NovelToon NovelToon
Posesif

Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...

"Kita akan menikah hari ini."

"Aku tidak mau!"

"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."

NB: Season 2 dari Obsession

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Angin sore di pantai favoritku selalu terasa berbeda—lebih lembut, lebih hangat, seolah ombak pun tahu tempat itu adalah pelarianku dari dunia. Langit berwarna jingga keemasan. Aku berdiri menghadap laut ketika Dev memanggil namaku.

“Nara.”

Aku menoleh. Ia berjalan mendekat dengan langkah yang tidak biasa—lebih pelan, lebih serius. Jantungku berdebar tanpa alasan yang jelas.

Tiba-tiba ia berlutut di atas pasir. Kotak merah kecil terbuka di tangannya.

“Nara. Will you marry me?”

Ombak tetap bergulung seperti biasa. Angin tetap berembus, tapi dunia di sekitarku terasa berhenti. Aku tidak tersenyum. Aku justru terdiam, bingung. Tanganku terasa dingin.

“Dev…” Aku segera menariknya agar berdiri. “Berdirilah dulu.”

Ia berdiri perlahan, wajahnya penuh harap.

“Ini terlalu cepat, Dev.” Tanganku menggenggam tangannya hati-hati, takut melukai perasaannya. “Aku tidak menyangka kamu akan melakukan ini sekarang.”

Ekspresinya berubah. “Kamu tidak ingin bersamaku, Nara? Kamu tidak mencintaiku?”

Nada paniknya membuat dadaku ikut sesak.

“Bukan seperti itu,” jawabku cepat. “Aku mencintaimu. Hanya saja… aku belum siap untuk sesuatu yang lebih besar.”

“Apa yang membuatmu takut?” tanyanya. “Aku mencintaimu. Aku bisa melindungimu. Aku bisa menjamin hidupmu lebih baik bersamaku.”

Aku menggeleng pelan. “Pernikahan itu rumit, Dev.”

Suaraku meninggi tanpa kusadari.

“Aku sudah pernah menjalaninya. Pernikahan bukan hanya soal cinta. Itu komitmen, tanggung jawab. Dan…” Aku terdiam sejenak.

“Dan apa?” desaknya.

“Dan aku takut,” kataku akhirnya. “Aku takut rasa di antara kita justru berkurang ketika kita sudah saling memiliki sepenuhnya.”

Ia terlihat benar-benar tidak mengerti. “Itu omong kosong dari mana, Nara?”

Aku menunduk, menatap pasir yang terseret ombak. “Biasanya orang berhenti berjuang ketika sudah mendapatkan apa yang ia mau. Perjuangan selesai, rasa pun perlahan berubah.”

Dev mendekat, meraih wajahku agar aku menatapnya. “Nara, aku bukan seperti itu. Aku akan tetap mencintaimu. Selalu.”

Aku perlahan menyingkirkan tangannya dan mundur beberapa langkah.

“Tidak, Dev. Aku tetap tidak ingin menikah.” Air mataku mulai jatuh. “Mengapa harus ada pernikahan untuk membuktikan cinta Bukankah seperti sekarang pun kita bisa bersama? Apa yang sebenarnya akan berubah?”

Ia terdiam cukup lama. Hanya suara ombak yang terdengar di antara kami. Dev menghela napas panjang, lalu kembali meraih tanganku.

“Jika itu yang membuatmu bahagia, baiklah,” katanya akhirnya. “Asal kamu janjikan satu hal.”

Aku menatapnya dengan mata basah.

“Walaupun tidak ada ikatan pernikahan di antara kita… kamu tetap mencintaiku. Hanya mencintaiku.”

Ada sesuatu dalam tatapannya saat itu—bukan sekadar permintaan. Lebih seperti penegasan.

Aku tersenyum tipis, mencoba meyakinkan diri sendiri.

“Iya, Dev.”

Ia tetap membuka kotak cincin itu. Bukan sebagai simbol pernikahan, katanya. Hanya sebagai tanda bahwa kami saling memiliki.

Dan di bawah langit jingga yang indah itu, ia menyematkan cincin di jemariku.

Aku tidak tahu saat itu—bahwa janji yang terdengar sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang terasa seperti ikatan tak terlihat.

...***...

Setelah mengingat kejadian di pantai itu, dadaku terasa sesak. Kata-katanya kembali terngiang jelas, seolah baru saja diucapkan.

"Yang tidak ingin menikah kan kamu, Nara."

Kalimat itu seperti menutup semua pintu penolakanku. Tanganku yang semula menahan pergelangannya perlahan melemah, lalu terlepas. Bukan karena aku benar-benar yakin—melainkan karena rasa bersalah tiba-tiba terasa lebih besar daripada ketakutanku sendiri.

Dev melanjutkan dengan gerakan yang jauh lebih lembut. Jemarinya menyentuhku dengan hati-hati, seolah aku sesuatu yang mudah retak. Tidak tergesa, tidak kasar. Justru terlalu tenang.

Aku membiarkannya. Tubuhku terasa kaku, tapi aku tidak lagi melawan. Setiap sentuhan membuat napasku tersendat. Sesekali rasa nyeri membuatku merintih pelan, dan saat itu ia akan berhenti sejenak, menatapku, memberi jeda—lalu melanjutkan dengan lebih perlahan.

Seolah ia tahu batasnya. Seolah ia sudah sangat memahami ritmenya.

Tidak ada kecanggungan, tidak ada keraguan. Gerakannya terarah, terlatih. Terlalu lihai untuk disebut pengalaman pertama. Pikiranku tiba-tiba dipenuhi pertanyaan yang tidak ingin kujawab.

Apakah Dev sudah terbiasa melakukan ini?

Dengan siapa?

Vio—

Nama itu berhenti di ujung pikiranku. Aku tidak sanggup menyelesaikannya. Tidak sanggup membayangkan wajah lain di tempatku. Dadaku semakin terasa berat. Dan untuk pertama kalinya malam itu, bukan sentuhannya yang membuatku gemetar—melainkan bayangan yang tak berani kuhadapi.

...***...

POV : Devandra

Aku tidak pernah membayangkan malam itu akan berjalan sejauh itu. Awalnya aku hanya ingin membuktikan sesuatu. Atau mungkin lebih tepatnya—menguji. Nara selalu berkata ia mencintaiku, tetapi menolak menikah. Ia ingin bersama tanpa ikatan, tanpa janji hukum, tanpa kepastian. Bagiku itu aneh, cinta seharusnya utuh, tidak setengah-setengah.

Namun ketika ia terus menolak pernikahan, ada bagian dalam diriku yang merasa tertantang. Jika ia benar mencintaiku, seberapa jauh ia akan bertahan? Seberapa besar ia bersedia memberikan dirinya? Aku tahu itu egois. Tetapi malam itu, egoku lebih keras daripada akal sehatku. Saat lampu padam dan hanya cahaya tipis dari balkon yang menerangi kamar, aku melihat wajah Nara yang gelisah. Ia menahanku sesaat.

“Dev…” Nada suaranya ragu, hampir takut.

Namun ketika aku mengingat ucapannya di pantai—aku merasa ia tidak punya alasan untuk menolak kedekatan ini. Aku mendekatinya, mencoba bersikap lembut. Aku tidak ingin menyakitinya, tetapi jujur saja, aku juga tidak bisa sepenuhnya mengendalikan diriku sendiri.

Nafsu itu nyata. Keinginan untuk memilikinya secara utuh, tanpa batas, tanpa jarak. Di tengah semuanya, satu hal yang kusadari—Nara bukan Viona. Sangat jauh berbeda.

Nara kaku, canggung. Tidak tahu harus berbuat apa. Setiap sentuhan membuatnya tegang, setiap gerakanku membuatnya menarik napas panjang seolah mencoba bertahan.

Viona tidak seperti itu. Viona selalu percaya diri, lihai, tahu cara membuat suasana berubah hanya dengan tatapan.

Tetapi Nara… ia polos—Terlalu polos. Dan anehnya, justru itu yang membuatku semakin ingin menaklukkannya.

“Apa kamu baik-baik saja?” tanyaku saat ia terlihat menahan sesuatu.

Ia tidak menjawab, hanya memalingkan wajah. Aku berhenti sejenak, memberinya waktu. Namun di saat yang sama, pikiranku berjalan ke arah lain.

Tubuh Nara berbeda. Lebih proporsional, lebih lembut, lebih… sempurna. Dan kalimat itu terucap tanpa sempat kusembunyikan.

“Tubuh yang sempurna ini adalah hasil dari rancanganku sendiri.”

Nara menatapku bingung, mungkin ia tidak mengerti maksudku. Aku hanya tersenyum tipis. Ia rajin berolahraga karena aku yang menyarankan. Ia menjaga pola makan karena aku yang mengatur. Ia menghindari begadang karena aku yang melarang.

Aku membentuknya. Dan malam itu, aku merasa sedang menikmati hasilnya.

...***...

Ketika aku membuka mata keesokan paginya, matahari sudah menembus tirai kamar hotel. Aku menguap ringan, lalu menoleh ke samping—Nara masih tertidur. Aku mengerutkan kening, biasanya ia mudah terbangun. Aku menyentuh dahinya—Panas.

“Nara.” Aku mengguncangnya pelan. “Bangun.”

Ia mengerang lemah. “Dev…?”

Suaranya serak, wajahnya pucat. Panik langsung menjalar di dadaku.

“Kenapa badanmu panas sekali?” gumamku.

Ia mencoba tersenyum. “Tidak apa-apa…mungkin hanya lelah.”

“Tidak apa-apa bagaimana? Kamu demam.”

Aku segera bangkit, merapikan pakaianku dengan tergesa-gesa.

“Aku keluar sebentar, kamu istirahat saja. Jangan ke mana-mana.”

Ia hanya mengangguk lemah.

Di lobi hotel aku hampir berlari menuju resepsionis. “Permisi, apotek terdekat di mana?”

“Di seberang jalan, Pak,” jawab petugas dengan ramah.

Aku langsung keluar, membeli obat penurun panas, vitamin, dan air mineral. Di minimarket sebelahnya, aku mengambil roti, bubur instan, dan tanpa ragu—susu kotak rasa cokelat.

Favorit Nara.

Kasir tersenyum. “Sarapan untuk pasangan, ya, Mas?”

Aku hanya mengangguk cepat. “Iya.”

Setelah membayar, aku kembali ke hotel hampir tanpa napas. Saat masuk kamar, Nara masih meringkuk di atas tempat tidur. Dan baru saat itu aku menyadari—ia tidak mengenakan apa pun. Tubuhnya yang semalam terlihat kuat kini tampak rapuh. Kulitnya merinding karena kedinginan. Rasa bersalah menyentakku keras.

“Nara, minum obat dulu.”

Ia membuka mata perlahan. “Kamu pergi ke mana?”

“Mencari obat. Kamu demam tinggi.”

Aku membantu ia duduk, menyuapinya air.

“Minum.”

Ia menurut tanpa banyak bicara. Setelah itu, aku menyelimutinya kembali. Namun ia masih menggigil. Tanpa banyak pikir, aku naik ke tempat tidur dan memeluknya.

Tubuhnya panas, tetapi ia tetap menggigil.

“Aku di sini,” bisikku.

Ia menyandarkan kepala di dadaku. Untuk pertama kalinya sejak semalam, aku tidak merasakan hasrat. Hanya rasa kasihan.

Aku terlalu keras padanya, kami tertidur seperti itu. Ketika aku terbangun lagi, kamar sudah lebih terang, pelukanku kosong.

Aku langsung duduk.

“Nara?”

Ia tidak di tempat tidur. Aku menoleh ke arah sofa. Di sana ia duduk, mengenakan pakaian hotel, rambutnya masih sedikit berantakan. Tangannya memegang susu kotak cokelat.

Ia sedang meminumnya perlahan.

“Nara?” aku mendekat. “Kamu sudah bangun? Bagaimana badanmu?”

Ia menatapku, ekspresinya sulit ditebak.

“Sudah lebih baik.”

“Demamnya turun?”

“Sepertinya.”

Aku menyentuh dahinya lagi, masih hangat, tetapi tidak sepanas tadi.

“Kamu harusnya membangunkanku,” kataku.

“Kamu terlihat lelah,” jawabnya pelan.

Aku duduk di hadapannya. “Maaf soal semalam.”

Ia diam.

“Aku… mungkin terlalu terburu-buru.”

Nara menunduk. “Tidak apa-apa.”

Jawaban itu tidak membuatku lega.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!