Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 04.
"Hey Eva jangan jauh-jauh atau kau akan di bawa peri hutan" seru Leo yang terdengar sayup-sayup.
Sudah tiga bulan dari insiden yang terjadi di perbatasan, kini dia bisa berjelajah di hutan Ilos. Hal yang ditunggu nya sejak lama, dia terlalu bosan membaca dan berlatih dirumah saja. Memang jiwa Eva yang asli adalah berpetualang, mirip pemilik asli tubuh aslinya.
Eva memacu kudanya ke arah barat untuk melihat air terjun permata yang tersembunyi, tempat yang sangat disukainya untuk berendam. Terakhir kali Luantys berkata, mereka kesana ada burung Oakas burung dengan surai putih susu dengan corak emas, sebagai pecinta koleksi bulu burung, mendapat bulu Oakas sangat langkah, makanya dia ikut Glen dan Leo yang berburu.
Eva tersenyum lebar kala melihat air terjun itu, dia tidak akan pernah bisa bosan terkesan dengan tempat baru itu. Pemandangan air terjun yang dihiasi pohon yang tumbuh di samping air terjun, alirannya yang tersambung ke sungai yang di isi ikan kecil. Beberapa hewan seperti rusa, kelinci dan rubah bersantai disana.
Eva turun dari kudanya, mengelusnya pelan dan membiarkan kuda kesayangan nya itu bebas sementara. Dia mendekat ke air terjun melihat lebih dekat, merasakan tetesan yang mengenai wajahnya, sangat menyegarkan.
"untung sudah bawa ganti, aku bisa berendam sebentar kan" dia melepas pakaiannya, membuka ikatan dan membiarkan rambutnya yang panjang sepinggang itu terkena air.
Eva merasa rileks kala berendam di sana, masa bodo kalau tiba-tiba di akan masuk angin, kesempatan tidak akan datang dua kali kan.
Para kupu-kupu berterbangan membuat suasana menjadi lebih indah lagi, Eva terkekeh saat para burung juga sedikit mendekat dan memberikan kicau yang indah.
Eva mencoba menyelam, mencoba seberapa dalam dan melihat apa dia beruntung menemukan permata langit hutan yang tersembunyi di dasar air terjun.
"Ini bukan area Odelions, apa kita masuk ke ranah Ilos?" Flery menatap prajurit disampingnya.
Karena Felix dan kaisar sedang menjamu tamu dari bangsawan negeri Utara,. Flery memilih berburu sedikit, walau dia lemah. Setidaknya dia bisa berburu hewan kecil untuk kesenangan nya.
Flery menatap hutan yang lebih harum dan hijau dari hutan Odelions, memang hutan Ilos terlihat berbeda dari hutan lainnya. Sesuai sejarah kalau hutan Ilos dulunya tempat para penyihir tinggal, jadi ada beberapa sisa sihir disana.
"bagaimana pangeran, apa anda ingin lanjut berburu?" Flery diam sejenak.
"biarkan aku sendiri yang berburu, kau kembali ke tenda" perintah nya.
Flery mengamati sekitar, kudanya melangkah pelan menyusuri hutan Ilos, sampai dia berhenti sejenak.
"terdengar seperti suara air terjun, yah biasanya hewan kecil di sana untuk bersantai" Flery turun dari kudanya, melepas atribut kerajaan menyisakan pakaian khas berburunya dan busurnya.
Flery mendekat ke sumber suara, butuh waktu tidak lama dia sampai.
Dirinya terkagum dengan tempat yang dia lihat, air terjun yang menjulang dengan kedua tebing yang dihiasi pohon yang seperti tumbuh di tebing. bunganya yang berguguran indah di tambah kawanan kupu-kupu yang berterbangan, dan kicau burung. Namun yang membuatnya terdiam adalah sosok wanita yang keluar dari air.
Gadis itu tertawa dengan indah di mata Flery, mata biru yang bagai permata berkilau indah ketika dia bahagia, surainya yang hitam basah tambah menggoda, terlebih kulitnya yang seputih susu.
"aku tidak tau gadis Ilos ada yang secantik itu", kagumnya
Eva kembali tertawa saat merasa geli karena para ikan mendekati kakinya, dia tidak menemukan apapun didasar air terjun tapi setidaknya dia bersenang-senang.
Wajah Flery memerah kala melihat Eva tertawa lagi dengan indahnya, hatinya seketika berdebar aneh dan ada perasaan tergelitik yang muncul di hatinya.
Flery memalingkan wajah kala Eva keluar dari air, tubuhnya yang tidak tertutup kain sehelai pun itu bergegas mengambil kain sebagian handuk dan segera memakai pakaiannya. eva menghampiri kudanya, dan segera naik untuk segera kembali. Dia akan kena ceramah panjang jika tidak segera kembali, namun_
"KYAA"
Tiba-tiba kudanya menginjak akar tanaman karnivora, karena kaget kudanya kehilangan kendali dan hampir menjatuhkannya. Namun sebuah tangan menangkapnya dengan aman sebelum jatuh mengenai tanah.
"kau tidak apa?" Eva mendongak.
Flery tersenyum kecil, melihat wajah Eva dari dekat membuatnya semakin berdebar.
"ah terimakasih" Eva bergegas bangun dari posisinya.
Flery melihat Eva menenangkan kudanya, dan sedikit berkata sesuatu pada tumbuhan karnivora itu yang tidak dia bisa tahu apa itu. Sebelum akhirnya menghampiri nya.
"terimakasih banyak tadi sudah menolong ku, kamu ada yang sakit tidak ?" wajah Eva terlihat cemas.
"wajahnya yang cemas terlihat manis ya" Flery sedikit berdeham " tidak kok, aman saja".
"kamu yakin?" tanyanya memastikan.
Flery terkekeh, menepuk pucuk kepala Eva dengan lembut, sempat dia merasakan kelembutan di surai hitam yang masih basah itu.
"iya, tenanglah. Aku tidak selemah itu kok". Flery tersenyum manis dan tulus, hal langkah baginya melakukan itu
Eva menghela nafas lega, dia tidak enak jika ada orang yang me_ tunggu.
"aku sedang berburu, saat melihatmu hampir jatuh aku spontan lari menolong itu saja" paham pikiran Eva yang takut terintip, jadi sedikit menyembunyikan fakta itu tidak apa kan.
eva mengusap leher belakangnya, merasa malu karena mengira saat di berendam di lihat. Wajah malu Eva semakin mendatangkan gelegar aneh dalam hati Flery.
"ah aku harus pergi, sekali lagi terima kasih ya sudah menolongku" Eva naik ke atas kudanya.
"ah tunggu apa_ apa kau boleh tau namamu?" tanyanya.
Kening Eva berkerut, kabarnya ada penduduk baru di desa. Dia juga berburu, mungkin dia penduduk baru itu, jadi wajar kalau belum mengenalnya pasti.
"aku Evanthe, panggil saja Eva jika kita bertemu lagi" dia tersenyum manis " dan kamu?".
"Flery o_ ah Ferly itu namaku" flery tersenyum.
"baiklah salam kenal Flery, aku pergi dulu" Eva memcukan kudanya menjauh dari air terjun.
Flery melihat bayangan Eva yang hampir hilang, menutup wajahnya yang tidak bisa melupakan sensasi sentuhan dan aroma manis Eva, dia menoleh melihat sapu tangan Eva yang tertinggal.
Dia mengambilnya dan mencium aroma yang sangat candu itu, dan tersenyum kecil.
"ku harap bisa bertemu lagi denganmu Eva" Flery mencium sapu tangan Eva.
...****************...
Felix melangkah menyusuri koridor istana menuju istana putra mahkota dengan langkah santai, Brian masih mengurus para prajurit mereka agar siap berperang kapan saja, dan para lady sudah dilarang masuk ke istana putra mahkota jadi dia bisa tenang sore ini.
"kamu baru pulang nak", Felix menoleh. Melihat Ferly dan permaisuri.
"iya bu, aku berburu sedikit. Yah hanya kelinci kecil saja" ujarnya.
Felix tersenyum sinis "seusimu aku bisa mendapat harimau besar, apa ini dik kamu seperti menghina martabat kaisar yang dijuluki raja berburu sebagai keturunannya".
"diam kamu, jangan dengarkan dia nak" permaisuri menyentuh tangan putra nya.
Flery menatap Felix, yah wajar dia tidak bisa jadi pewaris asli karena dia terlahir lemah. Bukan salahnya dia rentan sakit, tapi setidaknya dia pintar, sudah cukup mengimbangi sosok tiran yang menyindirnya itu.
"ah setidaknya aku masih ramah dengan para lady, tidak terkait rumor kalau aku menyukai sesama jenis" balanya dengan senyum kecil khasnya.
Felix tersenyum miring, merasa tertantang. Dia mendekat ke arah Flery dengan jubah nya yang identik hitam,berbeda dengan kerajaan yang selalu memakai pakaian cerah. Berdiri angkuh di depannya.
"Yah setidaknya aku tidak memakai seorang lady untuk naik menjadi kaisar, aku memakai kemampuanku dan dedikasiku di perang, dan jangan lupa aku juga tidak bodoh adik" felix tersenyum angkuh dengan nada yang sangat dominan.
tiba-tiba Flery teringat wajah Eva kala Felix menyebut lady. Gadis manis yang baik, tidak bisa disandingkan dengan para lady yang norak dan terlalu heboh itu.
Felix melangkah meninggalkan kedua ibu dan anak itu, bergegas menuju istana putra mahkota, dia akan muak jika terlalu lama dekat dengan mereka, terkhusus ibu permaisuri.
"dasar bajingan itu, jika aku dulu bisa membunuh nya pasti putraku yang jadi putra mahkota sekarang" dengusnya.
"ibu, aku punya permintaan " permaisuri menatap Flery.
"apa sayang?" Flery menatap ibunya itu.
"batal kan perjodohan ku Bu" wajah permaisuri terlihat tidak senang.
"aku ingin mendekati seorang gadis Bu, biasakan aku jamin kalau dia mau menikah denganku tahtah kekaisaran akan jadi milikku" bujuk flery
"kamu mau mendekati gadis mana?, ibu tidak mau kamu mendekati gadis biasa. Kita butuh dukungan hebat sayang" permaisuri mengelus pipi Flery.
Flery tersenyum, menyentuh tangan ibunya yang berada di pipinya. "tenang ibundaku, kali ini bahkan menyelesaikan dua masalah sekaligus jika aku berhasil".
Yah tekad Flery sudah bulat, bukannya kekaisaran bingung menghadapi negri Ilos yang hanya sebuah desa Tampa bangsawan, negeri yang dulu menjadi tempat penting bagi sejarah para penyihir, jika dia bisa menikahi salah satu gadis disana bukannya akan mengatasi krisis pergerakan negeri Ilos dan dia akan bisa mendapatkan gadis itu.
Flery meremas sapu tangan Eva, "tunggu saja Eva, aku akan jadikan kamu milikku yang bersinar di Odelions " batinnya.
...****************...
Eva menoleh kesana kemari, hutan Ilos tampak gelap sekali,.kenapa bisa dia ada disini.
Eva melangkah menyusuri hutan, hingga akhirnya sampai di air terjun, tapi dia tidak sendiri disana ada dua orang yang sedang berpelukan.
"an aku tidak ingin melakukan ini, aku hanya ingin bersama mu" salah satu dari mereka berbicara.
"jika kamu tidak pergi sekarang, masalah akan lebih buruk El, jadi tolong pergilah. Ku mohon " balas lawan bicaranya.
"tapi bagaimana dengan anak kita?" sosok itu menyentuh perut lawannya.
"selagi aku bernafas tidak akan ada yang menyentuh nya, akan ku jaga sampai kita bisa bersama lagi" lawannya menempelkan kening nya ke sosok di depannya.
Eva tidak bisa melihat kedua sosok itu dengan jelas, karena lokasi yang cukup jauh tapi anehnya dia bisa dengar percakapan mereka dengan jelas.
Tiba-tiba posisi berubah,banyak orang membawa obor dan senjata mengerubungi seorang gadis dengan surai panjang tergerai ke betis yang menggendong bayi, orang-orang tampak marah sekali pada gadis itu.
Gadis itu di tarik terpisah dengan sang anak, dan di ikat di tiang besar lalu di bakar hidup-hidup, Eva menutup mulut karena merasa sakit. Melihat gadis itu di bakar, apa salahnya hingga dia harus di bunuh seperti itu.
Berganti lagi, Eva terkejut bukan main melihat orang-orang yang sudah tergeletak bersimbah darah di sepanjang jalan, rumah-rumah yang hancur dan asap besar dari hutan membuatnya terkesan kelam.
Seorang laki-laki yang memeluk mayat bayi terduduk di batang kayu yang sempat Eva lihat untuk eksekusi gadis sebelumnya, dia menunduk dengan tubuh gemetar.
"untuk apa dunia jika kamu tidak ada an, bahkan anak kita juga pergi sedetik aku memeluknya, ini tidak adil". Ujar laki-laki itu gentar.
Tubuh laki-laki mengeluarkan aura hebat, Eva hampir panik karena aura itu bisa membumi hanguskan kehidupan di semua negeri.
"jika kamu tidak ada an, dunia ini harus hancur" serunya penuh murka dengan wajar berlinang air mata.
"HAH?!" eva tersentak, dia menoleh ke sekitarnya.
Kamarnya tampak remang, hanya ada sinar bulan dari jendelanya saja yang menyinari kamarnya.
Eva menyentuh dadanya, kenapa dia merasa sakit dengan mimpinya itu, apa maksudnya? apa hubungan mimpi itu dengannya?.
...****************...