"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 - Masa Lalu Ashura
Ashura tidak sadarkan diri dan sekarang ia berada dalam masa lalunya yang terkunci rapat, yang tidak ingin dia ingat.
Masa lalu Ashura adalah hal yang paling ingin ia lupakan, masa lalu yang tidak pernah diinginkan dan hanya ada rasa sakit yang tumbuh secara perlahan menggerogoti dirinya.
Ashura lahir dari seorang Ibu yang dikenal sebagai Ratu Es bernama Laura Trost. Rumor mengatakan Laura Trost adalah penyihir yang datang dari Benua Avalon, sebuah benua yang kini dianggap Benua Iblis.
Memiliki darah keturunan yang tidak biasa dari sang Ibu, Ashura juga memiliki gen yang hebat dari sang Ayah yang merupakan sosok Kaisar Xyrus bernama Raphael Xyrus, walau lahir sebagai seorang pangeran, Ashura tumbuh sebagai anak yang tidak diinginkan.
Saat melahirkan Ashura, sang Ibu yang tidak lain adalah Laura Trost pergi meninggalkannya, karena sosok Monster Roh yang dikenal sebagai Frost akan terlepas, karena monster itu bersemayam didalam diri Ashura.
Laura menyegel kekuatan Frost yang bisa membunuh Ashura yang mungil, namun harga yang dibayar sangatlah mahal karena Laura harus kehilangan nyawanya.
Laura menyegel sisa-sisa kekuatannya kedalam tubuh Ashura, untuk mengantisipasi Ashura yang akan kehilangan diri sendiri dan kesadarannya diambil Frost.
Kematian Laura membuat dunia Raphael runtuh, Raphael tidak melihat Ashura sebagai darah dagingnya yang harus ia jaga, melainkan pembunuh istrinya.
Bahkan Raphael tidak memberikan Ashura nama yang diberikan Laura kepadanya, Asura Trost, justru Raphael menyerahkan Ashura kepada pengasuh istana yang merawat anak pertamanya bernama Asuna Kai.
Ashura Kai, itu adalah sebuah nama yang diberikan Asuna Kai, karena Raphael tidak ingin anak itu menggunakan marga keluarganya.
Kehilangan sang istri membuat Raphael menjadi jatuh kedalam keputusasaan, sehingga ia mengutuk dunia yang telah membuat Laura menderita.
"Andai aku bertemu denganmu lebih cepat, Laura, kau tidak akan menderita dan berakhir seperti ini..." Pikiran Raphael kacau saat itu, "Apanya Dewan Sihir yang menjaga keseimbangan dunia? Aku akan menghancurkan mereka semua dan membalaskan kematian istriku!"
Saat itu Raphael berubah sepenuhnya menjadi orang yang kejam, hampir di seluruh daerah Kekaisaran Xyrus terjadi penelitian untuk mengendalikan kekuatan Monster Roh Es, Frost.
Tentu saja Raphael menggunakan Ashura sebagai kelinci percobaannya. Dengan menggunakan darah Ashura dan mana dalam tubuh anaknya itu, Raphael melakukan sesuatu yang keji dan membuat Ashura kecil hampir kehilangan nyawa berulang kali.
Kekuatan Frost terlalu besar untuk dikontrol seorang manusia, sehingga eksperimen dihentikan karena terlalu banyak memakan korban.
Saat itu Ashura kecil tumbuh sebagai anak yang murung dan tidak merasakan kasih sayang keluarga pada umumnya.
Hanya Asuna Kai yang merawat dan mengajarinya arti kasih sayang, tetapi perlakuan khusus Asuna itu selalu mendapatkan teguran dari Raphael.
Hingga saat itu tiba, Ashura merasakan apa yang namanya orang-orang sebut dengan keluarga. Untuk pertama kalinya, Ashura mendapatkan pelukan sang ayah, namun Raphael memeluk Ashura karena ingin menikam dan mengakhiri hidupnya.
Menyadari tujuan Raphael membuat Ashura kecewa pada dunia, pada dirinya sendiri. Bahkan orang tuanya sendiri tidak menginginkan dirinya ada.
Sejak saat itu salju turun di Ibukota Xyrus dan seperti pertanda jika salju itu tidak akan pernah berakhir saat Ashura masih hidup.
Orang-orang disekitarnya tidak menganggap Ashura sebagai manusia, melainkan sosok malapetaka yang akan membuat Kekaisaran Xyrus terkena bencana.
Tanpa mempedulikan apa yang orang-orang pikirkan, Ashura menghabiskan waktunya bersama Asuna dan kakak perempuannya yang bernama Fuyumi Xyrus.
"Lihat, Ashura, seperti ini caranya mengontrol mana dan menggunakan sihir es seperti yang Kakakmu ini lakukan." Malam itu terlihat Fuyumi mengajarkan Ashura sebuah teknik sihir untuk mengendalikan kekuatannya.
Ashura terlihat antusias karena hanya Fuyumi orang yang mau bermain dengannya, dan Ashura sangat mengagumi sihir yang dimiliki Fuyumi.
"Lihat, Kak Fuyumi, aku berhasil menciptakan beruang raksasa." Ashura terlihat kegirangan saat memanipulasi mana disekitarnya untuk membentuk beruang es yang berdiri tepat dihadapan dirinya.
Melihat itu, Fuyumi berdecak kagum karena bakat yang dimiliki Ashura sudah ada sejak lahir. Namun semakin Ashura menggunakan mana, semakin lemah segel Frost yang berada ditubuhnya.
Menyadari hal itu, Raphael memberikan misi rahasia pada Penyihir Xyrus untuk membunuh Ashura, demi mengantisipasi kekuatan Trost yang tidak terkendali.
Udara malam di Ibukota Xyrus, lebih dingin dari yang biasanya. Ashura saat itu sedang berlatih dan mencoba melakukan apa yang Fuyumi lakukan.
Sementara itu, Fuyumi yang mengetahui tujuan Raphael segera berlari menuju Ashura.
"Mana mengerikan itu bukanlah milik Ayahanda!" Fuyumi menggigit bibirnya cukup keras hingga berdarah, karena menyadari ada yang janggal dengan perubahan Raphael.
"Beberapa hari lalu, Ayahanda menangis dan berjanji akan mengakui Ashura dan meminta maaf, tapi mengapa dia berniat membunuh Ashura?" Dipenuhi pertanyaan, Fuyumi melangkahkan kakinya lebih cepat.
"Lalu siapa orang-orang itu-" Belum sempat sampai ditempat keberadaan Ashura, Fuyumi dihadang oleh seseorang.
"Kau mengetahuinya bukan gadis kecil?" ucap penyihir yang muncul dihadapan Fuyumi.
"Kau tidak bisa dibiarkan hidup! Orang yang memiliki kekuatan Astral adalah orang yang berbahaya dan harus dibunuh! Darah mereka adalah darah suci yang pantas dipersembahkan kepada Dewa Iblis!" ucap penyihir pria itu.
Fuyumi tidak mengenal penyihir tersebut dan langsung menciptakan badai es yang menghancurkan apa saja didepannya.
Lalu dengan kecepatan tinggi, Fuyumi menciptakan beberapa gagak yang terbentuk dari es, lalu menyuruh mereka terbang menuju Asuna untuk memberitahu kondisi di Istana Xyrus.
Fuyumi yang menyadari kejanggalan dikejutkan dengan pembantaian yang mengerikan saat dirinya sampai di alun-alun kota.
Disaat yang sama Ashura yang bosan menunggu Fuyumi memilih mencari keberadaannya.
Dalam perjalanan menuju istana, Ashura dikejutkan dengan tumpukan mayat manusia yang terbunuh, dan disana ia melihat Fuyumi sedang bertarung melawan tiga penyihir yang mengepungnya dari segala arah.
"Kakak Fuyumi! Apa yang terjadi disini? Mengapa orang-orang di kota terbunuh?" Ashura terlihat ketakutan.
Pandangan mata Ashura melihat tubuh Fuyumi yang terkena serangan fatal diperutnya, Ashura berteriak dan hendak berlari menuju Fuyumi namun pandangan matanya melihat sosok Asuna, sosok pengasuh yang ia anggap sebagai Ibu sendiri sekarang terkulai dengan bagian tubuh yang terpotong dan tak bernyawa.
Mata Ashura membelalak melihat Asuna yang berakhir tragis ditangan musuh. Rasa sakit dan keputusasaan yang hebat mengguncang jiwanya, memicu kekuatan Monster Roh yang tersegel lepas.
Udara disekitar Ashura membeku secara ekstrem, hanya dalam hitungan detik Ashura membekukan apa saja yang ada disekitarnya.
Fuyumi yang melihat itu terkejut dan langsung berusaha menenangkan Ashura. Namun sebelum dirinya mencapai Ashura, tubuhnya membeku.
Ketiga penyihir yang membantai penduduk Ibukota Xyrus itu melarikan diri secepatnya. Ketiga penyihir itu adalah penyihir dari Organisasi Seven Deadly Sins. Mereka menyadari kekuatan Ashura terlalu berbahaya, dan memilih untuk mundur sementara waktu.
Disaat yang sama dilangit Ibukota Xyrus terlihat Raphael mengamati dari atas sana.
Ashura yang melihat dirinya membekukan Fuyumi pun berteriak histeris, sudah tidak ada alasan lagi dirinya bertahan hidup.
Namun saat Ashura hendak lepas kendali, es yang membekukan tubuh Fuyumi hancur.
Fuyumi yang terluka parah dan terengah-engah, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Ia menggunakan seluruh kekuatannya untuk memeluk Ashura yang menangis histeris.
Fuyumi tersenyum getir dan menahan sakit, ia berbisik lembut dan memeluk Ashura penuh kasih sayang.
"Ashura, semua akan baik-baik saja. Mungkin untuk sekarang jalanmu terasa sepi dan gelap. Tapi suatu hari nanti, kamu pasti akan menemukan teman-teman yang tulus. Teman-teman yang menerima keberadaan dirimu dan menyayangimu."
Fuyumi meneteskan air mata, karena banyak hal yang ingin ia lakukan bersama Adiknya termasuk melihat Ashura tumbuh dewasa, tetapi sepertinya waktunya sudah tidak lama lagi.
"Terimakasih karena telah menjadi Adikku... Terimakasih karena telah memanggilku Kakak... Tumbuhlah jadi lelaki yang hebat ya, Kakak menyayangimu."
Tangisan Fuyumi membasahi tubuh Ashura dan cahaya berwarna putih menyatu kedalam tubuh Ashura.
Malam itu, Ashura kehilangan kesadarannya karena kekuatan Monster Roh ditekan oleh Fuyumi dengan mengorbankan nyawanya.
Bayangan masa lalu itu perlahan memudar, berganti dengan pemandangan anak-anak akademi yang sedang diajarkan cara mengontrol mana sihir oleh Serlin Migesta.
Ashura tersentak kecil sambil memegang kepalanya yang terasa sakit, karena ia kembali mengingat masa lalunya dan alasan mengapa dirinya bisa hidup sampai sekarang ini.
Ashura ingin melarikan diri dari kenyataan, bahkan ia lebih memilih kehilangan ingatannya untuk selamanya, namun dunia tidak memberinya pilihan tersebut.
"Aku dipaksa kembali ke realita yang kejam ini..."
Ashura pun mendapatkan kembali ingatannya yang disegel Kaira Leywin karena permintaan Leon Leywin.
Beberapa murid akademi terlihat takut saat mengetahui Ashura terbangun. Gerakan mereka terhenti, Serlin Migesta pun menegur mereka semua.
Tatapan yang tidak asing itu, Ashura sangat mengenalnya. Dari kecil ia sudah akrab bagaimana rasanya kehilangan, dibenci dan tidak diinginkan.
Ibunya meninggal tepat setelah melahirkan dan memberikan sebuah nama pada dirinya, baru lahir kedunia ini saja ia sudah ditinggal pergi oleh Ibunya untuk selamanya, lalu tumbuh dilingkungan yang menganggap dirinya sebagai monster pembawa bencana.
Ia tumbuh dengan dijauhi penduduk Xyrus, tidak diinginkan oleh satu-satunya orang yang dipanggil Ayah dan juga sering dikucilkan. Kepercayaan Ashura pada seseorang telah dibunuh sejak lama, jadi Ashura tidak lagi heran dengan kenyataan yang pahit ini.
Ia pun berdiri dengan kepercayaan yang sangat rapuh setelah mendapatkan ingatannya kembali.
"Kau sudah sadar, Ashura?" Serlin berjalan mendekati Ashura, namun Saga menyenggolnya dan berteriak paling keras untuk menyapanya.
"Ashura, sudah bangun!"
Saga terlihat gembira dan khawatir disaat yang bersamaan.
"Saga, bukankah ada hal yang seharusnya kau katakan padanya." Ark menegurnya.
Saga pun membungkukkan badannya dan meminta maaf kepada Ashura.
"Maafkan aku, Ashura!"
Melihat Saga dan Ark yang tidak takut dengan Ashura membuat Serlin tersenyum hangat.
"Sepertinya aku tidak perlu khawatir..."
Ashura sangat asing dengan kehangatan yang dilakukan Saga, Ark dan Serlin, namun hatinya tidak bisa berbohong jika ia sangat menginginkan ini.