Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?
Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.
!!!⚠️!!!
#BL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Malam menunjukkan pukul sembilan, yang berarti di London masih jam tiga sore. Luca sedang bermalas-malasan di atas ranjangnya sambil melakukan video call dengan Brant. Penampilan Luca malam ini tampak sangat menggemaskan; poni depannya dikuncir ke atas membentuk kuncir apel, sementara tangannya sibuk mencomot kentang goreng dari mangkuk keramik kecil di pangkuannya.
Di seberang layar, Brant tampil tak kalah memukau. Ia hanya mengenakan singlet putih yang mengekspos otot lengan kekarnya. Rambut depannya ditahan menggunakan headband hitam, memperlihatkan dahi tegas yang membuatnya berkali-kali lipat lebih tampan. Ia sedang berada di sebuah lapangan golf luas, duduk bersantai di area lounge terbuka bersama Leo.
"Halo, Kak! Lagi di mana itu?" tanya Luca, matanya berbinar melihat latar belakang Brant yang tidak biasa.
"Lagi di lapangan golf," jawab Brant singkat. Ia membalikkan kamera ponselnya sesaat, memperlihatkan hamparan rumput hijau yang membentang luas di depannya.
Luca mengunyah kentangnya pelan. "Hmm, Kak Brant sekarang udah gak suka main basket lagi, ya? Sukanya olahraga para bos besar sekarang."
Brant terkekeh, membalikkan kamera ke wajahnya lagi. "Apaan lu. Kalau mau main ya main aja, siapapun bisa selama sanggup bayar sewanya. Btw, bagi dong kentangnya," goda Brant melihat pipi Luca yang menggembung lucu.
"Ih, bos kok minta-minta sama aku? Beli sendiri sana!" sahut Luca dengan senyum manja yang menggemaskan.
Brant terdiam sejenak. Sorot matanya melembut, namun ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. "Ca, lu... kok sekarang gak pernah minta uang jajan lagi ke gue? Biasanya lu yang paling repot nyindir ini-itu biar dikasih jajan."
Luca langsung tersenyum girang. "Oh, mau direpotin ya? Ya udah, mana uang boba aku? Terus... di kantin Mas Kumis ada bakso varian baru pake keju super gede. Aku belum coba karena harganya mahal banget, lebih mahal dari boba," cerocos Luca panjang lebar.
"Gak ada. Gue cuma nanya doang," potong Brant datar, sengaja menjahilinya.
"Ya udah, lagian aku punya uang sendiri sekarang. Aku kerja lho, Kak!" ucap Luca bangga, memamerkan dadanya.
Mendengar kata 'kerja', kening Brant langsung berkerut. Ada rasa tidak suka yang mendadak menyengat karena ia sadar, kesibukan inilah yang membuat Luca jarang menghubunginya belakangan ini. Brant mendekatkan wajahnya ke kamera, tatapannya menuntut penjelasan. "Lu kerja? Kerja apa? Di mana?"
Luca sempat terpaku menatap wajah tampan Brant yang memenuhi layar. Baru saja ia ingin membuka suara untuk bercerita, tiba-tiba sebuah suara memotong dari arah samping Brant.
"Ini berkas yang harus Anda tanda tangani..." Leo mendadak muncul dan tak sengaja wajah tampannya terekam di kamera ponsel Brant. Menyadari bosnya sedang video call, Leo langsung memundurkan tubuhnya kikuk. "Oh, maaf, Brant. Saya tunggu di meja depan."
Raut wajah Luca seketika berubah. Senyumnya menyusut saat melihat sosok cowok muda dan tampan yang barusan muncul. "Kak, itu siapa?" tanya Luca, ada nada tidak nyaman dalam suaranya.
"Asisten gue," jawab Brant pendek. "Sekarang jawab dulu pertanyaan gue yang tadi."
Luca kembali dengan senyum sumringahnya. "Oh, itu... aku bantu Mama jadi model katalog baju butiknya. Terus, kak, kata pengarah kreatifnya aku cocok karena ramah kamera. Nah, aku dapat uang jajan dari situ!"
"Oh, bagus kalau bisa bantuin mama lu. Capek gak?" tanya Brant, berniat memastikan kondisi fisik kekasihnya.
Namun, kalimat Luca berikutnya justru langsung memantik sumbu posesif Brant. "Iya, capek sih. Tapi ada partner foto aku yang selalu kasih semangat. Kan aku masih baru, beda sama dia yang udah berpengalaman. Tapi cowok itu masih muda banget sih, Kak, gak tahu bisa disebut senior apa enggak..."
"Luca!" potong Brant dengan suara rendah dan dingin. Tatapannya menajam. "Lu ngapain aja sama dia?"
Luca langsung menciut ketakutan melihat perubahan drastis pada raut wajah Brant. "C-cuma ngobrol aja, Kak. Itu pun di lokasi pemotretan dan rame-rame, kok," jawab Luca gugup, merutuki mulutnya yang kelepasan bercerita.
Di seberang sana, Brant sempat melirik ke arah Leo yang sedang sibuk memeriksa berkas di tabletnya dengan wajah serius di meja depan. Mengingat ada urusan kantor yang mendesak dan hatinya yang mendadak panas karena cemburu, Brant kembali menatap Luca.
"Nanti kita teleponan lagi. Ada yang harus gue urus," ucap Brant mutlak, nadanya tak bisa dibantah.
"Iya, Kak..." jawab Luca pelan, merasa bersalah karena tahu kekasihnya itu sedang menahan amarah karna cemburu.
Klik. Sambungan telepon langsung diputuskan secara sepihak oleh Brant, meninggalkan Luca yang kini menatap layar ponselnya dengan helaan napas cemas.
•
•
•
Setelah sempat absen beberapa hari dari lokasi pemotretan karena fokus menghadapi ujian akhir semester, kini Luca kembali aktif. Butik milik mamanya bahkan baru saja menandatangani proyek kolaborasi besar; pakaian dari butik Mama Lana akan dipadukan dengan lini kosmetik dan skincare untuk sesi katalog terbaru.
Awalnya Luca memang merasa sangat kelelahan membagi fokus. Namun lambat laun, ia mulai terbiasa dengan ritme tersebut. Luca kini bisa bekerja secara profesional, menyesuaikan jadwal pemotretan dari pagi atau siang hingga selesai sore hari demi mencocokkannya dengan jadwal kuliah.
malam itu, Luca menyusul ketiga sahabatnya untuk berkumpul di taman kota estetik dekat pantai. Area open-space lounge yang dipenuhi lampu-lampu gantung dan deretan coffee truck itu menjadi tempat pelarian sempurna setelah Luca menerima gaji pertamanya untuk sebulan penuh.
"Jadi beneran lu udah kerja, Ca?" tanya Elena membuka obrolan seraya menatap Luca yang baru datang.
"Iya, bantu-bantu Mama aja sih," jawab Luca santai sambil menaikkan kedua kakinya untuk duduk bersila di atas kursi kayu.
"Emang bisa kerja apa lu?" goda Rose, ingin meyakinkan.
"Foto-foto doang buat katalog pakaian butiknya Mama," sahut Luca bangga.
Elena langsung bersorak riang. "Oh, pantesan hari ini kita ditraktir! Tapi senang lho, ditraktir pakai uang hasil keringat lo sendiri. Jadi pengin nambah camilan nih!"
Luca tertawa senang mendengar candaan itu. "Iya, nambah aja kalau mau makan apa, aku siap bayar kok!" ucapnya tulus.
Vin yang sedari tadi diam menyesap minumannya, kini menatap Luca lekat. "Gimana kabarnya Brant, Ca?"
"Baik, kabar Kak Brant baik," jawab Luca seadanya.
Melihat respons Luca yang terlalu datar, Vin kembali bertanya dengan hati-hati, "Lu pasti selalu kangen ya sama dia?"
Raut wajah Luca tiba-tiba meredup seiring embusan angin pantai. "Iya, kangen banget, setiap hari. Tapi sekarang Kak Brant makin sibuk di sana, kita gak teleponan setiap hari kayak dulu lagi."
"Lu kan sekarang udah ada kesibukan sendiri, jadi lu bisa lebih ngertiin keadaan dan kerjaan Brant. Apalagi dia calon pemimpin perusahaan, Ca. Pasti melelahkan," hibur Rose memberi pengertian. Luca hanya mengangguk pelan, meski jauh di lubuk hatinya, ia tetap membenci kesibukan itu, yang membuat komunikasi mereka merenggang.
Rose kemudian beralih menatap Elena. "El, lu sama Billy gimana? Gue lihat lu gak pernah post foto berdua lagi. Biasanya reels gue dipenuhi video romantis kalian."
Elena meletakkan cup kopinya ke meja, lalu bersandar seraya menatap kosong ke arah deburan ombak. "Kita udah putus seminggu yang lalu," ucap Elena pelan.
"Hah?! Kenapa putus, El?" Rose terlonjak kaget, begitu pula dengan Luca.
"Lu diselingkuhin?" tebak Vin langsung.
"Nggak. Gue yang ternyata jadi selingkuhannya," Elena mendengus tawa, getir. "Dia sebenarnya punya kekasih, terus mereka sempat break karena jenuh. Di masa break itu dia deketin gue. Begitu mereka balikan... ya gue diputusin gitu aja. Najis banget."
"Ada ya cowok bangsat kayak gitu," umpat Vin tajam.
Luca yang sedari tadi menyimak merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia mendadak diselimuti ketakutan besar mendengar kisah Elena. "Apa di setiap hubungan... pasangan bakal selalu ngerasa jenuh?" tanya Luca pelan. Untuk pertama kalinya, ia melontarkan pertanyaan dengan pemikiran yang terdengar sangat mendalam.
Vin menangkap gurat kecemasan di wajah Luca yang gampang terbawa perasaan. Ia menjelaskan dengan lembut, "Gak semuanya gitu, Ca. Mereka yang gagal itu cuma gak nemuin cara untuk bertahan di masa sulit. Terlalu egois mencari kebahagiaan untuk diri sendiri, padahal aslinya sama-sama masih cinta."
Elena mengedikkan bahunya pasrah sebatas dada. "Gue gak bisa berbuat apa-apa, mereka emang masih saling cinta. Tapi bagi gue, dia tetap cowok berengsek."
"Iyalah, kelakuannya sampah gitu," sambung Rose kesal.
Lu sama kak Jack, baik-baik aja kan. Tanya luca pelan menatap Rose.
Rose menatap Luca untuk menenangkannya. Dia juga peka dengan perubahan raut wajah Luca. "Kalau gue sama Kak Jack baik-baik aja kok, Ca. Sejauh ini dia selalu nepatin janjinya dan berusaha buat momen indah. Gue harap, lu dan Kak Brant juga harus tetap pertahankan hubungan manis kalian.dan lu.." Rose menepuk pelan lengan Elena. pasti bakalan dapat cowok yang baik, yakin aja."
Kata-kata Rose membuat suasana yang sempat tegang kembali mencair. Saat Rose melirik ke arah Vin, belum sempat ia menggoda, Vin sudah memotong duluan dengan wajah datar. "Gue ada jalan gue sendiri. Yang penting endingnya bahagia, itu aja."
Sontak Luca, Elena, dan Rose langsung tertawa lepas melihat ekspresi Vin yang seolah memberi isyarat 'jangan jodoh-jodohin gue'. Malam itu, meski mereka membahas topik yang agak berat, keempat sahabat itu berhasil menutupnya dengan senyuman, saling mendoakan agar kelak mereka semua mendapatkan pria terbaik yang menjadi impian mereka.
•
Di belahan bumi yang lain, hari masih siang. Di saat Luca sedang asyik bersantai bersama sahabat-sahabatnya di bawah langit malam Indonesia, Brant justru tengah tenggelam dalam kesibukan. Ia mengernyit serius, fokus memeriksa tumpukan data dan arsip laporan keuangan beberapa bulan terakhir yang baru saja diserahkan oleh Leo.
Di tengah keheningan itu, ponsel Brant bergetar. Layarnya menampilkan nama sang ibu, Nyonya Sofia. Ibunya menelepon dari sebuah Business Gala Luncheon—perjamuan makan siang mewah para pengusaha elite.
"Brant, kamu bisa jemput Mama di hotel? Tadi ayahmu pamit katanya ada urusan mendesak sebentar ke kantor, tapi sampai sekarang belum kembali juga untuk menjemput Mama," keluh Nyonya Sofia di seberang telepon. Karena lokasi hotel tersebut tidak jauh dari kantornya, Brant langsung mengiyakan.
Brant meletakkan berkasnya di meja, lalu bergegas mengambil kunci mobil. Namun, saat melangkah turun melewati koridor utama, ia berpapasan dengan sekretaris pribadi ayahnya. Brant refleks berhenti. "Papa lagi sibuk di ruangannya?" tanya Brant, sekadar ingin memastikan apakah ayahnya lupa waktu karena pekerjaan.
Sekretaris itu tampak terkejut. "Lho, Tuan Lodrik belum kembali ke kantor sejak pergi ke acara perjamuan siang bersama Nyonya Sofia, Tuan Brant."
Brant seketika terpaku. Keheranan langsung menyergap benaknya. Jika ayahnya tidak ada di kantor, lalu ke mana pria itu pergi hingga lupa menjemput ibunya? Tanpa membuang waktu, Brant langsung melangkah cepat menuju basemen untuk segera menjemput sang mama.