NovelToon NovelToon
TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

TERBAWA ARUS TAKDIR BERSAMA SUAMI MAFIAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Mengubah Takdir / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa / Dark Romance
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perintah Cepat Pulang Dari Adrian

Di sekolah, hari ini seluruh kelas mengikuti senam pagi di lapangan terbuka. Aku sudah memakai seragam olahraga yang agak longgar, nyaman dipakai, rambutku diikat rapat dengan pita agar tidak mengganggu saat bergerak. Kami berbaris memanjang, lalu mulai berlari memutari lapangan bersama teman-teman sekelas, kaki melangkah teratur, napas sedikit memburu tapi terasa menyegarkan tubuh.

Kami terus berputar mengelilingi lapangan berkali-kali, diawasi oleh guru olahraga Pak guru. Yang membuatku sedikit gelisah, dari tadi dia berjalan tepat di belakangku — matanya tak lepas mengawasi setiap langkahku, seolah ingin memastikan aku benar-benar mengikuti semuanya, bukan berniat menyelinap pergi ke tempat lain. Aku merasakan tatapannya itu di punggung, membuatku tetap fokus berlari meski di dalam hati masih terasa berat memikirkan semua hal yang terjadi di rumah.

Setelah jam pelajaran usai dan tiba waktu istirahat, Sarah, Alina, dan Liora mengajakku pergi ke kantin bersama. Aku hanya mengangguk pelan memberi isyarat akan menyusul nanti, lalu membiarkan mereka berjalan menjauh sampai bayangan mereka lenyap melewati pintu kelas.

Aku tetap duduk diam di tempat dudukku, tak beranjak sedikit pun. Menyandarkan siku di atas meja, menumpukan dagu di telapak tangan, lalu mengangkat lutut kaki kiri menyilang di atas kaki kanan. Mataku menatap kosong ke dinding di seberang, pikiran melayang entah ke mana — masih terbayang larangan itu, rasa khawatir pada Fara, dan perasaan terikat yang tak kunjung hilang. Bahu terasa lemas, udara di dalam kelas yang sepi itu terasa makin menyesakkan hatiku yang sedang gelisah.

Fernando mencariku ke kantin, tapi tak menemukan batang hidungku di sana. Saat bertemu Sarah dan yang lain, dia bertanya dengan nada penasaran: “Zara ada di mana?”

Mereka menjawab sambil menoleh sedikit ke arah pintu: “Masih di dalam kelas, katanya mau menyusul nanti.”

Fernando mengerutkan dahi sedikit, terlihat bingung, lalu hanya mengangguk pelan: “Baiklah.” Dia pun berjalan kembali menuju gedung kelas, melangkah agak cepat sampai tiba di depan pintu. Dari kejauhan dia melihatku duduk membeku di tempat dudukku, tenggelam dalam lamunan yang dalam.

Dia mendekat dengan langkah sangat pelan, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun. Bahkan sampai dia berdiri tepat di samping mejaku, aku sama sekali tak menyadari kehadirannya, mataku tetap kosong menatap ke depan seolah tak ada orang lain di ruangan itu.

Fernando pun menarik kursi di sebelahku, duduk perlahan tanpa mengeluarkan bunyi, lalu menatap wajahku dengan pandangan lembut dan penuh perhatian. Di dalam hatinya dia bergumam sendiri: “Aku benar-benar tak mengerti… kenapa belakangan ini dia terlihat sering sekali murung dan menyimpan beban berat? Apakah ada masalah dengan keluarganya? Atau mungkin dia berasal dari keluarga yang tak utuh? Bisa jadi memang begitu… Tapi apa pun penyebabnya, apa pun yang sedang dia alami, aku berjanji akan selalu ada di sisinya. Menemaninya lewat senang maupun susah, tak akan pernah membiarkannya merasa sendirian.”

Setelah pulang dari sekolah, aku langsung masuk ke kamar dan berganti pakaian. Mengenakan gaun panjang berwarna hijau lumut lembut bermotif bunga kecil samar, bahunya dilapisi kain tipis berwarna keemasan yang melayang ringan mengikuti setiap langkah. Di leher dan telinga tergantung perhiasan halus yang membuatnya terlihat makin anggun.

Tak lama kemudian aku menuruni tangga perlahan, mengenakan sepatu hak putih yang tidak terlalu tinggi — pas saja, membuat langkah terasa tetap ringan. Kaki yang putih bersih sehalus susu terlihat jelas, tumit dan telapaknya berwarna merah jambu alami, lembut memantulkan cahaya sore yang masuk lewat jendela. Setiap langkah terasa tenang, kain gaun menyapu lantai pelan, dan semuanya terlihat begitu indah meski hatiku masih menyimpan beban yang tak terucapkan.

Baru saja aku melangkah menuruni tangga, tiba-tiba suara berat dan dingin memecah keheningan: “Berhenti.”

Aku langsung membeku di tempat, kakiku terhenti persis di anak tangga itu. Tapi aku tetap mempertahankan posisi, tidak sedikit pun memalingkan wajah atau menoleh ke belakang.

Adrian berjalan mendekat perlahan, langkahnya berat, mantap, dan tak tergesa seolah menguasai setiap ruang yang dia lewati. Kemeja hitamnya yang licin mengkilap tertiup angin lembut, membalut tubuh tegapnya dengan rapi, lengannya sedikit tergulung memperlihatkan kulit lengan yang tegas. Satu tangannya dimasukkan santai ke dalam saku celana, sementara bahunya tetap tegak lurus, aura dingin dan berkuasa, membuat napasku terasa tertahan tanpa sadar.

Hanya bisa merasakan langkah kakinya yang mantap dan lambat mendekat, semakin dekat sampai dia berdiri tepat di punggungku — udara di sekitar terasa makin dingin dan menekan.

Suaranya terdengar rendah tepat di telingaku, tanpa nada lembut sedikit pun: “Kau harus pulang lebih cepat malam ini, jangan sampai terlambat.”

Begitu kata-katanya berhenti, aku tetap diam tanpa menjawab sepatah kata pun, rahangku mengeras menahan segala rasa di hati. Baru setelah beberapa detik, aku melanjutkan langkah pelan tapi pasti, berjalan keluar menuju pintu depan dan masuk ke dalam mobil tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.

Adrian hanya berdiri diam di tempat, menatap punggungku yang menjauh tanpa bergerak sedikit pun. Tatapannya tetap datar, dingin, tak ada sedikit pun perubahan raut wajah — seolah dia hanya memantau memastikan perintahnya akan dipatuhi, sampai aku benar-benar menghilang masuk ke dalam mobil dan pintu tertutup rapat.

Ibu baru saja melangkah keluar dari ruang rawat Ayah, lalu matanya langsung menangkap keberadaanku yang sudah duduk di bangku dekat pintu, tenggelam dalam lamunan yang dalam. Wajahnya segera mekar dengan senyum lega, matanya menatap lekat-lekat dari ujung gaun sampai ke wajahku — hatinya senang melihat penampilanku yang rapi, terawat, dan terlihat cukup baik, seolah meyakinkannya bahwa sejak menikah aku tidak diabaikan apalagi disakiti. Tapi saat dia melihat tatapanku yang kosong dan raut wajah yang terus murung, senyumnya perlahan memudar.

Dia mendekat pelan, lalu menggenggam kedua tanganku dengan lembut, suaranya lembut tapi penuh kekhawatiran: “Nak… ada apa sebenarnya?”

Aku tersentak, seolah baru kembali ke dunia nyata, lalu memaksakan senyum tipis di bibir agar terlihat meyakinkan sambil menggeleng pelan: “Tidak ada apa-apa kok, Bu.”

Ibu mengerutkan dahi sedikit, menatapku tepat ke dalam mata: “Anak ini… kau pikir bisa berbohong di depan siapa? Ibu sudah melihatmu tumbuh besar.”

Aku menelan ludah pelan, mempertahankan nada setenang mungkin: “Benar, aku sungguh baik-baik saja, Bu… percayalah padaku.”

Dia terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan seolah mengalah, tapi lanjut bertanya dengan hati-hati: “Baiklah kalau begitu… lalu bagaimana dengan suamimu? Apakah dia pernah menyakiti hatimu atau membuatmu susah?”

Mendengar pertanyaan itu, dadaku terasa sesak dan emosi mulai bergejolak naik, tapi aku menggigit ujung bibir dalam, meremas pelan genggaman tangan Ibu dan berusaha menahan semuanya sekuat tenaga, tetap memaksakan senyum yang terasa berat: “Semuanya berjalan baik-baik saja, Bu… sungguh.”

Ibu hanya membalas dengan senyum lembut sambil mengusap punggung tanganku, tapi di dalam hatinya dia sudah tahu benar — ada beban berat yang kupendam rapat, hanya saja aku belum sanggup untuk membukanya dan bercerita.

1
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock Munchen Gaiden
Putry Chan: tentu trimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!