NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Perjalanan menuju Calveron memakan waktu hampir enam jam. Sepanjang jalan, Alzena—atau Arcelia yang berada di dalam tubuh itu—lebih banyak terdiam menatap hamparan hutan pinus yang mulai menyelimuti sisi jalan raya. Keano duduk di sampingnya, sibuk dengan laptop, namun tangannya tidak pernah melepaskan jemari Alzena. Sebuah gestur protektif yang kini mulai dirasa biasa olehnya.

"Kita hampir sampai," suara Keano memecah keheningan. "Calveron bukan New Ardent, Alzena. Di sini, aturan Winchester adalah hukum. Tapi ingat, di sini juga banyak mata yang sudah mengawasiku sejak aku kecil. Jangan bertindak terlalu gegabah."

Alzena menarik tangannya, lalu memperbaiki letak jaket kulitnya. "Lo tau sendiri, Keano. 'Gegabah' itu nama tengah gue. Kalau gue nggak bikin keributan, itu namanya bukan gue."

Keano terkekeh pendek, sebuah suara yang jarang terdengar namun terasa hangat. "Aku tahu. Makanya aku sudah menyiapkan tim pengamanan tambahan di mansion utama."

Mobil Rolls-Royce hitam itu akhirnya memasuki gerbang besi raksasa bertuliskan *Winchester Estate*. Mansion di Calveron jauh lebih megah dan bergaya gotik daripada yang di New Ardent. Bangunan itu tampak seperti kastel tua yang dikelilingi oleh kabut tipis. Namun, fokus Alzena bukan pada kemewahan itu. Pikirannya tertuju pada satu nama: **Baron**.

Begitu mereka turun, pelayan berbaris menyambut. Papa Adrian dan Mama Clarissa sudah menunggu di lobi utama. Suasana terasa sangat formal, namun Alzena bisa merasakan tatapan Papa Adrian yang berbeda. Ada kegelisahan yang disembunyikan di balik senyum ramahnya.

"Selamat datang kembali, Alzena, Keano," sapa Mama Clarissa sambil memeluk menantunya. "Kalian pasti lelah setelah kejadian besar di kantor kemarin. Beristirahatlah dulu."

"Terima kasih, Ma. Tapi sepertinya Alzena punya sesuatu yang ingin dibicarakan dengan Papa," ujar Keano sambil menatap ayahnya.

Papa Adrian hanya mengangguk tenang. "Setelah makan malam, di ruang kerjaku. Sekarang, masuklah."

Malam itu, di bawah temaram lampu gantung kristal, meja makan terasa sangat sunyi. Alzena tidak banyak bicara, dia hanya mengamati setiap sudut ruangan. Pikirannya sedang memetakan rencana. Begitu makan malam selesai, dia langsung mengikuti Papa Adrian ke ruang kerja pribadinya yang penuh dengan buku-buku tua.

"Papa tau apa yang mau aku tanyain," Alzena membuka percakapan tanpa basa-basi begitu pintu ditutup. Sifat bar-barnya tidak luntur hanya karena dia berada di wilayah mertua. "Kenapa Papa simpan foto itu? Dan siapa Baron?"

Papa Adrian duduk di kursi besarnya, menghela napas panjang seolah beban yang dia pikul selama sepuluh tahun akhirnya dilepaskan. "Aku sudah menduga kau akan langsung menyerangku dengan pertanyaan itu, Alzena."

Adrian mengeluarkan sebuah map cokelat tua yang tampak sudah sangat usang. "Sepuluh tahun lalu, panti asuhan *Kasih Ibu* bukan sekadar panti asuhan biasa. Aldric Halim menggunakan tempat itu untuk mencuci uang hasil bisnis gelapnya. Dan panti itu... berdiri di atas tanah milik keluarga Winchester."

Alzena mengernyit. "Maksud Papa, Winchester terlibat?"

"Tidak secara langsung. Tapi kakek Keano dulu berteman baik dengan kakekmu. Ketika kebakaran itu terjadi, aku adalah orang pertama yang dikirimi laporan oleh **Baron**. Baron adalah kepala keamanan wilayah Calveron yang saat itu disewa Aldric untuk 'menjaga' panti tersebut."

"Menjaga atau membakar?" desis Alzena tajam.

"Keduanya," jawab Adrian jujur. "Aldric panik karena Arcelia—kembaranmu—mulai mencari tahu siapa orang tuanya. Dia tidak mau skandal anak kembar pembawa sial itu merusak reputasinya. Dia memerintahkan Baron untuk meratakan panti itu. Baron datang padaku setelah kejadian, dia membawa foto itu dan bilang... ada satu anak yang selamat, tapi dia tidak bisa menemukannya."

Alzena mengepalkan tangannya di bawah meja. Jantungnya bergemuruh. *Jadi Papa Adrian tau gue selamat?* pikirnya.

"Lalu kenapa Papa diem aja? Kenapa nggak kasih tau Alzena?" tanya Alzena dengan suara bergetar karena marah.

"Karena saat itu kau masih sangat lemah, Alzena. Kau baru saja menikah dengan Keano, dan Aldric memegang kendali penuh atas hidupmu. Jika aku bergerak, Aldric akan menghancurkanmu. Aku menunggu... menunggu sampai kau punya 'kekuatan' untuk melawan. Dan jujur saja, aku tidak menyangka kau akan berubah secepat ini setelah koma."

Alzena berdiri, matanya berkilat penuh amarah. "Papa biarin Arcelia hidup luntang-lantung di jalanan selama sepuluh tahun cuma karena Papa nunggu momen yang pas? Papa nggak jauh beda sama Aldric!"

"Alzena, dengarkan dulu—"

"Nggak ada yang perlu didengerin lagi. Di mana Baron sekarang?"

"Dia ada di pinggiran kota, di sebuah dermaga tua bernama *Grey Wharf*. Tapi jangan ke sana malam ini, Alzena. Baron bukan orang sembarangan. Dia punya pasukan sendiri di sana."

Tanpa menjawab, Alzena langsung keluar dari ruang kerja itu dengan membanting pintu. Di lorong, dia menabrak dada bidang Keano yang rupanya sudah menunggu di sana.

"Gue mau pergi," ujar Alzena pendek.

"Ke *Grey Wharf*? Aku ikut," sahut Keano tanpa bertanya.

"Ini urusan gue, Keano! Ini soal masa lalu gue!"

"Urusanmu adalah urusanku juga sekarang," Keano mencengkeram bahu Alzena, memaksanya menatap matanya yang dingin namun penuh komitmen. "Kau pikir aku akan membiarkanmu mendatangi pembunuh bayaran seperti Baron sendirian? Aku yang akan menyetir. Ayo."

**Grey Wharf, Calveron – 23:45 WIB**

Dermaga itu tampak seperti kuburan kapal. Bau garam dan karat menusuk hidung. Alzena dan Keano berjalan melewati tumpukan kontainer tua dengan hanya bermodalkan senter ponsel. Keano membawa pistol di balik jasnya, sementara Alzena sudah memegang pisau lipat dan perangkat peretasnya.

Di ujung dermaga, sebuah gubuk tua dengan lampu kuning yang berkedip tampak berdiri kokoh. Di depannya, duduk seorang pria bertubuh raksasa dengan luka parut di wajahnya, sedang membersihkan senapan panjang. Itu adalah Baron.

"Wah, wah... Winchester muda datang berkunjung," suara Baron berat dan serak, seperti suara gesekan amplas. "Dan dia membawa si 'Nona Besar' Halim."

Alzena maju paling depan, tidak ada rasa takut sedikit pun di wajahnya. "Baron. Sepuluh tahun yang lalu, lo dapet perintah buat bakar panti asuhan *Kasih Ibu*. Lo bilang ada satu anak yang selamat. Di mana dia sekarang?"

Baron tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat tidak enak di telinga. Dia berdiri, tingginya hampir mencapai dua meter. "Anak itu? Dia itu hantu, Nona. Dia lari ke dalam api dan menghilang begitu saja. Tapi kalau kau tanya siapa yang benar-benar pengen dia mati... itu bukan cuma ayahmu."

Keano menyipitkan mata. "Maksudmu?"

"Aldric Halim itu pengecut. Dia cuma pengen reputasinya aman. Tapi ada seseorang yang lebih besar di belakangnya... seseorang yang takut kalau Arcelia hidup, rahasia tentang warisan murni Mirelle Halim akan membongkar kebusukan yang bisa meruntuhkan seluruh bisnis di negara ini."

Tiba-tiba, dari kegelapan di sekitar mereka, muncul sepuluh orang pria bersenjata lengkap. Mereka mengurung Alzena dan Keano.

"Maaf, Tuan Winchester. Aku dibayar untuk memastikan siapa pun yang bertanya soal panti asuhan itu tidak akan pernah kembali ke rumah," ujar Baron sambil mengarahkan senapannya ke arah Alzena.

Alzena justru menyeringai. Dia mengeluarkan ponselnya dan menekan satu tombol. "Lo pikir gue dateng ke sini cuma buat ngobrol?"

*BEEP! BEEP! BEEP!*

Tiba-tiba, lampu-lampu di seluruh dermaga pecah karena ledakan kecil dari sirkuit pendek yang dipicu oleh virus peretas Alzena. Suasana menjadi gelap total.

"Sekarang, Keano!" teriak Alzena.

Keano bergerak secepat kilat, menarik Alzena ke balik kontainer sementara dia mulai melepaskan tembakan presisi ke arah anak buah Baron. Alzena tidak tinggal diam, dia menggunakan kegelapan itu untuk menyelinap di antara kontainer, menjatuhkan lawan-lawannya dengan teknik bela diri jalanan yang brutal—menyerang titik saraf dan sendi tanpa ampun.

Dalam lima menit, suasana kembali hening, hanya menyisakan Baron yang terluka di bahunya karena tembakan Keano. Pria raksasa itu terduduk lemas di dekat gubuknya.

Alzena mendekatinya, menginjak luka di bahu Baron dengan sepatu hak tingginya. "Siapa orang besar yang lo maksud, Baron? Jawab, atau gue pastiin lo nggak bakal bisa liat matahari besok pagi."

Baron meringis kesakitan. "Dia... dia ada di dalam daftar investor Winchester yang paling rahasia... Namanya... **Alexander Crowe**."

Mendengar nama itu, Keano membeku. "Alexander Crowe? Itu adalah kakek buyutku yang seharusnya sudah meninggal dua puluh tahun lalu."

Alzena menatap Keano dengan bingung. "Apa? Jadi ini semua berkaitan sama keluarga lo?"

Belum sempat Baron bicara lagi, sebuah tembakan dari kejauhan—dari arah bukit—melesat tepat ke jantung Baron. Pria raksasa itu tewas seketika di depan mata mereka.

"Sniper!" teriak Keano. Dia langsung memeluk Alzena dan berguling ke bawah dek dermaga untuk berlindung.

Alzena bernapas tersengal di dalam dekapan Keano. "Ini bukan cuma soal Papa gue lagi, Keano. Ini jauh lebih gila dari yang gue bayangin."

"Diamlah, Alzena. Kita harus keluar dari sini hidup-hidup dulu," bisik Keano sambil terus waspada.

Di bawah kegelapan dermaga Calveron, Alzena menyadari satu hal: Kebenaran tentang Arcelia bukan hanya tentang anak yang dibuang, tapi tentang sebuah konspirasi berdarah yang melibatkan leluhur suaminya sendiri.

1
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
partini
Nemu lagi novel macam ini i like
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!