"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."
Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.
Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:
"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"
Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Bayangan Gelap Mulai Mengintai dari Kegelapan
Waktu terus berjalan, dan kedamaian itu terasa semakin rapuh bagaikan kaca yang siap pecah setiap saat. Sejak malam pengakuan itu, suasana hati Ling Qingyu tampak sering berubah. Ia menjadi lebih pendiam, dan sering kali terlihat melamun sambil menatap ke kejauhan dengan wajah cemas.
Siang itu, Li Yao sedang berlatih membelah batu besar dengan pedang kayunya. Brak! Batu itu hancur berkeping-keping. Kemajuannya sangat pesat, kini ia bahkan bisa mengeluarkan cahaya energi tipis dari ujung pedangnya.
Namun saat ia berbalik, ia melihat Ling Qingyu berdiri di dekat tebing, wajahnya pucat dan keningnya berkerut dalam.
"Qingyu? Ada apa? Kau terlihat tidak enak badan?" tanya Li Yao cepat, mendekat dan memegang bahu wanita itu.
Ling Qingyu menggeleng pelan, tapi matanya menatap langit dengan waspada.
"Aku tidak sakit, Yao. Tapi... ada sesuatu yang salah. Udara terasa pengap. Energi alam di sekitar sini terasa kacau dan bau... bau darah dan kematian," bisiknya, suaranya terdengar serius dan dingin.
"Kau merasakan sesuatu?" Li Yao langsung waspada, tangannya mencengkeram gagang pedang kayunya erat-erat.
"Aku tidak yakin... mungkin hanya firasatku saja yang terlalu sensitif karena trauma," jawab Ling Qingyu mencoba tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Tapi hati-hatilah, Yao. Jangan pergi terlalu jauh ke luar hutan beberapa hari ini. Dan jika melihat orang asing, segera lari dan sembunyi."
"Aku mengerti. Jangan khawatir, aku akan waspada," janji Li Yao.
Malam harinya, suasana menjadi aneh. Suara jangkrik dan burung malam yang biasanya terdengar riuh, hari ini sama sekali tidak terdengar. Hening. Terlalu hening, hingga membuat bulu kuduk merinding.
Li Yao dan Ling Qingyu duduk di dekat api unggun, namun suasana tidak lagi hangat seperti biasa. Ada ketegangan yang mengudara.
Tiba-tiba... Wush!
Sebuah benda hitam melesat cepat dari kegelapan hutan, menancap byur tepat di batang pohon tepat di samping kepala Li Yao!
Mereka berdua terlonjak kaget. Itu adalah sebuah anak panah, tapi bukan panah biasa. Ujung panahnya berwarna hitam pekat dan mengeluarkan asap tipis yang beracun. Dan diikatkan pada batang panah itu, ada secarik kain merah yang sudah lusuh.
Ling Qingyu melihat kain itu dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi, seolah melihat hantu. Wajahnya kehilangan seluruh warna darahnya.
"Itu... itu lambang Klan Naga Hitam!" suaranya bergetar hebat. "Mereka... mereka sudah menemukanku!"
"Siapa? Siapa yang datang, Qingyu?!" Li Yao langsung berdiri tegak, memposisikan diri di depan tubuh Ling Qingyu, melindunginya. Matanya menatap tajam ke arah pepohonan yang gelap.
"Mereka adalah pembunuh yang membantai keluargaku!" jawab Ling Qingyu dengan napas memburu, matanya berkaca-kaca namun penuh amarah. "Mereka tidak pernah berhenti mencariku! Aku pikir aku sudah bersembunyi cukup jauh, tapi ternyata..."
Dari balik kegelapan hutan, terdengar suara tawa yang dingin dan serak. Suara itu tidak datang dari satu arah, melainkan memantul dari segala penjuru, membuat sulit mengetahui posisi aslinya.
"Hahaha... Permata Klan Ling yang cantik. Akhirnya kami menemukanmu juga. Kau lari cukup jauh, putri kecil. Tapi tidak ada tempat di dunia ini yang aman dari jangkauan kami."
Li Yao menegangkan seluruh otot tubuhnya. "Siapa di sana?! Keluar! Jangan bersembunyi seperti pencuri!" serunya berani, meski jantungnya berdegup kencang ketakutan.
"Oh? Ada anak anjing desa yang ikut nimbrung juga rupanya," ejek suara itu merendahkan. "Pergilah sana, bocah. Ini bukan urusanmu. Wanita ini adalah barang berharga yang harus kami bawa pulang. Jika kau menghalangi jalan, yang menunggumu hanyalah kematian yang menyakitkan."
"Jangan dengarkan mereka, Yao! Lari! Cepat lari!" Ling Qingyu menarik lengan Li Yao, air matanya jatuh. "Mereka terlalu kuat! Kau tidak bisa melawan mereka! Selamatkan dirimu!"
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu!" tolak Li Yao tegas, tidak bergeming sedikit pun dari posisinya. "Kau bilang mereka membunuh keluargamu? Dan sekarang mereka datang untuk menangkapmu? Selama aku masih berdiri, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu!"
"Sombong sekali bocah tanpa bakat ini," suara itu kembali terdengar, kini lebih dekat dan lebih mengancam. "Baiklah. Karena kau ingin mati begitu cepat, kami akan mengabulkan permintaanmu. Tangkap mereka. Bunuh anak laki-lakinya, bawa perempuannya hidup-hidup!"
Seketika, bayangan-bayangan hitam mulai bergerak keluar dari balik pepohonan. Jumlahnya banyak, mata mereka bersinar merah menyala di tengah gelap, dan aura mematikan yang mereka pancarkan jauh melebihi apa pun yang pernah dirasakan Li Yao sebelumnya.
Malam yang tenang berubah menjadi medan maut. Bayangan gelap yang selama ini mengintai dari jauh, kini akhirnya menampakkan taring mereka yang tajam. Permainan telah usai, kini saatnya pemburuan dimulai.