Sinopsis:
Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.
Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6: Di Balik Sikap Diam
Seminggu berlalu sejak kejadian Rania datang, dan jarak di antara Arkan dan Nara terasa makin lebar, meski mereka tinggal di atap rumah yang sama. Keadaan di rumah itu hening luar biasa, seolah udara pun ikut membeku. Nara tetap menjalani harinya seperti bayangan—ada tapi tak terlihat. Ia bangun pagi, merapikan kamar, membantu Bu Inah di dapur, berkebun, lalu masuk kembali ke kamarnya. Jarang sekali ada percakapan di antara dia dan Arkan. Paling hanya sapaan singkat, jawaban pendek, lalu hening kembali menyapa.
Bagi Nara, diam adalah pertahanan terbaik. Ia sadar, semakin ia mendekat, semakin ia berharap, semakin sakit hatinya nanti. Jadi ia memilih mundur perlahan, menempatkan dirinya tepat di garis batas yang ditetapkan Arkan sejak awal: Jangan berharap lebih.
Namun bagi Arkan, keheningan ini adalah siksaan terberat.
Setiap hari di kantor, Arkan tak bisa fokus. Berkas-berkas di mejanya menumpuk, keputusan-keputusan penting tertunda, dan para karyawan menunduk ketakutan karena bos mereka yang biasanya dingin dan tegas, sekarang jadi mudah marah dan tak bisa ditebak. Pikiran Arkan selalu melayang ke satu tempat: ke rumah, ke sosok Nara.
Ia rindu suara lembut itu. Ia rindu tatapan tenang itu. Ia rindu teh hangat yang dulu selalu ada di meja kerjanya saat ia pulang larut. Semua hal kecil yang dulu ia anggap sepele atau bahkan mengganggu, sekarang justru jadi hal yang paling ia cari.
Sore itu, Arkan memutuskan pulang lebih awal lagi. Ia tak tahan lagi dengan suasana kantor, dan lebih tak tahan lagi dengan rasa penasaran yang menggerogoti hatinya. Ia ingin melihat Nara, ingin bicara, meski ia sendiri tak tahu harus bilang apa.
Saat mobilnya masuk ke halaman, Arkan melihat Nara sedang duduk di teras samping rumah. Di pangkuannya ada tumpukan benang dan kain, tangannya bergerak cekat menyulam sesuatu. Matahari sore menyinari wajah sampingnya, membuat raut wajah gadis itu terlihat begitu damai namun juga begitu sendu.
Arkan berdiri diam di ambang pintu kaca, menatapnya lama. Di matanya, Nara terlihat begitu indah, sederhana namun memancarkan cahaya yang berbeda dari wanita mana pun yang pernah ia kenal—termasuk Kirana maupun Rania. Di sini, di ketenangan ini, Arkan sadar satu hal: ia sudah terbiasa, bahkan bergantung, pada kehadiran gadis sederhana ini.
"Mas Arkan? Sudah pulang?"
Suara lembut itu memecah lamunan Arkan. Nara menoleh, sedikit terkejut melihat Arkan sudah berdiri di sana cukup lama. Dengan sigap ia menyembunyikan kain sulamannya di bawah bantal kursi, berniat pamit masuk ke dalam.
"Aku... aku ke dalam dulu ya, Mas. Biar Bu Inah siapkan makan malam," ucap Nara pelan, berjalan menunduk melewati Arkan.
Tapi kali ini, Arkan tidak membiarkannya pergi begitu saja. Dengan gerakan cepat, tangan Arkan terulur dan menahan lengan Nara. Sentuhan itu begitu ringan, namun cukup untuk membuat langkah Nara terhenti seketika.
Jantung keduanya berdegup kencang dalam hening.
"Jangan pergi dulu," suara Arkan terdengar berat, sedikit bergetar, berbeda dari nada bicaranya yang biasa dingin dan tegas. "Kita... bicara sebentar boleh?"
Nara menunduk dalam, menatap lantai marmer yang mengkilap. "Ada apa, Mas? Kalau soal aturan atau tugas saya, saya rasa saya sudah menjalani semuanya dengan benar. Saya tidak pernah keluar rumah tanpa izin, tidak pernah menyentuh barang-barang Mas, dan tidak pernah mengganggu urusan Mas. Apa ada yang salah lagi?"
Kalimat itu terdengar sopan, penuh hormat, tapi di telinga Arkan kalimat itu terdengar seperti tembok tinggi yang sedang dibangun Nara di antara mereka. Kalimat itu penuh dengan jarak, penuh dengan rasa pasrah yang menyakitkan.
Arkan melepaskan cengkeramannya pelan, mengusap wajahnya frustrasi. "Kau selalu begitu ya? Selalu menganggap dirimu orang luar, selalu merasa kau cuma pembantu atau tamu di sini. Padahal di atas kertas, di mata hukum, kau istriku, Nara."
Nara tersenyum getir, masih tak berani menatap mata Arkan. "Hanya di atas kertas, Mas. Itu kata-kata Mas sendiri di hari pertama kita bertemu. Saya ingat betul. Hati dan perasaan Mas selamanya bukan milik saya. Saya cuma pengganti sementara. Kenapa sekarang Mas tiba-tiba bicara beda?"
Pertanyaan itu menohok tepat ke ulu hati Arkan. Ia tak bisa menjawab. Ia tak bisa bilang: Karena aku mulai merasa kehilangan kalau kau diam. Karena aku mulai takut kau benar-benar pergi. Karena aku mulai sadar, kehadiranmu jauh lebih berarti daripada sekadar kontrak.
Arkan menghela napas panjang, lalu duduk di kursi yang tadi diduduki Nara. Ia menatap kosong ke taman depan. "Maaf... soal hari itu. Soal saat Rania datang."
Nara tertegun. Ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap punggung Arkan yang terlihat kaku itu. Ini pertama kalinya Arkan mengungkit kejadian itu, pertama kalinya ada kata maaf yang terlintas.
"Semua yang aku bilang waktu itu... sebagian besar bohong," lanjut Arkan pelan, suaranya hampir berbisik, seolah berat sekali mengatakannya. "Rania itu keras kepala, posesif, dan kalau dia tahu aku peduli sedikit saja sama kau, dia akan makin jahat padamu. Dia punya pengaruh besar, dan aku takut dia menyakitimu di belakangku. Aku sengaja merendahkanmu, aku sengaja bilang kau tidak seberapa... supaya dia puas dan berhenti mengganggumu. Aku pikir itu cara terbaik melindungimu."
Nara diam membeku. Dunianya serasa berputar balik. Selama ini ia hancur, ia menangis, ia merasa tak berharga karena kata-kata itu... dan ternyata? Ternyata itu semua sandiwara?
"Melindungi saya?" tanya Nara lirih, matanya mulai memanas kembali, kali ini bukan karena sedih, tapi karena rasa haru yang bercampur bingung. "Dengan cara menyakiti hati saya sampai hancur lebur, Mas? Kalau tujuan Mas melindungi, kenapa rasanya justru saya jadi musuh terbesar Mas saat itu?"
Arkan berbalik badan, menatap Nara lekat-lekat. Di matanya, ada rasa bersalah yang mendalam, ada kegelisahan yang belum pernah Nara lihat sebelumnya.
"Aku bodoh, Nara. Aku akui aku bodoh," jawab Arkan jujur, nada bicaranya melembut luar biasa. "Aku terbiasa mengendalikan segalanya. Bisnis, orang-orang, situasi... aku pikir aku bisa mengatur semuanya dengan logika. Tapi soal perasaan, soal hati... aku sama sekali tidak paham. Aku takut mengakui kalau kau berarti buatku, karena itu berarti aku mengkhianati kenangan sama Kirana. Aku takut kalau aku terlalu dekat sama kau, aku akan lupa sama dia. Tapi ternyata... dengan menjauhimu, aku malah makin kacau. Aku makin tersiksa."
Ia bangkit berdiri, melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya satu langkah saja. Aura dinginnya hilang, berganti dengan tatapan yang penuh permohonan.
"Maafkan aku ya? Maaf karena udah bikin kau nangis, maaf karena udah bikin kau merasa tidak berharga. Mulai sekarang... biar aku coba lebih jujur. Biar aku coba lebih baik. Tapi tolong... jangan diam terus sama aku. Jangan menjauh lagi. Kehadiranmu... itu jauh lebih penting daripada yang kau pikirkan."
Nara terpaku. Air matanya jatuh diam-diam, tapi kali ini rasanya berbeda. Hati yang tadi beku perlahan mulai mencair kembali. Di depan matanya, bukan lagi Arkan yang dingin dan angkuh, tapi seorang pria yang sedang bingung berjuang dengan hatinya sendiri, sama sepertinya.
Di kejauhan, Bu Inah yang mengintip dari balik jendela tersenyum lega. Akhirnya, tembok itu mulai retak sedikit demi sedikit.
Namun, takdir seolah suka sekali menguji mereka. Di saat benih pengertian mulai tumbuh, sebuah berita baru saja tiba di meja kerja Arkan. Sebuah surat elektronik yang membuat jantung Arkan seolah berhenti berdetak.
Isinya singkat namun mengguncang seluruh dunianya:
"Kirana akan pulang. Dia akan kembali ke Indonesia minggu depan."
Bersambung...