NovelToon NovelToon
Kultivator Elemen Abadi

Kultivator Elemen Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Blizzardauthor

Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.

Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:

"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keributan dan Sosok yang Tidak Terduga

"Ada apa ini? Mengapa kalian membuat keributan di depan kandang Badak Besi?"

Sebuah suara dingin dan jernih memotong udara, membawa hawa sejuk yang seketika melenyapkan tekanan Qi panas milik Zhao Hu. Dari balik kabut tipis yang menyelimuti parit energi, muncul sosok gadis dengan jubah sutra berwarna biru salju. Langkahnya ringan, seolah kakinya tidak menyentuh tanah, dan di pinggangnya tergantung sebuah pedang giok yang memancarkan aura es murni.

Shui Xiao Ran.

Zhao Hu yang tadinya tampak beringas, seketika menarik kembali energinya. Wajahnya berubah pucat pasi, lalu dengan cepat ia membungkuk sangat rendah, hampir mencium tanah. Murid-murid di belakangnya mengikuti dengan tubuh gemetar.

"Nona... Nona Muda Shui!" Zhao Hu terbata-bata. "Kami... kami hanya sedang memberikan 'pelajaran' sedikit pada pelayan malas ini agar dia bekerja lebih becus. Dia baru saja mengotori sepatu kami dan bersikap tidak sopan!"

Shui Xiao Ran tidak segera menjawab. Matanya yang indah namun sedingin telaga es beralih ke arah Ling Yun. Sesaat, tatapan mereka bertemu. Bagi orang lain, Ling Yun tampak seperti pelayan yang ketakutan, namun Xiao Ran menangkap sesuatu yang lain—sebuah ketenangan yang tidak wajar di tengah ancaman.

Sampai beberapa saat pandangan mereka terhenti, hingga dari arah belakang Lu Han datang memegang bagian belakang kepala Ling Yun dan memaksa adiknya itu melakukan sikap yang sama seperti Zhao Hu dan kawan-kawannya.

"Mohon ampun, Nona Muda Shui! Adik saya ini memang sedikit lamban karena cedera otak yang dideritanya sejak lama!" seru Lu Han dengan suara bergetar hebat. Ia menekan kepala Ling Yun cukup kuat ke arah tanah, memastikan pemuda itu tidak melakukan gerakan mencurigakan yang bisa dianggap sebagai pembangkangan.

"Dia sudah sepuluh tahun menjadi pelayan di sini dan semua orang tahu bahwa pikirannya terkadang tidak sinkron dengan kenyataan akibat Dan Tian-nya yang hancur. Tolong jangan masukkan ke dalam hati atas tatapan kosong dan lancangnya tadi. Saya bersumpah akan mendidiknya dengan lebih keras agar tidak merusak pemandangan Anda!" Lu Han terus meracau dengan keringat dingin mengucur deras. Baginya, berurusan dengan Zhao Hu adalah bencana, namun menyinggung Shui Xiao Ran adalah kiamat kecil.

Ling Yun, yang kepalanya sedang ditekan oleh tangan kasar Lu Han, hanya bisa menghela napas pendek dalam posisi membungkuk. Ia tidak marah pada Lu Han; ia tahu kakak angkatnya itu sedang menggunakan reputasi "si cacat yang malang" sebagai perisai untuk menyelamatkan nyawanya. Di dunia ini, orang-orang hebat seperti Xiao Ran biasanya tidak akan membuang tenaga untuk menghukum seorang pelayan yang dianggap sudah kehilangan akal sehatnya.

Shui Xiao Ran terdiam sejenak, menatap punggung Ling Yun yang ditekan paksa. Aura es yang memancar dari tubuhnya perlahan memudar, namun tatapannya tetap tajam seolah ingin menembus kulit pelayan itu.

"Lepaskan dia," ucap Xiao Ran datar. Suaranya tidak keras, namun memiliki otoritas yang membuat Lu Han seketika menarik tangannya seolah baru saja menyentuh bara api.

Xiao Ran melangkah satu tindak lebih dekat. "Binatang-binatang di Taman Abadi ini memiliki insting yang jauh lebih tajam dari manusia. Mereka membenci keributan. Jika aku mendengar ada kegaduhan lagi di sektor ini—siapa pun yang memulainya—aku sendiri yang akan melempar kalian ke dalam kandang Ular Sanca Biru untuk menjadi pupuk."

"Ka-kami mengerti, Nona Muda! Kami pergi sekarang juga!" Zhao Hu tidak menunggu perintah kedua. Ia segera berbalik dan lari terbirit-birit, diikuti oleh rekan-rekannya yang tampak seperti ayam kehilangan induk.

Setelah kelompok Zhao Hu menghilang, suasana di depan kandang Badak Besi itu menjadi sunyi mencekam. Lu Han masih bersujud, tidak berani mendongak sebelum sang "Putri Es" pergi. Namun, Xiao Ran tidak kunjung beranjak. Ia tetap berdiri di sana, menatap Ling Yun yang kini perlahan menegakkan tubuhnya kembali.

"Kau..." Xiao Ran membuka suara, membuat Lu Han kembali gemetar. "Siapa namamu?"

"Pelayan ini bernama Ling Yun, Nona Muda," jawab Ling Yun pelan. Suaranya tenang, tanpa ada nada ketakutan yang biasanya menghiasi suara para pelayan.

Xiao Ran menyipitkan matanya. Nama itu... dan sensasi asing yang ia rasakan sesaat tadi memberikan perasaan yang sangat familiar di sudut memorinya yang paling gelap. Namun, pangeran itu sudah tewas sepuluh tahun lalu dalam pengkhianatan di Dataran Pusat. Tidak mungkin dia ada di sini sebagai pelayan cacat, batinnya menepis ragu.

"Jaga kepalamu agar tetap menunduk jika ingin tetap memilikinya," ucap Xiao Ran dingin sebelum berbalik dan pergi dengan jubah birunya yang berkibar ditiup angin gunung.

Lu Han baru berani bangkit setelah bayangan Xiao Ran benar-benar menghilang. Ia segera memegang bahu Ling Yun dan mengguncangnya dengan keras. "Yun! Kau benar-benar gila! Kenapa kau menatapnya seperti itu tadi? Kau tahu siapa dia? Dia adalah Shui Xiao Ran, putri Ketua Sekte kita! Satu jentikan jarinya bisa menghapus nama kita dari dunia ini!"

"Aku tahu, Kak Lu. Aku sangat tahu siapa dia," gumam Ling Yun seraya menghela napas pendek.

Lu Han yang mendengar itu menaikkan sebelah alisnya. "Apakah kau benar-benar mengenalnya?" tanya Lu Han dengan nada penuh selidik.

Tanpa menoleh, Ling Yun langsung menjawab, "Tentu saja aku kenal. Dia adalah Shui Xiao Ran, putri Ketua Sekte kita, kan?" ucap Ling Yun tanpa beban.

Ia memungut sekop besinya yang terjatuh dan kembali pada rutinitasnya sebagai pelayan yang tak terlihat. Meskipun rasa sakit akibat benturan energi di perutnya belum sepenuhnya hilang, sepasang mata Ling Yun tetap terpaku sejenak pada punggung Xiao Ran yang menjauh, sebelum akhirnya ia kembali fokus pada pekerjaannya.

Lu Han hanya bisa menghela napas lega sembari memunguti sisa ember yang hancur. Ia terus mengoceh tentang keberuntungan mereka hari ini, sementara Ling Yun mulai menyapu kembali—membiarkan debu tanah menyamarkan amarah dan ambisi besar yang sedang ia susun rapi di balik topeng seorang pelayan cacat.

Sementara itu, di suatu tempat...

Di sebuah sudut sepi di lereng bawah, Zhao Hu dan kawan-kawannya berhenti dengan napas terengah-engah. Wajah Zhao Hu memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol saat ia menatap ke arah Puncak Langit Abadi tempat Shui Xiao Ran menghilang. Rasa malu karena harus bersujud di depan seorang pelayan—meskipun di bawah tekanan Nona Muda Shui—terasa seperti racun yang membakar jantungnya.

"Sial! Ini semua gara-gara si pelayan cacat itu!" teriak Zhao Hu kesal, tidak terima karena sudah dipermalukan sedemikian rupa. Ia menghantamkan tinjunya ke batang pohon besar di sampingnya hingga kulit kayu itu terkelupas.

Salah satu anak buahnya yang bertubuh kurus mendekat, matanya berkilat licik. "Ketua, jika kita membalasnya di dalam sekte, Nona Muda mungkin akan tahu. Tapi bukankah lusa adalah jadwal 'Pelepasan Ritual' untuk Sanca Kerak Bumi ke Hutan Kabut Hitam?" membuat Zhao Hu yang mendengarnya langsung menyeringai lebar.

>>>>> Bersambung

~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara se ras ku.

1
Dewa Malaikat
👍
Ta Ma
Menyala thorrr lanjutkan lagiii
Ta Ma
habisi semuanya🤬🤬
Dark knight
Apakah bakal jadi heroin nya ini
Adhittma: Tunggu saja di bab2 berikut nya kak🤭🤭
total 2 replies
Dark knight
Gas lagi thorr
Adhittma: yoiiii🔥
total 1 replies
korek ngok
Puas anjayy, makan tuh karma orang tua wkwk
Adhittma: udh tua bukannya tobat, malah banyak tingkah yaa🤣
total 1 replies
Ren Sa
Lanjutkan thorr
Adhittma: aman ae kak🙏🙏
total 1 replies
Ren Sa
Pertama thorrr🔥
Adhittma: Dapetttt petir nih kak⚡🤭
total 1 replies
Dewa Malaikat
lanjjjuuut gaskennn thor, 10 bab sekaligus
Adhittma: Siappp kak, tapi skrang mh 3 bab dlu ae perhari ya wkwk🤭
total 1 replies
Somebody
next thorrr
Adhittma: sabar ya kak🙏🙏
total 1 replies
Somebody
Langsung saja tanpa perlu pikir panjang 😏
Dark knight
Mantap thorrr lanjutkan terus 🤗
Adhittma: Sabar ya kak, lagi review🙏
total 1 replies
Dark knight
wkwk kena mental nggk tuh
Dark knight
Bantai2 gass⚡⚡
Adhittma: Yoiiii🔥
total 1 replies
Dark knight
bantai semuanya 🔥🔥🔥
Adhittma: Ling Yun sedang memasak🔥🔥🔥
total 1 replies
Dark knight
Kerennn
korek ngok
Bagus, Lanjut lagi thorr🙌🏼🙌🏼🙌🏼
Adhittma: aman ajaa🙏
total 1 replies
korek ngok
Up up
korek ngok
lanjutkan thorrr 🙌🏼🙌🏼🙌🏼
korek ngok
up up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!