Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Melody mendaratkan bokongnya di kursi dengan gerakan super lambat, seolah kursinya terbuat dari duri. "Aduh... pelan-pelan, Mel. Masa depan lo masih panjang," gumamnya pada diri sendiri.
"Buset! Masih muda udah encok bener lo, Mel," celetuk Rere yang baru datang, matanya memperhatikan gerak-gerik Melody yang mirip nenek-nenek.
Rhea yang duduk di sebelah mereka menimpali tanpa filter, "Tapi kalau dilihat dari gaya jalan lo yang agak mengangkang gitu, kayak abis diperawanin, bjirrr!"
"Iyaa... hampir aja gue kehilangan itu," sahut Melody spontan, membuat suasana kelas mendadak hening seketika.
"HAH?! BENERAN LO?!" teriak Rere dan Rhea kompak dengan mata melongo.
"Iya, aduh... punggung gueee!" rintih Melody, tidak memedulikan keterkejutan temannya. Ia langsung menelungkupkan badan ke meja. "Re, bantu urut nih, tolong. Sini gue ceritain, tapi tangan lo jangan berhenti ya."
Rere langsung siaga memijat pundak Melody, sementara Rhea mendekat dengan wajah penuh gosip. "Jadi gimana kromboloni-nya?"
"Mata lo kromboloni! Kronologi, ege!" semprot Rere sambil terus memijat.
Melody pun mulai bercerita dengan suara pelan tapi dramatis, mulai dari HP tertinggal, guru olahraga yang mendadak jadi predator, sampai punggungnya yang dihantam ke rak besi. "Gue pingsan, pas bangun udah di UKS."
"Aduhh, hampir aja elo kagak suci, Mel!" seru Rere ngeri.
"HAHH? SERIUSSS?!"
Tiba-tiba suara berat Jigar menyambar dari arah belakang. Ternyata anak-anak Amours sudah masuk ke kelas sejak tadi. Melody yang sedang keenakan dipijat langsung mendelik tajam ke arah Jigar.
"Ikut campur banget sih lo!" semprot Melody galak.
"Kok bisa? Ceritain dong detailnya, kok si Bapak itu bisa masuk RS?" tanya David penasaran, ia duduk di meja dekat mereka dengan ekspresi kepo maksimal.
"Lo tadi nguping, kan? Yaudah, itu dia ceritanya. Gue kagak mau ngulang ucapan gue yang sama, capek bibir gue!" sahut Melody judes.
Galen hanya menyimak sambil bersedekap dada, sudut bibirnya sedikit terangkat melihat tingkah petakilan Melody yang baru saja kena musibah tapi tetap galak. Sedangkan Kaisar?
Cowok itu duduk di kursinya sendiri, fokus menatap layar ponsel, seolah percakapan di depan matanya hanya angin lalu. Wajahnya datar, dingin, dan sangat tenang.
"Terus itu apaan? Lo bawa hadiah buat gue?" tanya Rere penasaran sambil melirik paperbag yang dibawa Melody.
"Kagak!" sahut Melody cepat, berusaha melindungi tas kertas itu.
Tapi gerakan Rere lebih gesit. Ia langsung menyambar paperbag tersebut dan mengeluarkan isinya. "Loh, ini...?"
"Loh? Itu kan jaket Kaisar!" celetuk David spontan saat melihat jaket hitam dengan desain khas yang sering dipakai sang wakil ketua Amours.
Melody mematung. Matanya melotot, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. “Hah? Kaisar? Dia? Nyelamatin gue? Yang bener aja!” jeritnya dalam hati. Ia mendelik ke arah Kaisar yang masih duduk tenang. “Gue kira pangeran berkuda yang tampan. Ya emang tampan sih, tapi ini mah bukan pangeran berkuda, ini malaikat maut versi ganteng!”
Dengan tangan sedikit gemetar, Melody menunjuk jaket itu lalu beralih menatap kearah si pemilik nama. "Ini... punya elo?" tanyanya ragu.
Kaisar tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berdiri, berjalan mendekat dengan aura dingin yang menusuk, lalu menyambar jaketnya dari tangan Rere tanpa bicara sepatah kata pun. Setelah itu, ia berbalik dan melangkah keluar kelas dengan langkah tegap.
"Buset... jadi beneran dia yang nyelamatin gue?" batin Melody masih tidak percaya.
"Woi, kok bisa sih? Biasanya Kaisar nggak sudi barangnya disentuh orang, apalagi dipinjemin!" seru Galen yang ikut heran melihat kejadian langka tersebut.
Melody mendelik kesal. "Mana gue tahu!" sahutnya ketus. Tapi rasa penasaran yang membuncah membuatnya tidak bisa diam. "Udah lah, gue mau ketemu Kaisar dulu!"
Meskipun pinggangnya masih terasa sedikit senut-senut, Melody memaksakan diri berjalan keluar kelas, menyusul punggung lebar sang malaikat maut yang baru saja menyelamatkannya dari "kematian" harga diri.