NovelToon NovelToon
Takdir Gelap Huang

Takdir Gelap Huang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.

Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Tekanan di Dalam Sekte

Tetua Mo mengangguk. "Bagus. Karena ini masih pagi, pulihkan dirimu terlebih dahulu. Nanti sore jika kau sudah pulih, aku akan melatihmu."

Huang menangkup kedua tangannya dengan hormat.

"Baik, Guru."

Setelah itu ia menelan satu pil penyembuh lagi. Kehangatan segera mengalir ke seluruh tubuhnya, memasuki luka lebam di dada, lengan, dan punggungnya. Rasa nyeri yang sejak tadi menusuk seperti duri perlahan mulai mereda.

Huang segera duduk bersila di pelataran batu kediaman Tetua Mo, lalu mulai bermeditasi sambil melarutkan khasiat pil tersebut. Energi spiritual di sekitar kediaman Tetua Mo terasa jauh lebih berat dibanding tempat lain di Sekte Yunwu.

Huang memejamkan mata penuh fokus. Teknik pernapasan yang diwariskan senior misterius itu terus bergerak di benaknya seperti aliran sungai yang tidak pernah berhenti. Energi spiritual mengalir melalui meridian, lalu berkumpul di dantian kecil miliknya. Sedikit demi sedikit fondasi kekuatannya menjadi lebih kokoh.

Waktu berlalu perlahan. Matahari yang tadi tinggi mulai condong ke barat. Cahaya keemasan menyapu dinding batu kediaman Tetua Mo, menciptakan bayangan panjang yang tampak sunyi dan dingin.

Huang membuka matanya perlahan. Tubuhnya telah pulih sepenuhnya. Bahkan rasa sakit yang tadi menyiksa kini hampir tidak terasa lagi.

Tetua Mo yang sejak tadi duduk di atas batu besar sambil meminum arak mendengus pelan.

"Lumayan. Tubuhmu tidak selemah yang kubayangkan."

Setelah berkata demikian, Tetua Mo tiba-tiba melemparkan sebuah pedang kayu ke arah Huang. Huang segera menangkapnya dengan kedua tangan. Pedang kayu itu cukup berat, jauh lebih berat dibanding kayu biasa.

Tetua Mo menatap Huang dengan mata setengah malas.

"Apakah kau pernah belajar berpedang?"

Huang menjawab jujur tanpa mencoba terlihat hebat. "Belum sekalipun, Guru."

Tetua Mo mendecakkan lidahnya.

"Masih mentah."

Ia kemudian berdiri perlahan. Tubuhnya tampak sedikit sempoyongan seperti orang mabuk, tetapi tekanan yang keluar dari tubuhnya membuat udara di sekitar terasa berat.

"Kalau begitu kau mulai dari dasar. Gerakan dasar adalah akar segalanya. Jika akarnya busuk, pohon setinggi apa pun akan tumbang."

Huang mengangguk serius.

"Murid mengerti."

Latihan segera dimulai.

Tetua Mo menyuruh Huang mengayunkan pedang kayu ribuan kali. Dari tebasan lurus, tusukan, sapuan horizontal, hingga langkah kaki sederhana. Setiap gerakan harus tepat. Setiap tarikan napas harus seirama dengan aliran energi spiritual di tubuh.

Namun Huang terlalu mentah. Baru beberapa puluh gerakan, posisi kakinya salah sedikit.

Buk!

Tendangan Tetua Mo menghantam paha Huang tanpa ampun hingga tubuhnya terlempar ke tanah batu.

"Bangun. Kaki kirimu terlalu lambat."

Huang segera bangkit sambil menahan nyeri.

"Baik, Guru."

Ia kembali mengulang gerakan. Kali ini ayunan pedangnya terlalu tinggi.

Plak!

Pedang kayu Tetua Mo menghantam bahu Huang keras hingga lengannya mati rasa.

"Lawanmu tidak akan menunggu ayunanmu selesai."

Huang menggertakkan giginya lalu kembali bergerak.

Waktu terus berjalan seperti itu. Peluh membasahi pakaian abu murid luar miliknya. Kedua tangannya mulai melepuh akibat menggenggam pedang kayu terlalu lama. Kakinya terasa berat seperti timah. Namun Huang tidak mengeluh sedikit pun.

Secara manusiawi, tentu ia kesal. Tendangan dan pukulan Tetua Mo terlalu kasar. Bahkan beberapa kali Huang merasa lelaki tua itu sengaja memukul bagian yang paling sakit. Akan tetapi Huang tidak memikirkannya lebih jauh. Ia sadar dirinya lemah. Jika ingin bertahan hidup, maka rasa sakit seperti ini hanyalah permulaan.

Saat langit mulai gelap, Tetua Mo akhirnya mengibaskan tangan.

"Cukup."

Huang langsung menghentikan gerakannya sambil bernapas berat.

Tetua Mo kembali duduk sambil meneguk arak. "Besok latihan akan lebih keras lagi."

Huang menangkup kedua tangannya. "Murid mengerti. Kalau begitu murid pamit kembali."

Tetua Mo hanya melambaikan tangan malas.

Huang segera meninggalkan kediaman itu. Tubuhnya terasa remuk, tetapi pikirannya justru lebih tenang dibanding sebelumnya. Selama latihan tadi, ia mulai memahami sedikit tentang cara mengalirkan energi spiritual ke tangan dan kaki saat menyerang.

Langkah Huang perlahan melewati pelataran Sekte Yunwu. Beberapa lentera batu mulai menyala di sepanjang jalan. Murid luar berlalu lalang sambil membawa pedang atau gulungan teknik. Tatapan mereka banyak yang jatuh ke arah Huang. Sebagian penasaran, sebagian sinis, sebagian lagi hanya memandang dingin sebelum pergi.

Huang tetap berjalan tenang tanpa memperdulikan mereka.

Namun saat hampir sampai ke asrama pria, tiga murid luar tiba-tiba menghalangi jalannya. Salah satu dari mereka maju selangkah. Tubuhnya tinggi kurus dengan wajah penuh bekas cacar.

"Kau anak baru kurang ajar. Berikan hormat pada murid luar paling senior di sini. Kakak senior Lan Dong."

Huang menatap pria di tengah mereka. Lan Dong berdiri sambil menyilangkan tangan, matanya menyipit penuh penilaian buruk.

Huang segera menangkup kedua tangannya dengan sopan.

"Salam hormat dari saya."

Setelah berkata demikian, Huang langsung berjalan melewati mereka tanpa berhenti lebih lama.

Lan Dong dan dua rekannya langsung muram. Mereka sebenarnya berharap Huang akan takut atau terpancing emosi. Namun pemuda itu justru memberi hormat dengan tenang lalu pergi begitu saja.

Setelah Huang cukup jauh, salah satu rekan Lan Dong menggerutu pelan.

"Bocah itu tidak mudah diprovokasi."

Lan Dong menyipitkan matanya. "Kita harus lebih tajam lagi ke depannya."

Pria lain tertawa pelan. "Dia memang keterlaluan. Baru masuk satu hari sudah sombong."

Lan Dong memandang punggung Huang yang semakin jauh. "Tetapi dia membuat senior Dhu Yan memperhatikannya. Itu berarti hidup bocah itu tidak akan pernah aman."

Salah satu rekannya segera memahami maksud itu lalu tersenyum licik. "Dan kita bisa memanfaatkan keadaan ini untuk mendekat pada senior Dhu Yan."

Lan Dong mengangguk. "Kerja sama yang baik akan menghasilkan keuntungan."

Sementara itu Huang telah kembali ke kamarnya. Ia membuka pintu kamar sederhana itu lalu masuk perlahan. Ruangan tersebut tenang dan bersih. Dipan kayu di sudut ruangan tampak sederhana, tetapi cukup nyaman untuk seorang murid luar.

Huang duduk bersila di atas dipan kayu. Ia tidak memikirkan Lan Dong ataupun tatapan murid lain tadi. Baginya semua itu tidak penting. Prioritasnya hanya satu, menjadi kuat.

Huang mengeluarkan lima batu roh tingkat rendah dari cincin ruang miliknya. Cahaya lembut segera memenuhi ruangan kecil itu.

Huang mulai bermeditasi. Energi spiritual dari lima batu roh perlahan terserap ke tubuhnya. Aliran energi bergerak melalui meridian lalu memasuki dantian dengan lebih lancar dibanding sebelumnya. Setelah latihan keras bersama Tetua Mo, tubuhnya justru terasa lebih mudah menyerap energi spiritual.

Waktu berlalu perlahan hingga fajar tiba.

Huang membuka matanya. Tatapannya sedikit berubah dibanding kemarin. Lebih tenang, namun juga lebih tajam. Kultivasinya semakin matang. Ia dapat merasakan penghalang menuju Ranah Fana Kesempurnaan Agung semakin tipis. Hanya tinggal selangkah lagi.

Namun Huang tahu dirinya masih terlalu mentah. Teknik bertarungnya buruk. Pengalaman bertarungnya hampir tidak ada. Jika melawan kultivator sungguhan, mungkin ia akan kalah dengan mudah.

Huang segera berdiri lalu mencuci muka menggunakan air kendi di dalam kamar. Setelah itu ia keluar kediamannya, lalu berjalan menuju rumah makan sekte.

Setelah sampai...

Rumah makan murid luar terlihat cukup ramai pagi ini. Aroma sup hangat dan ikan tumis memenuhi udara. Huang duduk di salah satu meja kayu sederhana lalu memesan makanan.

Dua batu roh tingkat rendah segera berpindah dari tangannya ke pelayan rumah makan.

Tak lama kemudian semangkuk sup hangat, sepiring nasi, ikan segar tumis, dan secangkir teh hangat diletakkan di hadapannya. Huang langsung makan dengan tenang.

Beberapa murid luar diam-diam memperhatikannya. Sebagian tampak penasaran pada murid baru yang langsung diterima Tetua Mo. Sebagian lain mendengus tidak suka. Namun ada juga beberapa murid yang tersenyum ramah ketika Huang memandang ke arah mereka.

Huang membalas dengan senyum sopan.

Setelah selesai makan, ia segera berdiri. Tujuannya jelas: kembali menuju kediaman Tetua Mo untuk latihan.

Namun baru beberapa langkah keluar dari rumah makan, sebuah suara menghentikannya.

"Tunggu."

Huang menoleh.

Lan Dong berdiri di tengah jalan sambil membawa pedang di pinggangnya. Dua rekannya kembali berdiri di belakang pria itu dengan wajah penuh senyum buruk.

1
yos helmi
tamat.. jgn tunggu up.. thornya dah modaaar 🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
💪😄😄😄💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣😄😄
yos helmi
yg anehnya ko lan dong bisa di murid dalam.. ??? thor jgn terlalu tolol buat cerita..
Tinta Abadi: Ini komentar nya juga aneh. Padahal udah ada narasi. Huang heran mengapa Lan Dong yang murid luar bisa ikut eksplorasi murid dalam. Kau tolol, tapi ngatain orang tolol. Padahal cerita pengenalan Dhu Yan udah dijelaskan. kalau dhu yan itu orang yang memiliki banyak koneksi.

ngakak banget bro ini salah mulu🤣
kok bisa ya kek gitu. bacanya di lompat lompat kah?
total 1 replies
yos helmi
banyak yg ketinggalan dlm cerita ini.. ilmu dari org misterius..
Tinta Abadi: Otak bro yang ketinggalan. Literasi minus. Jadi pembaca itu yang teliti sedikit bro. Jangan dungu.

Saran: Baca ulang bab 4 berulang-ulang sampai paham. Mungkin anda sudah tua, jadi otaknya lemot, saya memahami🙏

Kasihan authornya ditanya mulu. Kebiasaan baca novel warisan, jadi beberapa pembaca nganggep warisan itu kekuatan sakti. Padahal pemahaman dasar loh tentang kultivasi.
total 1 replies
yos helmi
👍👍👍💪💪
yos helmi
😄😄😄😍😍😍
yos helmi
😄😄😄😄😄💪💪💪👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!