Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Masa Lalu
Setelah ketegangan dengan Dion di ruang kerja Devan mereda, suasana kantor Alfarezel Group tidak lantas menjadi tenang. Bagi Anya, ancaman dari Dion terasa nyata. Pria itu menatapnya seolah ia adalah mangsa yang siap dikuliti kapan saja. Namun, kesibukan pekerjaan sebagai asisten administrasi CEO segera menyita fokus Anya, setidaknya sampai jam makan siang tiba.
Anya sedang merapikan beberapa berkas di meja kerjanya yang terletak di kubikel luar ruangan Devan ketika sekretaris senior, Siska, berjalan mendekat dengan ekspresi bingung dan cemas.
"Anya, ada seseorang di lobi lantai dasar yang bersikeras ingin menemuimu," ucap Siska, matanya melirik ke arah pintu ruangan Devan yang tertutup rapat. "Dia bilang dia punya urusan pribadi yang sangat penting denganmu. Namanya Rendra."
Mendengar nama itu, pena di tangan Anya langsung terlepas dan jatuh ke atas lantai marmer. Rendra.
Darah Anya rasanya mendadak surut dari wajahnya. Rendra adalah mantan kekasihnya pria yang mencampakkannya enam bulan lalu ketika ibu Anya jatuh sakit dan keluarganya terlilit utang besar. Pria yang memilih pergi dan bertunangan dengan wanita lain yang lebih kaya demi mengejar karier dan status sosial. Mengapa pria itu tiba-tiba ada di sini?
"Anya? Kamu kenal dia? Jika dia hanya mengganggu, aku bisa meminta sekuriti mengusirnya," tanya Siska, memperhatikan perubahan drastis pada ekspresi wajah Anya yang memucat.
Anya menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemetar di tangannya yang mendadak dingin. "Tidak apa-apa, Mbak Siska. Saya akan menemuinya sebentar di kafe lobi bawah. Hanya lima menit."
Dengan langkah berat dan dada yang bergemuruh penuh kecemasan, Anya turun menggunakan lift menuju lobi utama Menara Alfarezel. Di sudut kafe yang berdinding kaca besar, ia langsung mengenali sosok pria dengan kemeja necis yang sedang duduk gelisah. Itu benar-benar Rendra.
Begitu Anya mendekat, Rendra langsung bangkit berdiri. Matanya menatap Anya dengan pandangan yang sulit diartikan ada rasa tidak percaya, penyesalan, sekaligus ambisi yang berkilat di sana.
"Anya... kamu benar-benar bekerja di sini? Dan berita di internet itu... kamu dan Devan Alfarezel?" Rendra langsung memberondongnya dengan pertanyaan tanpa basa-basi, suaranya terdengar menuntut dan egois.
Anya berdiri kaku, melipat kedua tangannya di depan dada sebagai benteng pertahanan. "Apa urusanmu di sini, Rendra? Hubungan kita sudah selesai lama sekali. Jangan membuat keributan di tempat kerja saya."
Rendra melangkah maju, mencoba meraih tangan Anya, namun Anya dengan cepat menghindar. "Anya, tolong dengarkan aku. Aku tahu aku salah karena meninggalkanmu dulu.
Tapi melihatmu di berita bersama pria seperti Devan... aku tahu kamu hanya dimanfaatkan, Anya! Pria konglomerat seperti dia tidak mungkin tulus pada gadis biasa seperti kita. Kamu pasti dijebak, atau... kamu sengaja menjual dirimu demi uang pengobatan ibumu, kan?"
"Jaga bicaramu, Rendra!" bisik Anya tajam, matanya berkaca-kaca menahan amarah dan kehinaan yang luar biasa.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang hidupku sekarang. Pergi dari sini!"
Rendra justru mencengkeram lengan Anya dengan agak kasar, didorong oleh rasa ego dan kecemburuan yang tidak pada tempatnya.
"Ayo ikut aku, Anya! Kita bicarakan ini di luar. Aku bisa membantumu lepas dari Devan"
"Lepaskan tanganmu dari calon istriku."
Sebuah suara bariton yang berat, dingin, dan penuh otoritas mutlak menggema dari arah belakang mereka.
Anya dan Rendra menoleh serentak. Devan Alfarezel berdiri di sana. Kedua tangannya terbenam di saku celana bahan mahalnya, namun tatapan matanya begitu tajam menembus langsung ke arah Rendra. Di belakang Devan, tampak Dion yang sedang bersandar di pilar marmer dengan senyum seringai puas di wajahnya.
Anya seketika sadar. Ini adalah jebakan. Dion yang sengaja membawa Rendra ke sini untuk memancing skandal dan membongkar masa lalu Anya di depan umum demi menjatuhkan reputasi Devan.
Devan melangkah maju dengan tenang namun auranya begitu mengintimidasi, membuat Rendra perlahan melepaskan cengkeramannya dari lengan Anya karena ketakutan. Devan berdiri tepat di samping Anya, lalu dengan gerakan alami yang protektif, ia merangkul pinggang Anya, menarik tubuh wanita itu bersandar pada sisi tubuhnya.
"Aku tidak suka mengulangi ucapanku," ucap Devan, menatap Rendra seolah pria itu hanya sebutir debu yang mengganggu pemandangannya. "Siapa kau, dan berani-beraninya kau menyentuh milikku di gedungku sendiri?"