"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Makan Malam dan Aturan Baru
BAB 7: Makan Malam dan Aturan Baru
Malam harinya, atmosfer di dalam penthouse mewah itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan suara gemercik air dari wastafel dapur. Kiara berdiri di balik konter marmer hitam, memotong beberapa helai sayuran dengan gerakan yang menghentak kasar. Sejak pulang dari kampus dua jam yang lalu, dadanya masih dipenuhi rasa jengkel yang membuncah. Tanda kemerahan di lehernya—yang seharian ini harus ia sembunyikan mati-matian di balik gerai rambutnya—masih terasa sedikit berdenyut, seolah terus mengingatkan Kiara pada kelakuan mesum dosen pembimbingnya itu.
Sebagai bentuk aksi protes dan mogok bicaranya, Kiara sengaja memasak menu makan malam yang sangat sederhana; hanya nasi putih, tumis sayur seadanya, dan telur dadar yang sedikit agak garing.
Pip.
Suara sensor digital pintu depan berbunyi, menandakan sang pemilik apartemen telah tiba. Kiara sengaja tidak menoleh, berpura-pura sibuk menata piring di atas meja makan. Langkah kaki yang tegap dan berwibawa perlahan mendekat ke arah dapur.
Adrian masuk dengan penampilan yang sedikit berantakan namun justru menambah kesan seksi yang maskulin. Jas formalnya sudah dilepas, menyisakan kemeja abu-abu gelap yang lengannya digulung hingga siku, mengekspos lengan kokohnya yang dipenuhi urat-urat halus. Pria itu melempar tas kerjanya ke sofa, lalu berjalan lurus ke arah Kiara.
"Kamu memasak apa, Sayang?" suara bariton Adrian terdengar berat dan rendah, mengalun lembut di indra pendengaran Kiara.
Kiara tetap diam. Ia meletakkan mangkuk sayur terakhir di atas meja dengan hentakan yang sengaja dikeras-keraskan, lalu berbalik hendak berjalan menuju kamarnya tanpa berniat menyapa atau melayani Adrian. Namun, baru dua langkah berjalan, sebuah lengan kekar dengan cepat melingkar di pinggang ramping Kiara, menarik tubuh mungil itu mundur dalam satu sentakan kuat.
"Ah!" Kiara memekik kecil saat punggungnya langsung membentur dada bidang Adrian yang keras dan hangat.
"Mau kemana, hm? Suamimu baru pulang kerja, dan kamu bahkan tidak menyapaku?" bisik Adrian tepat di telinga Kiara. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan sisa wangi kopi mahal dari tubuh Adrian langsung mengepung kesadaran Kiara, membuat pertahanan dinginnya perlahan terkikis.
"Lepas, Adrian! Saya mau istirahat. Tugas memasak saya sudah selesai, silakan Bapak makan sendiri," ketus Kiara, sengaja menggunakan panggilan formal kampus untuk menjauhkan diri.
Adrian terkekeh pelan—sebuah kekehan sinis nan seksi yang selalu berhasil membuat bulu kuduk Kiara meremang. Bukannya melepaskan, Adrian justru menuntun Kiara menuju kursi makan. Pria itu menduduki kursi tersebut terlebih dahulu, lalu dengan paksa menarik Kiara untuk duduk di atas pangkuannya.
"Adrian, apa-apaan sih?! Turunkan aku!" Kiara memberontak, mencoba menggeser bokongnya dari paha kokoh Adrian, namun cengkeraman tangan Adrian di pinggangnya seperti jepitan besi yang mustahil dilepaskan.
"Diam atau kubuat kamu tidak bisa berjalan besok pagi, Kiara," ancam Adrian dengan nada suara yang teramat tenang namun sarat akan dominasi yang mutlak.
Ancaman itu seketika membuat Kiara membeku. Ia tahu betul Adrian tidak pernah main-main dengan ucapannya. Dengan wajah yang memerah padam menahan kesal sekaligus malu, Kiara akhirnya pasrah duduk di pangkuan sang profesor, bisa merasakan dengan jelas bagaimana detak jantung Adrian yang konstan di punggungnya.
Adrian meraih sendok dan garpu, lalu menyendok sedikit nasi dan telur dadar buatan Kiara. "Masakanmu sangat sederhana malam ini. Apakah ini caramu memprotes hukuman di ruang dosen tadi siang, Mahasiswaku?" goda Adrian dengan senyum tengil di sudut bibirnya.
"Kalau tidak suka, tidak usah dimakan," sahut Kiara ketus sambil memalingkan wajahnya ke samping.
Adrian tidak membalas ucapan ketus itu. Alih-alih marah karena disuguhi makanan seadanya, Adrian justru mengarahkan sendok itu ke depan bibir Kiara. "Buka mulutmu. Kita makan bersama."
"Aku tidak lapar—"
Tepat saat Kiara membuka mulut untuk protes, Adrian dengan cepat menyusupkan sendok itu ke dalam mulut Kiara. Kiara terpaksa mengunyah makanan tersebut dengan wajah cemberut. Namun, gerakan mengunyahnya terhenti ketika ia merasakan ibu jari hangat Adrian tiba-tiba menyapu sudut bibirnya, mengusap sisa saus yang menempel di sana.
Kiara mengira Adrian akan menyekanya dengan tisu. Namun, pria itu justru membawa ibu jarinya ke dalam mulutnya sendiri, menjilat sisa saus dari bibir Kiara dengan gerakan lidah yang sangat lambat dan pandangan mata elang yang menatap lurus ke dalam manik mata Kiara. Tindakan yang teramat sensual itu seketika membuat perut Kiara seperti digelitik ribuan kupu-kupu, memicu rasa panas yang mendadak menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Manis," bisik Adrian dengan suara yang mendadak berubah serak. Pandangannya beralih menatap leher kanan Kiara, di mana rambut panjang gadis itu sedikit tersingkap, memperlihatkan tanda kemerahan yang ia buat tadi siang.
Adrian menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kiara. Bibir hangatnya mengecup lembut tanda merah tersebut, membuat Kiara memejamkan mata rapat-rapat sambil meremas kemeja Adrian kuat-kuat.
"Ahhh... Adrian... hentikan..." lirih Kiara dengan desahan yang lolos begitu saja dari bibirnya.
"Tanda ini terlihat luar biasa indah di lehermu, Kiara. Dan itu mengingatkanku pada aturan baru yang harus kutambahkan malam ini," bisik Adrian, napas panasnya berembus di kulit leher Kiara yang sensitif, membuat tubuh gadis itu bergetar hebat.
Adrian menjauhkan wajahnya sedikit, menatap wajah Kiara yang kini sudah sayu karena gairah yang kembali tersulut. "Aturan baru: Di kampus, kamu dilarang dekat-dekat atau tersenyum pada mahasiswa pria lain. Jika aku melihatmu melanggarnya, hukuman di ruang dosen tadi siang tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang akan kulakukan padamu di atas ranjang apartemen ini. Mengerti, Sayang?"
Kiara hanya bisa menelan ludah dengan susah payah, menatap wajah tampan nan tengil suaminya yang kini sedang tersenyum puas di depannya. Kiara menyadari, sekeras apa pun ia mencoba menghindar, pesona dan kekuasaan Adrian telah sepenuhnya mengunci kebebasannya, baik di kampus maupun di dalam rumah.