NovelToon NovelToon
KODE MERAH: CINTA

KODE MERAH: CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Sci-Fi / Romantis
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: ririma

Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Tetangga Baru

Bau kimia yang tajam dari uap makanan sintetis yang memenuhi udara kafetaria siang itu terasa berkali-kali lipat lebih menusuk bagi indra penciuman Nezha. Di tengah kebisingan jam istirahat Kantor Pengawas Keamanan Sektor Empat, ia harus mengerahkan seluruh fokusnya hanya untuk satu hal: mempertahankan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat normal di hadapan rekan-rekan satu timnya.

"Jujur saja, aku bersumpah demi dewa mana pun, jeli nutrisi minggu ini rasanya lebih mirip karet ban basah yang diberi pemanis buatan."

Jena menusuk-nusuk gumpalan jeli di piringnya dengan sendok garpu plastik hingga benda kenyal itu terbelah menjadi beberapa bagian. Wajahnya ditekuk masam, tipikal ekspresinya setiap kali memakan makanan kenyal itu.

Di seberang meja, Shanaz hanya mendengus geli sambil mengunyah jeli miliknya dengan santai. "Sudahlah, Jen. Mengeluh setiap hari juga tidak akan membuat pemerintah pusat mengganti menu makanan kita. Telan saja, yang penting kalori kita terpenuhi sampai patroli sore nanti."

Nezha yang duduk di sebelah Jena hanya diam, menopang dagunya dengan satu tangan sementara tangan lainnya memainkan sendok di atas piring jeli yang masih utuh sempurna. Jangankan memakannya, melihat Jena dan Shanaz memasukkan benda kenyal beraroma kimia itu ke dalam mulut saja sudah membuat ulu hati Nezha bergejolak hebat.

Rasa mual mendadak naik ke tenggorokannya. Nezha buru-buru menelan ludah, menahan sekuat tenaga agar tidak memuntahkan isi perutnya di atas meja kafetaria yang ramai. Lidahnya benar-benar sudah telanjur "rusak" karena dimanjakan oleh jatah pangan militer super lembut dan manis alami yang dibawa Carson. Jeli standar untuk warga biasa ini sekarang terasa seperti racun bagi lambungnya yang sedang sensitif karena hormon kehamilan.

"Hei, Nezha. Kamu kenapa tidak menyentuh jelimu sama sekali?" Shanaz tiba-tiba melirik piring Nezha, menaikkan sebelah alisnya heran. "Biasanya kamu yang paling cepat menghabiskan jeli itu."

Nezha tersentak kecil, lalu buru-buru menegakkan posisi duduknya dan mendorong piringnya sedikit menjauh sambil memaksakan senyum tipis. "Ah, ini... aku sedang diet, Naz. Belakangan ini rasanya berat badanku naik beberapa kilo, jadi aku mau membatasi asupan kalori dulu."

"Diet?" Jena langsung menoleh, menatap Nezha dari atas ke bawah dengan tatapan menyelidik. "Kamu gila, ya? Badan sekerempeng ini pakai acara diet segala. Nanti kalau kamu pingsan saat mengejar penyelundup di gang sempit lagi seperti kemarin, aku tidak mau menggendongmu, ya!"

"Tidak akan pingsan, Jen, tenang saja," kilah Nezha cepat. Meskipun dalam hati ia meringis karena harus terus menyembunyikan rahasia besarnya.

Untuk mengalihkan perhatian kedua rekannya dari piringnya yang utuh, mata Nezha beralih pada sosok perempuan yang duduk di sebelah Shanaz. Sejak awal masuk kafetaria tadi, Nezha sebenarnya sudah menyadari keberadaan gadis itu, namun ia terlalu sibuk menahan rasa mualnya untuk bertanya.

Gadis itu mengenakan seragam pengawas magang yang ukurannya tampak sedikit agak longgar di tubuhnya yang mungil. Rambutnya di kuncir kuda tinggi-tinggi, dan sejak tadi dia sibuk memperhatikan interaksi mereka dengan mata bulat yang berbinar-binar penuh semangat, seolah-olah obrolan harian mereka adalah pertunjukan teatrikal yang sangat seru.

Shanaz yang menyadari arah pandangan Nezha langsung menepuk pundak gadis di sebelahnya itu dengan pelan. "Ah, iya! Aku sampai lupa mengenalkan dia pada kalian. Nezha, Jena, ini Bylla. Anggota baru di timku. Dia baru saja lolos evaluasi akhir akademi minggu lalu dan langsung ditempatkan di Sektor Empat ini."

"Halo, Kak Nezha! Halo, Kak Jena! Salam kenal!" Gadis bernama Bylla itu langsung menegakkan punggungnya, memberikan salam formal dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada, namun senyumnya melebar begitu ceria hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit. "Mohon bantuannya ya, Kak! Saya masih perlu banyak belajar, jadi kalau nanti saya agak lambat atau merepotkan saat bertugas, langsung tegur saja, Kak!"

Jena terkekeh pelan melihat antusiasme yang meledak-ledak itu. "Santai saja, Bylla. Tidak perlu seformal itu kalau di luar jam dinas. Selamat bergabung sebagai pengawas keamanan di Sektor Empat ini. Meskipun pekerjaan ini melelahkan, tapi ini lumayan seru untuk mengisi hari yang membosankan."

"Terima kasih banyak, Kak Jena!" jawab Bylla, suaranya terdengar sangat renyah dan penuh energi, menjadikannya sosok yang paling mencolok di antara para petugas keamanan berwajah lelah yang memenuhi kafetaria.

"Oh ya, ada satu hal lagi," Shanaz menimpali, menunjuk Bylla dengan sendoknya. "Bylla ini baru saja mendapat konfirmasi fasilitas tempat tinggal dari dinas logistik perumahan. Dan tebak dia ditempatkan di mana?"

Nezha mengerutkan keningnya tertarik. "Di mana?"

"Di Blok Apartemen C-7 Sektor Empat!" seru Bylla mendahului Shanaz dengan wajah berbinar-binar gembira, seolah baru saja memenangkan lotre distrik atas. "Sama dengan apartemen tempat Kak Nezha tinggal, kan? Kata Kak Shanaz kemarin, Kak Nezha juga tinggal di blok itu!"

"Wah, benarkah?" Nezha tersenyum, rasa mualnya entah bagaimana sedikit teralihkan oleh energi positif gadis baru ini. "Kamu di lantai berapa, Bylla?"

"Lantai sebelas, Kak! Kamar nomor 1104!" jawab Bylla cepat, merogoh saku seragamnya untuk menunjukkan kartu akses kamar digitalnya ke arah Nezha. "Saya baru mau memindahkan barang-barang saya dari asrama akademi nanti sore setelah jam kerja selesai. Tapi, katanya lift di apartemen sedang diperbaiki ya, Kak? Jadi saya agak bingung bagaimana cara membawa barang-barang saya yang cukup banyak itu ke lantai sebelas."

"Kebetulan sekali, aku tinggal tepat di atasmu, di lantai dua belas," kata Nezha, pundaknya merileks. "Dan iya, liftnya memang mati sejak dua hari lalu karena korsleting sistem, jadi semua penghuni sementara harus pakai tangga untuk naik turun. Kalau kamu mau, nanti sore aku bisa membantu membawa barang-barangmu. Kebetulan Car... maksudku, aku tidak ada acara apa-apa nanti sore." Nezha hampir saja kelepasan menyebut nama Carson, namun ia berhasil mengerem mulutnya tepat waktu.

"Eh? Serius, Kak? Kak Nezha mau membantu saya?" Mata Bylla membelalak tidak percaya, tangannya menutup mulutnya yang terbuka kecil. "Aduh, padahal kita baru saja kenal, Kak! Apa saya tidak merepotkan Kak Nezha?"

"Tidak merepotkan sama sekali, Bylla. Anggap saja ini sambutan selamat datang untuk tetangga baru," ujar Nezha tulus. Lagipula, menyibukkan diri dengan membantu Bylla pindahan akan menjadi pengalih perhatian yang bagus agar ia tidak terus-menerus memikirkan rasa lapar dan mualnya.

"Ya ampun, Kak Nezha baik sekali! Terima kasih banyak, Kak! Saya beruntung sekali bisa ditempatkan di sini dan punya tetangga seperti Kak Nezha!" Bylla hampir saja melompat dari kursinya karena terlalu bersemangat, membuat Shanaz menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum melihat tingkah juniornya yang seperti anak kucing itu.

"Nah, sekarang karena masalah pindahanmu sudah selesai, habiskan dulu jelimu, Bylla," cetus Jena sambil menunjuk piring Bylla yang baru termakan setengah. "Nanti sore tenagamu akan terkuras habis untuk naik turun lantai sebelas."

"Siap, dimengerti, Kak Jena!" Dengan penuh semangat, Bylla kembali menyendok jelinya dengan lahap, sama sekali tidak terganggu dengan rasa hambar yang sejak tadi dikeluhkan oleh Jena.

Nezha memperhatikan tawa renyah Bylla dan obrolan kasual rekan-rekannya dengan perasaan yang sedikit lebih hangat. Di dunia yang serba diatur, kaku, ditambah rahasia berbahaya yang sedang ia simpan sendiri di dalam perutnya, kehadiran Bylla yang ceria, rasanya seperti embusan angin segar yang tidak ia duga akan datang siang ini.

1
Rudy satria
bylla berbahaya nggk sih,ko bikin deg,deg,degan😅😅
Rudy satria
semoga bylla bukan mata² pemerintah 😅
Rudy satria
saya pikir langsung curi buahnya satu ² ternyata bijinya saja,sabar ya dedek bayi kira² 3 bulan sampai tomatnya matang😅😅
ririma: wkwk,,
total 1 replies
Rudy satria
apakah bylla salah satu tim yang nantinya kabur bersama Carlos dan Nessa
Rudy satria
lebih nggk kebayang,kalo beneran ada negara yang memiliki peraturan sekonyol itu🤣
ririma: lah iya juga ya🤣
total 1 replies
Rudy satria
Kay nggk asing,negara Konoha seperti itu jga nggk ya semoga si nggk ya😅😅
ririma: hmm, ngga ikutan ya kak🤭
total 1 replies
Rudy satria
ceritanya bagus, meskipun masih blm paham kenapa ada peraturan anomali seperti itu😄
ririma: engga usah dipahami kak, emang anomali itu peraturannya😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!