Bertemu sebagai dokter dan pasien, dengan first impression yang baik dan meninggalkan kesan berbeda. Edward (31), dokter dengan status duda terlibat dengan urusan pribadi pasiennya, Cahaya Sekar Janitra (24).
Entah karena sumpah atau memang takdir Tuhan. Ketertarikan itu berubah menjadi perasaan mendalam saat Edward menolong Cahaya dari jebakan calon suaminya.
====
"Bilang apa kamu? Om? Aku dokter pribadi kamu."
"Dokter dan pasien, berlaku kalau lagi di ruang praktek. Di luar itu, ya bukan dokter aku. Sesuai dengan penampilan, cocok aku panggil Om. Om dokter, gimana om?"
------
Hai, ketemu lagi di karya aku yang kesekian. Baiknya baca dulu Diam-diam Cinta dan Emergency Love
Ikuti sampai tamat ya dan jangan melompat bab. sampai bertemu di setiap babnya 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Bukan Saya, Tapi ....
Bab 5
Aya mematut wajahnya di cermin dengan gaya rambut baru. Rambut panjang dan lurus biasa digerai atau diikat di belakang tengkuk, sudah berganti model. Dengan sentuhan layer dan berponi, bahkan Aya mewarnai rambutnya meski tidak terlalu kentara.
Penampilannya lebih fresh dan mencerminkan gadis di usianya. Ternyata keluar dari rumah lepas dari bayang-bayang Wira mengembalikan kepercayaan menjadi diri sendiri. Selama ini apa yang dilakukan sesuai arahan, pun dengan pakaian dan penampilan tidak bisa seenaknya.
“Gimana kak, suka? Atau mau dirapikan lagi, bagian mana?” tanya stylist.
“Cukup mbak, saya suka kok.”
Sudah izin pada Andin ingin ke salon dan berbelanja kebutuhan pribadinya. Meski dengan nasihat panjang kali lebar, akhirnya Andin mengizinkan. Keluar dari salon, langkah Aya berpindah ke toko lain. Membeli beberapa produk dan alat make up yang ia lihat dari tutorial juga produk perawatan tubuh.
...Mbak Andin...
Kalau udah selesai, langsung pulang. Pake taksi online aja. Jangan jajan sembarang, nggak sehat
Aya membaca pesan Andin sambil menyuap tom yam kuah pedas, bahkan di mejanya sudah ada mangkuk berisi pentol tinggal separuh porsi juga bakso isi keju lumer yang belum disentuh. 1 cup juice dan es boba menambah semarak di atas meja.
“Telat mbak, aku udah jajan. Kapan lagi bisa jajan beginian,” gumam Aya di sela kunyahannya. Berada di foodcourt mall dengan banyak tenant makanan dan minuman yang menggugah selera. Sempat memfoto semua hidangan sebelum dicicipi lalu dijadikan status pembaruan.
Ada yang menyukai pembaruan itu, ada juga komen. Aya tersenyum membaca tanpa membalas.
...Mbak Andin...
Dibilang jangan jajan sembarangan. Junk food nggak sehat, Cahaya
^^^Nggak tiap hari, mbak^^^
“Yang ini sepertinya enak banget.” Membelah bakso dan keju di dalamnya lumer bahkan ada yang muncr4t. “Bakso keju meler,” gumam Aya. Sudah membuka mulut saat suapan sudah di depan wajah, mendadak ia terpaku.
Di depan saja ada dua pria berdiri sambil berbincang. Aya tahu dan paham dengan konsekuensinya. Akan mudah bagi keluarga Janitra untuk menemukan dimana ia berada. Pun dengan Romo yang mengancam agar ia segera pulang tapi tidak bertindak menjemput, tapi mengerahkan orang untuk menemukan dan mengawasinya.
“Ada aja, baru mau senang-senang.” Aya menyeka mulut dengan tisu lalu beranjak meninggalkan makanan yang belum semua ia cicipi. Tidak ingin ditemukan dan berinteraksi dengan orang yang ia tahu berasal dari daerah tempat tinggalnya. Entah itu orang kepercayaan Romo atau keluarga Adit.
Hampir tiba di eskalator, tapi ….
“Mbak Cahaya.”
Aya bergegas menghindar, agak berlari menuju elevator yang tujuannya turun dan pintunya baru saja terbuka. Rupanya ia sudah diikuti, ruang geraknya belum bebas.
“Huft.”
***
“Hasilnya dua jam lagi, bisa langsung ke poli rawat jalan,” ujar petugas saat Aya selesai dengan rangkaian medical cek up. Tubuhnya lemas bukan karena pemeriksaan, tapi saat mengambil dar4h dan jarum suntik menusuk kulitnya. Butuh perjuangan luar biasa, seperti berjuang menegakan keadilan.
“Iya, makasih ya mbak.”
Dua jam masih lama, ia pun menuju café untuk mengkonfirmasi lowongan kerja yang dibutuhkan. Berharap masih ada posisi, karena sudah lewat dua hari saat ia baca into tersebut. Agak lega mendapati pengumuman itu masih menempel di kaca jendela café.
“Senin sampai dengan jum’at, jam 10 pagi sampai dengan jam 5 sore. Sehari upahnya kisaran 100 – 150 ribu. Mau diambil?” tanya manager café dan dijawab Aya dengan anggukkan cepat lalu mengatakan, “Mau mas, mau.”
“Pakaian kamu cukup putih dan bawahan hitam. Jangan pake sepatu pantofel, heels atau wedges. Pakai sneaker aja. Kalau mau boleh mulai besok.”
“Besok, siap mas. Saya mau kok.” Resmi ia menjadi pegawai café.
Dari pada beredar di area rumah sakit, Aya menunggu di poli penyakit dalam. Dokter Edward sudah mulai praktek, terlihat satu persatu pasien sudah dipanggil. Konfirmasi pada perawat yang bertugas, Aya diminta menunggu karena masih menunggu hasil medical cek up.
Entah sudah menunggu berapa lama, ia terkejut saat perawat menepuk pelan lengannya “Mbak Cahaya.”
“Eh, iya.” Melepas pods dari telinga kanan dan langsung berdiri. Sejak tadi ia fokus menonton dracin di ponsel, bahkan sudah selesai 1 episode dan berlanjut ke episode lainnya.
“Silahkan masuk, hasilnya sudah ada. Nanti dokter Edward yang menjelaskan.”
“Iya, sus.” Menghentikan tayangan drama di ponsel dan menyimpannya ke sling bag, begitupun dengan earbudsnya.
“Selamat siang,” sapa Aya memasuki ruangan.
Edward terlihat serius membaca informasi di layar komputer “Iya, silahkan duduk,” ucapnya.
Aya menunggu sambil menatap ruangan, menggosok hidungnya karena aroma antiseptik yang terasa menyengat.
“Ini hasilnya ….” Edward menoleh, lalu terpaku. Lebih tepatnya terpana. Berusaha mengingat kalau pasien di hadapannya ini adalah Cahaya Sekar Janitra sesuai dengan daftar nama pasien yang harus ditangani hari ini, pasien yang sebelumnya datang bersama nakes di SM. Gadis yang ia peluk. Ups, dia dekap agar tidak tersungkur. Memang orang yang sama, hanya saja penampilannya sangat berbeda lebih menarik, semakin cantik dan ….
“Hasilnya kenapa dok?”
Edward berdeham lalu menunduk dan kembali menatap Aya.
“Hasil medical cek up kamu bagus, semua normal. Ada keluhan di area pinggul bekas area operasi?”
“Hm, ndak ada dok.” Aya sampai menggeleng untuk meyakinkan jawabannya.
“Tapi kadar hb kamu masih rendah, meski sudah naik dari tes sebelumnya.” Edward berdiri lalu menghampiri Aya. Memeriksa area kantung mata. “Tidak sepucat kemarin,” jelasnya kembali duduk lalu menjelaskan pola hidup untuk lepas dari anemia. Aya mengu-lum senyum menatap wajah Edward. Teringat drama yang baru saja dia tonton, terjebak dalam pelukan sang dokter. Berkisah tentang cinta antara dokter dan pasien.
“Kalau tidak ada keluhan cukup konsul bulan depan, tapi kalau ada keluhan boleh balik lagi. Jelas penjelasan saya?”
Aya diam saja, pikirannya masih berkelana.
“Cahaya, anda dengar saya?”
“Eh, maaf, dok. Iya saya dengar kok.”
Edward mengangguk. “Saya sudah resepkan vitamin untuk dilanjut sampai dengan jadwal konsul bulan depan.”
“Baik, dok.”
Aya sudah keluar dari ruangan, tapi Edward masih menatap ke arah pintu kemana gadis itu menghilang dibaliknya.
“Ck, macam nggak pernah lihat orang cantik aja,” gumam Edward lalu mengusap wajahnya.
...Anji nggak pake ng...
^^^Nji, apa wajar dokter tertarik sama pasiennya?^^^
Wajar aja. Lo naksir sama emaknye, tetangganye, juga boleh-boleh aja.
^^^Bukan buat saya, ini obrolan di chat grup^^^
Masa sih?
Edward tidak melanjutkan percakapan dengan Anji. Untuk apa pula bertanya pada pria itu, yang ada ia akan dibully. Masalah ini akan menjadi topik pembicaraan perkumpulan mereka sampai dapat tema baru. Memang kedatangan Aya barusan cukup menyita fokusnya, sampai ia membahas dengan Anji.
Akhirnya terjadi juga. Anji memang konyol, obrolan chat pribadi untuk diketahui olehnya saja, malah diumbar.
...Geng Pria Terkutuk...
Anji nggak pake ng : Berita bahagia guys. Edward suka sama pasiennya 🤭
Asoka Harsa : nggak pa-pa, kalau cocok mah. Musuh aja bisa jadi teman
dr. Rendi Oye : Pastiin dulu, pasiennya single dan emang tertarik sama lo, Ward
Anji nggak pake ng : Nah itu yang belum terbongkar. Woi, bule, sini dong. Lanjut di sini aja ngobrolnya ngapain pake japri segala. Kayak bahas hal rahasia aja. Gue tahu itu elo bukan dokter lain yang curhat di grup sebelah
Dokter Vampire : Pengen minjem rudal Iran buat nyerang si Anji
Asoka Harsa : 🤣💣
dr Rendi Oye : 🤣kabur ah
Anji nggak pake ng : Loh, salah gue apa?
😛😛
ini mana nih rombongan kk Darma...
kapan surat penangkapan nya datang
janji setelah ini kau masuk penjara yg bener itu 🤣🤣🤣
strategi ......kagak kongser cinta tak ada logikanya agles mo nji.......🤭