NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Draft

Bab 27: Langkah Pasti di Atas Titian Waktu

Waktu terus merangkak maju, membawa serta ritme kehidupan yang semakin matang bagi keluarga kecil Rangga dan Keisha. Musim berganti, dan kini hiruk-pikuk kesibukan kampus telah bertransformasi menjadi dunia profesional yang sesungguhnya. Keisha, yang telah menyelesaikan studi strata satunya dengan predikat cum laude beberapa bulan lalu, kini tengah meniti karier pertamanya sebagai staf analis keuangan di sebuah perusahaan multinasional terkemuka di pusat kota. Sementara itu, Rangga semakin memantapkan posisinya sebagai direktur operasional muda di Aldebaran Engineering & Automotive Hub, membuktikan bahwa tangan dinginnya mampu membawa perusahaan keluarga tersebut melompat jauh lebih modern.

Pagi hari di kediaman mereka yang asri dimulai dengan kesibukan yang teratur. Sinar matahari merangsek masuk melalui tirai putih kamar utama, menyinari lantai kayu yang bersih. Di depan meja rias, Keisha berdiri rapi mengenakan setelan blazer formal berwarna navy . Penampilannya memancarkan aura profesionalisme seorang wanita karier yang cerdas, mandiri, dan penuh percaya diri.

Ceklek...

Pintu kamar terbuka, dan Rangga melangkah masuk sambil mengenakan jam tangan kulit hitam di pergelangan tangannya. Pria itu mengenakan kemeja putih berbalut jas abu-abu tua yang membuat postur tegapnya terlihat semakin memukau. Ia berjalan mendekati istrinya, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Keisha dari belakang, mencium lembut puncak kepala wanita itu melalui cermin meja rias.

"Pagi, Direktur Muda," sapa Keisha tersenyum manis melalui pantulan cermin, menyambut tangan suaminya dengan jemarinya sendiri.

"Pagi juga, Analis Keuangan kesayangan aku," balas Rangga dengan suara baritonnya yang lembut. Ia memutar tubuh Keisha agar menghadap langsung kepadanya, lalu merapikan letak kerah blazer istrinya dengan sangat telaten. "Yakin hari ini mau naik kereta commuter line? Kenapa nggak bareng aku aja ke kantor? Searah kok, nanti aku antar sampai depan lobby gedung kantormu."

Keisha menggeleng pelan sambil merapikan dasi suaminya. "Enggak usah, Kak. Kantor kita kan beda arah jalur macetnya, nanti Kakak malah telat meeting penting sama klien asing jam sembilan nanti. Lagian aku lebih suka naik kereta, lebih cepat dan praktis."

Rangga menghela napas pelan, menyerah pada argumen istrinya. Sejak dulu, Keisha selalu menjadi sosok wanita mandiri yang tidak ingin terlalu bergantung pada fasilitas mewah atau status suaminya. Sifat inilah yang selalu membuat Rangga menaruh rasa hormat dan cinta yang begitu mendalam kepada istrinya.

"Ya udah, tapi kalau nanti jam istirahat pastikan handphonenya diangkat ya. Jangan telat makan siang," pesan Rangga posesif namun penuh perhatian.

"Iya, bos galak..." tawa Keisha renyah, mencolek hidung suaminya gemas.

Beberapa menit kemudian, mereka melangkah keluar rumah bersama menuju garasi. Setelah memastikan pintu rumah terkunci rapat, Rangga mengantar Keisha sampai ke stasiun kereta terdekat dengan motor matic andalan mereka. Meskipun kini Rangga sudah mampu membeli mobil mewah berkat posisinya di perusahaan, mereka sepakat untuk tetap hidup sederhana dan membumi.

Setibanya di depan stasiun, Keisha turun dari motor, melepas helmnya, lalu menyerahkannya kepada Rangga.

"Hati-hati di jalan ya, Kak. Jangan ngebut-ngebut ke kantornya," pesan Keisha sambil merapikan jaket suaminya.

Rangga mengangguk, membuka kaca visir helmnya lalu mencium sekilas kening istrinya di tengah kerumunan orang yang lalu-lalang menuju pintu masuk stasiun. "Kamu juga, hati-hati di kereta. Nanti sore aku jemput di stasiun biasa ya."

Keisha melambaikan tangannya sambil tersenyum cerah, lalu berbalik melangkah masuk ke dalam area peron stasiun. Rangga memandangi punggung istrinya hingga menghilang di antara kerumunan penumpang, sebelum akhirnya memutar kemudi motornya menuju kawasan pusat bisnis kota.

Suasana di ruang kerja Rangga di lantai sepuluh gedung Aldebaran Engineering & Automotive Hub tampak sangat sibuk. Di atas meja kerjanya yang luas, tumpukan berkas cetak biru desain mesin pabrik dan laporan keuangan triwulan terbaru tersusun rapi.

Tok... tok... tok...

Pintu ruang kerja diketuk, lalu muncullah sosok Satria—yang kini menjabat sebagai kepala divisi logistik mitra utama perusahaan—membawa setumpuk dokumen penting.

"Wih, Bos besar kelihatannya serius banget pagi-paji gini," sapa Satria santai langsung menarik kursi di seberang meja kerja Rangga, lalu duduk tanpa diundang. "Gimana, laporan ekspansi proyek mesin industri cabang Surabaya udah beres?"

Rangga menutup pulpen di tangannya, mendongak menatap sahabat setianya itu dengan senyuman tipis. "Udah hampir rampung sembilan puluh persen. Tinggal peninjauan akhir gudang logistik sama tim teknis minggu depan. Ngomong-ngomong soal logistik, pengiriman suku cadang dari pelabuhan kemarin nggak ada kendala kan, Sat?"

Satria menggeleng mantap. "Aman terkendali, Bos. Semua armada jalan lancar tanpa hambatan. Anak-anak eks-lapangan yang kita rekrut dulu pada kerja bagus dan profesional banget."

Mendengar itu, ekspresi wajah Rangga melembut. Ia teringat kembali bagaimana perjalanan hidup mereka dimulai—dari jalanan berdebu, markas-markas kumuh geng motor, hingga pertarungan harga diri yang keras di masa remaja. Siapa sangka, di usia mereka yang kini menginjak pertengahan dua puluhan, mereka berhasil merajut masa depan yang terhormat melalui keringat dan kerja keras sendiri.

"Baguslah kalau begitu," ujar Rangga tenang. "Oh ya, Bara gimana kabarnya? Katanya minggu kemarin dia sempat keliling cabang pabrik di Bandung?"

"Bara aman, kemarin dia telepon katanya bengkel modifikasi cabang baru di sana sukses besar berkat tangan dinginnya," jawab Satria tersenyum lebar. "Dia nitip salam buat lu sama Keisha. Katanya kapan-kapan mau mampir main ke rumah kalian kalau ada waktu luang."

Rangga mengangguk. "Bakal kuingetin Keisha buat siapin masakan spesial kalau Bara datang."

Sementara itu, di kantor pusat keuangan tempat Keisha bekerja yang terletak di kawasan segitiga emas kota, suasana terasa sangat dinamis. Di ruang kubikal kerjanya yang bernuansa modern, Keisha fokus menatap layar komputer, menganalisis laporan arus kas dan neraca keuangan perusahaan untuk rapat pleno direksi siang nanti.

Di sela-sela kesibukannya, rekan kerja satu divisinya, seorang gadis ceria bernama Riri, mendadak bergeser mendekati kubikal Keisha sambil membawa dua cangkir kopi instan.

"Keish, sebentar lagi kan jam istirahat siang. Lo mau ikut ke kanting lantai bawah atau nitip pesanan makanan aja?" tanya Riri sambil menyerahkan salah satu cangkir kopi kepada Keisha.

Keisha mengalihkan pandangannya dari layar monitor, meregangkan otot-otot lehernya sejenak, lalu menerima cangkir kopi tersebut dengan senyuman. "Makasih ya, Ri. Hmm... sepertinya aku turun ke kantin aja deh, mau cari udara segar sebentar. Otakku rasanya mau pecah ngeliat angka-angka laporan pajak dari kemarin."

Riri tertawa renyah. "Hahaha, makanya jangan terlalu ambisius jadi pegawai teladan, Keish. Suami lo kan udah jadi direktur muda tajir melintir, ngapain lo masih capek-capek kerja kantoran kayak gini?"

Mendengar candaan itu, Keisha hanya tersenyum tipis penuh arti. "Bukan masalah butuh atau nggak butuh, Ri. Aku cuma pengin punya identitas dan karya sendiri. Suamiku memang sukses dengan jalannya, tapi aku juga pengin berdiri di atas kaki sendiri sebagai wanita yang mandiri."

Riri menatap sahabat kantornya itu dengan tatapan kagum. "You are truly an inspiring woman, Keisha. Nggak heran kalau Rangga bucin banget sama lo."

Pukul dua belas siang, jam istirahat berbunyi. Keisha dan Riri turun ke kantin gedung yang luas dan mewah. Di tengah obrolan santai mereka, ponsel di dalam tas tangan Keisha tiba-tiba bergetar.

Keisha melirik layar ponselnya; tertera nama panggilan dari suaminya: Kak Rangga.

Ia segera mengangkat panggilan tersebut sambil tersenyum kecil. "Halo, Kak? Tepat waktu banget teleponnya, pas jam istirahat siang."

Di seberang sambungan telepon, suara bariton Rangga langsung terdengar hangat. "Tentu saja, aku selalu ingat jadwal istriku. Kamu udah makan siang? Jangan bilang kamu telat makan lagi karena sibuk ngurusin laporan pajak."

Keisha terkekeh pelan. "Iya, Pak Direktur yang cerewet. Ini aku baru aja sampai di kantin kantor sama Riri mau pesen makanan."

"Bagus kalau gitu," balas Rangga terdengar lega. "Oh ya, nanti sore jangan lupa tunggu aku di stasiun biasa ya. Aku udah selesai meeting lebih awal, jadi kita bisa langsung pulang bareng."

"Siap, Kak. Nanti aku kabari kalau udah mau sampai stasiun," jawab Keisha lembut.

Setelah menutup telepon, Keisha kembali bergabung dengan Riri, menikmati makan siang dengan perasaan yang diliputi kebahagiaan sederhana.

Matahari perlahan mulai turun ke ufuk barat, memancarkan bias warna jingga kemerahan yang memantul di kaca-kaca gedung pencakar langit kota. Jam menunjukkan pukul lima sore, menandakan waktu kepulangan bagi jutaan pekerja kantoran.

Di stasiun kereta komuter yang padat namun teratur, Keisha berjalan keluar dari pintu peron bersama arus lautan manusia yang pulang kerja. Udara sore berhembus sepoi-sepoi, menerpa lembut rambutnya.

Ia mengedarkan pandangannya ke seberang jalan raya di depan area parkir stasiun. Di sana, di samping motor matic sederhananya, sesosok pria berjas abu-abu dengan lengan kemeja yang dilipat hingga siku berdiri tegak sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Rangga tersenyum lebar melihat istrinya berjalan menghampiri. Begitu Keisha tiba di dekatnya, Rangga langsung merapikan helm bogo putih dan memakaikannya ke kepala sang istri dengan sangat telaten, memastikan tali pengikatnya terpasang dengan sempurna.

"Udah lama nunggu, Kak?" tanya Keisha lembut, merapikan kerah jas suaminya.

Rangga menggeleng pelan, membukakan helm bagi Keisha lalu merangkul pinggang ramping istrinya posesif. "Baru aja nyampe kok. Ayo kita pulang, rumah udah nungguin kita."

Keisha mengangguk mantap, membonceng di belakang motor suaminya. Di tengah padatnya arus lalu lintas kota sore itu, di bawah langit senja yang damai, mereka melaju bersama menuju rumah kecil mereka—tempat di mana cinta sejati, kesabaran, dan ketulusan bersemayam abadi, merajut masa depan yang gemilang di atas titian waktu yang takkan pernah pudar.

1
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak tetap semangat berkarya ya kak jangan patah semangat oh ya kak aku punya novel baru yang berjudul cinta tiada ujungnya tolong mampir ya kak terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!