Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: CATUR DAN PROYEKSI
Dua minggu berlalu sejak Nata melunasi uang kontrakan dan mulai membantu pembukuan di pasar. Kehidupan di rumah kecil mereka mulai stabil. Meja makan tidak lagi hanya berisi nasi dan garam; Kirana kini bisa membeli susu untuk Arya, dan tawa anak kecil itu kini terdengar lebih lepas, seolah beban kemiskinan yang mencekik selama ini hanyalah mimpi buruk yang mulai pudar.
Namun, Nata tahu ini adalah ketenangan sebelum badai. Sebagai seorang yang terbiasa membangun struktur pemikiran yang kompleks, ia tidak bisa membiarkan dirinya terlena oleh kesuksesan kecil.
Sore itu, Nata duduk di sudut warnet langganannya. Layar monitor tabung yang sedikit berkedip menampilkan grafik BitCore (BCR) yang merangkak naik ke angka 490 dolar AS. Namun, perhatian Nata teralihkan ke sebuah iklan digital di forum komunitas teknologi: “Grand Jakarta Tech & Chess Open 2014 – Membangun Masa Depan Lewat Logika.”
Ini adalah pintu masuk yang ia tunggu. Penyelenggaranya adalah Nusa-Capital, perusahaan modal ventura yang merupakan penyokong utama di balik NUSA-TRANS.
"Kak Nata, kenapa Kakak melihat papan catur terus di komputer?" tanya seorang anak laki-laki yang sedang bermain game online di sebelah Nata.
Nata tidak menoleh. Matanya tetap fokus pada simulasi gerakan catur di layar. "Ini bukan sekadar papan catur, Dik. Ini adalah simulasi bagaimana dunia bekerja. Setiap pion punya kegunaan, dan setiap raja bisa tumbang jika salah melangkah."
Anak itu hanya menggaruk kepala, tidak mengerti, lalu kembali ke permainannya. Nata menutup browser-nya setelah mendaftarkan namanya di turnamen tersebut. Ia tidak mendaftar sebagai pemain profesional, melainkan sebagai peserta kategori umum.
Keesokan harinya di sekolah, Nata menyadari ada sesuatu yang berbeda. Ada sebuah mobil MPV hitam yang terparkir tidak jauh dari gerbang sekolah selama tiga hari berturut-turut. Orang-orang di dalamnya tidak keluar, tapi Nata bisa merasakan sepasang mata mengawasinya setiap kali ia berjalan pulang.
Paman Danu sudah mulai bergerak, batin Nata dingin.
Alih-alih merasa takut, Nata justru menggunakan ini sebagai latihan mental. Ia mulai mengubah rute pulangnya, masuk ke gang-gang yang lebih sempit, atau sengaja berhenti di tempat keramaian. Ia ingin pengintai itu tahu bahwa ia sadar sedang diawasi. Ini adalah perang urat syaraf.
Saat jam istirahat, Nata kembali menemui Pak Broto di perpustakaan. Kali ini, Pak Broto tidak sendirian. Ada seorang wanita paruh baya dengan pakaian formal yang elegan duduk bersamanya.
"Nata, kemari. Ini rekan yang saya ceritakan. Namanya Ibu Sari, dia seorang notaris sekaligus konsultan hukum agraria," kata Pak Broto memperkenalkan.
Nata menyalami Ibu Sari dengan sopan. Ibu Sari menatap Nata dengan tatapan menyelidik. Ia sudah mendengar banyak dari Pak Broto tentang "siswa ajaib" yang memahami hukum pembebasan lahan lebih baik daripada praktisi hukum pemula.
"Pak Broto bilang kamu punya masalah dengan tanah warisan di dekat Gunung Merapi, Nata?" tanya Ibu Sari langsung ke inti permasalahan.
Nata mengeluarkan dokumen salinan yang ia miliki. "Benar, Bu. Secara hukum, tanah itu adalah hak milik ayah saya yang seharusnya jatuh ke tangan saya dan adik-adik saya sebagai ahli waris. Namun, ada upaya dari pihak keluarga untuk memindahkan kepemilikan lewat surat kuasa jual yang cacat hukum."
Ibu Sari memeriksa dokumen itu dengan kacamata bacanya. Dahinya berkerut. "Jika apa yang kamu katakan tentang rencana pembangunan tol itu benar, tanah ini akan menjadi 'emas' dalam dua tahun. Pamanmu itu bukan orang bodoh, dia tahu apa yang dia incar."
"Karena itu saya butuh perlindungan hukum yang sah, Bu. Saya ingin membekukan status tanah itu agar tidak bisa dipindahtangankan sampai saya berusia dua puluh satu tahun, atau sampai saya yang membukanya sendiri," ucap Nata dengan nada yang sangat dewasa.
Ibu Sari meletakkan dokumen itu dan menatap Nata dalam-dalam. "Kenapa kamu tidak menjualnya saja sekarang kalau memang butuh uang? Pamanmu pasti mau membayar cukup mahal."
Nata tersenyum tipis—senyuman yang membuat Ibu Sari merasa sedang berbicara dengan rekan bisnis sepadan, bukan seorang siswa SMA. "Menjual sekarang berarti membiarkan orang lain memanen pohon yang saya tanam. Saya bukan orang yang suka melepaskan kendali atas aset yang memiliki proyeksi pertumbuhan seribu persen."
Ibu Sari tertegun. Istilah "proyeksi pertumbuhan" keluar dari mulut seorang anak yang sepatunya masih terlihat bekas lem. Ia menoleh ke Pak Broto, yang hanya mengangkat bahu seolah berkata, “Sudah kubilang, dia berbeda.”
"Baiklah, Nata. Saya akan bantu mengurus perlindungan aset ini secara pro bono sebagai bentuk dukungan saya pada Pak Broto. Tapi dengan satu syarat," ucap Ibu Sari.
"Apa itu, Bu?"
"Tuliskan analisis prediksimu tentang dampak infrastruktur Trans-Nusantara terhadap nilai properti di Jawa Tengah dalam tiga lembar kertas. Saya ingin tahu apakah logikamu benar-benar sekuat yang Pak Broto ceritakan."
Nata mengangguk tanpa ragu. "Besok pagi sudah ada di meja Bapak, Pak Broto."
Langkah ketiga: Membangun legitimasi intelektual. Nata tahu, di dunia orang dewasa, kecerdasan adalah mata uang yang bahkan lebih berharga daripada uang tunai.
Malam harinya, rumah Nata terasa lebih hangat karena aroma masakan Kirana. Namun, saat Nata sedang membantu Arya mengerjakan PR matematikanya, terdengar ketukan keras di pintu depan.
Nata memberi kode agar Kirana tetap di dapur bersama Arya. Ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Di depan pintu stands seorang pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam—salah satu orang yang Nata lihat di mobil MPV tadi pagi.
"Ada apa?" tanya Nata datar.
"Pamanmu ingin bicara. Dia ada di mobil di depan gang," ucap pria itu dengan suara berat yang mengancam.
Nata menatap mata pria itu tanpa berkedip. "Katakan pada Paman Danu, jika dia ingin bicara, dia punya kaki untuk berjalan ke sini. Saya tidak punya waktu untuk berjalan ke depan gang."
Pria itu tampak emosi, tangannya mengepal. "Heh, Bocah! Kamu nggak tahu siapa yang kamu hadapi?"
"Saya tahu betul siapa yang saya hadapi. Seorang pria yang menyewa pengintai karena takut pada keponakannya yang masih SMA," Nata tersenyum dingin. "Dan ingatkan dia, saya sudah menyerahkan berkas sengketa tanah itu ke notaris dan konsultan hukum hari ini. Jika terjadi sesuatu pada saya atau adik-adik saya, orang pertama yang akan dicari polisi adalah dia."
Pria itu terdiam. Gertakan Nata kali ini memiliki landasan fakta. Ia tidak berani bertindak lebih jauh tanpa perintah.
"Satu lagi," tambah Nata. "Tolong jangan menggedor pintu rumah saya seperti itu lagi. Adik saya sedang belajar, dan saya benci gangguan."
Nata menutup pintu tepat di depan wajah pria itu. Ia bisa mendengar langkah kaki yang menjauh dengan kasar.
Di dalam, Kirana mendekat dengan wajah pucat. "Kak... itu tadi siapa?"
Nata berbalik, ekspresinya langsung melunak. "Hanya orang salah alamat, Kirana. Jangan khawatir. Ayo, lanjut ajari Arya."
Malam itu, Nata tidak bisa langsung tidur. Ia duduk di mejanya, menulis analisis properti untuk Ibu Sari. Pikirannya melayang ke turnamen catur minggu depan. Ia tahu Paman Danu akan mencoba cara lain untuk menekannya, dan satu-satunya cara untuk benar-benar aman adalah dengan memiliki posisi sosial yang tidak bisa disentuh oleh orang-orang seperti pamannya.
Di turnamen itu, aku harus menarik perhatian pemilik Nusa-Capital, batin Nata.
Ia membuka aplikasi catur di ponselnya, mengatur tingkat kesulitan ke level tertinggi, dan mulai bermain. Baginya, setiap bidak di papan itu adalah representasi orang-orang di sekitarnya. Paman Danu adalah benteng yang kasar dan lurus; Raka adalah pion yang bisa dimanipulasi; Pak Broto adalah gajah yang bergerak secara diagonal dan penuh prinsip.
Dan Nata? Nata adalah pemainnya. Seseorang yang tidak berada di atas papan, tapi yang menggerakkan segalanya dari balik bayangan.
Saat fajar mulai menyingsing, Nata menyelesaikan tulisan analisisnya. Ia menatap grafik BitCore yang kini menyentuh angka 495 dolar.
Sedikit lagi, gumamnya.
Ia tahu bahwa di masa depan yang ia tinggalkan, BitCore akan mengalami fluktuasi besar, namun untuk saat ini, aset itu adalah tangki oksigennya. Dengan dana dari BitCore dan dukungan hukum dari Ibu Sari, ia akan mulai melakukan serangan balik yang tidak akan pernah disangka-sangka oleh Paman Danu.
Ia melirik Arya yang tertidur pulas sambil memeluk buku gambarnya. Nata berjanji dalam hati, rumah kecil ini tidak akan menjadi tempat mereka selamanya. Ia akan membangun sebuah istana, bukan dari pasir, tapi dari baja logika dan pondasi kekayaan yang tak tergoyahkan.
"Garis takdir ini sudah berubah," bisik Nata pada cahaya matahari yang mulai masuk lewat celah jendela. "Dan aku tidak akan berhenti sampai seluruh dunia tahu nama Prawira."
Bersambung.....