Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Capek Jadi Istrimu
Belum sempat Bahlil menjawab, beberapa keluarga Puann yang kebetulan lewat berkumpul kembali di situ. Mereka mendengar sebagian pembicaraan dan langsung memihak Arifatul.
"Denger sendiri kan kamu, Puan? Udah ada bukti tuh. Dia mengandung anak suamimu. Masih mau bertahan sama cowok kayak gitu?" ucap ibunya dengan nada kecewa dan marah.
"Iya bener. Kamu sabarnya mau sampai kapan sih? Dulu dia bohong soal harta, sekarang malah punya anak sama orang lain. Kamu istri sah tapi posisinya malah kayak orang ketiga. Udahan aja, mending kamu pergi," tambah kakaknya dengan nada memaksa.
"Bu, Kak, kalian salah paham! Mas Bahlil nggak kayak gitu, ini cuma akal-akalan Arifatul aja," bantah Puann pelan, padahal hatinya sendiri sudah goyah dan ragu.
"Salah paham gimana lagi? Orangnya udah ngomong langsung di depan mata kamu. Jangan sampai dibutain sama cinta ya, Puan. Laki-laki emang nggak bisa dipercaya, apalagi dia orang kaya dan punya kuasa gitu," sahut bibinya ikut campur.
Semua ucapan itu membuat hati Puann makin hancur. Ia menatap Bahlil yang hanya bisa membantah tanpa bukti kuat, sehingga ia makin bingung antara mau percaya atau menyerah.
"Kamu lihat sendiri kan, Puan? Dia nggak bisa buktiin apa-apa. Kamu yang bakal makin menderita kalau tetep bertahan. Mending kamu mundur aja, biar aku sama anakku duduk di posisi yang seharusnya jadi hak kami," ucap Arifatul sambil nyengir sinis.
Puann menarik napas panjang. Ia mengusap kasar air mata yang jatuh di pipinya, rasanya lelah sekali terus-menerus memaafkan dan terluka.
"Aku udah nggak tahu harus percaya siapa lagi. Kamu selalu aja punya alasan, Mas. Dulu alasan mau uji aku, sekarang alasan dijebak. Aku capek nunggu bukti yang nggak pernah ada," ucap Puann pelan, suaranya serak penuh kekecewaan.
"Puan, dengerin aku dong. Tolong, jangan ambil keputusan gegabah gitu. Aku bakal cari bukti, aku bakal bikin dia ngaku. Tapi jangan pergi dulu, aku mohon banget sama kamu," pinta Bahlil dengan nada memelas, matanya memanas takut kehilangan.
"Terlalu banyak janji manis yang kamu ucapin, tapi nyatanya aku selalu sakit hati. Kali ini... aku emang udah nggak kuat lagi," jawab Puann dingin.
Dengan langkah berat namun pasti, Puann berbalik badan. Ia tidak membawa barang apa pun, tidak pamit pada siapa pun, dan tidak menoleh ke belakang lagi.
"Puann! Kamu mau ke mana?! Jangan pergi dong! Kita selesain bareng-bareng!" teriak Bahlil sambil berusaha mengejar, namun Puann terus berjalan makin jauh tanpa berhenti.
Ia hilang di tikungan jalan, meninggalkan rumah tangganya yang retak parah. Ia juga meninggalkan Bahlil yang diam kaku di tengah tuduhan yang belum jelas kebenarannya.
Puann terus berjalan sampai jauh meninggalkan lingkungan rumahnya. Ia tidak punya tujuan lain selain ingin menjauh dari semua masalah, kebohongan, dan rasa sakit itu.
Akhirnya ia menginap di rumah satu-satunya sahabat yang selalu mendukungnya tanpa menghakimi. Di sana, Puann menumpahkan semua isi hati yang sudah lama tertahan.
"Aku kira abis kejadian kemarin-kemarin, semuanya bakal membaik. Aku pikir dia udah berubah dan kita bakal bahagia. Tapi ternyata cowok itu emang nggak ada habisnya bikin kecewa," ucap Puann sambil mengusap air mata yang terus mengalir.
"Sabar ya, Puan. Kamu udah berusaha pertahanin hubungan ini. Kalau emang udah nggak kuat, nggak ada yang bisa nyalahin kamu buat berhenti," jawab sahabatnya lembut sambil mengusap punggung Puann.
Untuk pertama kalinya, niat menyerah itu tumbuh sangat kuat di hati Puann. Ia merasa setiap kali berusaha percaya dan mendekat, selalu ada hal yang membuatnya jatuh ke dalam kekecewaan.
Ponsel di sampingnya bergetar terus-menerus. Puluhan panggilan dan pesan masuk bertubi-tubi, semuanya dari satu nama: BUAHHHLIIILL
"Dia nelpon lagi ya? Kamu nggak mau angkat dikit aja denger penjelasannya?" tanya sahabatnya hati-hati.
"Buat apa sih? Penjelasan apa lagi yang belum aku denger? Dulu dia bilang mau uji aku, terus bilang Arifatul cuma masa lalu, sekarang muncul lagi urusan anak. Aku capek banget, Rin. Capek terus-terusan jadi istri yang harus ngertiin dia, masa lalunya, sama semua masalahnya. Kapan giliran aku yang diertiin?" seru Puann dengan suara parau.
Puann melemparkan ponselnya ke kasur dengan kasar. Ia membenamkan wajah ke bantal dan menahan tangis agar tidak terdengar histeris.
Siang berganti sore, sore beranjak malam. Ternyata Bahlil benar-benar datang ke rumah itu. Ia mengetuk pintu berkali-kali dan memanggil nama Puann, namun Puann bersembunyi di balik jendela sambil menutup telinga rapat-rapat.
"Kamu ada di dalem kan, Puan? Keluar sebentar aja, aku mohon! Aku jelasin semuanya, Arifatul itu bohong, aku nggak mungkin punya anak sama dia! Percaya aku sekali ini aja!" teriak Bahlil dari luar, suaranya sudah terdengar putus asa banget.
"Pergi sana! Aku nggak mau ketemu kamu! Mulai sekarang, anggap aja aku udah nggak ada lagi di hidup kamu! Aku udah muak banget!" balas Puann dari dalam, suaranya keras namun gemetar hebat.
"Puan, jangan gini dong. Kita selesain bareng, jangan lari lagi...." suara Bahlil makin lirih, berubah menjadi isak tangis pelan yang terdengar sampai ke dalam rumah.