Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: SATU DETIK TERAKHIR
Waktu seolah berjalan melambat secara ekstrem di dalam kepala Dafa Mahardika. Sepasang mata elangnya yang tajam melirik kilat ke arah kolong ranjang, lalu beralih menatap wajah Nazya yang masih terengah-engah di sudut lantai dengan leher yang memerah akibat cekikan Rendy sebelumnya. Janda muda itu menatapnya dengan binar mata yang dipenuhi kepasrahan yang mendalam, seolah siap menerima takdir buruk apa pun malam ini asalkan ia berada di pelukan suaminya.
Sifat posesif dan insting protektif puncak dari sang CEO mendominasi seluruh kesadarannya dalam sekeliling fraksi detik yang tersisa. Dafa tidak memiliki waktu untuk menjinakkan bom, tidak pula memiliki waktu untuk menyeret Rendy keluar dari ruangan. Hanya ada satu keputusan yang bisa diambil oleh pria dominan itu demi menyelamatkan wanita yang menjadi seluruh belahan jiwanya.
Dengan satu gerakan menyentak yang luar biasa cepat dan kuat, Dafa melepaskan cengkeramannya dari tubuh Rendy. Pria tegap itu melesat maju, melemparkan seluruh tubuh besarnya yang kokoh ke atas tubuh ramping Nazya, mendekap janda muda itu dengan teramat erat dan rapat ke dalam pelukannya, menggunakan punggung bidangnya sendiri sebagai perisai baja hidup untuk menahan gelombang ledakan maut yang sebentar lagi akan memecah ruangan.
"Mas Dafa—!" pekik Nazya lirih di dada bidang Dafa, sebelum akhirnya seluruh suaranya tersedat oleh getaran hebat yang melanda bumi.
BOOOOOOMMMM!
Ledakan dahsyat itu akhirnya pecah, menghancurkan seluruh struktur ranjang besi perawatan menjadi serpihan logam yang beterbangan liar ke segala arah. Dinding beton kamar VIP retak parah, dan seluruh kaca jendela besar yang menghadap ke arah taman rumah sakit hancur lebur berkeping-keping menjadi butiran es kristal yang terlempar keluar akibat tekanan udara yang luar biasa masif. Kobaran api berwarna merah jingga sempat berkobar sesaat, membakar kepulan asap hitam pekat yang langsung memenuhi seluruh ruangan dalam sekejap mata.
Rendy yang berada paling dekat dengan pusat ledakan terlempar hebat menabrak dinding koridor luar, tubuhnya terkulai lemas tak berdaya dengan luka bakar yang parah di sekujur tubuhnya sebelum akhirnya pingsan total kehilangan kesadaran.
Sementara itu, di sudut ruangan yang tertutup oleh puing-puing lemari kayu yang hancur, Dafa masih terus mempertahankan posisinya, mendekap erat tubuh Nazya di bawah lindungan tubuh besarnya. Punggung jaket kulit hitam Dafa tampak hangus terbakar, dan beberapa serpihan logam tajam tampak menancap di bahu kokohnya, mengalirkan darah segar yang beraroma anyir bercampur bubuk mesiu.
Napas Dafa terdengar terengah-engah berat, namun sepasang mata elangnya langsung terbuka lebar, menatap down ke arah wajah Nazya di dalam dekapannya dengan tatapan yang sarat akan kehangatan posesif yang mendalam. "Nazya... kamu... kamu baik-baik saja? Ada yang terluka?" suara bariton Dafa terdengar serak dan bergetar menahan perih.
Nazya membuka mata indahnya yang berkaca-kaca, memandangi wajah tegas Dafa yang kini dipenuhi oleh noda debu hitam dan tetesan darah baru. Janda muda itu menggelengkan kepalanya cepat sembari menangis histeris, kedua tangan kurusnya meraba sekujur dada bidang Dafa dengan rasa cemas yang teramat sangat luar biasa. "Nazya tidak apa-apa, Mas... Nazya selamat karena Mas Dafa... Tapi Mas Dafa terluka! Punggung Mas Dafa berdarah banyak sekali! Tolong... seseorang tolong kami di sini!" tangis Nazya pecah memecah keheningan pasca-ledakan.
"Aku tidak apa-apa, Nazya... Selama kamu aman di dalam pelukanku, luka ini tidak lebih dari sekadar goresan kecil," bisik Dafa lembut, menenangkan kepanikan istrinya dengan memberikan satu kecupan hangat di bibir ranum Nazya yang bergetar, seolah ingin menegaskan kembali kepemilikan mutlaknya atas wanita itu.
Dari arah luar koridor yang hancur, suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari puluhan anggota tim taktis Mahardika yang dipimpin oleh Mikael akhirnya tiba di lokasi kejadian. Wajah Mikael tampak memucat sempurna menyerupai mayat saat melihat kondisi kamar VIP yang sudah hancur lebur menyerupai medan perang.
"Pak Dafa! Ibu Nazya!" teriak Mikael panik, langsung memerintahkan tim medis darurat yang mengekor di belakangnya untuk segera masuk mengangkat puing-puing bangunan yang menimpa tubuh bos mereka. "Amankan area! Siapkan ruang operasi darurat sekarang juga untuk Pak Dafa!"
Dafa dibantu berdiri oleh dua orang pengawal berbadan tegap dengan perlahan. Meskipun punggungnya menderita luka bakar dan hantaman serpihan logam, pria dominan itu tetap menolak untuk ditandu sebelum ia melihat Nazya diangkat dengan aman ke atas ranjang dorong medis oleh para perawat jaga.
"Mikael... bawa Rendy ke ruang bawah tanah markas pusat kita setelah dia selesai menerima pertolongan pertama," perintah Dafa dingin, mengabaikan rasa perih di bahunya sendiri saat ia menatap tubuh Rendy yang sedang diseret oleh petugas keamanan luar. "Pastikan dia tetap hidup. Aku sendiri yang akan memotong setiap jari tangannya yang telah berani menyentuh leher istriku malam ini."
"Baik, Pak Dafa. Semuanya akan kami laksanakan sesuai instruksi," jawab Mikael tegas dengan nada hormat yang mendalam. "Lalu tentang Tuan Besar Baskoro Sanjaya... tim intelijen baru saja melaporkan bahwa tua bangka itu sedang mencoba melarikan diri menggunakan jet pribadi komersial dari bandara internasional pinggiran kota dalam waktu tiga puluh menit lagi."
Dafa menyunggingkan senyum tipis yang teramat kejam di sudut lipsnya yang tegas, memancarkan aura predator yang siap melakukan perburuan akhir yang paling berdarah. "Baskoro mengira dia bisa terbang meninggalkan neraka yang dia ciptakan sendiri. Mikael, hubungi otoritas menara pengawas bandara. Atas nama Mahardika Aviation, batalkan seluruh izin terbang dari jet pribadi milik keluarga Sanjaya malam ini juga."
Dua puluh menit kemudian, setelah menerima perawatan darurat berupa perban tebal di punggung dan bahunya, Dafa Mahardika menolak untuk tetap berbaring di bangsal rumah sakit. Sifat dominan dan keras kepalanya tidak bisa dibantah oleh dokter mana pun. Dengan mengenakan kemeja hitam baru yang longgar, pria itu melangkah lebar keluar menuju area parkir bawah tanah, bersiap memimpin langsung pengepungan akhir di bandara.
Sebelum pergi, Dafa menyempatkan diri masuk kembali ke ruang observasi darurat tempat Nazya sedang ditenangkan oleh para perawat. Begitu melihat suaminya sudah berganti pakaian dan bersiap pergi lagi, Nazya langsung bangkit duduk dengan wajah yang kembali dipenuhi rasa cemas yang mendalam.
"Mas Dafa... Mas mau pergi lagi dalam kondisi terluka seperti itu?" tanya Nazya dengan suara yang parau, mata indahnya menatap nanar ke arah perban yang samar-samar terlihat di balik kerah kemeja hitam Dafa. "Tolong jangan pergi, Mas... Nazya takut..."
Dafa berjalan mendekat, duduk di sisi ranjang lalu membawa tubuh ramping Nazya ke dalam dekapan hangatnya sekali lagi. "Aku harus menyelesaikan badai ini sampai ke akarnya malam ini juga, Nazya. Jika Baskoro tidak ditangkap sekarang, dia akan terus mengirimkan tikus-tikus baru untuk mengusik ketenangan hidup kita dan Ayah Handoko. Percayalah pada suamimu... sebelum matahari terbit, aku akan kembali untuk menemanimu di sini."
Dafa memberikan satu lambaian tangan pelan sebelum akhirnya berbalik melangkah keluar menembus pintu kaca koridor, meninggalkan Nazya yang hanya bisa menatap punggung tegap suaminya dengan dada yang bergemuruh hebat dipenuhi oleh doa keselamatan.
Di area landasan pacu bandara internasional pinggiran kota, hujan deras masih terus mengguyur dengan lebat. Sebuah jet pribadi mewah berwarna putih dengan logo Sanjaya Group tampak telah menyalakan mesin turbinnya, bersiap untuk bergerak menuju jalur runway utama untuk melakukan lepas landas darurat.
Di dalam kabin jet yang mewah, Baskoro Sanjaya terduduk di atas kursi kulitnya dengan wajah yang dipenuhi oleh keringat dingin yang bercucuran. Tangan tuanya yang memegang segelas wiski tampak bergetar hebat setelah menerima kabar bahwa seluruh pasukannya di pelabuhan dan putranya, Rendy, telah dihancurkan total oleh Mahardika dalam satu malam.
"Kapten! Kenapa kita belum juga bergerak?!" teriak Baskoro murka melalui interkom kabin menuju ruang kokpit pilot. "Lepas landas sekarang juga! Aku tidak peduli dengan izin menara pengawas!"
"M-Mohon maaf, Tuan Besar Baskoro..." suara pilot terdengar sangat ketakutan dari seberang interkom. "Sistem hidrolik roda depan kita mendadak terkunci otomatis dari pusat... dan di depan kita... ada blokade..."
Baskoro terbelalak, ia langsung melangkah cepat menuju jendela kabin jet, menatap menembus rintik hujan yang lebat ke arah luar landasan.
Di depan moncong pesawat jet pribadinya, tiga kendaraan taktis lapis baja berukuran raksasa milik divisi tempur Mahardika telah terparkir melintang, menutup total seluruh jalur pergerakan pesawat. Dan di tengah-tengah blokade besi tersebut, sebuah mobil sedan mewah hitam berhenti dengan perlahan.
Pintu kemudi mobil terbuka, dan Dafa Mahardika melangkah turun dengan langkah kaki yang teramat anggun namun dominan di bawah guyuran hujan deras. Di tangan kanannya, senapan serbu taktis berperedam suara itu kembali diarahkan lurus ke arah kaca kokpit depan pesawat.
Namun, tepat di saat tim taktis Dafa bersiap mendobrak pintu kabin pesawat, pintu jet itu justru terbuka lebih dulu dari dalam. Bukan Baskoro Sanjaya yang keluar untuk menyerah, melainkan sesosok pria asing bertubuh raksasa dengan tato ular kobra di seluruh lehernya—sang Pemimpin Tertinggi The Vipers yang asli.
Pria itu menyeringai kejam sembari memegang sebuah gawai yang menampilkan layar siaran langsung (live streaming) dari dalam kamar rawat Pak Handoko (ayah Nazya) yang dijaga ketat. Di layar itu terlihat seorang penyusup lain sudah menempelkan pisau tepat di selang oksigen sang ayah, sementara si pemimpin ular berbisik dingin menantang Dafa: "Satu langkah maju untuk menangkap Baskoro, Mahardika... maka detik ini juga aku akan memerintahkan untuk mencabut nyawa mertuamu!"