Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 KEPUNGAN HEWAN BERUBAH BENTUK
Malam mulai turun di Hutan Qinling. Cahaya remang-remang hanya tersisa dari bara api kecil yang dibuat Mu Chen. Ia bersandar di batang pohon besar, memeluk lututnya sambil memegang erat batu giok Yin-Yang di dadanya.
"Semoga malam ini aman saja..." gumamnya pelan.
Namun harapannya tidak berlangsung lama. Tanah di sekitarnya mulai bergetar perlahan, disertai suara gemerisik dedaunan yang semakin kencang — seolah ribuan makhluk bergerak bersamaan.
Mu Chen berdiri sigap, memegang tongkat kayu di tangannya. Dari kegelapan, bermunculan sosok-sosok yang membuat matanya terbelalak.
Di depannya, bukan lagi hewan biasa. Ada Serigala Berapi sebesar kuda dengan bulu yang menyala samar, Babi Hutan Berkulit Besi yang tubuhnya keras seperti batu, dan Ular Angin yang bergerak begitu cepat seolah melayang — semuanya adalah hewan yang telah mencapai tahap Transformasi Awal, memiliki kecerdasan dan kekuatan jauh melebihi hewan biasa. Mereka mengepungnya dari segala arah, mata mereka menyala dengan warna berbeda: merah, kuning, dan hijau.
"Wah... ini benar-benar melebihi imajinasiku. Hewan-hewan ini sudah bisa mengendalikan elemen ya?" batin Mu Chen, meski dalam hatinya sedikit takut.
Salah satu serigala berapi menggeram keras, dan seketika bola api seukuran kepala orang ditembakkan ke arahnya!
"Awas!"
Mu Chen melompat menghindar. Bola api itu menumbuk pohon di belakangnya, membuat dedaunan langsung terbakar. Ia berusaha berlari, tapi jalan sudah tertutup rapat. Ular angin melesat mendekat, mengayunkan ekornya yang membawa hembusan angin kencang.
Keanehan pada Tubuhnya
Saat hembusan angin itu menyentuh kulitnya, Mu Chen merasakan sesuatu yang aneh. Alih-alih terluka atau terlempar, energi angin itu malah seolah "tersedot" perlahan masuk ke dalam tubuhnya — tanpa ia sadari.
Ia mengerutkan kening. "Apa ini? Rasanya seperti udara dingin yang masuk ke tulang, tapi tidak menyakitkan..."
Belum sempat ia berpikir panjang, babi hutan berlari menyeruduknya dengan kekuatan besar. Mu Chen berusaha menghindar, tapi ujung tanduknya sempat menyentuh bahunya — membawa sejumput energi tanah yang berat. Dan lagi-lagi, energi itu juga terserap masuk ke dalam tubuhnya dengan sendirinya.
Yang paling mencengangkan: batu giok Yin-Yang yang ia pegang mulai memancarkan cahaya lembut, berputar pelan, dan mempercepat proses penyerapan itu. Semua energi elemen yang ada di sekitarnya — panasnya api, dinginnya angin, kokohnya tanah, bahkan lembapnya energi air dari akar pohon — semuanya mengalir perlahan masuk ke dalam tubuhnya, tanpa menimbulkan rasa sakit sama sekali.
Bagi orang biasa atau bahkan kultivator pemula, menyerap energi secara liar seperti ini akan membuat tubuh meledak atau rusak parah. Tapi pada Mu Chen, energi itu disaring oleh batu giok, diubah menjadi Energi Keseimbangan yang halus dan menyehatkan. Tubuhnya yang tadinya lemah perlahan terasa lebih ringan, napasnya menjadi lebih lancar, dan penglihatannya bisa menembus sedikit kegelapan malam.
"Tubuhku... terasa berbeda. Tidak lelah lagi, malah rasanya segar seperti habis tidur panjang," gumamnya heran.
Menghadapi Kepungan
Para hewan bertransformasi itu bingung. Mereka bisa merasakan energi mereka berkurang sedikit demi sedikit saat mendekati pemuda ini, tapi tidak tahu penyebabnya. Serigala berapi itu menggeram lagi, memerintahkan kawanan menyerang bersamaan.
Mu Chen tidak berani bertarung langsung. Ia masih ingat pelajaran strategi: "Gunakan keadaan sekitar, jangan melawan kekuatan kasar."
Ia merasakan energi tanah yang ada di kakinya. Tanpa mengerti caranya, ia sedikit memusatkan perhatian ke tanah di depannya — dan karena tubuhnya sudah menyerap energi tanah, permukaan tanah itu perlahan mengeras menjadi lapisan yang licin.
Tiga babi hutan yang berlari menyeruduk langsung terpeleset dan saling bertabrakan, terguling-guling kesakitan.
Kemudian, ia mengarahkan perhatian ke semak-semak kering di sisi kanan. Energi api yang tersimpan di tubuhnya sedikit keluar, membuat rumput kering itu menyala perlahan — tidak cukup besar untuk membakar hutan, tapi cukup untuk menimbulkan asap tebal yang menyengat hidung hewan-hewan itu.
"Ayo! Siapa mau mendekat? Kalian menguasai elemen, tapi aku... entahlah, sepertinya tubuhku suka menerimanya!" teriak Mu Chen dengan percaya diri yang tiba-tiba muncul.
Para hewan itu semakin gelisah. Mereka merasa makhluk di depan mereka aneh — bukan manusia biasa, tapi juga bukan kultivator yang bisa mereka kenali. Saat mereka ragu dan mulai mundur perlahan, suara nyaring tiba-tiba terdengar dari atas pohon:
"Hei! Mundur dari sana!"
Sebuah panah yang dibalut energi angin melesat cepat, menancap tepat di depan kaki serigala berapi, membuatnya mundur ketakutan. Sosok gadis muda berpakaian hijau melompat turun dari atas pohon, berdiri di samping Mu Chen dengan busur yang siap diarahkan.
Mu Chen menoleh. Di hadapannya berdiri Lin Xiaoyao — gadis muda yang ceria namun pemberani, murid dari Sekte Angin Hijau. Matanya menatap tajam ke arah kawanan hewan, tapi sekilas melirik Mu Chen dengan rasa penasaran: ia bisa merasakan aliran energi yang sangat aneh dan seimbang dari tubuh pemuda ini.
"Kau orang asing apa? Berani-beraninya berada di tengah kepungan Binatang Bertransformasi di malam hari?" tanyanya singkat.
Mu Chen tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya:
"Namaku Mu Chen. Sepertinya... mereka yang datang mendekatiku sendiri. Dan entah kenapa, rasanya tubuhku ini... suka sekali menyerap kekuatan mereka."
Di kegelapan hutan, batu giok di tangannya masih memancarkan cahaya lembut — menjadi saksi awal dari rahasia kekuatan yang perlahan bangkit dalam diri pemuda dari dunia lain ini.
Mohon dukungannya teman-teman