NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6.Ditengah angka yang mulai berkurang.

Selama beberapa hari berikutnya, kehidupan Ivy terasa jauh lebih ringan dan bermakna dibandingkan saat ia tinggal di rumah besar keluarga Dermawan. Setiap pagi, ia dan Bibi Nora selalu berjalan menuruni jalan setapak menuju perkampungan yang terlihat dari balkon vila. Di sana, Ivy dengan senang hati membantu warga melakukan berbagai pekerjaan ringan, persis seperti kebiasaan yang ia lakukan saat masih tinggal bersama kakek dan neneknya di desa dulu. Ia membantu mengaduk adonan kue di dapur ibu-ibu, membawa air bersih dari sumur, menyusun sayuran di tepi jalan, bahkan ikut mengajari anak-anak desa membaca dan berhitung.

Dalam kesibukan itu, Ivy seolah melupakan rasa sakit di kepalanya dan lupa bahwa ia sedang mengidap penyakit mematikan. Tawanya kembali terdengar lepas, wajahnya yang pucat perlahan memerah terkena sinar matahari pagi, dan ia terlihat lebih hidup daripada sebelumnya. Bibi Nora yang melihat perubahan itu merasa sangat lega, meski di dalam hatinya tetap menyimpan kekhawatiran mendalam.

Namun, waktu tetap berjalan tak terhentikan. Di atas kepala Ivy, angka yang terlihat hanya oleh matanya itu terus berkurang. Kini tertulis jelas 20 hari, menandakan bahwa hanya tersisa dua puluh hari lagi sebelum waktunya habis. Setiap kali ia meminum obat yang diberikan dokter, angka itu akan berhenti bergerak selama satu jam penuh, lalu mundur sedikit—menambah waktu hidupnya hanya sebentar, namun tidak pernah benar-benar menyembuhkannya. Ivy memilih untuk tidak terlalu memikirkannya,ia berusaha menikmati setiap detik seolah itu adalah hari terakhirnya. Namun, saat malam tiba dan suasana menjadi sunyi, kenyataan pahit itu kembali menghantamnya. Ia sering terbangun di tengah malam, menatap angka yang terus berkurang dengan pandangan kosong, lalu menangis dalam diam, merasa frustasi dan putus asa melihat kematian semakin mendekat.

Hingga suatu pagi yang cerah, suasana damai di desa itu tiba-tiba berubah menjadi tegang. Ivy dan Bibi Nora datang seperti biasa, membawa sekantong besar beras, gula, dan kebutuhan pokok lainnya untuk dibagikan kepada warga yang kurang mampu. Namun, begitu tiba di lapangan kecil di tengah desa, mereka melihat kerumunan orang yang sedang berdebat dengan suara meninggi.

Sekelompok pria berpakaian jas hitam rapi berdiri di depan warga, diiringi beberapa orang berotot yang terlihat sebagai pengawal. Salah satu dari mereka berbicara dengan nada sombong dan memerintah, “Kalian semua harus segera mengosongkan tempat ini dalam waktu dua minggu ke depan! Tanah ini sudah dibeli oleh perusahaan besar untuk dibangun kawasan wisata mewah dan hotel bintang lima. Kalian akan mendapatkan ganti rugi, jadi jangan banyak menuntut!”

Namun, warga desa tidak mau mundur. Seorang tetua desa melangkah ke depan dengan wajah tegas, “Kami tidak mau ganti rugi apa pun! Ini adalah tanah leluhur kami, tempat kami dilahirkan, dibesarkan, dan menguburkan orang tua kami. Kami tidak akan membiarkan alam dan desa kami diubah menjadi tempat yang merusak kehidupan kami!”

Mendengar penolakan itu, wajah pria berpakaian jas itu berubah marah. Ia memberi isyarat pada anak buahnya, dan beberapa pria berotot itu mulai mendorong dan mendesak warga secara kasar, bahkan ada yang mencengkeram lengan seorang ibu tua hingga wanita itu terjatuh.

Awalnya Ivy hanya berdiri di kejauhan, tidak bermaksud mencampuri urusan orang lain. Namun, melihat perlakuan kasar itu, darahnya mendidih. Ia tidak bisa diam saja menyaksikan orang-orang lemah diperlakukan semena-mena.

"Ini tidak bisa dibiarkan!. " seru Ivy sambil mengepalkan tangannya dan tatapan tajam.

"Jangan nona, sebaiknya kita jangan ikut campur urusan mereka. Nona harus ingat... " tiba-tiba saja ucapan Nora terhenti.

"Bi, walaupun ini akhir hidupku. Aku tidak akan membiarkan mereka menindas warga desa ini. " ucap Ivy sambil berjalan kearah kerusuhan itu.

Tanpa berpikir panjang, Ivy berlari mendekat, lalu dengan gerakan cepat yang terlatih, ia menendang perut salah satu pria kasar itu hingga terhuyung mundur dan terjatuh.

“Jangan berani-berani menyakiti orang tua dan wanita yang tidak berdaya!” teriak Ivy dengan suara lantang.

Salah satu pria berjas itu menegur Ivy, "Siapa kamu? beraninya ikut campur urusan kami!. " bentaknya.

"Aku... aku ini nenekmu yang mau menghajar kalian semuanya!. " seru Ivy.

Melihat itu warga desa yang sempat ketakutan tadi segera bangkit bersatu bersama Ivy, melawan para pendatang itu. Bibi Nora yang melihat situasi menjadi kacau juga segera bertindak. Dengan ketenangan dan sikap anggunnya, ia berjalan mendekat, lalu menggunakan teknik mengunci pergelangan tangan yang halus namun efektif untuk melumpuhkan lawan yang mencoba mendekat, tanpa harus melukai mereka secara berlebihan.

Berkat ilmu bela diri yang diajarkan kakeknya sejak kecil, Ivy mampu melawan dua orang sekaligus. Gerakannya lincah dan terarah, membuat para pria itu kewalahan dan terpaksa mundur selangkah demi selangkah. Dalam waktu singkat, mereka berhasil memukul mundur kelompok itu, yang akhirnya pergi dengan mengumpat dan mengancam akan kembali lagi dengan kekuatan lebih besar.

Setelah keadaan aman, warga desa segera mendekati Ivy dan Bibi Nora dengan wajah penuh rasa terima kasih. “Terima kasih banyak, Nona dan Ibu! Kalian berani membantu kami saat kami hampir kalah,” ujar kepala desa sambil menundukkan badan.

Ivy tersenyum dan menggeleng, “Tidak perlu berterima kasih. Siapa pun yang melihat ketidakadilan pasti akan berusaha menolong. Ini rumah kalian, kalian berhak mempertahankannya.”

Di tempat yang sangat berbeda, di ruang kerja megah di lantai paling atas gedung pencakar langit di pusat kota Velo ria, suasana terasa sangat dingin dan berwibawa. Larry, asisten pribadi keluarga Cahya, berdiri dengan sikap hormat namun gugup, melaporkan hasil kegagalan timnya kepada tuannya.

“Tuan Rama, kami gagal. Saat mencoba membujuk warga desa untuk pindah, tiba-tiba muncul wanita yang membantu warga desa disana. Dia memiliki kemampuan bertarung yang baik dan berhasil memukul mundur anak buah kami. Warga desa pun menjadi semakin berani menolak,” lapor Larry dengan suara rendah.

Pria yang dipanggil Rama Cahya itu duduk tegak di kursi besar yang terbuat dari kayu mahoni dan kulit asli. Usianya tiga puluh tahun, wajahnya tampan namun selalu terlihat dingin dan tanpa ekspresi. Sebagai kepala keluarga Cahya dan paman dari Brian, ia dikenal sebagai pebisnis yang tangguh, tegas, dan memiliki tangan besi dalam mengurus segala urusan perusahaan—tidak pernah mengenal kegagalan.

Mendengar laporan itu, rahang Rama mengeras. Ia meletakkan pulpennya dengan bunyi yang cukup keras di atas meja, lalu perlahan berdiri dari kursinya. Tatapannya yang tajam menatap lurus ke arah Larry, memancarkan kekuasaan yang membuat siapa pun merasa ciut.

“Masalah sekecil ini saja tidak bisa diselesaikan dengan baik? Hanya karena dihalangi oleh wanita saja kalian kalah, membuat rencana kita terhenti? Memalukan,” ujar Rama dengan suara rendah namun sarat amarah yang tertahan. “Dasar bodoh!,aku sudah bilang untuk tidak menggunakan kekerasan.Masa masalah sekecil ini harus aku yang atasi.”

Larry menunduk ketakutan, “Maaf tuan, biar aku yang atasinya sendiri.”

Namun, Rama mengangkat tangannya, memberi isyarat agar asistennya itu berhenti. “Tidak perlu. Aku sendiri yang akan turun tangan. Masalah ini sudah terlalu lama berlarut dan mengganggu rencana jangka panjang perusahaan. Aku ingin melihat sendiri siapa yang berani melawan kehendak keluarga Cahya.”

Dengan langkah tenang namun penuh wibawa, Rama melangkah menuju jendela kaca besar yang menghadap ke seluruh kota, memandang ke arah selatan tempat desa itu berada. Di dalam hatinya, ia tidak menyangka bahwa peristiwa kecil ini akan mempertemukannya dengan seseorang yang kelak akan mengubah hidupnya secara tak terduga.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!