Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.
Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: TAMU TAK DIUNDANG DARI ZEPHYR
Suasana di paviliun sayap utara Istana Kekaisaran terasa begitu sunyi, sebuah ironi bagi tempat yang kini menjadi markas unit paling mematikan di seluruh kerajaan.
Di ruang kerja pribadinya yang beralaskan marmer dan dihiasi permadani emas, Axel duduk di balik meja kayu mahoni besar sembari menatap tumpukan laporan perkamen dengan pandangan kosong.
Ternyata, jabatan Penasihat Agung tak jauh berbeda dengan petugas kebersihan. Bedanya, "sampah" yang harus ia urus sekarang mengenakan jubah sutra dan menyandang gelar kebangsawanan tinggi.
"Buka mulutmu, Axel."
Sebutir anggur merah yang telah dikupas melayang tepat di depan bibirnya. Valeria, yang duduk bersila di atas meja kerja Axel dengan gaya yang jauh dari kata sopan, tersenyum menggoda.
Di sudut ruangan, Elysia mendengus kesal sambil terus menenun lapisan pelindung sihir di sekitar jendela, sementara Reynarda hanya menggelengkan kepala dari posisinya di dekat pintu.
"Valeria, aku sedang meninjau laporan perbatasan," tegur Axel, meski ia tetap mengunyah anggur tersebut.
"Kau bekerja terlalu keras," Valeria mencondongkan tubuhnya, menopang dagu dengan satu tangan. "Biarkan kaisar tua itu yang memusingkan urusan politik. Tugasmu adalah memerintah kami, dan tugas kami adalah memanjakanmu."
"Host, deteksi radar aktif," suara artificial intelligence tiba-tiba memutus momen tersebut.
Nada bicaranya kehilangan unsur sarkasme dan berubah menjadi dingin. "Ada fluktuasi mana yang tidak wajar dari lorong pelayan. Seseorang dengan sihir penyembunyian tingkat tinggi sedang menuju ruangan ini. Estimasi kedatangan: 10 detik."
Axel tidak mengubah raut wajahnya sedikit pun. Ia justru mengambil secarik perkamen baru dan pena bulu.
"Reynarda, Elysia, Valeria," panggil Axel dengan nada santai, seolah-olah ia hanya sedang meminta tambahan teh. "Ada tikus yang menyusup ke sini. Jangan dibunuh. Aku ingin dia tetap hidup."
Ketiga wanita itu tidak banyak tanya. Dalam sekejap mata, atmosfer santai di ruangan itu menguap tanpa sisa.
Valeria melebur ke dalam bayang-bayang di bawah meja. Reynarda mencengkeram gagang pedangnya, sementara Elysia mengubah tongkat sihirnya ke mode pertempuran senyap.
Ketukan pintu terdengar.
"Permisi, Yang Mulia Penasihat Agung. Saya membawakan teh penenang dari dapur istana," suara seorang pelayan wanita terdengar dari balik pintu.
"Masuk," jawab Axel tanpa mengalihkan pandangan dari tulisannya.
Pintu terbuka. Seorang pelayan dengan seragam standar istana melangkah masuk membawa nampan perak berisi teko dan cangkir. Wajahnya menunduk hormat, gerakannya tampak sangat anggun dan terlatih.
"Pemindaian selesai. Ilusi optik terdeteksi. Ras asli: Shadow Assassin dari Kerajaan Zephyr. Senjata tersembunyi: jarum beracun di bawah kuku dan bom asap di balik kerah baju."
Pelayan itu mendekati meja Axel hingga jaraknya tersisa dua meter saja.
"Teh jenis apa ini?" tanya Axel datar.
"Teh Bunga Lotus Hitam, Yang Mulia. Sangat berkhasiat untuk menghilangkan kelelahan," jawab pelayan itu dengan lembut.
"Menarik," Axel meletakkan penanya. "Kudengar Lotus Hitam dari Kerajaan Zephyr tidak hanya menghilangkan penat, tetapi juga mampu mencabut nyawa peminumnya hanya dalam tiga tarikan napas."
Pelayan itu membeku. Matanya yang semula sayu langsung berkilat penuh nafsu membunuh.
Dalam sepersekian detik, ia melemparkan nampan perak itu ke arah wajah Axel dan melesat maju dengan jarum beracun yang memanjang dari kukunya.
Namun, ia bahkan tidak sempat melewati jarak satu meter.
Bayangan di bawah kaki pelayan itu melonjak ke atas, melilit kaki dan tangannya dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang.
Valeria muncul dari kegelapan tepat di belakangnya, menempelkan belati dingin di leher sang pembunuh.
"Kau bergerak terlalu lambat, tikus kecil," bisik Valeria tepat di telinganya.
Pelayan itu mencoba menggigit kerah bajunya untuk memicu bom asap, namun sebuah embusan angin sekeras baja menghantam rahangnya. Elysia telah menggunakan sihir udaranya untuk mengunci rahang sang pembunuh agar tidak bisa bergerak, apalagi melakukan tindakan bunuh diri.
Reynarda melangkah maju dengan tenang, mengambil jarum beracun dari tangan si pembunuh dan menghancurkannya hingga menjadi debu dengan aura emasnya.
Hanya dalam waktu tiga detik, ancaman mematikan dari kerajaan seberang itu telah ditaklukkan tanpa merusak satu pun perabotan di ruangan Axel.
Axel berdiri, berjalan mengitari mejanya, dan menatap sang pembunuh yang kini dipaksa berlutut oleh sihir Elysia dan bayangan Valeria.
Ilusi pelayan istana itu memudar, menampakkan wajah seorang wanita dengan pakaian tempur hitam pekat dan lambang burung gagak—simbol intelijen Kerajaan Zephyr.
"Siapa yang mengirimmu?" tanya Axel.
Pembunuh itu meludah ke lantai, menatap Axel dengan penuh kebencian. "Kau pikir Kerajaan Zephyr akan diam saja melihat pergolakan di istana ini? Kaisar kalian sudah melemah, dan bangsawan kalian saling terpecah! Penasihat baru sepertimu tidak akan mampu menahan badai yang akan datang. Pasukan kami sudah mulai bergerak di perbatasan utara!"
Axel menatapnya dengan dingin. Ia sama sekali tidak terkejut.
"Host, data ini mengonfirmasi kecurigaan awal. Kekacauan yang dipicu oleh pihak Gereja sebelumnya telah membuka celah bagi kerajaan tetangga untuk melakukan invasi besar-besaran."
"Jadi, ini bukan sekadar percobaan pembunuhan biasa," Axel mengangguk pelan. "Ini adalah deklarasi perang."
"Zephyr akan meratakan tempat ini!" desis sang pembunuh.
Axel tersenyum tipis. "Valeria, bawa dia ke ruang interogasi bawah tanah. Paksa dia bicara tentang semua rute suplai dan letak kamp utama mereka di perbatasan. Gunakan cara apa pun yang kau suka."
Mata Valeria berbinar penuh antusiasme yang mengerikan. "Dengan senang hati, Pawang."
Saat Valeria menyeret pembunuh itu masuk ke dalam bayangan, Axel menoleh ke arah Reynarda dan Elysia. Ruangan kembali hening, namun ketegangan baru saja dimulai.
"Sepertinya masa istirahat kita sudah usai," ucap Axel sambil mengambil peta kekaisaran dari laci mejanya. "Elysia, hubungi jenderal perbatasan. Reynarda, siapkan perlengkapan tempurmu. Kita akan melakukan pekerjaan kotor lagi."
Reynarda tersenyum sembari menyentuh gagang pedangnya. "Membersihkan 'sampah' dari luar kerajaan? Aku sangat menyukai rencana itu."
Axel menatap peta di mejanya. Kerajaan Zephyr mengira mereka bisa memanfaatkan kelemahan istana.
Namun, mereka tidak menyadari bahwa yang mengendalikan istana saat ini bukanlah politikus berhati lembut, melainkan seorang mantan staf kebersihan yang didampingi oleh tiga sosok haus darah.