NovelToon NovelToon
Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Kontrakan Rahim Untuk Tuan Calix

Status: tamat
Genre:Beda Usia / CEO / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Demi menyelamatkan perusahaan keluarga dari kebangkrutan dan membiayai pengobatan adiknya yang kritis, Mireya terpaksa menjual kesuciannya. Ia menandatangani kontrak satu tahun untuk menjadi ibu pengganti bagi Calix David—seorang miliarder tampan berusia 35 tahun yang terkenal kejam dan sedingin es.
Pernikahan rahasia digelar, dan Mireya dikurung di mansion mewah dengan aturan ketat. Calix memperingatkannya: "Hubungan kita hanya sebatas rahim dan uang. Jangan pernah jatuh cinta kepadaku."
Namun, kepolosan Mireya perlahan mulai menggoyahkan hati sang Tuan Tsundere. Di tengah intrik konglomerat dan rahasia kelam mansion, akankah Mireya pergi setelah melahirkan sang ahli waris, atau justru berhasil memiliki hati Calix sepenuhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Badai Semalam dan Pagi yang Dingin

"Lepas! Sakit, Calix! Kumohon hentikan!"

​Pekikan nyaring Mireya memecah keheningan seisi kamar yang semula hanya diisi oleh deru napas yang memburu. Air matanya langsung meleleh, membasahi bantal sutra di bawah kepalanya. Tubuh mungilnya mengejang hebat, kedua tangannya yang gemetar mencengkeram erat bahu kokoh Calix hingga kukunya memutih. Rasa sakit yang teramat sangat, seperti terkoyak, mendadak menjalar dan melumpuhkan seluruh akal sehatnya.

​Calix terpaku di tempatnya. Gerakan tubuhnya terkunci rapat. Sentuhan ketat yang mengurung miliknya, dipadukan dengan bercak merah yang perlahan menodai seprai putih di bawah mereka, menjadi bukti tak terbantahkan. Gadis ini tidak berbohong. Mireya benar-benar masih murni, tak tersentuh, dan mengalirkan darah perawannya malam ini.

​"Kamu... benar-benar belum pernah..." bisik Calix, suaranya serak, parau, dan bergetar di dekat telinga Mireya.

​"Sakit... hiks... sakit sekali... kumohon keluar..." ratap Mireya dengan dada yang naik turun tidak beraturan. Isak tangisnya terdengar begitu menyedihkan, membuat kepolosan gadis desa itu tampak semakin rapuh di bawah kungkungan pria berkuasa di atasnya.

​Namun, pemandangan itu bukannya membuat Calix mundur, justru menyalut sesuatu yang berbahaya di dalam dirinya. Aroma alami melati yang menguar dari kulit Mireya yang berkeringat, kehangatan yang menjepitnya dengan begitu erat, dan fakta bahwa dialah pria pertama yang menorehkan tanda di atas kertas putih ini, membuat Calix kehilangan seluruh kendali dirinya. Akal sehat yang biasanya ia agung-agungkan sebagai seorang pebisnis ulung, menguap begitu saja. Pria tiga puluh lima tahun itu seperti kerasukan setan.

​"Sudah terlambat untuk menyuruhku keluar, Mireya," geram Calix rendah, matanya menggelap sepenuhnya, menyiratkan gairah purba yang pekat.

​"Tidak! Jangan bergerak! Ah!" Mireya menjerit lagi saat Calix mulai memajukan tubuhnya kembali. Gadis itu mencoba mendorong dada bidang di hadapannya, namun tenaganya sama sekali tidak sebanding. Calix mengabaikan protes dan tangisannya, mengunci kedua pergelangan tangan Mireya di atas kepala dengan satu tangan besarnya.

​"Dengar, ini kontrakmu. Kamu sudah dibayar untuk ini," bisik Calix, menekan suaranya yang berat seraya memulai ritme yang lambat namun menghujam dalam. "Tahan sedikit. Rasa sakitnya hanya sebentar."

​"Kamu monster... hiks... Calix, kamu—ahh!" Kata-kata Mireya terputus menjadi pekikan tertahan saat Calix sengaja menekan titik sensitifnya dengan gerakan yang kian dalam dan konstan.

​Ruangan yang dingin oleh embusan AC itu mendadak terasa membakar. Calix terus bergerak, mengabaikan ego tsundere-nya yang semula menolak mengakui bahwa ia menginginkan gadis ini. Ritme lambat yang ia gunakan di awal perlahan-lahan berubah, dipicu oleh respons tubuh Mireya yang tidak bisa berbohong.

​Satu menit, dua menit... waktu seolah merambat lambat di kamar utama itu.

​Pekikan ketakutan dan tangis kesakitan Mireya yang semula memicu rasa iba, perlahan-lahan mulai terkikis. Rasa perih yang menyiksa itu secara ajaib berangsur memudar, digantikan oleh sensasi panas yang asing yang merayap naik dari bagian bawah perutnya. Setiap kali tubuh kokoh Calix menghantamnya, ada getaran aneh yang membuat bulu kuduknya meremang hebat.

​"C-Calix... tunggu... ahh..." rintih Mireya, namun kali ini nadanya berubah. Tidak ada lagi penolakan mutlak di sana. Suaranya melunak, pecah menjadi desahan pendek yang lolos begitu saja dari belahan bibirnya yang bengkak.

​Calix menyadarinya. Sudut bibirnya berkedut membentuk senyuman sinis yang penuh kemenangan, meski napasnya sendiri sudah memburu berat. Ia melepaskan cengkeraman pada pergelangan tangan Mireya, membiarkan tangan gadis itu bebas. "Katanya tidak sudi menyewakan rahimmu pada pria kaku sepertiku? Tapi tubuhmu berkata sebaliknya, Gadis Desa."

​"Bukan... ini salah... emmhh..." Mireya menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencoba menyangkal rasa nikmat yang mulai menjajah kesadarannya. Namun, alih-alih menjauhkan Calix, kedua tangan Mireya justru bergerak naik, mencengkeram punggung lebar Calix yang basah oleh keringat, menarik pria itu agar semakin tenggelam ke dalam dirinya.

​"Akui saja, Mireya. Kamu menyukainya," bisik Calix serak, mempercepat gerakannya, membuat ranjang berderit halus berirama.

​"Tidak... ahh! Jangan di sana... emhh, Calix!" Desahan Mireya kini terdengar semakin intens dan pasrah, memenuhi sudut-sudut kamar yang temaram. Kepolosannya malam ini benar-benar telah luluh lantak di tangan sang miliarder, menyisakan malam panjang penuh peluh yang tak akan pernah bisa ia lupakan.

​Pagi Hari Setelah Badai Semalam

​Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden sutra yang tebal, menjatuhkan gurat cahaya tepat di atas wajah Mireya. Gadis itu melenguh pelan, kelopak matanya terasa sangat berat saat perlahan terbuka. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa pegal yang luar biasa di sekujur tubuhnya, terutama di bagian pinggang ke bawah.

​Mireya terduduk perlahan, menahan ringisan di bibirnya. Ia menoleh ke samping. Sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong, namun seprainya masih tampak kusut, lengkap dengan noda merah kering yang menjadi saksi bisu peristiwa semalam.

​Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Calix yang keluar dengan jubah mandi hitam beludru. Rambutnya yang masih basah disisir rapi ke belakang. Wajah tampan itu kembali kaku, dingin, dan acuh tak acuh—sama sekali tidak menyiratkan keintiman panas yang mereka lakukan beberapa jam lalu.

​"Sudah bangun?" tanya Calix datar, bahkan tanpa memandang ke arah Mireya. Ia berjalan menuju lemari besar untuk mengambil setelan jas kerjanya.

​Mireya menarik selimut hingga ke dada, merasa mendadak asing dengan pria yang semalam memeluknya erat. "Iya. Jam berapa sekarang?"

​"Jam tujuh," jawab Calix pendek, mengancingkan kemeja putihnya dengan cekatan. "Pakai pakaianmu dan turun ke bawah untuk sarapan. Sopirku akan mengantarmu ke rumah sakit setelah ini untuk mengurus administrasi pelunasan biaya adikmu."

​Mireya terdiam sesaat, hatinya sedikit mencubit melihat perubahan sikap Calix yang begitu drastis. Semalam pria ini begitu menuntut, namun pagi ini ia memperlakukannya tak lebih dari sekadar rekan bisnis yang selesai bertransaksi.

​"Terima kasih," sahut Mireya, suaranya terdengar serak.

​Calix menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan dasi, lalu berbalik menatap Mireya dengan tatapan elang yang tajam. "Jangan salah paham dengan apa yang terjadi semalam, Mireya. Aku hanya menjalankan bagianku dari kontrak agar kehamilanmu bisa segera terjadi. Jangan berharap ada sikap manis atau status lebih di rumah ini."

​Mireya tersenyum getir, mengetatkan cengkeramannya pada selimut. Ego dan harga dirinya yang sempat runtuh semalam kini kembali bangkit. "Anda tidak perlu mengingatkannya, Tuan Calix yang terhormat. Saya tahu diri. Bagi saya, semalam juga hanya bagian dari pekerjaan untuk menyelamatkan adik saya. Jadi, silakan simpan sikap dingin Anda, karena saya juga tidak membutuhkannya."

​Mata Calix menyipit, ada kilatan kesal yang tertangkap di sana mendengar jawaban berani dari Mireya. Namun, ia memilih berbalik dan berjalan menuju pintu kamar.

​"Bagus kalau kamu paham. Setengah jam lagi, aku tunggu di ruang makan. Jangan membuatku membuang waktu," ucap Calix dingin sebelum menutup pintu dengan hentakan keras.

​Mireya menghela napas panjang, menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan pandangan kosong. "Satu tahun... aku pasti bisa bertahan."

1
umie chaby_ba
kasian calix 🤭
elief
calix sudah menerima hukumannya mireya, sudah cukup. coba kamu sekarang berdamai dengan hati kamu, mencoba memaafkan kembali. semoga hati mu luluh ya mireya dan kembali ke calix. 👍
Ariska Kamisa: Terima kasih kak atas komentarnya ❤️. Memaafkan memang penting, tetapi menyembuhkan luka juga butuh waktu. Kita lihat nanti apakah cinta Calix cukup kuat untuk meluluhkan hati Mireya kembali 🥹✨💕
total 1 replies
umie chaby_ba
kasian juga sih sebenarnya calix...
🤭
Ariska Kamisa: iya ya kak ... tapi mireya juga sakit sih kak
total 1 replies
elief
karya mu bagus thor, tetapi semangat dalam berkarya💪
Ariska Kamisa: MasyaAllah, terima kasih banyak kak. Komentar seperti ini yang bikin saya semangat berkarya dan melanjutkan cerita. Sehat dan bahagia selalu ya ❤️🌷
total 1 replies
elief
lanjut thor, semoga hati mireya luluh kembali.
Ariska Kamisa: siap kak, 👍
total 1 replies
elief
lanjut thor
Ariska Kamisa: siap kak👍
total 1 replies
umie chaby_ba
Ditinggal baru merasa kehilangan lo?! /Right Bah!/
Ariska Kamisa: ya begitulah manusia kak🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
🤭🤭🤭🤭
umie chaby_ba
lanjutkan thor💪
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
tuh kan feeling ku juga Ilana karena belum tertangkap
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭 ketebakbya
total 1 replies
umie chaby_ba
bener mending pergi aja mireya!!!
Ariska Kamisa: iya yuk
total 1 replies
umie chaby_ba
ya Tuhan... rencana zeana KW effort banget sampai di rekannya live lagi!! jahat banget /Panic/
Ariska Kamisa: iyah iih jahatnya kebangeten yaa
total 1 replies
umie chaby_ba
gob**k... /Angry/
itu berarti jebakan si zeana KW
Ariska Kamisa: sabar kak... sabar 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
dih masih ingat aja!
Ariska Kamisa: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
umie chaby_ba
calix... lo awas aja nyakitin! tapi kayanya si calix masih ngarep zeana masih hidup kali 🤭
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
calix lo labil banget dih!! /Angry/
Ariska Kamisa: iyah emang calix nih... nakal🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
sumpah nyesek/Cry/
Ariska Kamisa: sabar ya kak 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
ada lagi aja! baru geh dimanjain bentar!
Ariska Kamisa: namanya hidup kak... selalu ngada-ngada..
stay read kak🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
zeana kw ini!!!
Ariska Kamisa: iyah ka terobsesi banget jadi kesayangannya calix
total 1 replies
umie chaby_ba
kepedean lo Bianca!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!