Lin Xiu returned to civilization confident and proud after training with a master who cannot be named on a celestial island cut off from the real world. In his quest to uphold justice, he courageously picks fights with elites in the community wreaking havoc among the rich and the powerful. Be it ghosts, spirits, or seniors of the daoist association, he is fearless. Will the little girl Xiao Tong stay a little girl as she accompanies him on his journey to track down the rest of his friends from the orphanage they once shared?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 damai di balik layar End S1
Satu tahun telah berlalu sejak badai besar menghantam jantung Ibukota Imperial. Kota megah yang dulunya dikendalikan oleh konspirasi kuno faksi mistis dan tirani tersembunyi, kini telah bertransformasi total. Dengan runtuhnya Istana Pangeran Long dan hilangnya tatanan kaisar yang korup, otoritas sipil dan keamanan negeri kini berada di bawah kendali penuh militer faksi bersih yang dipimpin oleh Keluarga Ye.
Masyarakat awam tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di malam berdarah itu. Bagi mereka, runtuhnya bangunan-bangunan megah di Distrik Barat hanyalah bagian dari proyek peremajaan kota skala besar. Namun bagi komunitas dunia mistis, praktisi bela diri kuno, dan klan-klan alkemi yang tersisa, satu nama telah menjadi hukum absolut yang tidak boleh dilanggar: **Lin Xiu**.
Meskipun namanya digemakan dengan rasa hormat dan ketakutan yang teramat sangat di kalangan atas, sosok sang Dokter Surgawi sendiri justru memilih untuk menghilang sepenuhnya dari gemerlapnya panggung kekuasaan.
Di pinggiran kota Jiangnan, jauh dari hiruk-pikuk Ibukota, berdiri sebuah kompleks bangunan panti asuhan baru yang sangat asri dan luas. Kompleks ini dikelilingi oleh taman bunga matahari yang mekar dengan indah dan pepohonan hijau yang rindang. Angin sore bertiup sepoi-sepoi, membawa hawa sejuk yang menenangkan jiwa.
Di halaman belakang panti, terdengar suara tawa riang anak-anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran.
Di bawah sebuah pohon rindang, seorang gadis kecil dengan gaun putih bersih tampak duduk di atas bangku kayu sembari memegang sebuah buku cerita. Wajahnya yang dulu pucat pasi kini telah dipenuhi oleh rona merah sehat dan keceriaan yang alami. Kalung giok bulan sabit yang usang masih melingkar di lehernya, namun benda itu kini tidak lagi memancarkan getaran kutukan atau energi berat; segel kosmik murni dari Lin Xiu telah mengubahnya menjadi jimat pelindung biasa yang sangat hangat.
"Kakak Lin Xiu! Lihat, aku sudah bisa membaca halaman ini tanpa salah!" teriak Xiao Mei sembari melambaikan tangannya dengan ceria ke arah koridor panti.
Dari balik bayangan pintu koridor, sesosok pemuda berjalan keluar dengan langkah kaki yang santai. Lin Xiu mengenakan kemeja putih kasual yang longgar dengan lengan yang digulung hingga ke siku, dipadukan dengan celana kain hitam. Tas kain usang yang dulunya selalu bertengger di bahunya kini tersimpan rapi di dalam kamarnya, digantikan oleh sebuah nampan kayu kecil berisi beberapa cangkir teh herbal hangat.
"Anak pintar," Lin Xiu tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang sangat jarang dia perlihatkan kepada dunia luar, namun selalu tersedia untuk adik-adiknya. Dia berjalan mendekat, meletakkan nampan kayu di atas meja batu di samping bangku Xiao Mei, lalu mengusap rambut hitam adiknya dengan sangat lembut.
*TAP. TAP. TAP.*
Langkah kaki yang tegas namun sengaja diperlambat terdengar mendekati area taman. Jenderal Ye Jincheng, yang kini telah resmi naik pangkat menjadi Panglima Tertinggi Divisi Keamanan Pusat, berjalan masuk dengan pakaian sipil biasa agar tidak menarik perhatian anak-anak panti. Di belakangnya, Jenderal Tua Ye berjalan perlahan tanpa bantuan kursi roda lagi; meridian tubuhnya telah sembuh total berkat resep medis terakhir dari Lin Xiu.
"Tuan Lin," kedua pria berkuasa di negeri itu membungkuk dengan sangat hormat, berdiri di tepi taman tanpa berani melangkah lebih dekat sebelum diizinkan.
Lin Xiu tidak berbalik, dia hanya menuangkan teh herbal ke dalam cangkir kecil. "Sudah kukatakan berkali-kali, Jenderal Ye. Tempat ini adalah panti asuhan biasa, bukan markas militer. Jangan membawa urusan politik Ibukota ke tanah Jiangnan."
Jenderal Tua Ye tersenyum takzim, melangkah maju satu langkah dengan penuh rasa segan. "Mohon maaf atas kelancangan kami, Tuan Lin. Kami ke sini hanya untuk mengantarkan laporan tahunan penataan ulang dunia mistis, sekaligus memastikan bahwa tidak ada satu pun faksi luar yang berani mengganggu ketenangan wilayah Jiangnan."
"Kaisar tua itu... bagaimana kondisinya?" tanya Lin Xiu datar sembari memberikan secangkir teh hangat kepada adiknya, Xiao Mei.
"Dia menghabiskan sisa hidupnya di dalam kuil tua di pegunungan utara, hidup sebagai pertapa biasa tanpa kekuatan spiritual sedikit pun," jawab Ye Jincheng dengan nada serius. "Sesuai dengan perintah Anda, seluruh arsip hitam mengenai eksperimen jiwa masa lalu telah kami bakar habis. Negeri ini sekarang berjalan di atas hukum yang adil."
"Baguslah," kata Lin Xiu pendek. Dia berbalik, sepasang mata emas murninya yang kini tampak lebih teduh namun tetap menyimpan kedalaman kosmik menatap kedua jenderal tersebut. "Tugas kalian adalah menjaga kedamaian di permukaan. Selama gerbang di bawah tanah sana tetap membeku di bawah segelku, jangan pernah coba-coba untuk menggali atau menyelidikinya lagi."
"Hamba mengerti dengan taruhan nyawa kami, Tuan Lin!" jawab keduanya serempak dengan nada yang sangat tegas.
Setelah menyelesaikan kunjungan singkat mereka, kedua jenderal itu pamit mundur dengan langkah yang sangat khidmat, merasa lega karena sang penguasa tertinggi dari *Ranah Penguasa Surga* itu masih berkenan menjaga kedamaian negeri dari balik layar kediamannya yang sunyi.
Matahari sore perlahan-lahan mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan semburat warna keemasan yang hangat di atas langit Jiangnan. Sinar mentari senja itu menerangi seluruh kompleks panti asuhan, menciptakan pemandangan yang teramat damai dan indah.
Lin Xiu berdiri di tepi pembatas taman, menatap langit barat yang bersih dari awan hitam. Tas kain usangnya mungkin sudah tidak sering dia bawa lagi, dan jarum-jarum medis sucinya kini lebih banyak digunakan untuk menyembuhkan penyakit warga desa sekitar panti daripada untuk mencabut nyawa para master bela diri yang serakah.
Dendam tiga belas tahun lalu telah lunas. Konspirasi berdarah yang menghancurkan masa kecilnya telah dikubur dalam-dalam di bawah reruntuhan sejarah. Kini, tidak ada lagi Lin Xiu sang pembantai klan mistis atau penghancur takhta kekaisaran; yang tersisa hanyalah seorang Dokter Surgawi yang berhasil melindungi senyuman di wajah adik perempuannya.
Xiao Mei berlari kecil, menggandeng erat tangan kanan Lin Xiu sembari menunjuk ke arah burung-burung yang terbang pulang ke sarangnya. "Kakak, besok apakah kita akan pergi ke pasar kota untuk membeli bahan kue baru?"
Lin Xiu menundukkan kepalanya, menatap wajah ceria adiknya dengan tatapan mata yang penuh kehangatan, lalu mengangguk perlahan.
"Ya, besok kita akan pergi."
Di bawah langit senja yang damai, perjalanan sang Dokter Surgawi telah mencapai garis akhir yang sempurna. Fajar baru yang dia ciptakan dengan tangannya sendiri kini akan terus menyinari dunia fana ini, dalam kedamaian yang abadi dan tak tergoyahkan.
# TAMAT