NovelToon NovelToon
Suami Dinginku

Suami Dinginku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Cintamanis / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 — Kalau Bukan Cemburu, Lalu Apa?

Pagi di kantor Diara berjalan seperti biasa—sibuk, teratur, dan penuh deadline kecil yang harus diselesaikan satu per satu.

Diara sedang duduk di ruang desain, menatap layar laptop yang penuh konsep interior. Tangannya sesekali mencatat revisi klien, sementara pikirannya tetap fokus pada pekerjaan.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

“Tok… tok…”

“Masuk,” ucap Diara tanpa mengalihkan pandangan.

Pintu terbuka.

“Ta-da!”

Suara ceria langsung memenuhi ruangan.

Diara menoleh.

“Baila…”

Sahabatnya itu masuk sambil membawa beberapa bucket bunga segar dengan warna yang cantik dan fresh. Aroma bunga langsung memenuhi ruangan.

“Aku datang membawa pesanan khusus dari klienmu yang super perfeksionis itu,” ucap Baila sambil tersenyum lebar.

Diara berdiri.

“Syukurlah kamu yang antar sendiri.”

Baila meletakkan bunga-bunga itu di meja.

“Ini fresh flower sesuai request: lavender, white rose, dan sedikit baby breath. Biar interior kamu hidup, bukan cuma desain mati.”

Diara mengangguk puas.

“Bagus. Klien ini maunya suasana natural tapi tetap elegan.”

Baila menyipitkan mata.

“Hmm… kamu juga lagi ‘natural tapi elegan’ ya akhir-akhir ini.”

Diara langsung menoleh.

“…maksudnya apa?”

Baila tersenyum jahil.

“Biasanya kamu itu tegas, fokus, dingin ke pekerjaan. Sekarang kok sering senyum sendiri?”

Diara langsung membeku sepersekian detik.

“Aku tidak senyum sendiri.”

Baila duduk di ujung meja.

“Boong.”

“Tidak.”

“Boong lagi.”

Diara menghela napas.

“…Baila.”

Baila tertawa pelan.

“Jangan-jangan karena suamimu itu ya?”

Diara langsung menutup laptopnya sedikit lebih keras dari biasanya.

“Tidak ada hubungannya.”

Baila mengangkat alis.

“Kalau tidak ada hubungannya, kenapa kamu jadi defensif?”

Diara diam.

Dan itu sudah cukup jadi jawaban.

Baila bersandar santai.

“Jujur ya, aku baru pertama kali lihat kamu jadi versi begini.”

“Versi apa?” tanya Diara cepat.

“Versi orang yang lagi jatuh—”

“Stop,” potong Diara cepat.

Baila tertawa kecil.

“Ya ampun, belum selesai juga aku ngomongnya.”

Diara mendecak pelan.

“Kamu datang ke sini kerja atau ganggu?”

“Dua-duanya,” jawab Baila santai.

Suasana masih dipenuhi tawa kecil Baila ketika ponsel Diara bergetar di atas meja.

Notifikasi masuk.

Nama pengirimnya membuat Diara langsung berhenti bergerak.

Jifan.

Diara membuka pesan itu.

💌 Jifan:

"Aku jemput kamu jam makan siang. Kita makan bareng."

Baila langsung menyipitkan mata melihat perubahan ekspresi Diara.

“Wah.”

Diara langsung menutup layar ponselnya.

“…apa.”

Baila tersenyum lebar.

“Itu dia?”

Diara menghela napas.

“Bukan urusan kamu.”

Baila berdiri dan mendekat.

“Wajah kamu berubah.”

“Aku tidak berubah.”

“Berubah.”

Diara menatapnya tajam.

“…Baila.”

Baila tertawa kecil.

“Ya sudah ya, pasangan yang lagi berbunga-bunga.”

Diara langsung salah tingkah.

“Siapa yang berbunga-bunga?!”

Baila sudah berjalan menuju pintu sambil tertawa.

“Ya ya ya, bukan kamu. Sudah aku pulang dulu ya pesanan bucket bunga di tokoku lagi banyak banget”

Sebelum keluar, ia menoleh lagi.

“Tapi aku ikut senang sih, akhirnya kamu punya hidup selain kerja.”

Diara hanya bisa diam.

Dan ketika pintu tertutup, ia menatap ponselnya lagi.

Lama.

Lalu tanpa sadar—

ujung bibirnya naik sedikit.

“…makan siang?” gumamnya pelan.

Dan hari itu, pekerjaan Diara kembali dilanjutkan dengan satu distraksi baru yang tidak bisa ia abaikan:

seseorang yang bernama Jifan.

🪻🪻🪻🪻

Jam makan siang di kantor Diara hampir tiba.

Suasana kantor mulai lebih tenang, beberapa karyawan sudah bersiap keluar untuk makan siang, sementara Diara masih berada di ruang kerjanya.

Ia menatap cermin kecil di meja.

Beberapa detik ia hanya diam.

Lalu membuka tas kecilnya.

Mengeluarkan bedak.

Tap… tap…

Wajahnya dirapikan sedikit.

Lalu lipstik coral tipis ia sapukan pelan di bibirnya.

Ia menatap dirinya sendiri.

“…kenapa aku begini,” gumamnya pelan, tapi ujung bibirnya sedikit naik.

Di luar ruangan, mobil Jifan sudah berhenti di depan kantor.

Beberapa karyawan langsung memperhatikan.

“Eh itu suaminya Bu Diara ya?”

“Iya, Pak Jifan kan?”

Begitu Jifan turun dari mobil, beberapa staf langsung menyapa sopan.

“Selamat siang, Pak.”

Jifan mengangguk singkat.

Namun matanya langsung mencari satu orang.

Diara keluar dari gedung.

Begitu matanya bertemu Jifan, langkahnya sedikit melambat.

Jifan tersenyum kecil.

“Sayang,” panggilnya santai.

Diara langsung berhenti sepersekian detik.

“…Mas,” jawabnya pelan, tapi jelas gugup.

Beberapa karyawan langsung saling melirik.

Salah satu berbisik pelan:

“Wah, panggilannya sekarang sayang…”

Jifan mendekat.

“Ayo makan siang,” ucapnya ringan.

Diara mengangguk kecil.

“Sudah lama menunggu?”

“Tidak,” jawab Jifan. “Baru saja.”

Namun tatapannya sempat jatuh ke wajah Diara.

“…kamu dandan?”

Diara langsung refleks.

“Tidak berlebihan.”

Jifan tersenyum kecil.

“Cukup.”

Diara langsung memalingkan wajah.

“…jangan komentar.”

Jifan tertawa pelan.

Di dalam mobil, suasana terasa lebih santai.

Jifan menyetir sambil sesekali melirik Diara.

“Mau makan apa?”

Diara berpikir sebentar.

“…kayaknya aku pengen ramen.”

Jifan langsung mengangguk.

“Ramen?”

“Iya.”

“Yang kuah atau kering?”

“Kuah,” jawab Diara singkat.

“Baik,” kata Jifan tanpa ragu. “Aku ikut kamu.”

Diara menoleh.

“Biasanya Mas tidak suka ikut-ikutan.”

Jifan meliriknya sekilas.

“Kalau sama kamu, beda.”

Diara langsung diam.

Restoran ramen terkenal itu tidak terlalu jauh dari kantor.

Begitu mereka masuk, suasana hangat langsung menyambut—aroma kaldu, suara mangkuk, dan hiruk pikuk ringan pelanggan.

Mereka duduk berdua di pojok dekat jendela.

“Di sini sering makan?” tanya Jifan.

“Kadang,” jawab Diara.

Jifan mengangguk.

“Bagus.”

Diara menatapnya.

“Bagus kenapa?”

“Karena kamu suka,” jawab Jifan santai.

Diara langsung menunduk sedikit.

“…Mas Jifan sekarang jadi banyak ngomong aneh.”

Jifan tersenyum.

“Lebih baik atau lebih buruk?”

Diara diam.

“…lebih berisik,” jawabnya akhirnya.

Jifan tertawa kecil.

Ramen datang.

Uap panas naik dari mangkuk.

Diara langsung fokus pada makanannya.

Jifan memperhatikan sebentar.

“Enak?”

Diara mengangguk.

“Enak.”

Jifan ikut makan.

Mereka makan sambil sesekali bercanda ringan—hal-hal kecil, sederhana, tapi cukup untuk membuat jarak yang dulu ada perlahan hilang tanpa disadari.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, makan siang Diara bukan sekadar jeda kerja.

Diara dan Jifan sedang menikmati makanan mereka dalam suasana tenang.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Suara langkah sepatu terdengar mendekat dari arah pintu masuk.

Klik—tap—tap.

Seorang perempuan masuk dengan penampilan mencolok, langsung mengarahkan pandangannya ke dalam restoran.

Matanya berhenti pada Jifan.

“Hai, Jifan?”

Nada suaranya terdengar percaya diri, sedikit berlebihan.

Perempuan itu langsung berjalan mendekat tanpa ragu.

“Lama banget nggak ketemu,” ucapnya dengan senyum tipis.

Jifan hanya menoleh sekilas tidak berniat menjawab sapaan Aretha.

Tidak antusias.

Tidak juga hangat.

Aretha tersenyum lebih lebar, lalu melirik Diara yang duduk di seberang Jifan.

“Oh… ini istrimu?”

Tatapannya naik turun sekilas, lalu ia tersenyum miring.

“Jadi ini ya yang jadi istri kamu.”

Diara meletakkan sendoknya pelan.

Matanya menatap Aretha dengan tenang.

“Iya. Ada masalah?”

Aretha tertawa kecil, lalu menarik kursi tanpa diundang di dekat meja mereka.

“Enggak sih. Cuma… ternyata selera kamu seperti ini ya, Jifan.”

Jifan tidak menjawab. Wajahnya tetap datar.

Namun matanya sudah berubah—lebih dingin.

Namun suasana tidak berhenti di sana.

Aretha tersenyum tipis, lalu menambahkan,

“Jujur ya, aku kira selera Jifan lebih… stabil.”

Hening sejenak.

Beberapa pengunjung restoran yang mendengar percakapan itu mulai melirik.

Diara menatap Aretha lama.

Lalu menghela napas pelan.

“Kalau cuma datang untuk menilai orang lain, kamu salah tempat.”

Aretha mengerutkan alis.

“Apa?”

Diara tetap tenang.

“Kita lagi makan. Bukan audisi.”

Suasana mulai terasa canggung.

Beberapa orang di meja sebelah mulai berbisik.

Aretha tampak tersinggung.

“Jangan sombong deh.”

Diara menatapnya langsung.

“Aku tidak sombong. Aku cuma tidak tertarik dibanding-bandingkan dengan orang yang bahkan tidak tahu cara menghargai orang lain. Apalagi menggoda suami orang” Diara sengaja mengeraskan suaranya saat mengatakan suami orang.

Suasana restoran mulai berubah.

Bisik-bisik terdengar lebih jelas.

“Wah…”

“ternyata dia pelakor?”

“Videoin ah kalau viral bagus tu…”

Aretha mulai menyadari tatapan orang-orang di sekitarnya.

Wajahnya berubah sedikit.

Ia berdiri tiba-tiba.

“Awas ya kamu.”

Nada suaranya lebih rendah, tapi jelas kesal.

Lalu ia berbalik pergi dengan cepat, tangannya menutupi sebagian wajahnya karena merasa diperhatikan banyak orang.

Keheningan kembali ke meja mereka.

Jifan akhirnya menatap Diara.

“…kamu tidak perlu keras begitu.”

Diara menoleh.

“kamu membela dia mas.” ucap Diara ngegas

Jifan diam beberapa detik.

Lalu pelan berkata,

“Tidak sayang.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan lebih lembut,

“Aku cuma tidak mau kamu meladeni orang seperti itu, tenang saja aku tidak tergoda karena istriku lebih menggoda” ucap Jifan dengan Jailnya

Diara langsung terdiam dengan pipi merona.

“Apaan sih mas“ Diara malu.

Lalu kembali menatap mangkuk ramen di depannya.

“…habiskan makan saja.”

Jifan tersenyum kecil.

“Baik, sayang.”

Diara langsung berhenti sejenak.

“…jangan mulai lagi.”

Jifan hanya terkekeh pelan.

Dan makan siang itu kembali berlanjut—kali ini dengan suasana yang sedikit terganggu, tapi tidak bisa benar-benar merusak kedekatan yang mulai mereka bangun kembali.

🪻🪻

Setelah kejadian di restoran, Diara tidak kembali ke kantornya.

Ia memilih ikut Jifan ke kantor suaminya.

Bukan karena ingin, tapi juga bukan karena menolak.

Lebih seperti… tidak ingin sendirian dengan pikirannya sendiri setelah gangguan yang tadi terjadi.

Di dalam mobil, suasana kembali tenang.

Namun tidak seperti sebelumnya, kali ini ada sesuatu yang lebih ringan di antara mereka.

Jifan menyetir dengan satu tangan di setir, sementara tangan satunya sesekali mengetuk pelan.

Diara duduk di sampingnya, menatap ke luar jendela.

Diam.

Beberapa menit kemudian, suara Jifan memecah keheningan.

“Diara.”

“Hm?”

Diara menoleh sekilas.

Jifan meliriknya, lalu tersenyum kecil.

“…kamu cemburu?”

Diara langsung mengerutkan kening.

“Cemburu apa?”

Jifan tetap fokus ke jalan, tapi nada suaranya jelas sedang menggoda.

“Barusan. Sama Aretha.”

Diara langsung menghela napas.

“…tidak.”

Jifan mengangkat sudut bibirnya.

“Benar?”

“Iya.”

Jifan diam sebentar.

Lalu kembali bertanya pelan,

“Kalau aku digoda perempuan seperti dia, kamu tidak terganggu?”

Diara menoleh lebih serius sekarang.

“…Mas Jifan.”

“Ya?”

“Kenapa pertanyaannya aneh?”

Jifan tertawa pelan.

“Karena aku penasaran.”

Diara langsung memalingkan wajah lagi ke jendela.

“…tidak ada yang perlu ditanyakan.”

Namun pipinya sedikit menghangat.

Jifan tidak berhenti di situ.

“Kalau aku tadi ngobrol lama sama dia, kamu juga tidak masalah?”

Diara diam.

Beberapa detik.

“…itu urusan Mas.”

Jifan meliriknya sekilas.

“Jawaban aman.”

Diara langsung menoleh.

“Memang begitu.”

Jifan tersenyum tipis.

“Berarti kamu cemburu.”

Diara langsung menatapnya tajam.

“…tidak.”

“Kalau tidak, kamu tidak akan menghindari jawabannya.”

Diara terdiam.

Suasana mobil kembali hening.

Tapi bukan hening yang dingin.

Lebih seperti hening yang penuh hal-hal yang tidak diucapkan.

Beberapa menit kemudian, Diara akhirnya berbicara pelan.

“…aku tidak suka orang sembarangan dekat dengan Mas di depan umum.”

Jifan langsung diam.

Lalu menoleh sedikit, ekspresinya berubah lebih lembut.

“Kenapa tidak bilang dari tadi?”

Diara mengangkat bahu kecil.

“…tidak penting.”

Jifan menggeleng pelan.

“Penting.”

Ia kembali fokus menyetir, lalu berkata lebih pelan,

“Kalau begitu, lain kali bilang saja.”

Diara meliriknya.

“…Mas memang suka digoda.”

Jifan tertawa kecil.

“Tapi aku cuma mau digoda kamu.”

Diara langsung membeku.

“…Mas Jifan.”

Jifan melirik sekilas, lalu tersenyum kecil.

“Kenapa? kamu tidak suka?”

Diara langsung menoleh ke jendela lagi.

“…fokus nyetir saja.”

Jifan tertawa pelan.

Namun tangannya di setir sedikit mengetuk lebih ringan dari sebelumnya.

Dan Diara yang duduk di sampingnya hanya bisa diam—menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin ia akui dengan jelas:

bahwa ia memang tidak suka Jifan didekati perempuan lain.

1
Kaira Caem
sebentar manggil mas,. sebentar manggil Jifan.. ngantuk ya thoor🤣
Kaira Caem
tapi Diara pake hijab.. kok bilang rambut nya diikat rapi.. kadang² ngelindur ini author nya
Aiza-ra: Sorry kak, baru pertama kali nulis jadi suka ada yang typo 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!