Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini.
Klik.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema masalalu di malam kabut
Suara pintu kamar utama yang tertutup rapat dari luar menandakan Axel telah benar-benar pergi. Lorong lantai dua kembali sunyi, hanya menyisakan suara deru AC dan detak jantungku yang masih berpacu tidak beraturan.
Aku masih meringkuk di lantai marmer kamar mandi yang dingin. Gaun merah marun yang basah kuyup terasa menempel di kulitku seperti lapisan es. Perlahan, aku mencoba menggerakkan jari-jari tangan kananku. Sensasi ngilu dan mati rasa perlahan berganti menjadi rasa perih yang berdenyut-denyut saat aliran darah mulai kembali normal. Kulitku memucat, kontras dengan lantai marmer putih di bawahku.
Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku menyeret tubuhku berdiri. Kakiku gemetar hebat, nyaris membuatku tergelincir di lantai yang basah oleh sisa siksaan tadi. Aku menatap cermin wastafel. Bayangan di sana bukan lagi Aira si mahasiswa ceria yang gemar berburu foto human interest di sudut kota. Wanita di dalam cermin itu memiliki mata yang sembab, riasan yang hancur, dan tatapan yang mulai kehilangan sinarnya.
Aku melepaskan gaun merah itu dengan tangan kiri yang masih berfungsi baik, membiarkannya jatuh teronggok di sudut lantai seperti rongsokan. Setelah membersihkan sisa air es di tubuhku dengan handuk kering, aku mengganti pakaian dengan piyama satin hitam longgar dari lemari pakaian yang terasa seperti seragam penjara baruku.
Malam itu, aku tidak bisa menyentuh kasur beludru yang empuk. Aku memilih duduk bersandar di sudut lantai dekat jendela besar, memeluk kedua lututku sambil menatap keluar. Di luar sana, perkebunan kelapa sawit yang mengelilingi mansion tampak seperti lautan hitam yang tak berujung, diselimuti kabut tebal yang perlahan turun.
Kenapa dia begitu membenciku? Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Jika ini hanya karena aku menjadi saksi transaksi di pelabuhan, dia bisa saja membunuhku atau mengurungku di ruang bawah tanah.
Tapi dia malah membawaku ke dunia nya sendiri tapi tetap ke kampus, ke restoran mewah menegaskan statusku sebagai barang miliknya, lalu menyiksaku dengan aturan-aturan psikologis yang gila. Ada sesuatu yang personal dalam cara mata hitamnya menatapku. Tatapan yang bukan hanya penuh kekejaman seorang mafia, melainkan dendam mendalam yang tertahan belasan tahun.
Aku meraba leherku, lalu turun ke arah saku piyama, memastikan ponsel baru pemberian Axel masih ada di sana. Aku tidak akan menghubungi Devan atau panti. Aku tahu taruhannya terlalu besar nyawa mereka berada di ujung jari pria bernama Axel Reynard.
Sementara itu, di lantai satu, Axel berdiri di koridor luar yang menghadap ke halaman belakang. Kemeja hitamnya kini sudah berganti dengan jubah tidur beludru gelap. Di jemarinya, sebuah gelas kristal berisi wiski pekat bergoyang perlahan, memantulkan sisa cahaya lampu taman.
"Tuan Muda," sebuah suara berat menyapa dari kegelapan koridor, pak Bara melangkah maju, kepalanya menunduk dalam.
"Kau sudah memastikan posisinya, Bara?" tanya Axel tanpa menoleh, suaranya rendah, menyatu dengan desau angin malam yang menabrak dinding marmer.
"Sudah, Tuan Muda. Pengawal di lantai dua melaporkan bahwa Nona Aira tidak menggunakan tempat tidur dia duduk di lantai dekat jendela sejak satu jam yang lalu. Tangan kanannya tampak mengalami sedikit memar akibat suhu dingin, namun tidak ada cedera permanen."
Axel menyesap wiskinya, membiarkan cairan hangat itu membakar tenggorokannya yang kering. "Dia keras kepala. Persis seperti darah yang mengalir di tubuhnya."
Bara terdiam sejenak, menimbang kalimat berikutnya sebelum akhirnya berbicara dengan sangat hati-hati. "Tuan Muda... jika Anda mengizinkan saya bertanya. Mengapa Anda memilih metode ini? Jika Anda ingin membalas dendam atas apa yang dilakukan keluarga Pramesti kepada mendiang Tuan Besar dua puluh tahun lalu, melenyapkannya di pelabuhan akan jauh lebih bersih."
Axel menurunkan gelasnya. Dia berbalik perlahan, menatap pelayan setianya dengan mata hitam yang berkilat kejam di tengah temaramnya malam. Tato ular di lehernya tampak bergerak samar saat dia berbicara.
"Melenyapkannya berarti memberinya kedamaian, Bara. Dan keluarga Pramesti tidak berhak mendapatkan kedamaian," desis Axel, nadanya dingin mengerikan. "Ayah gadis itu membuat ayahku menghabiskan sisa hidupnya dalam kesusahan dan penderitaan sebelum akhirnya tewas di tangan musuh. Aku ingin anak perempuannya merasakan hal yang sama. Aku ingin dia tahu rasanya hidup dalam sangkar emas, merasa memiliki segalanya, namun sebenarnya tidak memiliki apa-apa bahkan hak atas tubuhnya sendiri."
Axel berjalan mendekati pagar pembatas koridor, menatap ke arah jendela kamar Aira di lantai dua yang masih memancarkan cahaya lampu temaram.
"Dia mengira dirinya hanyalah anak yatim piatu malang yang tidak sengaja salah menginjakkan kaki di gudangku," Axel tersenyum sinis, sebuah senyuman naga yang sarat akan intrik. "Biarkan dia tetap dalam ketidaktahuannya untuk saat ini. Biarkan dia belajar patuh pada hukum-hukumku. Karena ketika enam bulan ini berakhir, dan dia berpikir dia bisa melangkah keluar dari gerbang ini sebagai wanita bebas..."
Axel mencengkeram gelas kristalnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"di situlah aku akan menjatuhkannya ke dalam neraka yang sesungguhnya. Aku akan memastikan dia tahu bahwa setiap nafas yang dia hirup di rumah ini, adalah karena belas kasihan dari putra pria yang dihancurkan oleh keluarganya."
Bara tidak menyahut lagi. Dia tahu betul bahwa jika Axel sudah menyebut tentang mendiang ayahnya, tak ada satu pun orang di kota ini bahkan di seluruh jaringan organisasi mereka yang bisa mengubah keputusan pria itu. Dendam yang mengalir di urat nadi Axel telah dipupuk sejak dia masih berusia enam tahun, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kejayaan keluarganya nyaris runtuh akibat pengkhianatan darah Pramesti.
"Pergilah, Bara. Pantau terus pergerakan pria bernama Devan itu. Jangan biarkan dia terlalu dekat dengan barang pajanganku," perintah Axel final.
"Baik, Tuan Muda. Selamat beristirahat." Bara membungkuk hormat, lalu melangkah mundur dengan senyap, meninggalkan Axel sendirian bersama pekatnya kabut malam.
Axel membalikkan tubuhnya kembali menghadap hamparan perkebunan sawit.
Angin malam yang berembus kencang menerpa wajahnya, namun pikirannya justru tertuju pada kehangatan singkat yang tidak sengaja menyentuh punggung tangannya di restoran tadi. Sentuhan yang tidak lazim. Sentuhan yang seharusnya memicu instingnya untuk langsung mematahkan pergelangan tangan gadis itu, namun entah mengapa, sempat membuatnya terpaku selama satu detik penuh.
Dia mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat, mencoba menghalau sisa sensasi itu.
"Dia hanya anak dari musuhmu Axel. Jangan biarkan matanya yang rapuh menipumu," rutuknya dalam hati.
Sementara itu di lantai dua, malam merambat semakin larut namun mataku sama sekali tidak mau terpejam. Dinginnya sisa air es di tanganku kini telah berganti menjadi rasa panas yang berdenyut, seolah-olah kulitku sedang terbakar dari dalam. Aku menatap pantulan samar diriku di kaca jendela yang berembun karena kabut di luar.
Aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan di dalam sangkar emas ini. Namun satu hal yang pasti, cengkeraman dingin tangan Axel malam ini telah menciptakan sesuatu yang lain di dalam dadaku. Bukan lagi sekadar ketakutan murni, melainkan sebuah tekad untuk tidak membiarkan diriku hancur sepenuhnya.
"Jika aku harus menjadi barang pajangan di rumah ini, maka aku akan menjadi pajangan kaca yang paling tajam yang siap melukai tangan siapa pun yang mencoba mencengkeramnya terlalu keras." batinku berjanji.
kalo berkenan mmpir juga thor😉