Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 9
Keputusann Adista sudah bulat. Melihat kondisi Bram yang begitu terguncang, ia tidak mungkin meninggalkan sepupunya itu sendirian di rumah. Wajah Bram yang biasanya segar kini tampak sangat pucat, dan sorot matanya terus bergerak gelisah, seolah-olah sedang mengawasi setiap sudut ruangan dengan rasa curiga yang mendalam.
"Ayo, Bram. Bersiap-siaplah. Kita berangkat sekarang," kata Adista sambil merapikan kembali map dokumen yang sempat ia taruh di meja kerja.
Bram tidak membantah sedikit pun. Baginya, keluar dari rumah ini adalah pilihan terbaik saat ini. Berada di tempat ramai seperti kantor garmen milik mendiang pamannya rasanya jauh lebih aman daripada terus berdua saja dengan lukisan terkutuk itu di dalam rumah yang sunyi. Dengan langkah cepat, Bram masuk ke kamarnya, menyambar jaket dan ponselnya, lalu segera keluar menghampiri Adista.
Mereka berdua berjalan menuju pintu depan. Saat melewati ruang tengah, Bram sengaja berjalan di sisi luar, menjadikan tubuh Adista sebagai penghalang antara dirinya dan dinding tempat lukisan itu tergantung. Ia sama sekali tidak berani menoleh. Bram bisa merasakan hawa dingin yang tipis menyengat tengkuknya saat mereka melintas, seolah ada sepasang mata yang terus mengikuti langkah kakinya dengan tatapan mengejek.
Begitu pintu depan dibuka dan mereka melangkah keluar ke halaman, Bram mengembuskan napas panjang. Udara siang hari yang cerah terasa begitu melegakan, sangat kontras dengan atmosfer mencekam yang baru saja mengurungnya di dalam rumah.
"Kamu yang setir ya, Bram? Kepalaku agak pening memikirkan urusan audit kantor hari ini," ujar Adista sambil menyodorkan kunci mobil sedannya.
Bram mengangguk. "Bisa, Ta."
Mereka segera masuk ke dalam mobil. Mesin dinyalakan, dan mobil sedan itu perlahan bergerak membelah jalanan kota yang mulai ramai oleh lalu lintas siang hari. Di dalam kabin mobil, keheningan sempat melanda selama beberapa menit. Hanya ada suara deru halus mesin dan embusan angin dari pendingin ruangan.
Adista bersandar di kursinya, menatap lurus ke luar jendela kaca. Pikiran wanita muda itu sebenarnya sangat bercabang. Di satu sisi, ia harus tetap terlihat kuat dan profesional untuk memimpin ratusan karyawan di perusahaan garmen peninggalan ayahnya. Di sisi lain, rasa duka atas kematian Ronald yang begitu mendadak dan sadis masih menyisakan lubang besar di hatinya. Dan sekarang, kondisi mental Bram yang tiba-tiba berhalusinasi parah menambah daftar panjang kecemasannya.
Adista menoleh ke arah Bram yang fokus menatap jalanan di depan. "Bram," panggilnya lembut.
"Ya, Ta?" jawab Bram tanpa menoleh.
"Setelah dari kantor, bagaimana kalau kita mampir ke klinik dokter keluarga kita? Aku cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja. Kamu kelihatan kurang istirahat semenjak malam pemakaman Kak Ronald," kata Adista dengan nada penuh perhatian. Ia tidak ingin menyinggung perasaan sepupunya dengan langsung mengajaknya ke dokter jiwa, jadi ia memilih alasan kurang istirahat.
Bram tersenyum tipis, sebuah senyuman yang dipaksakan. Ia tahu Adista mengkhawatirkan kesehatannya, sekaligus tahu bahwa Adista menganggap semua kejadian tadi pagi hanyalah bualan akibat otaknya yang stres.
"Aku nggak apa-apa, Ta. Beneran. Nggak perlu ke dokter," jawab Bram pelan. "Aku cuma... mungkin benar katamu tadi, aku cuma terlalu kepikiran dengan cerita polisi tentang kondisi Kak Ronald waktu ditemukan di kelab malam itu. Makanya pikiranku jadi liar dan membayangkan hal-hal yang tidak-tidak."
Bram sengaja mengalah. Ia sadar, tidak ada gunanya berdebat atau memaksa Adista mempercayai bahwa soto babat tadi berubah menjadi potongan kepala dan jari manusia. Tanpa bukti nyata, ia hanya akan terlihat seperti orang gila di mata Adista.
"Baguslah kalau kamu sudah merasa lebih tenang," ucap Adista lega. Ia mengusap bahu Bram sekilas. "Kematian Kak Ronald memang mengejutkan kita semua. Tapi kita harus tetap melanjutkan hidup, kan? Papa selalu bilang, selemah apa pun keadaan kita, tanggung jawab tidak boleh ditinggalkan."
Bram hanya mengangguk-angguk setuju, meskipun fokusnya tidak sepenuhnya berada pada ucapan Adista. Di dalam hatinya, ada satu pertanyaan besar yang terus mengganjal: Kenapa hanya dia yang diteror? Kenapa lukisan itu memanipulasi penglihatannya dengan begitu kejam, sementara di depan Adista, benda itu kembali menjadi lukisan biasa yang tidak berbahaya?
Mobil mereka terus melaju, melewati persimpangan jalan dan gedung-gedung bertingkat. Namun, rasa aman yang sempat dirasakan Bram di luar rumah perlahan-lahan mulai terkikis. Ada sensasi aneh yang mendadak muncul di dalam kabin mobil.
Bram melirik ke arah cermin tengah mobil. Sontak, jantungnya kembali berdegup kencang.
Di kursi belakang mobil yang seharusnya kosong, Bram melihat sekelebat bayangan hitam yang duduk diam. Melalui pantulan cermin, bayangan itu perlahan membentuk siluet seorang wanita dengan rambut panjang yang terurai acak-acakan. Meskipun tidak terlihat jelas karena posisi cermin yang terbatas, Bram bisa merasakan hawa dingin yang sangat familier mulai merayap naik dari bangku belakang, menembus jaket tebal yang dikenakannya.
Bram menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang mencengkeram setir mobil mulai berkeringat dingin. Ia mencoba berkedip beberapa kali, berharap bayangan itu hilang. Namun, setiap kali ia melirik ke cermin tengah, siluet itu tetap ada di sana, duduk diam seolah sedang ikut menikmati perjalanan bersama mereka.
"Bram? Kenapa menyetirnya jadi agak pelan?" tanya Adista yang menyadari kecepatan mobil mereka mendadak berkurang.
"Ah, nggak apa-apa, Ta. Cuma memastikan jarak aman dengan mobil di depan," jawab Bram dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba menyembunyikan kepanikannya agar tidak membuat Adista curiga.
Bram tidak berani menengok ke belakang secara langsung. Ia tahu, makhluk dari lukisan itu tidak benar-benar tertinggal di rumah. Teror Bisikan Lukisan Berdarah ternyata telah menempel pada dirinya, atau mungkin pada mereka berdua. Kutukan itu ikut bergerak, mengawasi mereka dari kegelapan kabin mobil, siap untuk melanjutkan teror mengerikannya kapan saja, bahkan di tengah keramaian kota sekalipun. Bram hanya bisa mempercepat laju mobilnya, berharap mereka bisa segera sampai di kantor yang penuh dengan orang , agar bayangan kematian di kursi belakang itu setidaknya bisa menjauh untuk sementara waktu.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki
nah jadi misteri bget sih tp sadis cara bantai nya hiss ngeri ya