NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

Menggambarkan kemegahan hidup Doni Salman di usia 46 tahun, puncak kekuasaan Salman Group, hingga tragedi malam berdarah saat racun melumpuhkan sarafnya.

Konfrontasi kejam Amanda dan Andreas, pengakuan mengejutkan tentang anak gelap mereka, serta fakta mengerikan bahwa Zahra diperkosa dan dibunuh atas perintah Amanda.

Doni mati dalam murka, memicu keajaiban langit yang melempar jiwanya kembali ke tahun saat ia berusia 26 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19: Jalur Baru di Atas Rawa Sepi

Matahari baru saja terbit, memancarkan cahaya kemerahan yang membelah kabut tebal di kawasan pesisir Marunda, Jakarta Utara.

Tempat ini adalah ujung terluar dari proyek raksasa sektor utara milik PT Santoso Karya sebuah hamparan rawa sepi yang berbau payau, dipenuhi ilalang setinggi dada manusia, dan dikelilingi oleh jalur truk tanah yang berlubang dalam.

Di sinilah Doni Salman memulai hari pertamanya sebagai Asisten Manajer Operasional Logistik.

Bukan di dalam kantor ber-AC Menara Thamrin, melainkan di sebuah pos lapangan darurat yang dibuat dari kontainer bekas berkarat.

Doni berdiri di tepi jalur tanah, mengenakan sepatu bot karet yang lumayan tebal dan helm proyek berwarna putih yang masih bersih.

Di tangannya, selembar peta topografi cetak format lama dan papan klip besi berisi rincian anggaran vendor logistik menjadi senjatanya pagi ini.

Angin laut yang membawa uap garam menerpa wajah tirusnya, namun sepasang mata sumur tuanya tetap fokus mengunci pergerakan sebuah ekskavator yang sedang mengeruk lumpur hitam di kejauhan.

"Mas Doni! Ini laporan pengiriman semen gelombang pertama dari pabrik pusat,"

sebuah suara familier memecah keheningan.

Doni menoleh dan melihat Joko, mantan rekan sesama kuli angkut di PT Mitra Kilat yang sengaja ia tarik masuk ke dalam tim lapangannya sebagai orang kepercayaan.

Joko tampak terengah-engah, menyerahkan beberapa lembar nota jalan yang sudah agak lecek karena keringat.

"Sesuai dugaanmu, Mas."

"Armada kita tertahan lagi di gerbang keluar pelabuhan."

"Kelompok preman pimpinan si Codet meminta jatah preman dinaikkan menjadi dua kali lipat per truk, kalau tidak, ban truk kita diancam akan digemboskan."

"Para sopir tidak ada yang berani jalan."

Joko menatap Doni dengan raut wajah cemas.

Sebagai orang lapangan lama, ia tahu betul bahwa masalah premanisme dan pungutan liar oknum di sektor utara adalah parasit yang mustahil diberantas.

Parasit inilah yang selama ini menguras anggaran PT Santoso Karya hingga membengkak belasan persen setiap bulannya, sekaligus memicu keterlambatan suplai material yang membuat Devan Santoso pusing tujuh keliling.

Doni menerima nota jalan tersebut, membacanya sekilas, lalu menyelipkannya ke bawah papan klip dengan gerakan tangan yang sangat tenang.

Tidak ada kepanikan atau kemarahan di wajah mudanya.

Di kehidupan pertamanya, Doni muda akan ikut panik, lalu menyarankan perusahaan untuk membayar uang damai tersebut demi kelancaran proyek sebuah tindakan naif yang justru membuat para preman semakin melonjak.

Namun sekarang, Doni adalah seorang master korporat yang memegang lembar kendali masa depan.

"Joko, panggil semua perwakilan sopir truk yang mandek di sana."

"Katakan pada mereka untuk memutar balik arah armada sekarang juga,"

kata Doni, suaranya terdengar sangat datar namun memiliki getaran otoritas yang tidak membantah.

Joko terbelalak, mengira ia salah dengar.

"Memutar balik, Mas?"

"Tapi kalau truk-truk itu balik kanan, pengecoran fondasi jembatan di sektor utara hari ini akan total mandek!"

"Kita bisa kena denda penalti dari kantor pusat, Mas Doni baru tanda tangan kontrak kemarin, kan?"

Doni menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman tipis yang sangat dingin dan misterius.

"Mereka tidak akan kembali ke pabrik pusat, Joko."

"Katakan pada mereka untuk mengalihkan rute melalui jalur memutar melewati kawasan rawa sepi di sebelah timur Kampung Bahari."

"Kampung Bahari?!"

Joko hampir berteriak, dahinya berkerut dalam seperti orang linglung.

"Mas, jalur itu kan jalan setapak berbatu yang memutar jauh lima kilometer!"

"Jalannya sempit, sepi, dan belum pernah dilewati truk muatan berat."

"justru itu akan membuang waktu dan menambah biaya solar kita hampir lima belas persen!"

"Target penghematan dua puluh persen yang Mas Doni janjikan ke Pak Devan bisa langsung hangus di minggu pertama!"

Doni melangkah mendekati Joko, menepuk pundak sahabat lamanya itu dengan gerakan yang mantap untuk menyalurkan rasa percaya diri yang mutlak.

"Lakukan saja apa yang kuperintahkan, Joko."

"Jangan lewatkan satu truk pun."

"Alihkan semuanya ke jalur timur sekarang."

Joko menelan ludah, melihat keseriusan yang begitu pekat di sepasang mata Doni yang sedalam sumur tua.

Tanpa berani bertanya lebih banyak lagi, Joko segera berbalik dan berlari menuju sepeda motornya untuk mengeksekusi perintah gila tersebut.

Setelah Joko pergi, Doni kembali menatap hamparan rawa sepi di depannya.

Di dalam kepalanya, memori sejarah tahun 2006 berputar dengan sangat presisi.

Orang-orang awam seperti Joko, Andreas, bahkan Devan Santoso sekalipun, menganggap jalur timur Kampung Bahari sebagai jalur mati yang merugikan.

Mereka tidak tahu bahwa tepat dua hari yang lalu, Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta secara rahasia telah menyelesaikan pengaspalan beton lapis pertama pada jalan tembus baru yang menghubungkan Kampung Bahari langsung ke area proyek Marunda tanpa melewati gerbang pelabuhan yang dikuasai preman.

Informasi pembukaan jalan baru ini baru akan diumumkan secara resmi ke publik satu bulan lagi.

Dengan mengalihkan rute ke jalur sepi tersebut mulai hari ini, truk-truk logistik Doni tidak hanya akan terhindar dari pungutan liar kelompok si Codet,

tetapi juga memangkas waktu tempuh dari dua jam menjadi hanya tiga puluh menit karena terhindar dari kemacetan jalur utama pelabuhan.

Penghematan biaya solar dan hilangnya uang preman secara instan akan memotong anggaran distribusi sektor utara sebesar dua puluh lima persen sejak hari pertama melebihi target dua persen opsi saham kosong yang disyaratkan dalam kontraknya.

Namun, strategi Doni tidak berhenti sampai di situ.

Ia meraba saku celananya, mengeluarkan ponsel monokrom lama miliknya, lalu menekan sebuah nomor telepon yang sudah ia hafal di luar kepala.

Nomor telepon pribadi dari Komisaris Besar Polisi Wahyu, yang pada tahun 2006 ini menjabat sebagai Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Utara.

Di kehidupan pertamanya, belasan tahun kemudian, Wahyu akan menjadi salah satu jenderal bintang dua yang menjadi kolega dekat Doni di Salman Group.

"Selamat pagi, Pak Wahyu."

"Saya Doni Salman, Asisten Manajer PT Santoso Karya,"

kata Doni begitu telepon di seberang sana diangkat.

Suaranya terdengar sangat formal, matang, dan penuh wibawa, sama sekali tidak mencerminkan suara seorang pemuda biasa.

"Ya, selamat pagi."

"Ada apa, Pak Doni? Ada masalah di area proyek?"

suara bariton Wahyu terdengar dari balik pelantang telepon.

"Saya ingin memberikan laporan informasi mengenai aktivitas premanisme, pemerasan terorganisir, dan kepemilikan senjata tajam secara ilegal yang dilakukan oleh kelompok si Codet di gerbang keluar sektor utara pelabuhan."

"Aktivitas mereka sudah sangat mengganggu proyek strategis infrastruktur daerah,"

kata Doni dengan nada yang sangat presisi, seolah sedang membacakan nota laporan intelijen.

Doni sengaja memberikan detail lokasi, jam operasi, hingga tempat penyimpanan uang setoran mereka secara akurat berdasarkan catatan kriminal masa depan yang pernah ia baca.

"Jika tim Resmob Anda melakukan penggerebekan hari ini pukul dua siang, saya jamin Anda akan mendapatkan seluruh barang bukti utama beserta jajaran pimpinannya di tempat."

Mendengar informasi yang begitu detail dan akurat dari seorang manajer lapangan baru, perwira polisi di seberang telepon sempat terdiam sejenak karena terkejut, sebelum akhirnya menjawab dengan tegas.

"Baik, Pak Doni."

"Terima kasih atas informasinya."

"Tim kami akan segera bergerak melakukan penindakan siang ini."

Doni mematikan sambungan teleponnya, lalu memasukkan kembali ponsel tersebut ke dalam saku celananya.

Seulas senyuman kemenangan yang sangat dingin terukir di wajah tirusnya.

Dengan satu langkah strategis ini, Doni berhasil menyelesaikan tiga masalah sekaligus dalam satu kepakan sayap: ia mengamankan jalur logistiknya, memotong biaya anggaran secara masif untuk mengaktifkan klausul opsi sahamnya,

dan yang paling krusial ia membersihkan preman-preman pelabuhan yang di kehidupan masa lalunya sering digunakan oleh Andreas untuk mengintimidasi dirinya dan buruh-buruh kecil lainnya.

Tepat pukul tiga sore, dari kejauhan terdengar suara sirine mobil polisi yang meraung-raung di jalur utama pelabuhan.

Operasi pembersihan besar-besaran sedang berlangsung, persis seperti algoritma yang Doni rancang.

Di saat yang sama, deretan truk fuso bermuatan semen dan besi baja milik PT Santoso Karya meluncur dengan sangat mulus, cepat, dan tanpa hambatan melewati jalur baru di atas rawa sepi Kampung Bahari, langsung menurunkan muatannya di area pengecoran fondasi jembatan Marunda.

Joko yang baru kembali ke pos lapangan langsung melompat turun dari motornya dengan wajah yang memerah karena saking senangnya.

"Mas Doni! Kamu benar-benar gila! Jalur itu... jalan betonnya ternyata sudah jadi dan kosong melompong!"

"Truk kita sampai lebih cepat satu setengah jam dari biasanya!

"Para sopir senang sekali karena mereka tidak perlu bayar uang preman sepeser pun hari ini!"

Doni Salman yang sedang berdiri di depan pintu kontainer bekas hanya memberikan sebuah anggukan kepala yang sangat tenang, seolah seluruh keajaiban operasional ini hanyalah rutinitas biasa bagi dirinya.

"Ini baru permulaan, Joko,"

bisik Doni dengan nada suara yang sangat rendah, matanya menatap tajam ke arah langit senja Jakarta Utara yang mulai memerah.

"Sampaikan laporan keuangan hari pertama ini ke meja kerja Andreas besok pagi."

"Biarkan ular muda itu melihat bahwa taruhan yang mereka pasang untuk menjebakku, justru akan menjadi tangga pertama yang akan membawaku naik ke atas kepala mereka."

Hari pertama ekspansi lapangannya ditutup dengan kemenangan mutlak tanpa ada kesalahan satu milimeter pun.

Di bawah kendali bayangan Doni Salman, jalur rawa yang sepi itu kini telah resmi berubah menjadi urat nadi finansial pertama yang akan mengalirkan pundi-pundi modal raksasa ke dalam rahim Salman Group yang baru,

bersiap untuk menggilas siapa saja yang berani berdiri menghalangi jalan balas dendamnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!