Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar,dan Memberi penjelasan
Suasana di dalam lobi Mahardika Tower masih terasa seperti dibekukan oleh waktu. Pernyataan Gibran yang bagaikan petir di siang bolong itu sukses membuat detak jantung Nayla berhenti selama beberapa detik. Dia menoleh patah-patah ke arah Gibran, ingin sekali menendang tulang kering pria itu sekarang juga.
("Dia sudah gila ya?!") jerit Nayla dalam hati. ("Mengaku sebagai istri di depan bapak-bapak ronda semalam saja sudah membuatku ingin tenggelam ke dasar bumi, sekarang dia malah mengumumkannya di depan penguasa gedung pencakar langit ini!")
Renata Mahardika, sang mama, tampak limbung. Tangannya yang dihiasi cincin berlian berkilauan segera berpegangan pada lengan suaminya. "Gibran ... kamu ... kamu jangan bercanda ya! Pernikahan itu bukan lelucon yang bisa kamu pakai untuk menakut-nakuti Mama!" suara Renata naik satu oktav, menarik perhatian beberapa resepsionis di meja depan yang mulai mencuri pandang.
Baskoro Mahardika tidak langsung berteriak. Namun, rahangnya yang kokoh mengeras, dan urat-urat di pelipisnya menegang. Tatapan matanya yang sedingin es menusuk langsung ke manik mata Gibran, lalu beralih ke tangan Gibran yang masih menggenggam erat pergelangan tangan Nayla.
"Ikut ke ruangan Papa. Sekarang," ucap Baskoro dengan suara rendah yang bergetar penuh amarah yang ditahan. Pria tua itu berbalik dan melangkah lebar menuju lift khusus eksekutif, diikuti oleh istrinya yang berjalan dengan langkah terburu-buru sambil terus mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.
Gibran menarik napas panjang, lalu menatap Nayla yang wajahnya sudah sepucat kertas kalkir. "Ayo," bisiknya.
"Ayo dahi lu peyang!" umpat Nayla lirih, mencoba melepaskan cengkeraman tangan Gibran dengan sentakan kasar. "Mas Gibran, lu beneran sinting ya?! Kenapa lu malah bilang begitu ke orang tua lu? Gue mau pulang! Gue harus ke kantor!"
"Nayla, tolong. Kalau lu pergi sekarang, bokap gue bakal mikir lu cewek pengecut dan dia bisa mengerahkan seluruh kekuasaannya untuk melacak lu, bahkan bisa bikin lu dipecat dari kantor lu sekarang," ancam Gibran dengan nada mendesak yang sangat serius. "Ikut gue sebentar. Kita beresin ini di atas. Gue janji bakal ganti rugi semua waktu lu."
Nayla memejamkan mata rapat-rapat, merutuki hari di mana dia memutuskan untuk kerja lembur. Dengan sangat terpaksa, dia membiarkan dirinya dituntun Gibran memasuki lift berlapis emas yang bergerak naik dengan kecepatan tinggi menuju lantai paling atas gedung tersebut.
Ruang kerja Baskoro Mahardika di lantai empat puluh lima lebih mirip dengan ruang takhta seorang raja modern. Dindingnya didominasi kaca besar yang memperlihatkan pemandangan seluruh kota Jakarta dari ketinggian. Sebuah meja kerja dari kayu ek hitam berukuran raksasa berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh sofa kulit mewah yang harganya mungkin setara dengan biaya sewa kontrakan Nayla selama sepuluh tahun.
Baskoro duduk di kursi kebesarannya, sementara Renata memilih duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. Gibran dan Nayla berdiri tegak di tengah ruangan, seperti dua orang terdakwa yang sedang menunggu vonis hukuman mati.
"Jelaskan," satu kata dari Baskoro memecah keheningan yang mencekam.
Gibran berdeham, mencoba mengumpulkan seluruh kemampuan diplomasinya yang biasa dia gunakan di meja negosiasi bisnis.
"Pa, Ma ... maaf karena Gibran tidak memberi tahu sebelumnya. Tapi apa yang Gibran katakan di lobi tadi adalah kebenaran. Kami ... kami sudah menikah secara sah tadi malam."
"Sah dari mana?!" Renata akhirnya meledak, berdiri dari sofanya. "Kamu anak tunggal keluarga Mahardika, Gibran! Kalau kamu menikah, harusnya ada pesta di hotel bintang lima, dihadiri oleh para menteri dan rekan bisnis Papa! Bukan secara diam-diam dengan cewek yang ... yang bahkan kemejanya tidak disetrika dengan benar begini!"
Nayla refleks melihat ke bawah, menatap kemeja birunya yang memang agak kusut. Dia merasa sangat terhina, namun dia tahu posisinya saat ini sangat lemah. Dia memilih bungkam dan membiarkan Gibran yang menyelesaikan kekacauan yang dibuatnya sendiri.
"Kami menikah secara agama dulu, Ma. Karena ada ... situasi darurat yang tidak bisa dihindari," bohong Gibran lagi, tetap menyembunyikan bagian tentang dirinya yang pingsan mabuk di teras rumah orang.
Baskoro mengetukkan jari-jarinya ke atas meja kayu dengan ritme yang lambat dan mengintimidasi. "Kamu pikir Papa bodoh, Gibran? Kamu baru bertemu cewek ini, kan? Atau ini trik kamu untuk menghindari perjodohan dengan anak Pak Wijaya yang Papa siapkan bulan depan?"
Mendengar kata perjodohan, Nayla melirik Gibran. ("Oh, ternyata ini alasan si cowok kaya langsung memanfaatkan situasi,") batin Nayla mendengus jengkel.
"Bukan, Pa. Ini murni karena kami saling mencintai," ucap Gibran dengan wajah tanpa dosa, membuat Nayla hampir saja tersedak air liurnya sendiri. "Kalau Papa tidak percaya, kami punya buktinya."
Gibran menoleh ke arah Nayla, memberikan isyarat mata yang sangat jelas.
Nayla yang paham maksudnya, dengan enggan membuka tas ranselnya Dia mengeluarkan buku catatan kecil bersampul cokelat milik Pak RT semalam, lalu meletakkannya di atas meja kerja Baskoro dengan gerakan perlahan.
Baskoro mengambil buku itu, membukanya, dan membaca tulisan tangan Pak RT yang agak cakar ayam namun terbaca jelas, lengkap dengan tanda tangan para saksi di atas meterai sepuluh ribu.
"Ini ... surat nikah siri dari kampung?" Baskoro menaikkan sebelah alisnya, menatap Gibran dengan pandangan tidak percaya. "Kamu, seorang direktur operasional Mahardika Group, menandatangani dokumen murahan seperti ini?"
"Status hukumnya tetap sah di mata agama, Pa," tegas Gibran, mencoba mempertahankan argumennya.
Baskoro menutup buku tersebut dengan hentakan keras, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya menatap Gibran dan Nayla bergantian dengan senyum sinis yang mendadak muncul di sudut bibirnya. Sebagai seorang pebisnis ulung yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, dia mencium aroma konspirasi yang tidak beres di sini.
"Baik," kata Baskoro tiba-tiba, membuat Renata dan Nayla sama-sama terkejut.
"Kalau kalian memang mengklaim sudah menikah dan saling mencintai, Papa akan menguji ucapan kalian."
Baskoro membuka laci mejanya, mengeluarkan selembar kertas kosong dan sebuah pulpen mewah. "Papa tidak akan membatalkan pernikahan ini sekarang. Tapi, Papa juga tidak akan mengakui cewek ini sebagai menantu keluarga Mahardika sebelum dia membuktikan dirinya pantas."
Baskoro menatap Nayla dengan tajam. "Siapa namamu?"
"Nayla Putri, Pak," jawab Nayla dengan suara tegas, menolak untuk terlihat lemah lagi.
"Nayla, karena kamu sudah sah menjadi istri anak saya di atas kertas siri ini, maka mulai hari ini, kalian berdua harus tinggal bersama di bawah satu atap. Papa akan memberikan waktu selama tiga bulan. Selama tiga bulan itu, Papa akan mengirimkan orang untuk mengawasi kalian. Jika dalam tiga bulan kalian terbukti hanya bersandiwara, atau jika kamu, Nayla, terbukti hanya mengincar harta anak saya, maka pernikahan ini akan saya bubarkan secara paksa, dan saya akan memastikan kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan pekerjaan di kota ini lagi."
Ancaman Baskoro membuat bulu kuduk Nayla berdiri. Pria tua ini benar-benar kejam dan berkuasa. Nayla melirik Gibran dengan tatapan horor, namun Gibran justru mengangguk pelan ke arahnya, memberikan kode agar menerima tantangan tersebut.
"Bagaimana? Kalian sanggup?" tanya Baskoro menantang.