Liora dipaksa menikah dengan Arkan demi menyelamatkan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut. Ia mengira Arkan hanyalah pengusaha kaya biasa yang dingin dan tertutup. Kehidupan baru Liora dimulai di kediaman megah namun penuh ketatapan. Pelan tapi pasti, Liora mulai melihat keanehan-keanehan: pengawal yang selalu berjaga, orang-orang yang menunduk takut saat melihat Arkan, dokumen rahasia, hingga pembicaraan tentang organisasi bernama Bayangan Hitam.
Liora perlahan mengetahui kenyataan pahit: suaminya bukan sekadar pengusaha, melainkan pemimpin mafia paling berkuasa yang menguasai jalur perdagangan gelap, ekonomi bawah tanah, dan memiliki koneksi hingga ke pejabat tinggi negara. Dunia Liora berantakan, rasa takut bercampur kagum. Di sisi lain, Arkan yang awalnya menganggap Liora hanya kewajiban kontrak, mulai tertarik pada ketulusan dan keberanian gadis itu yang tidak pernah lari meski sudah tahu siapa dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman dari Luar
Seminggu telah berlalu sejak Arkan pulang dan mengakui jati dirinya di depanku. Kehidupan di kediaman besar ini berjalan seperti biasa, namun ada perubahan kecil. Arkan kini lebih sering berbicara denganku, meski topiknya masih seputar aturan rumah atau hal-hal dasar.
Ia tidak lagi bersikap dingin dan menjauh, meski sifat tertutupnya masih sangat kental. Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya, dan rasa takutku perlahan berkurang, berganti dengan rasa ingin tahu dan rasa hormat yang tumbuh perlahan.
Pagi itu, cuaca cukup cerah. Aku sedang duduk di taman belakang, membaca buku di bawah naungan pohon besar. Angin berhembus sejuk, membawa aroma bunga mawar yang harum. Di kejauhan, aku melihat Arkan berdiri di teras belakang rumah, sedang berbicara dengan dua orang pria yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.
Pakaian mereka berbeda dari pengawal biasa, mereka tampak lebih kasar, berotot besar, dan wajah mereka penuh bekas luka. Aura yang mereka bawa jauh lebih mengerikan daripada siapa pun yang pernah aku temui di sini.
Arkan berdiri tegak di depan mereka, tangannya bersilang di dada. Meski tubuhnya tidak sebesar kedua pria itu, namun aura dominasi yang ia pancarkan membuat kedua orang itu tampak kecil dan tunduk di hadapannya.
Aku mencoba mendekat perlahan, bersembunyi di balik semak-semak agar tidak terlihat. Rasa penasaranku kembali mengambil alih akal sehatku.
"Jadi, kau bilang pemimpin Serigala Putih berani datang ke wilayah kita?" suara Arkan terdengar rendah namun tajam, menusuk hingga ke tulang.
Salah satu pria berbadan besar itu mengangguk dengan ragu.
"Benar, Tuan. Mereka sudah menguasai tiga pelabuhan di utara. Mereka mengusir anak buah kita, mengambil alih muatan barang, dan... mereka juga melemparkan tantangan. Mereka bilang... Raja Bayangan sudah tua dan penakut, bersembunyi di balik tembok istananya."
Kulihat rahang Arkan mengeras. Di matanya, kilatan bahaya yang mengerikan mulai menyala, kilatan yang menandakan bahwa seseorang akan segera menyesali hidupnya.
"Penakut..." gumam Arkan pelan, lalu ia tertawa kecil, tawa yang dingin dan tidak ada kehangatannya sama sekali.
"Mereka benar-benar ingin mati. Dulu aku membiarkan mereka hidup karena aku pikir mereka cukup pintar untuk tahu batasannya. Tapi ternyata, kasih sayangku dianggap kelemahan."
Arkan melangkah maju satu langkah, dan kedua pria di depannya secara refleks mundur selangkah karena tekanan aura yang keluar dari tubuh Arkan.
"Kirimkan pesan terakhirku," perintah Arkan dengan nada datar namun mematikan. "Beri mereka waktu dua puluh empat jam untuk meninggalkan wilayah utara dan menyerahkan semua aset yang mereka rampas.
Jika sampai jam terakhir mereka belum pergi... sampaikan pada pemimpin mereka, bahwa aku akan datang sendiri. Dan saat aku datang, aku tidak akan membiarkan satu pun dari mereka bernapas lagi di bumi ini. Aku akan membuat sungai di utara berubah warna menjadi merah karena darah mereka."
"Tapi Tuan... bagaimana jika mereka menolak? Pasukan mereka cukup banyak, dan mereka bersekutu dengan organisasi dari Rusia," sahut pria itu ragu.
Arkan menatapnya tajam, membuat pria itu langsung shut up.
"Biarkan mereka mengundang siapa saja. Biarkan mereka mengerahkan seluruh kekuatan dunia. Biarkan mereka tahu, tidak peduli seberapa banyak sekutu yang mereka punya, atau seberapa kuat senjata mereka...
di hadapan Bayangan Hitam, semuanya hanyalah debu yang akan kuhapus begitu saja. Aku yang menentukan siapa yang hidup dan siapa yang mati di dunia ini."
Arkan mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat that pembicaraan selesai.
"Pergi. Laksanakan perintahku. Dan ingat, jangan sampai ada orang biasa yang terluka sedikit pun. Atau kau tahu sendiri apa hukumanmu."
Kedua pria itu membungkuk dalam-dalam, lalu bergegas pergi seolah dikejar hantu. Arkan berdiri diam di sana, menatap kosong ke arah cakrawala. Punggungnya yang tegap itu terlihat begitu kokoh, namun aku bisa merasakan beban berat yang ia pikul sendirian.
Memimpin organisasi terbesar di dunia bukanlah hal yang mudah. Ia harus berhadapan dengan pengkhianatan, ambisi orang lain, dan ancaman maut setiap hari.
Aku memberanikan diri keluar dari persembunyianku dan berjalan menghampirinya.
Arkan menoleh saat mendengar langkah kakiku. Wajahnya yang tadinya penuh amarah dan kekejaman, kembali berubah tenang saat melihatku. Ia mengulurkan tangan, menyambut tanganku yang menjulur ragu.
"Kau mendengar semuanya lagi, ya?" tanyanya lembut, sambil menggenggam tanganku yang kecil di dalam genggamannya yang besar dan hangat.
Aku mengangguk. "Arkan... itu terdengar sangat berbahaya. Apakah perang akan terjadi? Apakah kau akan pergi bertempur sendiri ke sana?"
Arkan mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya.
"Jangan khawatir, Liora. Ini bukan pertama kalinya. Selama aku masih bernapas, tidak ada siapa pun yang bisa menginjak harga diriku atau organisasiku.
Dan satu hal yang harus kau ingat: bahaya apa pun yang datang, aku akan memastikan kau aman, bahkan jika aku harus mempertaruhkan nyawaku sendiri."
"Arkan..." mataku terasa panas mendengar kata-katanya. Di balik sisi kejamnya, ternyata ada rasa perlindungan yang begitu besar padaku. Padahal, kami baru menikah sebentar, dan pernikahan kami awalnya hanyalah transaksi.
"Serigala Putih hanya sampah yang merasa dirinya raja," lanjut Arkan dengan nada dingin kembali.
"Mereka ingin menguji kekuasaanku. Baiklah, aku akan beri mereka ujian yang tak akan pernah mereka lupakan sampai ke neraka. Tapi jangan kau risaukan hal ini.
Urusan kotor seperti itu bukan hal yang harus kau pikirkan. Tugasmu hanya tinggal di sini, aman dan nyaman, menunggu aku pulang."
Ia menatapku lekat-lekat. "Karena kau adalah rumahku, Liora. Satu-satunya tempat aku bisa pulang dan menjadi diriku sendiri tanpa harus berpura-pura."
Kalimat itu membuat jantungku berdegup kencang, jauh lebih kencang dari sebelumnya. Arkan tidak pernah mengucapkan kata-kata manis atau rayuan gombal, tapi apa yang ia katakan begitu tulus dan dalam hingga menembus langsung ke hatiku. Di dunia yang keras dan penuh kekerasan ini, ternyata aku adalah tempat peristirahatannya.
Malam harinya, suasana di kediaman Arkan berubah menjadi sangat sibuk namun tetap teratur. Mobil-mobil mewah terus datang dan pergi, membawa dokumen, senjata, dan orang-orang penting. Para pengawal terlihat lebih waspada dari biasanya, berdiri di setiap sudut rumah dengan tangan bersiap di balik jas mereka. Aku tahu, ancaman dari organisasi Serigala Putih ini bukanlah hal kecil. Ini adalah tantangan nyata bagi kekuasaan Arkan.
Aku duduk di ruang kerja Arkan, di sudut ruangan yang jauh, hanya mengamati. Arkan duduk di kursi besarnya di balik meja yang penuh peta dan dokumen. Ia memberikan perintah demi perintah dengan suara tegas dan cepat, mengatur strategi seolah sedang memimpin sebuah negara, bukan sekadar organisasi kriminal.
Di matanya, terlihat ketenangan yang mengerikan. Ia tahu persis apa yang harus ia lakukan, dan ia yakin seratus persen akan kemenangannya.
Salah satu bawahannya, seorang pria paruh baya yang tampak cerdas bernama Damar, berbicara dengan nada khawatir.
"Tuan, jika kita menyerang habis-habisan, ada risiko polisi internasional akan ikut campur.
Serigala Putih sudah menyebar berita ke media bahwa kita adalah organisasi penjahat besar. Mereka mencoba menjebak kita agar kita terlihat buruk di mata dunia."
Arkan tersenyum sinis, merokok cerutu panjangnya perlahan. Asap mengepul keluar, menyamarkan sebagian wajahnya.
"Biarkan mereka bicara. Biarkan polisi datang. Biarkan dunia tahu siapa kita. Karena pada akhirnya, hukum yang sesungguhnya di dunia ini adalah kekuatan. Siapa yang paling kuat, dialah yang menentukan benar dan salah.
Serigala Putih berpikir dengan memutarbalikkan fakta mereka bisa menang. Mereka salah besar."
Arkan menabuhkan cerutunya di asbak. "Kita akan bertindak malam ini. Kita akan menyerang mereka dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan. Dan saat kita selesai, dunia akan kembali tahu, bahwa Raja Bayangan masih berkuasa, dan siapa pun yang berani melawannya akan hancur lebur. Tidak ada pengecualian."
Ia berdiri, menatap semua orang yang ada di ruangan itu. "Ingat, tujuan utama kita bukan hanya mengusir mereka, tapi memberi pelajaran bagi siapa saja yang berniat buruk pada kita di masa depan. Jadikan ini contoh nyata. Kekuasaan Bayangan Hitam mutlak dan tak tergoyahkan."
Semua orang di ruangan itu serentak berdiri dan membungkuk hormat. "Siap, Tuan!"
Aku menelan ludah, merasakan getaran kekuasaan yang begitu besar memenuhi ruangan itu. Di sini, di hadapanku, berdiri sosok yang mengendalikan aliran kekuasaan dunia bawah. Dan aku... aku adalah istrinya. Wanita yang paling beruntung sekaligus paling berbahaya di dunia.
Malam itu, Arkan berpamitan padaku. Ia mengenakan jas hitamnya yang paling rapi, senjata tersembunyi terpasang di pinggang dan bahunya. Ia mendekatiku, mencium keningku lama dan dalam.
"Tunggu aku pulang. Dan jangan khawatir, aku selalu menang," bisiknya pelan, sebelum berbalik pergi menuju kegelapan malam, diiringi pasukannya yang setia.
Aku berdiri di beranda, menatap iring-iringan mobil hitam itu menghilang di tikungan jalan. Hatiku berdebar campuran antara cemas dan rasa bangga yang aneh.
Aku tahu, malam ini akan menjadi malam yang panjang, dan sejarah baru akan ditulis dalam dunia gelap itu. Dan aku berdoa, semoga Raja Bayanganku pulang dengan selamat, membawa kemenangan, dan tetap menjadi sosok yang kucintai meski penuh bahaya.
jangan lupa mampir ya thor 💗, tinggalin jejak oke 😍