Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 - Gaji Pertama
Hari itu Avara berniat untuk mengecek perkembangan proyek-proyek yang dia prakarsai saat Oriole menyampaikan pesan dari Fulqentius untuk datang ke ruangannya.
Menyambutnya, sang raja iblis tetap berjibaku di kursinya dengan dokumen-dokumen yang membutuhkan tanda tangannya, kerepotan membagi waktunya dengan undangan-undangan rapat membahas strategi perang, hingga bagian bawah matanya menghitam bagai arang. Melihatnya, Avara bertanya-tanya bagaimana rutinitas hidup seorang raja iblis yang seolah tak memiliki waktu pribadi untuk beristirahat atau sekedar menarik napas.
"Anda memanggil saya?"
Baru saat itu Fulqentius menaruh perhatian. Ditinggalkannya pena dan tumpukan dokumen yang rasanya tidak akan ada habisnya, dilihatnya wajah prihatin Avara yang tampak asing bagi matanya yang lebih terbiasa melihat darah. Fulqentius tidak memahami apa yang tersurat dalam raut wajah si gadis manusia, jadi dia diam saja.
"Hari ini aku harus memberikanmu ini," ujar Fulqentius sambil meraih sesuatu dari dalam laci mejanya.
Avara tidak memiliki prasangka apapun sebelum dia menerima sebuah kantong kecil berisi beberapa benda yang belum diketahuinya dari talinya yang masih terikat. Hati-hati, dia membuka ikatan tali itu, dan segera mendapati bahwa di dalamnya teronggok beberapa kristal sihir.
"Apa.. ini, Your Majesty?"
"Kristal sihir," jawab Fulqentius, pendek.
"Maksud saya, untuk apa ini? Jika untuk stok pembuatan SIM atau lainnya, saya kira Anda tidak perlu memberikan milik Anda pribadi."
"Itu gajimu."
"Pardon?"
Fulqentius bergeming. Avara melongo.
Jadi selama ini dia tidak kerja bakti?
"Terima.. kasih," ujar Avara, pelan dan ragu.
Fulqentius menangkap keraguan itu. "Apakah jumlahnya kurang? Aku berusaha agar apa yang kau terima layak."
Menggeleng, Avara sedikit kelabakan. "Tidak, tidak, Your Majesty. Ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih banyak." Tidak ada yang bisa mengalahkan rasa senang Avara dari saat penerimaan gaji pertamanya di dunia iblis, meski dia tidak benar-benar yakin berapa kurs yang dikenakan pada gajinya saat ini.
...****************...
"Selama tiga bulan, kau mendapat lima belas kristal?!" pekik Oxron.
Avara mengerjap. Apa yang aneh dari itu?
"Seorang staf istana biasanya hanya menerima enam sampai sembilan kristal tiap tiga bulan," lanjut Oxron tanpa diminta. "Dan hanya orang-orang tertentu dengan pangkat tinggi yang mendapat kristal sebanyak dirimu."
"Aku tidak tahu kalau His Majesty sangat pemurah," gumam Fulton.
"Mungkin bagi beliau, sebanyak itulah kerja keras Avara dihargai," imbuh Gaiyus.
Avara bingung. "Apakah itu buruk?"
"Jauh dari itu," timpal Oxron. "Seperti yang dikatakan Gaiyus, itu berarti kerja kerasmu dihargai."
"Tapi sejujurnya aku tidak terlalu memahami seberapa berharganya kristal sihir sebagai mata uang. Ini kristal yang diatur agar tidak bisa diisi sihir apapun, kan?"
Fulton mengangguk.
"Kau benar. Di sini kristal sihir yang digunakan sebagai pengganti uang memang dibuat agar tidak bisa lagi diaktifkan fungsi sihirnya," jelas Oxron. "Dan kalau kau mau lebih paham, mungkin kita bisa membandingkan satu kristal dengan emas yang biasa digunakan di kerajaan manusia."
"Beritahu aku," kejar Avara.
"Sejauh yang kutahu, satu kristal saat ini senilai dengan tiga sampai empat keping emas."
Avara melongo. Dicermatinya kembali kristal-kristal dalam kantongnya, tidak habis pikir kenapa mereka demikian berharga melebihi emas, dan apalagi perak. Gadis itu pun tidak menyangka bahwa hasil kerjanya selama tiga bulan telah memberinya kekayaan sedemikian rupa.
Jauh di lubuk hatinya, Avara berpikir; ini jauh lebih baik daripada pekerjaannya di dunianya sendiri.
Namun ini juga membuatnya bertanya-tanya, apakah tidak masalah jika dirinya menerima gaji yang begitu besar, mengingat posisinya yang bahkan tidak jelas dalam struktur pemerintahan kerajaan iblis.
Maka Avara berderap ke ruang kerja Fulqentius, hanya untuk kemudian bertemu Oriole yang sedang membawa tumpukan dokumen.
"His Majesty sedang tidak berada di ruangannya," kata Oriole. "Ada apa?"
Avara ragu untuk membagi permasalahannya, tapi dia tidak punya pilihan.
"Kau menerima lima belas kristal sihir? Dari His Majesty sendiri?"
Avara mengangguk ragu-ragu, mendapati pekikan Oriole cukup mengejutkannya. Dengan sebelah tangannya yang bebas, Oriole memijit pelipisnya, memberi pertanda bagi Avara bahwa ada masalah baru terkait dirinya.
"Itu.. terlalu banyak, ya?" tanya Avara hati-hati.
"Itu gaji yang sepadan dengan iblis yang bekerja langsung di bawah Archdemon."
Berarti semacam kepala divisi, batin Avara.
"Dan apalagi His Majesty sendiri yang memberikannya," keluh Oriole. "Seharusnya dia bisa memberikan tugas itu untuk bagian keuangan seperti biasa."
Avara bergeming, tidak tahu harus membalas apa, saat derap kaki raja iblis tiba-tiba sudah di dekat tempat mereka berdiri berhadapan. Lelaki itu berwajah lelah, jelas ingin lekas beristirahatーdan sendirian. Melihat keberadaan Avara dan Oriole di muka ruang kerjanya, dia mengernyit.
"Ada apa?"
Maka sebagai satu orang yang tidak bisa menahan perasaannya, Oriole segera mengambil alih.
Memahami duduk perkara, Fulqentius menghela napas. "Avara pantas menerima gajinya."
"Tapi bukankah itu terlalu banyak, Your Majesty? Lagipula dia tidak jelas bekerja di bagian apa."
"Dia staf pribadiku," putus Fulqentius, menutup percakapan.
Oriole mengaga, sementara Avara.. terpaku.
...****************...
Malam sudah lama turun, tapi ruang kerja Avara masih berpendar terang. Di dalamnya ada Fulton, Oxron, dan Gaiyus serta beberapa iblis magang yang masih bekerja. Si pemilik ruangan baru muncul beberapa saat kemudian dengan tiga kotak camilan, beberapa kotak tinta, dan buku-buku catatan.
Semua orang menyambutnya dalam keheranan, karena Avara telah pamit sejak berjam-jam lalu.
"Aku kesasar," akunya.
Mereka segera kagum oleh apa yang Avara bawa, dan merasa senang oleh perhatian si gadis. Beramai-ramai, mereka menyantap camilan dalam dua kotak, dan merayakan stok tinta yang seakan membuat mereka merasa kaya, sambil mendengarkan cerita Avara yang tersesat di pusat kota demi membeli semua hal yang membuat mereka senang sekarang.
Sementara itu satu kotak camilan lainnya diam-diam dibawa Avara menuju satu tempat; ruangan Fulqentius.
Di sana kebetulan tidak ada Oriole yang berjaga di depan pintu, jadi Avara segera mengetuk pintu dan menyebut namanya, sedikit tergesa sebelum iblis yang sama mengomelinya karena malam-malam bertamu ke ruangan seorang raja.
"Masuk," perintah Fulqentius.
Maka Avara bergegas masuk, dan tanpa banyak bicara menaruh sekotak camilan di meja sang raja.
"Saya harap Anda suka."
Fulqentius meninggalkan pekerjaannya demi membuka kotak itu dan mendapati kue-kue kecil tertangkap mata kelamnya. Dia memandang Avara bingung.
"Saya membeli kue dengan gaji pertama saya," jelasnya.
"Tapi kenapa kau memberikannya padaku?"
"Bukan hanya pada Anda, saya juga membelikan kue untuk tim saya."
"Kenapa tidak membeli sesuatu untuk dirimu sendiri?"
Avara tersenyum, mungkin itu senyum pertama miliknya yang pernah dilihat langsung oleh Fulqentius. "Bagi saya, selama mereka senang dan sistemnya lancar, itu sudah cukup."
Sang raja terdiam.
Hingga Avara pamit undur diri, Fulqentius hanya memandangi kue-kue itu. Lalu teringat Oriole yang belum kembali, dia segera mengambil satu kue, melahapnya pelan-pelan, merasakan bagaimana tekstur yang asing bagi lidahnya menjadi penguasa di dalam mulutnya.
"Manis," gumamnya.