NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Orang Lama di Kampung Timur

Wira melangkah masuk ke kampung kecil itu dengan dada yang terasa sesak.

Jalan tanah di antara rumah-rumah sederhana itu sempit, dipagari bambu rendah dan semak yang dibiarkan tumbuh liar di beberapa sudut. Sore belum benar-benar hilang, tetapi bayang-bayang sudah mulai memanjang di atas tanah. Aroma kayu bakar, daun basah, dan asap dapur menyatu di udara. Bagi orang lain, tempat itu mungkin tampak biasa saja. Namun bagi Wira, setelah desa asalnya berubah jadi abu, suasana damai justru terasa asing dan membuatnya makin waspada.

Lelaki paruh baya yang tadi memanggil mereka berdiri di depan rumah yang sedikit lebih besar dari rumah lain di sekitarnya. Tubuhnya kurus, bahu agak membungkuk, dan wajahnya dipenuhi garis-garis usia yang dalam. Namun matanya tajam. Mata itu tidak seperti mata orang desa biasa yang hanya melihat kedatangan tamu. Ada kewaspadaan, ada kenalan lama, dan ada sisa sesuatu yang belum selesai.

Ki Rangga berhenti di depannya. Mereka saling pandang dalam diam cukup lama, seperti dua orang yang dulu pernah berada di jalan yang sama tetapi kini dipisahkan oleh waktu. Panca di samping Wira menggeser kaki dengan gelisah. Ia tampak paling tidak sabar di antara mereka bertiga.

Akhirnya lelaki itu menghela napas. “Masuklah.”

Ki Rangga mengangguk singkat. “Terima kasih, Mbah Sura.”

Nama itu membuat Wira menoleh sekilas ke arah gurunya. Jadi lelaki tua itu memang dikenal. Dan cara Ki Rangga memanggilnya dengan hormat menandakan bahwa orang ini bukan sembarang warga kampung.

Mbah Sura mempersilakan mereka masuk ke rumah. Ruangan di dalam tidak besar, tetapi rapi. Ada tikar anyaman di lantai, beberapa kendi tanah di sudut, dan rak kayu yang dipenuhi peralatan dapur sederhana. Di dinding, tergantung beberapa ikatan daun kering yang tampak seperti bahan obat atau penangkal serangga. Wira langsung mencium bau ramuan dan kayu tua. Suasana di dalam rumah terasa lebih aman daripada di luar, walau ia belum sepenuhnya percaya.

Mbah Sura menutup pintu pelan, lalu menatap Wira sekali lagi. “Anak ini memang yang kau bawa?”

Ki Rangga mengangguk. “Namanya Wira.”

Wira menahan napas saat namanya disebut. Ia merasa aneh setiap kali namanya diucapkan orang asing dengan nada yang seperti sudah mengenal. “Benar,” katanya singkat.

Mbah Sura mengamati wajahnya lama. “Wajahnya mirip.”

Wira langsung menegang. “Mirip siapa?”

Mbah Sura tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh ke Ki Rangga dulu, seolah menunggu persetujuan. Setelah mendapat anggukan kecil, barulah ia berkata, “Mirip ibunya saat muda.”

Panca langsung memicing. “Jadi kalian memang kenal ibunya?”

“Kenal,” jawab Mbah Sura singkat.

Wira segera maju setengah langkah. “Di mana ibu saya?”

Pertanyaan itu meluncur lebih cepat daripada yang ia sadari. Suaranya terdengar keras di ruang kecil itu. Panca menoleh cepat, dan Ki Rangga tetap diam, membiarkan percakapan berjalan.

Mbah Sura menghela napas panjang. “Tenang dulu.”

“Bagaimana saya bisa tenang?” Wira tidak sengaja meninggikan suara. “Desa saya dibakar. Orang-orang mencari saya. Ibu saya hilang. Sekarang Anda bilang kenal ibu saya.”

Mbah Sura tidak marah. Ia hanya memandang Wira dengan tatapan yang lebih berat dari yang ia duga. “Karena itulah aku ingin kalian masuk sebelum ada mata lain yang melihat.”

Ki Rangga menatap Mbah Sura. “Apakah mereka sudah dekat?”

Mbah Sura mengangguk pelan. “Ada kabar bahwa rombongan dari barat menyisir wilayah ini. Mereka menanyakan seorang perempuan dan seorang anak. Nama anak itu disebut.”

Wira mengepalkan tangan. “Jadi mereka benar-benar mengikuti saya.”

“Ya,” jawab Mbah Sura.

Panca mengumpat kecil pelan. “Aku bilang juga apa.”

Wira memandangi lantai rumah sejenak. Ada rasa campur aduk yang sulit dijelaskan. Di satu sisi, ia lega karena ternyata penyelidikan mereka tidak sia-sia. Di sisi lain, kenyataan bahwa orang-orang asing terus mengejarnya membuat dadanya semakin berat. Ia tidak tahu harus marah pada siapa lebih dulu.

Mbah Sura menggeser duduknya di tikar, lalu memberi isyarat agar mereka ikut duduk. Ki Rangga duduk lebih dulu. Wira menyusul, meski tubuhnya masih kaku. Panca duduk paling akhir, dengan mata yang tidak berhenti mengamati ruangan.

“Dengarkan dulu,” kata Mbah Sura. “Perempuan yang kau sebut ibumu bukan orang desa biasa sejak awal.”

Wira menatapnya. “Saya sudah diberi tahu itu.”

“Kalau begitu kau tahu sedikit.” Mbah Sura menarik napas. “Nama aslinya dulu bukan nama yang kau kenal sekarang.”

Wira terdiam.

Panca menoleh cepat. “Maksudnya?”

“Dulu ia datang ke sini dengan nama lain. Waktu itu ia masih muda, jauh sebelum kau lahir. Ia tidak datang sendiri.”

Ki Rangga menyandarkan punggung sedikit ke dinding. “Bersama siapa?”

Mbah Sura menatap Ki Rangga sebentar. “Seorang lelaki.”

Wira langsung menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat. “Ayah saya?”

Mbah Sura tidak langsung menjawab. “Aku tidak yakin apakah kau siap mendengar seluruh nama yang dulu dipakai orang-orang itu.”

Wira menatapnya tajam. “Saya sudah jauh melewati siap atau tidak siap.”

Panca mengangguk setuju. “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”

Mbah Sura terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Lelaki itu datang bersama rombongan kecil, bukan orang sembarangan. Pakaian mereka rapi, tutur kata mereka halus, tapi jelas mereka bukan petani biasa. Ada tanda di kain mereka. Tanda yang pernah kulihat di tempat orang-orang besar.”

Ki Rangga bertanya, “Lingkar dalam istana?”

Mbah Sura mengangguk. “Bisa dibilang begitu.”

Wira membeku sesaat. Jadi kecurigaan mereka benar. Ibunya memang pernah bersinggungan dengan lingkungan istana. Dan ayahnya, kalau benar lelaki itu orang dari rombongan itu, bukan sosok biasa yang pernah lewat dalam hidup mereka. Wira merasakan seluruh tubuhnya menegang, seolah tanah di bawahnya mendadak berubah.

“Kenapa mereka datang ke sini?” tanya Wira akhirnya.

Mbah Sura menatapnya lama. “Karena ibumu melarikan sesuatu.”

Panca mengernyit. “Apa?”

Mbah Sura menggeser pandangan ke arah lempeng kayu yang tersimpan di pinggang Wira. “Sesuatu yang mirip dengan itu.”

Wira segera memegang benda itu. “Ini?”

“Ya.”

Wira menatapnya. “Jadi benar ini kuncinya?”

“Bukan kunci seperti pintu,” jawab Mbah Sura. “Lebih seperti tanda bahwa kau masih mewarisi jalur tertentu.”

Ki Rangga menyela tenang, “Jalur menuju tempat yang lama disembunyikan.”

Mbah Sura mengangguk singkat. “Betul.”

Wira mengerutkan kening. Semakin lama ia mendengar, semakin jelas bahwa benda kecil itu bukan sembarang peninggalan keluarga. Ia tidak tahu harus merasa bangga, marah, atau takut. Mungkin semuanya sekaligus.

“Kalau ibuku menyembunyikan itu,” kata Wira perlahan, “kenapa sekarang dipermasalahkan lagi?”

Mbah Sura menatapnya dalam-dalam. “Karena orang-orang lama kembali bergerak. Beberapa sudah lama menunggu tanda itu muncul lagi.”

Panca mencondongkan badan. “Tanda apa? Siapa orang-orang lama itu?”

Mbah Sura menatap Ki Rangga, lalu kembali ke Wira. “Kalau aku menyebut nama mereka, kampung ini pun bisa ikut terbakar.”

Ruangan mendadak sunyi. Wira menahan napas. Ki Rangga tidak bicara, tetapi sorot matanya mengeras sedikit. Artinya, lelaki itu paham betapa seriusnya keadaan. Wira merasakan dingin menyusup di punggung. Ternyata rahasia keluarganya tidak hanya soal ibu dan ayah. Ada pihak lain yang mungkin jauh lebih besar, dan mereka masih hidup.

“Kalau begitu,” kata Wira pelan, “di mana ibu saya sekarang?”

Mbah Sura menunduk sebentar. “Aku tidak tahu pasti.”

“Tidak tahu pasti?” Wira menahan emosi. “Jadi ada kemungkinan dia masih hidup?”

“Ada,” jawab Mbah Sura. “Dan ada kemungkinan dia dibawa orang.”

Panca langsung berdiri setengah. “Dibawa?”

Ki Rangga mengangkat tangan, memberi isyarat agar Panca tenang. “Jangan panik dulu.”

“Bagaimana aku tidak panik?” suara Panca meninggi. “Ini masalahnya bukan kecil.”

Mbah Sura menatap mereka satu per satu. “Kalau ibumu benar diburu, maka kemungkinan dia masih hidup justru lebih besar daripada jika mereka langsung menemukan targetnya.”

Wira memejamkan mata sesaat. Itu bukan kepastian, tapi setidaknya bukan kabar terburuk. Masih ada harapan. Sekecil apa pun, harapan itu membuat dadanya sedikit lebih longgar.

Mbah Sura berdiri dan berjalan ke rak kayu di sudut ruangan. Ia mengambil satu lipatan kain tua, lalu membukanya di atas tikar. Di dalamnya ada beberapa benda kecil: manik-manik tua, potongan tembaga, dan sebuah kain lusuh yang tampak seperti peta kecil atau penunjuk arah. Wira menatapnya dengan bingung.

“Ini apa?” tanyanya.

“Jejak lama,” jawab Mbah Sura.

Ki Rangga bangkit dan mendekat. Ia menatap kain itu dengan cermat. “Pernah kulihat tanda seperti ini.”

Wira ikut berdiri. “Di mana?”

“Di rute lama yang menuju tempat penyimpanan.”

Panca memicing. “Tempat penyimpanan apa lagi?”

Mbah Sura menatapnya. “Tempat yang tidak seharusnya dibuka oleh orang sembarangan.”

Wira merasa seolah semua jawaban yang diterimanya selalu membawa pintu baru yang lebih besar. Namun kali ini ia lebih tertarik pada satu hal. “Apa hubungannya dengan ibu saya?”

Mbah Sura menarik napas panjang. “Dulu, ibumu dan lelaki itu pernah membawa sesuatu ke wilayah ini. Aku tidak tahu isi pastinya, tapi aku tahu ada orang yang mengejar mereka. Karena itulah ibumu tidak pernah bisa benar-benar kembali hidup biasa.”

Wira menatapnya lekat-lekat. “Lelaki itu ayah saya?”

Mbah Sura diam cukup lama. Lalu ia berkata hati-hati, “Kalau yang kau maksud lelaki yang bersama ibumu dulu, ya, sangat mungkin itu ayahmu.”

Panca langsung mendesis kecil. “Sangat mungkin?”

Ki Rangga menatap Mbah Sura. “Kau tidak pernah memastikan namanya?”

“Nama kadang bukan hal utama,” jawab Mbah Sura. “Yang penting adalah siapa yang datang, mengapa, dan siapa yang tak ingin peristiwa itu diingat.”

Wira menelan ludah. Kepala dan dadanya terasa penuh sekaligus kosong. Ayahnya mungkin bukan petani, bukan orang desa biasa, melainkan bagian dari dunia yang lebih besar. Ibunya juga bukan perempuan sederhana seperti yang ia kira. Semua yang ia percaya tentang keluarganya bergeser.

Di luar rumah, terdengar langkah kaki. Perlahan, tapi jelas.

Mbah Sura langsung mengangkat kepala. Ki Rangga juga menoleh ke arah pintu.

“Ada orang di luar,” bisik Panca.

Wira menegang.

Langkah itu berhenti sebentar di depan rumah, lalu terdengar suara seseorang berbicara rendah. Bukan suara yang mereka kenal. Ki Rangga meraih senjata kecilnya pelan. Mbah Sura justru tampak tidak terlalu panik. Ia melangkah ke pintu, lalu mematikan lampu minyak kecil di sudut ruangan dengan jari.

“Jangan bersuara,” bisiknya.

Wira menahan napas. Kegelapan ruangan seketika menebal, hanya tersisa cahaya tipis dari celah dinding bambu. Di luar, suara tadi bergerak lagi, kali ini mengelilingi rumah. Jumlahnya lebih dari satu. Wira merasakan darahnya menurun dingin.

Panca berbisik sangat pelan, “Mereka datang lagi?”

Ki Rangga menatap celah pintu tanpa berkedip. “Sepertinya mereka sudah menemukan jejak kita.”

Mbah Sura menoleh ke Ki Rangga. “Kalau mereka masuk, kalian lewat belakang.”

Wira langsung menatapnya. “Bagaimana dengan Anda?”

Mbah Sura tersenyum tipis. “Aku tidak semuda dulu. Tapi aku masih bisa menahan orang beberapa saat.”

Wira ingin membantah, tetapi suara benturan keras di pintu depan membuat semua kata tertahan. Seseorang di luar mencoba membuka paksa.

“Cepat,” bisik Mbah Sura.

Ki Rangga mendorong Wira dan Panca ke arah belakang rumah. Mereka bergerak cepat melewati ruangan sempit menuju pintu kayu kecil yang mengarah ke kebun belakang. Wira sempat menoleh dan melihat Mbah Sura mengambil tongkat kayu tua dari samping dinding. Wajah lelaki tua itu kini tampak lebih tegas dari tadi. Ada sesuatu seperti keputusan dalam dirinya.

Panca membuka pintu belakang sedikit, lalu tertegun. “Ada dua orang.”

Ki Rangga mengangguk cepat. “Lewat sisi kebun.”

Wira menatap sekeliling. Di luar, kebun kecil dipenuhi tanaman singkong dan rumpun pisang yang tidak terlalu rapat. Namun di ujungnya ada pagar bambu pendek yang bisa dilompati. Dari depan rumah, suara benturan kembali terdengar, lebih keras dari sebelumnya. Mereka tidak punya waktu.

“Jalan,” kata Ki Rangga.

Wira melangkah keluar lebih dulu, Panca di belakangnya. Ki Rangga menutup barisan. Mereka menembus kebun sambil merunduk. Tanah agak lembek, sepatu mereka berkotor oleh lumpur tipis. Dari sisi rumah, suara Mbah Sura terdengar memanggil sesuatu dengan nada keras, mungkin sengaja menarik perhatian.

Wira menoleh sekilas dan melihat siluet dua orang asing mendekat dari jalan depan. Salah satunya memegang senjata. Jantung Wira serasa berhenti sesaat.

Panca berbisik, “Mereka benar-benar memburu kita terus.”

Wira tidak menjawab. Ia sudah terlalu fokus pada jalur di depan. Di ujung kebun, pagar bambu tampak semakin dekat. Ki Rangga melangkah cepat, mendorong dahan pisang yang menghalangi. Mereka hampir sampai saat suara dari belakang memanggil keras.

“Di sana!”

Wira menoleh cepat. Salah satu orang di depan rumah sudah melihat gerakan mereka. Ada teriakan, lalu langkah kaki yang mulai mengejar dari arah halaman. Ki Rangga langsung menarik Wira dan Panca ke bawah pagar bambu.

“Lompat!” katanya.

Wira melompat lebih dulu, lalu Panca. Ki Rangga menyusul sesaat kemudian. Begitu mereka mendarat di sisi luar, suara orang-orang di belakang makin dekat. Mereka berlari menembus semak dan jalur kecil di belakang kampung.

Wira hampir tidak sempat bernapas. Namun satu hal sudah jelas: kampung itu bukan akhir dari perjalanan. Justru di sana, rahasia ibunya mulai tampak sedikit lebih nyata.

Dan sekarang, mereka harus lari lagi.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!