⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga
Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.
Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...
Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.
Dua pria, satu wanita.
Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bencana Awal dari Segalanya
Di dalam ruangan privat El-Royale, suasana terasa tegang namun tetap berkelas. Di satu sisi meja panjang, duduk Valencia dan Leo—keduanya adalah arsitek yang bersaing untuk memenangkan proyek pembangunan hotel milik perusahaan Ansel.
Mereka berdua adalah sahabat waktu masa kuliah, dan sekarang menjadi rekan kerja. Di sisi lain, ada Arsel sang CEO muda yang duduk tegak, ditemani oleh Jodi, asisten sekaligus sekretaris pribadinya yang setia.
Pertemuan ini sangat menentukan. Siapa yang karyanya terpilih, dialah yang akan bekerja sama dengan perusahaan besar milik Ansel. Ansel sebenarnya sudah beberapa kali menggunakan jasa Valencia. Sejak pertama kali bertemu, pria itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia bahkan pernah mengungkapkan perasaannya, namun Valencia menolaknya dengan halus karena ia sudah memiliki kekasih yang sangat dicintainya. Namun Ansel tidak menyerah, ia terus berusaha mendekati dan mengejar Valencia dengan berbagai cara. Di sisi lain, Leo—yang terkenal sebagai pria playboy—jauh-jauh hari sudah menaruh hati pada Valencia, namun selalu ditolak mentah-mentah. Rasa sakit hati dan kecemburuan itu kini berubah menjadi jahat. Leo sudah menyusun rencana licik hari ini.
"Baiklah, saya sudah melihat rancangan dan mendengarkan penjelasan dari kalian berdua dengan sangat seksama," ucap Ansel memecah keheningan, matanya menatap bergantian ke arah Valencia dan Leo.
"Kalian berdua memiliki rancangan yang sangat bagus dan unik. Sungguh sulit rasanya untuk memilih satu di antaranya."
"Terima kasih banyak, Tuan Ansel. Bagi saya, keputusan ada di tangan Anda. Apapun pilihan Anda, saya tetap menghormatinya," jawab Leo dengan sopan dan tenang.
Ansel tersenyum tipis menatap wanita itu. "Tapi Gagasan yang dibawakan Nona Valencia kali ini terasa lebih matang, rinci, dari gagasan Tuan Leo, dan sangat sesuai dengan visi perusahaan saya."
Wajah Leo seketika berubah muram mendengarnya. Ia sudah bisa menebak jawaban apa yang akan keluar selanjutnya.
"Oleh karena itu," lanjut Ansel tegas,
"saya memutuskan untuk memilih rancangan dari Nona Valencia. Semoga kita bisa bekerja sama kembali dengan hasil yang lebih baik lagi."
"Terima kasih banyak atas kepercayaannya, Tuan Ansel. Saya berjanji akan melakukan yang terbaik," ucap Valencia dengan senyum tulus dan wajah berseri-seri.
"Sama-sama, Nona Valencia. Saya percaya penuh pada kemampuan Anda," balas Ansel lembut.
Leo hanya diam terpaku, tangannya terkepal erat di bawah meja. Rasa kesal dan marah bercampur aduk di dadanya. Lagi-lagi dia yang menang. Padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga. Namun di balik kekecewaannya itu, tersungging senyum licik di bibirnya. Ia punya rencana yang sudah disiapkan matang-matang sebelum berangkat untuk Valencia.
"Selamat ya, Val. Aku akui, karyamu memang luar biasa," ucap Leo pura-pura ramah sambil mengulurkan tangan.
"Terima kasih, Leo. Karyamu juga bagus," jawab Valencia sambil menjabat tangan sahabatnya itu dengan polos dan tidak curiga sama sekali.
Setelah rapat selesai, Leo pamit ke Toilet
Tapi tidak ada yang menyangka bahwasannya Leo sengaja menunggu pelayan yang akan mengantarkan hidangan di lorong.
"Apakah itu pesanan atas nama Tuan Arsel?" tanya Leo.
'Benar Tuan, apakah ada yang bisa di bantu?" tanya pelayan tersebut.
"Tolong bawakan satu botol mineral" ungkapnya.
"Baik tuan, nanti akan saya antarkan".
"Sekalian saja diantarkannya kedalam , saya bisa menunggu kan ini," tunjuk Leo pada troli makanan itu.
"Baik Tuan, maaf merepotkan".
Tanpa sepengetahuan siapa pun, saat pelayan mengambil pesanan tambahan Leo, Leo dengan cekatan dan diam-diam memasukkan serbuk obat ke dalam gelas minuman yang dipesan Valencia lalu mengaduknya perlahan.
Tak selang lama pelayan itu kembali dengan membawa sebotol air mineral
"Terimakasih banyak tuan sudah menunggu kan nya".
"Permisi Tuan". Pelayan itu pun berlalu menuju ruangan Ansel.
Tak selang lama Leo kembali dalam ruangan. Dimeja sudah tersaji makanan dan minuman yang telah mereka pesan.
Mereka mengambil minuman masing-masing dan mulai bersantai sejenak. Mereka melanjutkan obrolan obrolan ringan. Menit berlalu menit Leo terlihat gelisah, karena Ansel tak pergi pergi juga, Leo mengira Arsel adalah orang yang sangat sibuk, dia pikir setelah pembahasan tadi Ansel akan langsung pergi. kegelisahan Leo tak luput dari pandangan Ansel. Ada apa dengannya batin Ansel
"Mari kita nikmati hidangannya bersama" ajak Arsel sambil tersenyum lebar.
"Terima kasih, Tuan. Mari," jawab Valencia santai lalu meminum isi gelasnya hingga habis tanpa curiga sedikit pun.
Beberapa menit berlalu. Ansel sedang asyik mengobrol ringan dengan Valencia, Arsel melihat wajah Valencia perlahan berubah memerah, napasnya mulai terengah-engah, dan gerakannya terlihat gelisah serta tidak tenang.
"Kau baik-baik saja, Nona Valencia?" tanya Ansel cemas.
"Aku... aku tidak tahu, Tuan. Tiba-tiba saja aku merasa aneh... Badanku terasa panas sekali, dan kepalaku terasa pening berat," jawab Valencia dengan suara lemah dan pandangan yang mulai kabur.
Ansel menatap tajam ke arah Leo yang tegang. Perlahan tapi pasti, potongan kejadian tadi mulai tersusun di benaknya. Ia langsung berdiri dengan wajah yang mengeras dan penuh amarah.
"Kau yang melakukannya, Leo?" tanya Ansel dengan nada dingin dan mengancam.
Leo terkejut sejenak namun segera mengatur wajahnya dengan tenang. "Apa maksud anda Tuan Ansel? Saya tidak mengerti apa yang Tuan bicarakan."
"Jangan berpura-pura bodoh di hadapanku! Apa yang kau campurkan ke dalam minuman Nona Valencia? Apa rencana sebenarnya? Katakan padaku!" bentak Ansel keras, suaranya menggelegar di ruangan itu.
"Merencanakan apa, Tuan? Saya benar-benar tidak mengerti," jawab Leo berusaha membela diri meski wajahnya mulai pucat.
Tanpa aba-aba, Ansel melangkah cepat mendekati Leo lalu mendaratkan satu pukulan keras tepat di wajah pria itu.
BUGHK! Leo terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk di lantai, sudut bibirnya langsung berdarah.
"Dasar manusia tak tahu malu! Berani-beraninya kau melakukan ini!" seru Ansel marah besar.
"Jodi! Bereskan dia! Bawa dia keluar dari sini dan pastikan dia tidak pernah mendekati Nona Valencia lagi seumur hidupnya!"
"Siap, Tuan," jawab Jodi sigap. Ia segera menarik paksa tubuh Leo yang masih mengerang kesakitan dan membawanya pergi meninggalkan ruangan itu. Kini hanya tinggal Ansel dan Valencia di sana.
Valencia merasakan tubuhnya semakin lemah dan panas luar biasa, seolah ada api yang membakar di dalam dirinya. Ia tahu ada sesuatu yang salah dengan dirinya, dan ia harus segera memberi tahu Zyro sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya. Dengan sisa tenaga yang ada dan tangan yang gemetar hebat, ia mengeluarkan ponselnya dengan susah payah. Pandangannya sudah sangat kabur, dan jari-jarinya sulit bergerak.
Zyro tolong aku. aku di Kafe El-Royale.
Pesan itu berhasil terkirim tepat saat tangannya tak kuat lagi memegang benda itu dan jatuh ke sofa.
"Ahhh..." erangnya pelan, tubuhnya terhuyung ke samping.
Ansel segera menangkap tubuh Valencia sebelum jatuh ke lantai. Ia memegang bahu wanita itu dan menatap wajahnya lekat-lekat. "Valencia... Kau mendengarkan suaraku? Lihat aku, Valencia..."
Valencia mencoba membuka matanya lebar-lebar namun terasa sangat berat. "Tuan Ansel... Aku... aku merasa sangat aneh... Tubuhku... aku tidak bisa mengendalikannya..."
Melihat keadaan Valencia yang begitu lemah, merah merona, dan terlihat begitu menggairahkan akibat pengaruh obat itu, gairah Ansel yang sudah lama terpendam perlahan mulai bangkit dan tak terbendung lagi. Ia mendekatkan wajahnya perlahan, lalu tiba-tiba mencium bibir Valencia dengan penuh nafsu dan hasrat yang meluap-luap.
"Jangan, Tuan... Jangan lakukan ini... Ahhh..." rintih Valencia lemah berusaha mendorong tubuh pria itu, tapi tenaganya sama sekali tidak ada.
Ansel melepaskan ciumannya sejenak lalu berbisik tepat di samping telinga wanita itu dengan suara berat dan mendesah, "Jangan takut, Valen... Aku di sini. Aku akan membantumu menghilangkan rasa sakit dan panas ini... Aku akan bertanggung jawab atas segalanya nanti, aku janji..."
"Tidak... Tolong... Jangan... Ahhh..." Valencia masih berusaha menolak meski suaranya sudah terdengar seperti rintihan yang membuat Ansel semakin tak tahan.
Namun apalah daya, kesadaran Valencia sudah benar-benar di luar kendalinya. Tubuhnya bergerak mengikuti dorongan obat yang beredar deras di dalam sistem darahnya, dan Ansel... Ansel tidak lagi mampu menahan hasratnya yang sudah meledak. Hari ini, ia akan mendapatkan apa yang sudah lama ia inginkan, sekalipun dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.