Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Realita Dibalik Pintu Lapuk
Masih dalam posisi tertunduk dan terisak pelan di lorong apartemen yang dingin, Haris mendengar derap langkah kaki yang mantap menyusuri karpet lorong.
Langkah itu terasa tegap, berwibawa, dan penuh percaya diri.
Haris perlahan mendongakkan kepalanya yang kusam. Seorang pria tinggi besar berbalut kemeja rapi berjalan melewatinya begitu saja. Pria itu membawa beberapa kantong belanjaan berisi makanan dan buah-buahan segar, serta sebuah tas kecil berisi perkakas mainan.
Noval.
Noval sempat melirik Haris sekilas lewat sudut matanya—sebuah tatapan yang tenang, tanpa rasa dendam, namun penuh aura ketegasan dan kejantanan yang tak tertandingi. Tanpa bertegur sapa atau membuang kata-kata, Noval terus melangkah menuju pintu unit apartemen Nindya.
Noval menekan tombol bel.
Tak butuh waktu dua detik, pintu yang tadi terkunci rapat bagi Haris kini terbuka lebar kembali.
"Om Noval!" seru suara Arka yang sangat nyaring dan gembira dari dalam, begitu berbeda dengan nada suara datar yang terdengar saat menyapa Haris tadi.
"Hai, Pangeran!" sahut suara Noval yang hangat dan ceria. "Om bawain pizza favorit Arka sama es krim nih!"
"Horeeee! Makasih Om Noval! Ayo masuk, Ma! Om Noval dateng bawa pizza!" Arka menarik-narik tangan Noval dengan riang.
Di balik pintu, Nindya menyambut Noval dengan senyuman paling manis dan hangat yang pernah ada. "Kamu datang tepat waktu, Val. Yuk masuk, aku baru aja selesai bikin minuman segar."
"Iya, Nin. Maaf agak telat dikit, tadi sempat mampir beli pizza dulu buat perayaan kecil-kecilan Arka," jawab Noval lembut sembari mengusap kepala Arka.
Pintu apartemen itu kembali tertutup rapat. Dari dalam, samar-samar Haris masih bisa mendengar alunan tawa renyah Arka, suara ramah Noval yang mengobrol santai, serta kekehan lembut Nindya yang memancarkan kedamaian tanpa beban.
Pemandangan dan suara itu bagaikan sabetan sembilu yang menyayat dada Haris hingga tak tersisa.
Noval—pria gagah, tulus, dan mapan itu—kini telah mengambil alih seluruh peran yang dulu Haris sia-siakan. Noval bukan hanya sekadar pendukung hukum Nindya, melainkan sosok pelindung dan tempat berlabuh yang baru bagi Nindya serta Arka.
Haris berdiri gemetar. Ia menatap pintu kayu yang kini memisahkan dirinya dengan keluarga yang pernah ia miliki. Tidak ada lagi tempat untuknya di sana. Ia hanyalah sebuah bayangan masa lalu yang telah sirna ditelan ego dan kebodohannya sendiri.
Dengan langkah kaki yang makin lunglai dan hati yang pecah berkeping-keping, Haris berbalik dan menyusuri lorong apartemen itu sendirian—melangkah kembali menuju kehidupannya yang sepi, kusam, dan penuh penyesalan seumur hidup.
Langkah kaki Haris terasa begitu berat saat meninggalkan gedung apartemen Nindya yang megah. Tawa bahagia Arka dan senyum hangat Nindya untuk Noval terus terbayang-bayang di kepalanya, menjadi momok penyesalan yang tak akan pernah bisa ia hapus.
Namun, hidup harus terus berjalan. Penyesalan setinggi langit tidak akan bisa memutar kembali waktu.
Dengan sisa-sisa tenaga dan mental yang hancur, Haris menyusuri jalanan malam menuju kontrakan sempitnya. Bagaimanapun benci dan muaknya ia pada Siska, ada satu kenyataan yang tidak bisa ia lari darinya: bayi dalam kandungan wanita itu adalah darah dagingnya sendiri. Ia harus bertanggung jawab, walau itu berarti ia harus mengubur seluruh impian dan sisa kebahagiaannya.
Haris mendorong pintu kontrakan kayu yang lapuk itu. Suara keriut pintu memecah keheningan ruangan yang remang-remang.
Di dalam, Siska sedang duduk di tepi tempat tidur sembari mengelus perutnya yang mulai membuncit. Wajahnya yang tanpa make-up tampak pucat dan lelah, tak ada lagi sisa-sisa aura glamour atau godaan seksi yang dulu membuat Haris bertekuk lutut.
Melihat Haris masuk dengan pakaian kusam dan mata yang sembap, Siska tidak lagi menyambutnya dengan bentakan seperti biasanya. Ada rasa lelah yang sama-sama menyelimuti mereka berdua.
"Dari mana saja kamu, Mas?" tanya Siska pelan, suaranya terdengar serak.
Haris menghembuskan napas panjang, meletakkan tas kerjanya yang kusam di atas meja plastik. Ia duduk di kursi kayu di sudut ruangan, menatap Siska dengan pandangan yang kosong.
"Aku baru saja dari tempat Nindya..." jawab Haris jujur, tanpa energi untuk berbohong lagi. "Aku antar kado buat Arka."
Siska terkekeh sinis, namun kekehannya terdengar hampa. "Dan dia mengusirmu, kan? Seperti biasa."
Haris tidak membalas. Ia menunduk, menatap jemarinya yang saling bertautan. "Nindya sudah bahagia, Siska. Dia punya Noval sekarang. Arka juga sudah tidak butuh aku lagi sebagai ayahnya."
Siska diam sejenak, menatap Haris yang tampak begitu hancur dan patetis. Kebencian dan amarah yang selama ini berkecamuk di dada Siska perlahan berganti menjadi rasa pasrah. Ia sadar, tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari Haris selain tanggung jawab atas anak di dalam kandungannya.
"Lalu... sekarang bagaimana?" tanya Siska lirih.
Haris mendongak, menatap lurus ke dalam mata Siska. "Besok kita ke Pak RT. Kita urus pernikahan siri atau nikah resmi seadanya, terserah kamu. Aku akan tetap bekerja dan memberi kamu nafkah seadanya dari gaji UMR-ku."
Haris berdiri, melangkah mendekati tempat tidur dan menatap perut Siska yang membuncit. Ada perasaan campur aduk di dadanya—rasa bersalah pada calon bayi itu, namun juga rasa sesak karena bayi ini lahir dari dosa dan kehancuran rumah tangganya.
"Anak ini tidak bersalah," lanjut Haris dengan suara dalam. "Aku akan jadi ayah buat dia. Tapi jangan pernah minta kehidupan mewah lagi dari aku, Siska. Ini adalah jalan hidup yang kita pilih sendiri."
Siska menggigit bibirnya, mengangguk pelan sembari menahan air mata yang mulai menetes. Kesombongannya telah runtuh sepenuhnya. Dulu ia bermimpi menjadi istri kaya dari seorang manajer, namun kini ia harus menerima kenyataan hidup prihatin bersama seorang staf biasa di rumah kontrakan sempit.
Malam itu, di dalam ruangan yang dingin dan suram, Haris dan Siska resmi menerima takdir mereka. Ini adalah harga mahal yang harus mereka bayar atas pengkhianatan dan egoisme—sebuah kehidupan penuh kesederhanaan dan penyesalan, berbanding terbalik dengan kehidupan indah penuh kebahagiaan yang kini dijalani Nindya di tempat lain.