"Pak Kumis! Pesanan atas nama Nadia, ketoprak satu porsi cabainya lima puluh biji, Pak! Pedas mampus!" teriak Arya di tengah bisingnya suara kereta komuter yang baru saja melintas.

​Pak Kumis menghentikan ulekannya, menatap Arya dengan mata membelalak lebar hingga kumisnya ikut bergetar. "Astagfirullah al-adzim, Le! Lima puluh cabai?! Itu yang pesen manusia apa naga lagi sariawan?! Cobek bapak bisa jebol ini kalau ngulek cabai sebanyak itu! Tapi ya sudahlah, demi pelanggan, bapak jabanin!"

​Dengan kecepatan tangan yang terlatih selama puluhan tahun, Pak Kumis mulai menghitung cabai rawit setan yang berwarna merah menyala. Satu, dua, sepuluh, tiga puluh, hingga akhirnya gundukan cabai sebanyak lima puluh biji itu memenuhi permukaan cobek batu. Ketika ulekan batu itu mulai menghancurkan cabai-cabai tersebut, udara di sekitar gerobak langsung berubah menjadi zona radiasi pedas yang membuat mata Arya perih dan air matanya hampir menetes. Bau kacang tanah yang gurih bercampur dengan ekstasi cabai murni menciptakan kombinasi aroma yang sangat kontras—antara kelezatan tradisional dan ancaman medis bagi lambung manusia.

​Setelah ketoprak itu selesai dibungkus dengan kertas minyak berlapis daun pisang, Pak Kumis menyerahkannya kepada Arya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Nih, Le. Hati-hati bawa pesanan ini. Jangan sampai bocor di jalan, bisa melepuh paha kamu kena uap cabainya!"

​"Siap, Pak!" Arya menerima bungkusan yang terasa sangat panas itu. Begitu bungkusan berpindah tangan, sebuah kotak hitam kecil yang terbuat dari bahan mirip serat titanium masa depan mendadak muncul di dalam tas ransel pengantaran Arya secara gaib—itulah Kotak Pengantar Termal Dimensi Keempat dari sistem. Ketika Arya memasukkan bungkusan ketoprak ke dalamnya, dia bisa merasakan bahwa kotak itu sama sekali tidak memancarkan panas ke luar, namun suhu di dalamnya terkunci dengan sempurna pada tingkat seratus derajat Celsius.

​“Oke, makanan aman. Sekarang tinggal perjalanan menuju Menteng. Gua harus cepat sebelum sistem ini mendadak nemu alasan buat ngubah warna motor gua jadi merah jambu,” gumam Arya dalam hati.

​Arya langsung meloncat ke atas sadel motornya, memutar kunci kontak, dan menarik tuas gas dengan kuat. Motor Supra Fit tahun 2006 itu melesat membelah jalanan Tambora yang padat, keluar menuju jalan arteri Jakarta Barat, lalu mengarah ke pusat kota. Kecepatan motor itu di luar nalar motor bebek biasa; setiap kali Arya mengoper gigi, transmisi motor bekerja dengan sangat halus berkat pelumasan digital dari sistem, membuat kendaraan tua itu mampu menyalip deretan mobil mewah dan bus TransJakarta dengan kelincahan seekor macan tutul jalanan.

​Angin kencang menerpa jaket premium Arya, menciptakan sensasi dingin yang kontras dengan rasa hangat di dalam dadanya. Selama perjalanan yang memakan waktu sekitar dua puluh menit itu, monolog batin Arya tidak pernah berhenti berputar, memikirkan apa yang akan terjadi jika dia bertemu dengan sang supermodel.

​“Nadia Anastasia... supermodel internasional. Pasti tipe-tipe cewek yang kalau jalan jalurnya lurus banget sambil pasang muka jutek, terus kalau makan cuma sepotong asparagus rebus dicocol air mata buaya. Tapi ini kenapa dia malah mesen ketoprak Tambora cabai lima puluh biji?! Apa dia lagi mau ngelakuin eksperimen sosial atau emang udah bosan hidup mewah dan pengen ngerasain sensasi usus melilit? Dan lagi, kenapa galeri seninya harus dinamain L'Amour? Kedengarannya kayak tempat-tempat romantis yang penuh jebakan kesalahpahaman. Gua harus super waspada. Ingat rules dari bapak: tetap profesional, serahkan makanan, minta bintang lima, lalu langsung kabur sebelum auranya bikin baper lagi!”

​Sekitar pukul sebelas siang, Arya akhirnya memasuki kawasan Menteng, sebuah oasis kemewahan di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Di sini, pemandangan berubah drastis secara visual. Tidak ada lagi kabel listrik yang semrawut, tidak ada lagi parit berbau pengap, dan tidak ada lagi dinding semen telanjang. Yang ada hanyalah jalanan aspal yang lebar dan bersih, dinaungi oleh pepohonan mahoni raksasa yang rindang dan berusia ratusan tahun. Di kanan kiri jalan, berdiri megah rumah-rumah bergaya kolonial Belanda dengan halaman rumput yang sangat luas dan pos penjagaan berlapis baja.

​Motor Supra tua milik Arya akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan modern berarsitektur minimalis dengan dinding kaca besar di bagian depannya. Sebuah papan nama berbahan kuningan mengkilap bertuliskan L'Amour Gallery of Fine Arts terpasang anggun di dekat pintu masuk.

​Arya memarkirkan motornya tepat di samping sebuah mobil sport Porsche 911 berwarna putih milik pengunjung galeri. Kontras visual antara motor bebek tahun 2006 yang cat bodinya sudah agak memudar dengan mobil sport Jerman senilai miliaran rupiah itu benar-benar sangat mencolok, mempertegas status Arya sebagai seorang pekerja kelas bawah yang sedang menembus batas dunia elit.

​Arya melepas helm INK-nya, merapikan rambut hitamnya yang sedikit berantakan karena angin jalanan, lalu mengambil bungkusan ketoprak dari dalam tas ranselnya. Begitu dia melangkah masuk melalui pintu kaca otomatis galeri seni tersebut, hembusan AC yang sangat dingin langsung menyambut tubuhnya, membawa serta aroma wewangian aromaterapi lavender yang menenangkan.

​Di dalam galeri, suasananya sangat sunyi dan elegan. Lukisan-lukisan abstrak berukuran raksasa dengan harga fantastis terpajang rapi di dinding-dinding putih bersih. Di tengah ruangan, terdapat beberapa patung marmer kontemporer yang diterangi oleh lampu sorot kuning lembut.

​Di sudut ruangan, dekat sebuah lukisan pemandangan malam yang kelam, berdiri sosok wanita yang langsung membuat detak jantung Arya berhenti sejenak.

​Nadia Anastasia sedang berdiri membelakangi pintu masuk, namun siluet tubuhnya dari belakang sudah cukup untuk membuat pria mana pun berlutut mengagumi keindahan ciptaan Tuhan. Dia mengenakan gaun terusan rajut berwarna abu-abu arang yang menempel sangat ketat pada tubuhnya, memperlihatkan lengkungan pinggangnya yang sangat ramping serta bentuk pinggul dan pantatnya yang bulat sempurna tanpa cela—sebuah rasio emas visual khas supermodel kelas dunia. Gaun itu memiliki potongan rendah di bagian punggung, mengekspos kulit punggungnya yang seputih porselen dan sangat mulus tanpa noda. Rambut pirang madunya disanggul modern ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang indah.

​Nadia tampak sedang memijat pelipisnya dengan jari-jarinya yang lentik dengan kuku yang dicat merah marun. Wajah cantiknya yang memiliki tulang pipi tinggi dan tegas tampak sangat lelah. Bibirnya yang penuh dan sensual terlihat sedikit pucat, menandakan kebenaran informasi sistem bahwa dia belum menyentuh makanan selama beberapa hari akibat stres berat.

​"Permisi... Pesanan Godjek-Food atas nama Nona Nadia?" panggil Arya dengan suara yang sengaja dia buat seprofesional mungkin.

​Nadia Anastasia membalikkan tubuhnya dengan perlahan. Begitu matanya yang berwarna cokelat terang berpapasan dengan pandangan mata Arya, sang mantan supermodel itu tampak tertegun selama beberapa detik. Tatapan matanya yang awalnya tajam dan penuh keangkuhan seorang sosialita mendadak goyah saat melihat ketampanan Arya yang luar biasa menonjol, terutama didukung oleh Skill Aura Pekerja Mandiri yang secara konstan memancarkan pesona pria jujur, gagah, dan penuh wibawa dari balik jaket hijau premiumnya.

​"Kamu... driver yang mengantarkan makanan dari Tambora?" tanya Nadia, suaranya terdengar agak serak namun tetap memiliki nada seksi yang inheren. Matanya melirik bungkusan di tangan Arya dengan pandangan tidak percaya. "Apakah itu benar-benar ketoprak Pak Kumis yang cabainya lima puluh?"

​"Benar, Nona. Ini masih sangat panas, suhunya terkunci sempurna," jawab Arya sambil melangkah maju dengan langkah tegap, menyerahkan bungkusan itu dengan kedua tangannya dengan penuh rasa hormat yang tulus.

​Saat Nadia menerima bungkusan tersebut, jari-jarinya yang halus tanpa sengaja bersentuhan dengan kulit tangan Arya yang hangat dan sedikit kasar karena kerja keras. Sebuah sengatan listrik mistis seolah merambat melalui saraf mereka berdua, membuat Nadia tersentak kecil dan semburat merah muda yang sangat cantik mendadak muncul di pipinya yang pucat. Aroma pedas cabai yang pekat bercampur dengan wangi bumbu kacang tradisional mendadak menyeruak keluar dari sela-sela bungkusannya, menembus dominasi aroma aromaterapi kemewahan galeri tersebut.

​Anehnya, bau pedas yang sangat ekstrem itu tidak membuat Nadia mual; sebaliknya, aroma tersebut seolah memicu kembali seluruh indra pengecapnya yang sempat mati rasa akibat stres perjodohan keluarga. Air liurnya mendadak berkumpul, dan perutnya mengeluarkan suara keroncongan kecil yang sangat langka bagi seorang supermodel papan atas.

​Wajah Nadia makin memerah karena malu karena suara perutnya terdengar oleh Arya. Dia buru-buru berbalik menuju sebuah meja kaca kecil di sudut galeri. "Tolong... jangan pergi dulu. Temani aku makan sebentar. Aku tidak tahu apakah aku sanggup menghabiskan ini sendirian, atau apakah ini akan membunuh lambungku."

​Arya terkejut, monolog batinnya kembali berteriak histeris. “Waduh! Perintah baru dari takdir macam apa lagi ini?! Menemani supermodel makan ketoprak level pedas mampus di dalam galeri seni mewah?! Ini kalau ada fotografer paparazzi lewat, besok muka gua bakal terpampang di majalah fashion dengan judul 'Skandal Asmara Supermodel dengan Ojol Tampan Tambora'! Tapi kalau gua tolak dan dia gak jadi makan, rating gua bisa hancur dan motor Supra gua berubah jadi pink pink imut! Oke Arya, kuatkan imanmu, duduklah dengan anggun!”

​Arya mengangguk pelan. "Baik, Nona. Saya akan memastikan Anda aman saat mengonsumsi makanan yang cukup ekstrem ini."

​Nadia membuka bungkus ketoprak tersebut. Asap tebal bermuatan uap cabai langsung mengepul ke udara, memperlihatkan potongan tahu goreng, tauge segar, dan lontong yang tenggelam di dalam lautan bumbu kacang yang warnanya sudah berubah menjadi merah tua kehitaman akibat hancuran lima puluh cabai rawit setan.

​Dengan tangan sedikit gemetar, Nadia menyuapkan sendok pertama ke dalam mulutnya yang mungil. Begitu rasa pedas yang meledak-ledak bercampur gurihnya kacang menyentuh lidahnya, mata Nadia langsung melebar. Air mata haru mendadak menetes dari sudut matanya yang indah, bukan hanya karena pedasnya yang luar biasa, melainkan karena rasa makanan tradisional yang begitu jujur dan penuh cita rasa itu mendadak meruntuhkan seluruh beban mental yang menghimpit jiwanya selama berhari-hari.

"Pedas... pedas banget," bisik Nadia sambil terus menyuapkan sendok kedua dengan lahap, mengabaikan sama sekali etiket makan ala sosialita demi kepuasan rasa yang hakiki. "Tapi... ini enak banget! Ini rasa paling nyata yang pernah aku rasakan setelah sekian lama terjebak di dunia palsu penuh tekanan ini!"

Arya yang melihat air mata Nadia menetes langsung merasa iba, jiwa penolongnya bergejolak. Dia meraba kantong jaket premiumnya, dan entah bagaimana sistem secara ajaib telah menyediakan sebotol air mineral dingin bersuhu pas di dalam kantong rahasianya. Arya mengambil botol tersebut dan membukakan tutupnya, lalu menyerahkannya kepada Nadia.

"Minum dulu, Nona. Jangan dipaksakan terlalu cepat. Makanan yang jujur harus dinikmati dengan ketenangan hati," ujar Arya dengan suara berat yang dipenuhi kelembutan dan kebijaksanaan moral seorang pria matang.

Nadia menerima botol itu, meminumnya sedikit, lalu menatap Arya dengan pandangan mata yang telah berubah total. Di matanya, Arya bukan lagi sekadar driver ojek online biasa yang mengantarkan makanan. Dengan balutan jaket premium yang sangat pas, rahang tegas yang maskulin, serta kebaikan hati yang begitu tulus tanpa pamrih di tengah dunia yang egois ini, Arya tampak seperti seorang ksatria pelindung yang dikirim oleh alam semesta untuk menyelamatkannya dari kegelapan stres mentalnya.

Benih-benih cinta dan rasa keterikatan baper yang sangat dalam kini resmi tertanam di dalam hati sang supermodel tercantik Jakarta, menambah daftar panjang para wanita elit yang siap bertempur demi mendapatkan hati sang ojol tampan dari Tambora!

1
Panggil Zain Aja
bolelah, karakter sampingan aja punya nuansa yang hidup👍
Lihazel: makasih ka, kalo berkenan boleh kasih review nya juga ka, supaya makin semangat updatenya ☺️
total 1 replies
Panggil Zain Aja
ganti nama jir
Panggil Zain Aja
asli, kalau lo nahan biar ga keluar dari ni novel. SERU BANGET ANJER😹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!