NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:774
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29 perasaan yang

Langit sore mulai dihiasi semburat jingga ketika aktivitas di Ibusya Flower Studio mulai mereda.

Pelanggan terakhir baru saja meninggalkan toko. Aroma bunga segar masih memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi kopi yang sejak tadi menemani Sarah menyelesaikan pekerjaannya.

Wulan merapikan beberapa vas kosong di atas meja display. Setelah memastikan semuanya kembali rapi, ia mengelap kedua tangannya dengan celemek yang masih terpasang di pinggang.

Dari ruang kerja, suara ketikan keyboard Sarah masih terdengar.

Sepertinya revisi konsep dekorasi untuk pernikahan Nara dan Rafi belum selesai.

Ponsel Wulan tiba-tiba bergetar.

...sawi busyuk...

udah di depan nihh

^^^bentar^^^

Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu berjalan menuju ruang kerja Sarah. "Kak."

Sarah mendongak dari layar laptop."Hm?"

"Aku pulang dulu ya."

Sarah melirik jam dinding.

"udah di jemput siwi?"

" Udah tuh anaknya nunggu di depan."

Sarah mengangguk pelan."Yaudah. Hati-hati."

"Iya, Kak."

"Oh iya besok jangan telat"

Wulan kembali menoleh Wulan terkekeh. "Emang pernah?"

Sarah ikut tersenyum. "Nggak pernah, sih."

"Makanya."

"Yaudah sana."

"Bye, Kak." Wulan melambaikan tangan sebelum keluar dari toko.

Begitu pintu kaca terbuka, suara klakson pendek langsung terdengar.

Tin.

"WOI!"

Siwi melambaikan tangan dari atas motor. "Lama banget, anjir."

Wulan memutar bola matanya. "Baru juga lima menit."

"Lima menit buat orang laper tuh lama."

"Yaudah sini gue suapin pot bunga."

"Najis."

Wulan tertawa sambil mengenakan helm yang sudah disiapkan Siwi.

"Cepet naik."

"Iya, Bu."

Motor pun melaju meninggalkan halaman Ibusya Flower Studio.

Angin sore berembus pelan menerpa wajah mereka.

Beberapa menit pertama hanya diisi obrolan ringan.

"Capek ga bes?" tanya siwi

"Lumayan."

"Venue-nya jauh ya?"

"Nggak juga."

"Bagus ga?"

"Bagus banget."

"Berarti proyek gede, dong."

"Iya."

Siwi mengangguk pelan sambil tetap fokus ke jalan. "Tapi muka lo lebih bagus."

"Hah?"

"Maksud gue... lebih cerah."

Wulan terkekeh. " iya tah, wah gue abis ganti skincare sihh"

" maksud gue bukan itu weh tapi vibes itu loh "

" hah masa sih"

Siwi tertawa kecil. "Lo sadar ngga sih?"

"Sadar apaan?"

"Dari tadi lo tuh senyum mulu."

"Mana ada."

"Ada, Gue hafal banget kalau lo lagi mulai suka sama orang."

" masa cihh "

"Halah." Motor berhenti di lampu merah Siwi menoleh sebentar. "Eh Survei venue tadi lo sama siapa aja?"

Wulan mulai menghitung dengan jarinya. "Sarah, Nara, Rafi..."

Ia berhenti beberapa detik.

"...sama Kak Saka."

"Ooalahhhh patesan"

"P maksud?"

"Nggak apa-apa."

"Lanjut ngomong."

"Nggak jadi."

"Lo tuh nyebelin."

Lampu berubah hijau Motor kembali melaju, Siwi sengaja menahan senyumnya.

Beberapa menit kemudian, mereka berhenti di depan gerobak cilok.

" Mao ngga? "

"lo beli gue juga beli."

" Oke" Siwi memesan dua porsi cilok dan dua gelas es teh sebelum duduk di bangku plastik yang berada di pinggir trotoar.

Suasananya cukup ramai.

Beberapa mahasiswa tampak mengobrol di meja sebelah, sementara suara kendaraan berlalu-lalang menjadi latar obrolan mereka.

Wulan langsung mengambil satu cilok yang masih mengepul.

" Huh Phwanas "

"Makanya ditiup dulu"

Mereka makan beberapa saat tanpa banyak bicara Sampai akhirnya Siwi kembali membuka percakapan. "Lan, Gue boleh nanya nggak?"

"Nanya aja."

"Jujur ya."

"Apaan?"

Siwi menaruh tusuk ciloknya di atas piring. "Lo akhir-akhir ini kenapa?"

Wulan mengernyit. "Kenapa gimana?"

"Happy mulu."

"Emang nggak boleh?"

" ya Boleh."

"Yaudah."

"Tapi beda."

Wulan terkekeh kecil. "Lo lebay."

"Gue serius."

"Nggak ada apa-apa."

"Yakin?"

"Iya."

Siwi memperhatikan wajah sahabatnya beberapa detik. "Gue kenal lo udah lama loh"

"Terus?"

" lo tuh Kalau lagi bohong alis lo suka naik sebelah."

Refleks Wulan langsung menyentuh alisnya.

Melihat itu, Siwi langsung tertawa keras. "HAHAHA!"

"ANJIR! LO NGERJAIN GUE?"

"Kena!"

Wulan mengambil tisu lalu melemparkannya ke arah Siwi.

"Nyebelin banget, sumpah gue nggak bohong."

"Bohong!"

"Nih sekarang jawab, Lo lagi suka seseorang kann?"

Pertanyaan itu membuat Wulan terdiam Beberapa detik, Lalu ia tertawa pelan."Halah... dari mana coba?"

"Dari muka lo."

"Ngawur."

"Dari senyum lo."

"Ngawur."

"Dari cara lo cerita hari ini."

"Gue cerita biasa aja."

"Justru itu."

Wulan mengernyit."Maksudnya?"

"Biasanya kalau cerita kerjaan, lo ngeluh capek."

"Iya."

"Hari ini enggak."

"Soalnya emang seru."

"Seru venue-nya..." Siwi sengaja menggantung ucapannya. "atau karena ada seseorang?"

Wulan kembali mengambil cilok agar punya alasan untuk tidak langsung menjawab.

Entah kenapa, Nama itu kembali muncul di kepalanya. Saka.

Ia buru-buru menggeleng pelan.

"Nggak usah mikir aneh-aneh, deh."

Siwi hanya tersenyum tipis.

"Oke kalau gitu gue nggak bakal nyebut nama Kak Saka lagi."

Baru saja nama itu keluar, Wulan yang sedang minum langsung tersedak.

"Uhuk! Uhuk!"

Siwi spontan tertawa sampai memegangi perutnya. "Nah, tuh tuh, ."

"Apaan sih, Wi!"

"Belum gue apa-apain juga."

"Lo emang nyebelin."

"bomatt yang pengting gwe senang"

jam 10 malem wulan sudah sampe dirumahnya, sudah membersihkan dirinya lalu terbaring dikasur menatap atap rumahnya dengan pikirannya yang berisik.

---

keesokkan paginya wulan berangkat seperti biasa,

Beberapa pelanggan datang silih berganti. Ada yang mengambil pesanan buket wisuda, ada pula yang memesan rangkaian bunga untuk ulang tahun dan anniversary.

Wulan sibuk membungkus buket di meja kerjanya. Tangannya bergerak lincah menyusun mawar putih, lisianthus, dan baby's breath, lalu mengikatnya dengan pita satin berwarna champagne.

"Lan."

Wulan menoleh.

Sarah baru saja keluar dari ruang kerjanya sambil membawa tablet.

"Nanti jam sebelas kita kirim pesanan ke kantor klien, ya."

"Oke, Kak."

"Abis itu balik lagi. Masih ada pesanan yang harus diselesaiin."

"Siap."

Sarah mengangguk pelan sebelum kembali mengecek daftar pesanan.

Wulan melirik jam dinding, Masih ada beberapa menit sebelum kurir datang Tangannya kembali sibuk merapikan bunga.

Namun pikirannya, Tanpa permisi kembali melayang.

"Hasil fotonya bagus."

Suara itu kembali terngiang jelas di kepalanya.

Wulan langsung menggeleng pelan.

"Ih"

Ia menarik napas pelan, berusaha fokus pada pekerjaannya.

Satu tangkai, Dua tangkai, Tiga tangkai,

Tapi bukannya fokus, justru bayangan seseorang kembali muncul. "Sampai ketemu lagi."

Wulan mengembuskan napas pelan."Ish... apaan sih."

Padahal cuma ucapan sederhana.

Kenapa malah terus keinget?

"Wulan."

"Iya, Kak?"

Sarah menatapnya heran "Dari tadi ngelamun mulu ada apa sihh bess."

"Hah? Enggak kok."

Sarah mengangkat sebelah alis.

" Beneran?"

"Iya..."

Sarah hanya tertawa kecil.

" yaudah Kalau capek, istirahat bentar."

"Iya, Kak."

Untung Sarah tidak bertanya lebih jauh. Kalau sampai ditanya lagi kenapa melamun, Wulan sendiri juga tidak tahu harus menjawab apa.

Menjelang siang, suasana toko mulai sedikit lebih lengang.

Sarah sedang menelepon supplier bunga di ruangannya, sementara Wulan duduk di depan laptop untuk memindahkan sekaligus mengedit beberapa foto hasil survei venue kemarin.

Ia membuka folder bertuliskan Venue Nara & Rafi.

Satu per satu foto muncul di layar. Area akad, Ballroom, Pintu masuk, Taman.

Wulan memperbaiki pencahayaan beberapa foto, lalu berpindah ke gambar berikutnya.

Sampai akhirnya, Sebuah foto membuat jarinya berhenti.

Foto itu memperlihatkan Saka yang sedang berdiri di dekat salah satu pilar ballroom.

Bukan foto yang disengaja.

Saat itu ia sedang mengambil gambar ruangan, lalu tanpa sadar Saka ikut masuk ke dalam frame.

Cowok itu berdiri santai sambil memperhatikan langit-langit ballroom.

Ekspresinya tetap tenang seperti biasa. Namun entah kenapa Hasil fotonya terlihat bagus.

Wulan menatap layar beberapa detik. Tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat.

"Ganteng banget sialan."

Begitu kalimat itu keluar, mata Wulan langsung membulat.

" Omjii"

Refleks ia menutup wajahnya sendiri. " Asbun nya lohh."

Cepat-cepat ia mengganti ke foto berikutnya, Namun beberapa detik kemudian Tangannya kembali membuka foto yang sama.

"..."

Wulan hanya menatap layar sambil menghela napas pelan.

Jangan-jangan, Gue..

Belum sempat pikirannya selesai, suara Sarah kembali terdengar dari belakang. "Wulan."

"IYA, KAK!"

Sarah sedikit terkejut melihat responsnya. " loh kok kaget?"

"Eh... enggak kok."

Sarah melirik layar laptop sekilas, tetapi Wulan sudah buru-buru berpindah ke foto ballroom yang lain. "Lagi ngedit?"

"Iya."

Sarah mengangguk kecil.

" okeh, lanjut in aja."

"Iya, Kak."

Begitu Sarah kembali masuk ke ruangannya, Wulan mengembuskan napas panjang.

" huftt hampir aja"

Kalau sampai Sarah lihat foto tadi, Bisa habis dia digodain seharian.

Wulan menyandarkan punggungnya ke kursi, Tatapannya kembali jatuh ke layar laptop.

Lalu pelan-pelan ia tersenyum sendiri. "Kenapa yaa jadi sering kepikiran "

Untuk pertama kalinya Wulan mulai mempertanyakan perasaannya sendiri.

Dan entah sejak kapan semuanya dimulai Yang jelas, sekarang nama Saka sudah terlalu sering muncul di kepalanya.

Jauh lebih sering daripada yang ingin ia akui.

Sore itu, kesibukan di Ibusya Flower Studio kembali seperti biasa.

Beberapa pesanan mulai selesai dibungkus. Sarah masih sibuk memeriksa daftar stok bunga di ruang kerjanya, sementara Wulan membereskan meja display yang sejak siang dipenuhi katalog dan contoh rangkaian bunga.

Tangannya bekerja seperti biasa.

Namun pikirannya Tidak.

Ucapan Siwi terus terngiang di kepalanya. "Gue hafal banget kalau lo lagi mulai suka sama orang."

Wulan menghela napas pelan.

"Ih... masa sih, masa beneran?"

Ia mengambil satu tangkai baby's breath, lalu memasukkannya ke dalam ember berisi air.

Tatapannya kosong Kalau dipikir-pikir lagi Belakangan ini memang ada banyak hal yang berubah.

Dulu, setiap bertemu Saka, ia selalu merasa canggung.

Takut salah bicara Takut suasana jadi hening Tapi sekarang, Justru ia mulai menikmati obrolan-obrolan singkat mereka.

Ia hafal kalau Saka lebih sering mendengarkan daripada bercerita.

Hafal kalau laki-laki itu selalu mengucapkan terima kasih, sekecil apa pun bantuan yang diterimanya.

Hafal kalau Saka selalu memperhatikan orang lain tanpa banyak bicara.

Dan entah sejak kapan Wulan mulai menunggu kesempatan untuk bertemu dengannya lagi.

Ia tersenyum kecil.Lalu buru-buru menggeleng. "Ah... jangan aneh-aneh deh, lan."

Belum tentu dia mikirin lo juga.

Kalimat itu seolah menjadi pengingat agar dirinya tidak berharap terlalu jauh.

Namun,  Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas perasaan itu muncul.

Mungkin Yang Siwi bilang memang ada benarnya.

---

Di sisi lain Saka baru saja tiba di kantornya.

Jaket yang sejak tadi disampirkan di lengan kursi perlahan ia gantung di dekat meja kerja.

Hari itu sebenarnya cukup melelahkan.

Masih ada beberapa revisi desain yang harus diselesaikan sebelum pulang.

Namun anehnya. Pikirannya justru kembali mengingat kejadian di flower studio.

Wulan yang hampir menjatuhkan gunting.

Wulan yang kesulitan mengambil kotak di rak paling atas.

Dan ekspresi gugupnya yang selalu berubah setiap kali mereka berbicara.

Tanpa sadar, sudut bibir Saka terangkat tipis.

"..."

Ia sendiri tidak menyadarinya.

Sampai nara yang baru masuk ke ruangan menghentikan langkahnya. " walah ada yang lagi senyum-sentum sendiri nihh?"

Saka langsung kembali memasang wajah datar. "Nggak."

"Halah gausah malu-malu ihh." Nara tertawa kecil sambil meletakkan map di atas meja.

"Jarang-jarang loh ka gue lihat lo senyum mesem kayak gitu."

Saka hanya membuka laptopnya.

"Mungkin lagi capek."

" mana ada orang capek senyum-senyum itu mah lagi kasmaran keles?"

" terserah kamu nar"

" iya dah" nara memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya ikut duduk.

Entah kenapa Belakangan ini Saka memang terasa sedikit berbeda Bukan karena pekerjaannya.

Melainkan karena ada seseorang yang diam-diam mulai sering muncul di pikirannya.

Seseorang yang selalu membawa suasana ramai ke mana pun ia pergi, Seseorang yang tertawa tanpa dibuat-buat.

Dan selalu berhasil membuat suasana yang biasanya tenang menjadi jauh lebih hidup.

Wulan. Saka terdiam sejenak

Lalu mengembuskan napas pelan.

" emang yah"

Ia belum tahu apa nama perasaan itu, Yang ia tahu hanya satu.

Setiap kali berada di dekat Wulan, Suasana terasa sedikit lebih hangat daripada biasanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!