Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Hari ini Azam pulang lebih cepat dari biasa nya, dia tidal sabar untuk bertemu Mama nya dan juga Nia. Erlan ingin membahas masalah pernikahan nya dan Nia, mumpung saat ini Maira sedang tidak ada di rumah.
"Assalam mu'alaikum!" Azam mengucap kan salam di depan pintu.
"Wa'alaikum salam!" Jawab Mama Wina dan Nia bersamaan.
"Loh Zam, tumben kamu pulang lebih cepat nak. Biasa nya jam segini kamu belum pulang?" Tanya Mama Wina dengan heran.
"Iya Ma, sengaja aku pulang lebih cepat, Masalah nya ada hal yang mau aku bahas sama Mama dan Nia!" Jawab Azam dengan jujur.
"Ada apa nak?" Tanya Mama Wina.
"Ini tentang pernikahan aku dan Nia, Ma!" Jawab Azam sambil menghenyak kan bokong nya di sofa.
"Memang nya ada apa mas?" Tanya Nia dengan wajah berbinar.
"Iya Zam, ada apa?" Tanya Mama Wina ikut penasaran.
"Ma, aku akan nikahi Nia secepat nya. Mungkin besok malam!" Jawab Azam mantap.
"Benarkah itu nak? Jadi kamu sudah dapet uang buat beli mahar nya? Mama minta sebagian uang nya, karena Mama juga udah gak punya uang lagi!" Mama Wina langsung nyerocos begitu saja.
"Aku gak ada uang nya, Ma!" Jawab Azam lagi.
"Lalu bagai mana kamu bisa memberikan Nia mahar, jika kamu tidak punya uang?" Tanya Mama Wina dengan seikit kesal.
"Ma, saat ini kan Maira sedang tidak ada di rumah. Nah selama ini Maira sering membeli perhiasan, jadi aku akan ambil saja perhiasan nya Maira buat Mahar pernikahan aku dan Nia!" Jawab Azam yang mulai menceritakan rencana jahat nya.
"Bagai mana kalau sampai ketahuan Maira, Zam? Bisa kacau semua nya!" Mama Wina tidak setuju dengan rencana putra nya.
"Ma, Mama tenang saja. Selama ini Maira sering membeli perhiasan, tapi ku lihat dia jarang sekali memakai nya. Jadi dia tidak akan menyadari jika perhiasan nya aku ambil!" Jawab Azam dengan yakin.
"Benar juga apa yang kamu katakan, Mama tidak pernah lihat Maira memakai perhiasan nya!" Mama Wina setuju dengan ide gila putra nya.
"Ma, besok malam aku akan menikahi Nia, aku tidak ingin menunda lagi!" Azam berkata pada Mama nya.
Nia yang mendengar nya tersenyum puas, rencana nya untuk menyingkirkan Maira kini sudah mulai menemukan titik terang nya. Tidak masalah dia dan Azam menikah sirih, toh nanti dia pasti berhasil menyingkirkan Maira.
"Iya, iya, Mama setuju nak!" Jawab Mama Wina dengan antusias.
"Aku ke kamar dulu ya, Ma!" Azam pamit pada Nia dan Mama Wina.
Azam lalu meninggal kan Mama nya dan juga Wina, dia akan segera mengambil perhiasan Maira untuk di jadikan mahar yang akan dia berikan pada Nia besok.
Sementara itu, Mama Wina dan Nia sangat bahagia mendengar nya. Mereka sudah tidak sabar lagi menunggu hari esok, di mana dia dan Azam akan menikah.
"Ma, aku udah gak sabar lagi menunggu esok, Ma. Aku sangat bahagia!" Nia berlata pada Mama Wina.
"Iya Nia, Mama juga. Mama sudah tidak sabar lagi melihat kalian sebagai pasangan suami istri!" Mama Wina berkata dengan tak kalah antusias nya.
"Aku tidak ingin terus - terusan di rendahkan oleh Maira, Ma. Akan ku buktikan bahwa aku bisa menjadi istri yang baik untuk mas Azam, dan akan ku pastikan Mas Azam menceraikan Maira nanti, Ma!" Nia kembali berkata.
"Mama akan mendukung mu, Nia! Mama juga sudah tidak sudi lagi punya menantu seperti Maira, sudah mandul membangkang lagi!" Jawab Mama Wina sambil menepuk pelan pundak Nia.
"Iya Ma, kita akan menyingkirkan Maira!" Nia berkata dengan yakin.
Sementara itu di dalam kamar nya, Azam membuka lemari pakaian milik Maira. Azam mencari kotak perhiasan milik Maira, tapi dia tidak menemukan nya.
"Di mana Maira menyimpan nya?" Azam bertanya pada diri nya sendiri.
Azam membuka semua lemari pakaian milik Maira, tapi dia tidak menemukan apa yang dia cari. Azam lalu membuka laci di bagian tengah lemari itu, dan senyum nya langsung mengembang dengan sempurna. Azam melihat kotak perasaan milik Maira ada di sana.
Bergegas Azam membawa nya keluar, dan dia duduk di tepi tempat tidur. Azam membuka nya perlahan dan dia tersenyum melihat isi nya.
"Ini dia yang aku cari!" Guman Azam senang.
Semua perhiasan Maira ada di dalam kotak itu, mulai dari cincin, gelang kalung dan yang lain nya. Maira memang jarang sekali memakai nya, dia memakai nya hanya sesekali.
"Maira, Maira, ini lah akibat nya kalau kamu pelit sama keluarga ku. Coba saja kamu berikan uang sama Mama, Lara dan Nia, maka aku tidak akan mengambil perhiasan mu!" Gumam Azam sambil tersenyum senang.
Azam memilih perhiasan yang cocok, yang akan dia jadikan Mahar untuk Nia.
"Cincin, gelang apa kalung ya?" Azam bertanya pada diri nya sendiri.
Azam menimang - nimang perhiasan itu, dia ingin memberikan yang terbaik untuk Nia. Dia tidak ingin mengecewakan Nia, saat ini Azam sudah jatuh dalam jerat nya Nia.
"Kalung ini saja, kalung ini sangat cantik dan pasti akan sangat cocok sekali dia pakai oleh Nia!" Guman Azam sambil meraih kalung milik Maira.
"Ya, kalung ini akan aku jadikan Mahar untuk Nia!" Azam pun memutuskan.
Azam lalu mengembalikan kotak perhiasan milik Maira ke tempat nya semula, di dalam nya ada 3 buah kalung. 4 buah cincin, dan 3 buah gelang. Jadi Azam pikir, dengan mengambil satu saja kalung milik Maira maka Maira tidak akan tahu.
Azam lalu menyimpan kalung itu, dia lalu membaringkan tubuh nya dia atas tempat tidur. Azam membayangkan betapa bahagia nya saat bersama Nia, dia lalu membayangkan bercinta dengan Nia di atas tempat tidur ini.
"Kok, aku jadi kepikiran Nia terus sih?" Guman Azam sambil mengusap wajah nya.
Karena terus membayangkan hal - hal kotor bersama Nia, akhir nya Azam tidak bisa lagi tenang. Di tambah lagi saat ini dia mulai horny, padahal masih siang.
"Sial,,, kenapa kau jadi menginginkan Nia!" Umpat Azam pada diri nya sendiri.
Karena tidak bisa menahan hasrat nya, Azam pun akhir nya keluar untuk mencari Nia. Di ruang tamu, dia tidak melihat lagi Mama nya juga Nia.
"Kemana mereka?" Guman Azam.
Azam lalu melihat pintu kamar Nia yang tampak tertutup, tapi tidak begitu rapat. Azam segera masuk dan dia mendapati Nia sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ponsel nya.
"Mas Azam, ada apa mas? Mas butuh sesuatu?" Tanya Nia heran.
"Mama kemana Nia?" Bukan nya menjawab pertanyaan Nia, Azam malah balik bertanya.
"Mama keluar sama Ayu, kata nya tadi ayu mau beli jajan!" Jawab Nia jujur.
Azam tersenyum mendengar nya, dia merasa ini adalah saat yang tepat untuk nya menyalurkan hasrat nya pada Nia.
menurutku dia sudah berusaha agar tetap dapat uang agar dia bisa lanjut kuliah.
kalau tuk yg lain ya terserah mu thor beri peljarannya yg mantep 🤣