NovelToon NovelToon
Di Balik Cadar Zoya

Di Balik Cadar Zoya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menikahimu karena terpaksa, jadi jangan pernah berharap ada cinta di rumah ini."

​Bagi Arvin Dewangga, Zoya Alana Clarissa hanyalah orang asing yang dipaksakan masuk ke hidupnya. CEO dingin itu membangun dinding es yang tinggi, namun Zoya tetap bertahan dengan ketenangan dan keteguhan di balik cadarnya.

​Di antara penolakan yang menyakitkan dan rahasia masa lalu yang membayangi, mampukah kesabaran Zoya meluluhkan keangkuhan Arvin? Ataukah perpisahan menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebahagiaan masing-masing?

​Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Novel => Di Balik Cadar Zoya.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 6

Keheningan di dalam mobil sedan mewah itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada kemacetan Jakarta di pagi hari.

Zoya duduk di kursi penumpang depan, jemarinya meremas tali tas ranselnya dengan erat. Di sampingnya, Arvin mengemudikan mobil dengan wajah kaku, tatapannya lurus ke depan seolah-olah jalanan di depannya adalah musuh yang harus ditaklukkan.

Harum parfum Arvin yang maskulin memenuhi kabin, namun bagi Zoya, aroma itu terasa seperti peringatan. Sejak kejadian makan malam keluarga dan insiden cumi hitam yang diabaikan tempo hari, ada ketegangan baru yang merayap di antara mereka.

"Kau dengar instruksiku, Zoya?" Suara Arvin memecah kesunyian, dingin dan tanpa kompromi.

Zoya menoleh pelan. "Iya, Tuan Arvin. Saya dengar."

"Aku ingin kau mengulanginya. Agar aku yakin tidak ada sel sarafmu yang melewatkan perintahku," ucap Arvin dengan nada meremehkan yang amat tajam.

Zoya menarik napas pendek di balik cadarnya. "Saya tidak boleh memberitahu siapa pun di kampus bahwa saya adalah istrimu. Jika ada yang bertanya, saya harus mengatakan bahwa saya tinggal di rumah kerabat."

Arvin mendengus, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis. "Bagus. Dan satu lagi, jangan pernah mencoba menyapa atau mendekatiku jika kita tidak sengaja berada di tempat yang sama di area publik. Namaku sedang berada di puncak bursa saham, dan aku tidak ingin skandal 'pernikahan paksa dengan wanita bercadar' merusak citra yang sudah kubangun bertahun-tahun."

Kata-kata 'skandal' dan 'merusak citra' itu menghantam Zoya seperti godam. Ia bukan lagi sekadar istri yang tidak dicintai, ia adalah aib yang harus disembunyikan dalam lemari gelap.

"Apakah saya sehina itu di matamu, Tuan?" suara Zoya nyaris berbisik, namun mengandung getaran luka yang dalam.

Arvin menginjak rem dengan sedikit mendadak saat lampu merah menyala. Ia menoleh, menatap Zoya dengan mata elangnya yang dingin.

"Ini bukan soal hina atau tidak, Zoya. Ini soal realita. Dunia kita berbeda. Kau hidup di atas sajadah dan buku-buku agama, sementara aku hidup di dunia di mana setiap inci penampilanku dinilai dengan angka. Mempublikasikanmu sekarang hanya akan membuat orang-orang menganggapku aneh atau mencari-cari kelemahanku melalui dirimu."

Zoya memalingkan wajah, menatap ke luar jendela. Air mata mulai menggenang, namun ia menolaknya untuk jatuh. Ia teringat bagaimana ayahnya selalu memujinya sebagai permata keluarga. Sekarang, di tangan Arvin, permata itu tak lebih dari kerikil yang ingin dibuang.

Mobil mulai melambat saat mereka mendekati kawasan universitas. Namun, bukannya masuk ke gerbang utama, Arvin memutar kemudi ke arah jalan tikus yang sepi, dua blok sebelum gerbang kampus Zoya.

"Turun di sini," perintah Arvin datar.

Zoya tertegun melihat trotoar yang cukup jauh dari gerbang. "Tuan, gerbangnya masih di depan sana. Dan cuaca mendung, sepertinya akan hujan..."

"Turun, Zoya," potong Arvin tanpa toleransi. "Aku melihat beberapa mobil mewah yang aku kenal lewat di depan tadi. Mungkin itu rekan bisnis atau anak-anak relasiku yang kuliah di sini. Aku tidak mau mengambil risiko ada yang melihatmu keluar dari mobilku."

Zoya terdiam. Ia melepaskan sabuk pengamannya dengan tangan gemetar. Ia merasa seperti seorang kriminal yang sedang dibuang di tengah jalan agar tidak diketahui jejaknya.

"Terima kasih untuk tumpangannya, Tuan Arvin," ucap Zoya pelan.

"Ingat," Arvin menahan lengan Zoya sejenak sebelum istrinya itu keluar. Tatapannya kembali mengancam. "Satu kata saja bocor, kau tahu konsekuensinya. Aku bisa membuat beasiswamu dicabut dalam satu jentikan jari."

Zoya tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, keluar dari mobil, dan menutup pintu dengan sangat pelan, seolah-olah suara pintu yang keras pun akan menyinggung keangkuhan suaminya.

Mobil Arvin melesat pergi begitu saja, meninggalkan Zoya di trotoar yang mulai terkena tetesan air hujan pertama. Zoya menarik napas panjang, membenahi letak cadarnya yang sedikit basah, dan mulai berjalan kaki menuju gerbang kampus.

Di dalam kelas, Zoya mencoba fokus pada penjelasan dosen, namun pikirannya terus melayang. Ia merasa seperti hidup dalam dua kepribadian. Di kampus ia adalah mahasiswi berprestasi, sementara di rumah ia adalah hantu yang keberadaannya ditolak.

"Zoya? Kamu oke?"

Suara bariton yang hangat itu mengejutkan Zoya. Ia menoleh dan mendapati Liam sudah berdiri di samping mejanya. Liam mengenakan jaket denim dengan kaos putih di dalamnya, tampak sangat santai dan berkarisma.

"Ah, Liam. Iya, aku oke," jawab Zoya berusaha terdengar normal.

"Tapi baju kamu agak basah. Kamu jalan kaki dari depan ya? Tadi aku lihat ada mobil mewah yang mirip punya CEO muda itu lewat, aku kira kamu turun dari sana," Liam mencoba bercanda, namun matanya menatap Zoya dengan penuh selidik.

Jantung Zoya berdegup kencang. "Enggak, Liam. Aku tadi... turun dari angkot di depan, terus jalan karena macet banget."

"Lain kali telpon aku aja, Zoya. Aku nggak keberatan jemput kamu di gang mana pun," Liam tersenyum tulus, sebuah senyuman yang tidak pernah Zoya dapatkan dari Arvin.

Liam kemudian menyodorkan sebuah cokelat hangat di dalam cup plastik. "Nih, buat hangatin badan. Jangan sakit, ya. Proyek penelitian kita minggu depan butuh otak kamu yang encer itu."

Zoya ragu sejenak, namun melihat ketulusan Liam, ia menerimanya. "Terima kasih, Liam. Kamu baik sekali."

Sore harinya, saat jam kuliah berakhir, hujan turun dengan sangat lebat. Zoya berdiri di lobi kampus, menatap langit yang menghitam. Ia ingin memesan taksi online, namun baterai ponselnya mati.

"Zoya, belum pulang?" Liam kembali muncul, kali ini membawa payung besar. "Ayo, aku antar sampai depan rumah kamu. Hujan begini susah cari taksi."

Zoya teringat peringatan Arvin. 'Jangan biarkan siapa pun tahu.'

"Nggak usah, Liam. Aku... aku dijemput kerabat nanti di depan swalayan itu," Zoya menunjuk ke arah minimarket di luar gerbang.

"Yakin? Hujannya deras banget lho. Ayo, sampai swalayan aja kalau gitu, biar kamu nggak basah kuyup," paksa Liam.

Akhirnya Zoya setuju. Mereka berjalan beriringan di bawah satu payung. Liam sengaja memiringkan payungnya ke arah Zoya agar wanita itu tidak terkena percikan air, membuat bahu Liam sendiri basah kuyup. Zoya merasa sangat tidak enak, namun ada perasaan hangat yang menyusup ke hatinya melihat perhatian kecil itu.

Di saat yang bersamaan, sebuah mobil SUV hitam dengan kaca yang sangat gelap melintas perlahan di depan mereka. Di dalam mobil itu, Arvin baru saja selesai mengadakan pertemuan dengan rektor kampus.

Tangan Arvin yang memegang kemudi mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap tajam ke luar jendela. Ia melihat istrinya, kini sedang berjalan di bawah satu payung dengan pria yang sama.

Ia melihat bagaimana pria itu merangkul bahu Zoya meski sebenarnya Liam hanya memastikan payungnya menutupi Zoya, dan ia melihat Zoya menatap pria itu dengan binar mata yang tidak pernah ditunjukkan padanya.

"Status suami... hanya sampah baginya?" geram Arvin rendah.

Rasa marah yang tidak rasional membakar dadanya. Ia tidak mencintai Zoya, namun melihat Zoya tampak bahagia dengan pria lain seolah-olah menghina egonya sebagai seorang pria. Ia merasa dikhianati, padahal ia sendiri yang mendorong Zoya ke dalam jurang persembunyian.

Arvin menginjak pedal gas dengan dalam, mencipratkan genangan air cukup tinggi tepat ke arah Liam dan Zoya.

"Eh! Siapa sih itu? Gila ya bawa mobilnya!" seru Liam kesal karena celananya basah terkena cipratan.

Zoya terpaku. Ia mengenali plat nomor mobil itu. Itu Arvin.

Hatinya mencelos. Ia tahu, sesampainya di rumah nanti, ia tidak akan menemukan kehangatan. Yang menantinya adalah badai yang jauh lebih besar daripada hujan di luar sana.

Malam harinya, Zoya memasuki penthouse dengan tubuh lelah dan hati yang was-was. Suasana rumah terasa sangat gelap, hanya lampu ruang tengah yang menyala redup.

Arvin duduk di sofa panjang, memegang segelas minuman dengan tatapan yang seolah bisa membunuh.

"Bagus sekali, Zoya Alana," suara Arvin terdengar tenang, namun sangat berbahaya. "Baru satu hari kuberi peringatan, kau sudah memamerkan kemesraan di bawah payung dengan pria lain?"

Zoya berdiri mematung. "Tuan, itu tidak seperti yang Anda lihat. Hujan sangat deras dan..."

"Cukup!" Arvin berdiri, melangkah mendekat dengan aura yang sangat mengintimidasi. "Aku memintamu menjaga rahasia agar citraku tidak rusak. Tapi apa yang kau lakukan? Kau justru terlihat seperti wanita murahan yang mencari perhatian pria lain karena merasa diabaikan suaminya!"

"Wanita murahan?" Zoya menatap Arvin dengan air mata yang akhirnya pecah. "Kau yang menurunkan aku di pinggir jalan seperti sampah, Tuan! Kau yang melarang aku mengaku sebagai istrimu! Lalu saat ada orang asing yang memperlakukan aku seperti manusia, Kau menyebut aku murahan?"

Arvin terdiam sejenak, terkejut melihat Zoya berani membalas ucapannya. Namun egonya terlalu besar untuk meminta maaf.

"Jangan pernah membantahku," desis Arvin tepat di depan wajah Zoya. "Mulai besok, kau tidak boleh berangkat atau pulang dengan siapa pun. Dan jika aku melihat pria itu lagi di dekatmu... aku akan pastikan dia menyesal pernah mengenalmu."

Arvin berlalu pergi menuju kamarnya di lantai atas, membanting pintu dengan keras hingga gema suaranya memantul di seluruh ruangan yang sepi.

Zoya jatuh terduduk di lantai dingin. Ia memeluk lututnya dan terisak dalam diam. Di rumah mewah ini, ia merasa lebih miskin daripada siapa pun. Ia adalah istri, namun ia adalah rahasia yang paling dijaga agar tidak terungkap.

"Sampai kapan, Ya Allah? Sampai kapan aku harus menjadi bayangan yang tidak diinginkan ini?"

...----------------...

To Be Continue .....

1
zhelfa_alfira
bagus
ρυтяσ kang'typo✨
cara mu salah Vin, u justru memenjarakan Zoya terlalu ketat n mencekik'y, cinta kata mu🤦‍♀️😌
ρυтяσ kang'typo✨
ya Zoya... q pun merasakan'y apa yang kau rasakan saat ini 🥺🥺
Mei 71
Aku tahu rasanya jadi Zoya😢
ρυтяσ kang'typo✨
sadar beneran g nie???? g kumat tah??? 😌😌😌q ragu dengan tempramental mu itu Vin, u mudah terprovokasi oleh seseorang padahal kan kau itu pemimpin tapi... ya syudahlah
ρυтяσ kang'typo✨
apa kau masih isa terprovokasi oleh Nadia agi Vin🥺🥺Zoya... kau memang berhati lembut semoga kau selalu di lapang kan da" agar selalu sabar dengan tingkah Arvin yang seperti kadal😌😌kadang lembut kadang kek monster
YuWie
yakinnnn nanti labil lagi... karakter tokoh di novel ini gak kuat semua.
YuWie
labil banget arvin kie..lagian kok muter2 wae sih konfliknya..percaya ragu..percaya lagi ragi lagi..kapannn majunyq
YuWie
jgn buat zoya lembek donk..kenapa baru di intimadi nadia aja sdh dibuat aku mau pulang...elahhh
Mei 71
Syukurlah Arvin sadar..
ρυтяσ kang'typo✨
Ingat kalian semua...ingat baik" air mata Zoya g akan pernah bisa dilupakan, sakit hati seorang wanita yang kecewa atas suami'y🥺🥺
Mei 71
Lebih menyakitkan daripada dimarahi dengan kata kata . 😢
Mei 71
Wooow...Dengarkan Nadia ? Kamu tuh sampah yang harus dibuang 🤑
ρυтяσ kang'typo✨
pasti sangat menyakitkan buat Zoya, di hina depan mantan dan ibu'y Arvin🥺🥺🥺lalu Arvin sendiri hanya diam
ρυтяσ kang'typo✨
jangan bilang itu pesan dari Nadia👀duh Arvin mudah sekali kena asap
Buku Matcha
Alur Novel yang aku suka, semangat ya thor
ρυтяσ kang'typo✨
uhuk.... hantu cantik bercadar g tuh🤣🤣🤣🤣🤣
mauza SEB
lanjut ka
ρυтяσ kang'typo✨
sabar Zoya.... karna lama" es itu akan mencair dengan sendiri'y🤭
ρυтяσ kang'typo✨
apah masih sangat kokoh benteng di hati mu tuan🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!