Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sempat Ragu
Pagi itu sinar mentari nampak cerah. Secerah hati Alya yang mulai menata hidupnya dengan pekerjaan barunya. Selesai beberes menyiapkan beberapa buket yang akan di jemput kurir ia pun juga sudah berdandan rapi.
Karena ini hari pertamanya ia masuk kerja. Kaki palsu sudah di pasang dengan sempurna, lalu perlahan mengenakan sepatu selopnya.
Sesekali ia melirik ke arah cermin barang kali ada yang kurang. Dan ternyata penampilannya hari ini cukup maksimal. Ia pun keluar dari kamar kost dengan terburu-buru sambil membawa beberapa buket untuk di taruh ke depan.
"Wah harus cepat ini takut terlambat," gumam Alya sambil berjalan buruh-buruh.
Karena terburu-buru Alya sampai tidak sempat memperhatikan jalan di depannya. Fokusnya hanya satu, yaitu segera bersiap menuju toko kerajinan yang akan menjadi tempat kerjanya.
Namun saat berjalan menuju pintu gerbang tiba-tiba saja kakinya terpeleset karena sepatu yang ia pakai saat ini begitu licin alasnya.
"Akh!"
Tubuh Alya langsung kehilangan keseimbangan. Buket-buket yang ada di kantong kresek berjatuhan ke tanah. Refleks Alya memejamkan matanya bersiap untuk merasakan jatuh diatas tanah.
Tapi hal itu tidak terjadi, sebuah tangan besar tiba-tiba mencengkeram lengannya dengan begitu kuat.
Alya tertegun hampir saja jantungnya mau lepas, tapi begitu ia membuka mata. Tiba-tiba seorang pria bertubuh tinggi dengan wajah dingin dan rahang mengeras ada di hadapannya.
Tatapannya tajam seolah menelisik sesuatu. "Kamu kalau jalan memang selalu ceroboh seperti ini?" tanyanya datar.
Alya langsung berdiri tegak dan menarik lengannya pelan, tapi saat ia hendak berdiri tegas sepatu selopnya justru terlepas dari kaki palsunya.
"Maaf... aku tidak sengaja."
Pria itu tidak menjawab, tatapannya justru jatuh pada kaki palsu yang dikenakan oleh Alya. Entah kenapa melihat tatapan itu Alya merasa tidak nyaman.
Pria itu kemudian menunduk lalu mengambil satu persatu buket yang lepas dari kantongnya, dan masukkan kembali dengan rapi pada kantong plastik itu.
"Maaf aku bisa sendiri," ucap Alya.
"Gak apa-apa," sahut pria itu meskipun datar.
Alya menerima kantong kresek itu kembali, dengan wajah yang sedikit menahan malu ia pun mulai mengucapkan sesuatu.
"Makasih banyak Mas," ucapnya dengan tatapan menunduk.
"Lain kali kalau menggunakan sepatu alasnya jangan yang licin," sahutnya lalu meninggalkan Alya begitu saja.
Sementara Alya hanya bisa melihat punggung pria itu yang masuk ke dalam mobilnya. "Apa mungkin pria itu penghuni kost ini juga," gumam Alya.
Karena tidak mau buang-buang waktu akhirnya Alya menitipkan buketnya itu pada pos satpam, dan tidak lama kemudian ojek online yang ia pesan akhirnya datang juga.
Di tengah perjalanan Alya tiba-tiba diliputi rasa khawatir mungkin karena ini pekerjaan barunya setelah tiga tahun ia meninggalkan dunia lamanya itu.
"Ya Allah semoga di sana aku dipertemukan dengan orang-orang yang baik.
Motor pun berhenti tepat di alamat tujuan seketika tubuh Alya membeku saat pandangannya mendongak pada logo toko tersebut.
Cintami Carf
Tangannya bergetar hebat, bagaimana mungkin ia bisa bekerja di tempat yang mempunyai hubungan baik dengan mantan suaminya.
"Jadi orang yang dimaksud Emil itu Eyang Cintami," gumam Alya.
Padahal ia sangat ingin menghindari ataupun dekat dengan seseorang yang menyangkut mantan suaminya itu, tapi untuk kali ini ia benar-benar tidak punya pilihan lain.
Seketika suara Kang ojek mulai menyadarkannya dari lamunan. "Mbak sudah sampai.
Alya pun sedikit terkejut iapun segera turun lalu membayar biaya sesuai angka yang tertera.
Setelah Kang ojek itu pergi Alya masih menatap ragu di depan toko itu bahkan dari dalam saja terlihat jelas para karyawan sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Wanita itu menyeret langkahnya mundur, entah kenapa ia seperti takut untuk melangkah, akan tetapi saat posisinya sedang terhimpit tiba-tiba saja wajah Emil memenuhi pikirannya.
Sebagai orang yang baru mengenal Emil, Alya tidak mau mengecewakan gadis yang sudah berusaha mencarikannya pekerjaan. Karena ia tahu sendiri susahnya mencari kerja di jaman sekarang.
Alya duduk di emperan toko, sambil menimbang keputusannya sendiri. Dan tanpa ia sadari sebuah mobil hitam berhenti di depannya.
Alya pun langsung berdiri, saat tahu pintu mobil itu terbuka dan orang di dalamnya keluar dengan senyum ramah seperti dulu.
Eyang Cintami, wanita sepuh yang masih cantik dan terawat. Kini mendekat ke arahnya.
"Selamat pagi Alya," sapanya. Masih sama seperti dulu.
Seketika Alya gugup ingin pergi tapi nanggung karena Eyang Cintami sudah mengetahui keberadaan dirinya.
"Jadi pemilik toko kerajinan itu Eyang," kata Alya sambil menunduk.
"Iya Al, kebetulan Eyang baru membuka cabang di sini dua tahun yang lalu," ujarnya.
Alya mengangguk kecil entah kenapa rasa takut itu mulai merayap ke dasar hatinya.
Eyang Cintami yang menyadari perubahan sikap Alya, wanita paruh baya itu mulai mendekat.
"Kenapa?" tanyanya.
Alya mengambil napas, rasanya masih ragu ingin mengatakan.
"Katakan saja Al, bukannya kamu mengenal Eyang sudah lama," ujarnya.
Alya meremas ujung bajunya tatapannya mulai menunduk. "Eyang, apa Eyang sudah tahu dengan keretakan rumah tangga ku?" tanga Alya akhirnya.
Eyang tidak langsung menjawab, akan tetapi ia bisa merasakan ketakutan yang dirasakan oleh Alya.
"Eyang sudah tahu semuanya, maka dari itu Eyang mencarimu," sahut Cintami.
Alya semakin membeku ia sudah berpikir yang tidak-tidak mengenai wanita paruh baya itu.
"Eyang, tolong biarkan aku pergi saja, dan tolong jangan pernah kasih tahu tentang keberadaanku pada keluarga mantan suamiku," mohon wanita itu.
Cintami mulai mendekat lalu menatap wajah Alya. "Nak, aku tidak seperti mereka, justru itu aku mencarimu, karena aku ingin mengamankan posisimu dari keluarga mantan suami mu," ujar Cintami .
Seketika Alya mendongakkan pandangannya, kalimat itu benar-benar membuat dadanya sedikit lega, namun ia belum sepenuhnya percaya.
"Eyang, apa itu benar?"
Cintami mengangguk pelan. "Kamu sudah mengenalku lama dan aku tidak harus lagi menjelaskan bagaimana diriku Nak," sahut Cintami.
Sejenak Alya mulai tersadar, ketakutannya barusan ternyata hanya ilusi karena ia benar-benar tidak mau Arlan menemukan keberadaannya.
"Eyang maaf sudah salah paham," ucap Alya.
"Gak apa-apa Nak, aku paham bagaimana ketakutan mu itu," ujar Eyang Cintami.
"Makasih Eyang."
"Ya sudah kalau gitu ayo kita masuk," ajaknya.
Alya pun perlahan masuk. Begitu memasuki bangunan itu, Alya langsung disambut aroma lem tembak dan bunga artificial yang khas.
Di sisi kanan berjajar berbagai buket wisuda dengan warna-warna cantik. Sementara di sisi kiri tampak rak berisi jepit rambut, bando, gantungan kunci, hingga souvenir pernikahan yang dibuat secara handmade.
Beberapa karyawan terlihat sibuk merangkai bunga, menempel pita, dan menghias kotak hampers. Alya menatap semua itu dengan mata berbinar lalu seketika tangannya mengusap perutnya yang rata.
"Nak kita kerja ya," ujar Alya.
Sementara Eyang Cintami yang melihat semangat baru Alya merasa tersentuh. Tapi tangannya perlahan mengepal saat ingat perlakuan Arlan dan keluarganya yang begitu tega pada cucu menantu kesayangan sahabatnya itu.
"Suatu saat kalian akan tahu akibatnya."
Bersambung