"Aku Bahagia." Kata-kata itu selalu diucapkan Evelyne Rochie seperti sebuah mantra untuk menenangkan hatinya yang rapuh. Di dunia nyata, hidup Evelyne terasa datar dan sepi. Setiap kali berkumpul dengan lingkaran pertemanannya, ia justru merasa semakin terasing. Ia melihat Alice Sonya yang hidup bahagia dan penuh tawa bersama Matthias. Ia melihat Azyla Amira yang selalu populer, dicintai banyak orang, dan bersinar di mana pun berada. Ia juga menyaksikan betapa manisnya hubungan Annie dan Samuel yang saling mencintai tanpa cela. Di tengah gelak tawa mereka, Evelyne selalu bertanya-tanya dalam hati: Kapan giliran jiwaku yang mencicipi kebahagiaan? Mengapa bagi orang lain bahagia itu begitu mudah, sementara bagiku, mendapatkan satu kepingan kebahagiaan saja rasanya teramat sulit? Hingga suatu malam, di titik nadir keputusasaannya, sebuah celah dimensi terbuka dan membawanya masuk ke sebuah dunia fantasi yang asing, megah, sekaligus berbahaya. Di dunia baru ini, takdir mempertemukannya dengan Sylus Qinche, seorang pria yang memiliki sejuta misteri namun mampu memberikan kehangatan yang selama ini dicari Evelyne. Untuk pertama kalinya, Evelyne merasa "Aku Bahagia" bukan lagi sebuah kebohongan. Namun, kebahagiaan itu tidak gratis. Ketika takdir berniat memisahkan mereka dan merenggut Sylus kembali ke kedalaman dunia lain yang lebih gelap, Evelyne menolak untuk menyerah lagi pada nasib. Dengan dibantu oleh Kieran dan Luke—dua sosok tangguh di dunia tersebut—Evelyne membuang seluruh ketakutannya. Jika di dunia nyata ia adalah perempuan lemah yang hanya bisa memandang kebahagiaan orang lain, maka di dunia ini, ia siap menerjang badai sihir dan melintasi batas dimensi demi meraih kembali tangan Sylus Qinche. Kali ini, ia yang akan menjemput kebahagiaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan reza yang sepenuhnya
Kabin mobil MPV hitam itu terasa seperti ruang strategi militer yang bergerak membelah kegelapan tol Trans-Jawa menuju Jakarta. Jarum jam digital di dasbor menunjukkan pukul tiga pagi. Hujan deras mengguyur kaca depan, sementara wiper berdecit ritmis, berkejaran dengan deru mesin yang dipacu Luke dalam kecepatan konstan. Tidak ada lagi musik dangdut koplo atau candaan pop fana; keheningan di dalam mobil terasa begitu berat setelah proyeksi hancurnya Kastil Obsidian membekas di benak mereka.
Sylus Qinche duduk di kursi depan, melipat tangannya di dada. Matanya yang sewarna malam menatap lurus ke aspal basah yang disorot lampu mobil. Pria kelahiran 1996 itu sedang menyusun peta strategi di dalam kepalanya, memetakan setiap probabilitas bertarung tanpa sihir Aether.
"Membuka gerbang dimensi dari sisi Bumi tanpa jangkar magis utama adalah hal yang mustahil, Silas," Evelyne memecah keheningan dari kursi tengah, suaranya parau oleh kelelahan setelah menguras energi Katalis di candi purba tadi. "Si Penjahit Takdir bilang, retakan di MRT kemarin adalah skenario terbaik yang kita miliki, dan kita sudah menyegelnya total dengan keabadianmu."
"Tidak ada yang mustahil jika kita mengganti sumber dayanya, Evelyne," jawab Sylus, suaranya terdengar sangat tenang, ketenangan dingin seorang panglima yang terbiasa menang di ujung tanduk. "Pak tua di Glodok memegang cetak biru tentang bagaimana Ley Line di Bumi saling bersinggungan. Candi di Jawa Tengah tadi memberikan kita sisa bubuk kristal Void yang dilepaskan agen The Silent Hand. Jika kita bisa menemukan titik temu energi horizontal di Jakarta, kita bisa memicu robekan buatan."
Luke melirik melalui spion tengah, wajahnya yang kaku tampak mengeras di bawah lampu jalanan tol yang kuning. "Tuan Silas benar, Nona. Di Aetheria, saat farsi pemberontak merusak menara sihir, kami sering menggunakan detonasi energi paksa untuk membuka jalur logistik darurat. Tapi risikonya... tubuh fana Tuan Silas mungkin tidak akan kuat menahan distorsi tekanan saat melompat masuk."
"Fisikku bisa dilatih dan dilapisi, Luke. Yang kita butuhkan saat ini adalah presisi waktu dan logistik yang tidak terdeteksi oleh otoritas manusia ataupun agen The Silent Hand yang tersisa," balas Sylus tegas.
Evelyne membuka tas ranselnya, menatap botol kaca kecil berisi bubuk kristal hitam-ungu yang ia kumpulkan dari sisa pertempuran di reruntuhan candi. Bubuk itu berpendar redup, bergetar setiap kali mobil melewati area bertegangan listrik tinggi. "Ini adalah sisa energi Void mereka. Jika digabungkan dengan sisa energi Katalisku, kita bisa memicu reaksi berantai selama sembilan puluh detik. Hanya sembilan puluh detik, Sylus. Jika dalam waktu itu kita tidak berhasil menyeberang, gerbangnya akan menutup dan menghancurkan siapapun yang berada di tengahnya."
"Sembilan puluh detik lebih dari cukup untuk menyerbu pelataran dalam Obsidian," desis Sylus, matanya berkilat tajam.
Di kursi paling belakang, sebuah erangan rendah memotong diskusi taktis mereka. Reza bergerak, kelopak matanya bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya di mana ia tampak linglung dan dihantui bayangan, kali ini matanya benar-benar jernih—warna ungu Void yang mengutuknya telah bersih total, menyisakan kesadaran murni seorang manusia.
Reza mendadak bangkit duduk, napasnya memburu seolah baru saja keluar dari air dalam. Seluruh ingatan tentang apa yang ia lakukan saat tubuhnya diambil alih oleh kesadaran Kaelen berputar seperti film horor di kepalanya: stasiun MRT yang hancur, teriakan mengerikan, dan bagaimana ia hampir membunuh Evelyne, wanita yang pernah ia kenal.
"Evelyne..." suara Reza bergetar hebat, air mata langsung merebak di sudut matanya yang merah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetar. "Demi Tuhan... apa yang sudah kulakukan? Aku... aku mengingat semuanya. Makhluk itu... Kaelen... dia menggunakan tanganku untuk... ya Tuhan, maafkan aku..."
Evelyne membalikkan badannya di kursi, menatap Reza dengan pandangan yang tidak lagi dipenuhi kewaspadaan, melainkan empati yang tulus. "Reza, tenanglah. Itu bukan dirimu. Kau adalah korban. Kaelen memanipulasimu melalui gulungan itu."
Reza menggelengkan kepala, tangisnya pecah di bagian belakang kabin mobil. "Tidak, aku yang membuka gulungan itu karena keserakahanku sendiri. Aku hampir menghancurkan kota ini. Dan pria itu..." Reza mendongak, menatap punggung tegap Sylus di kursi depan. "Dia mengorbankan sesuatu yang besar untuk menyelamatkanku, bukan?"
Sylus tidak membalikkan badannya, namun suaranya terdengar jelas di seluruh kabin. "Aku menyelamatkan duniaku, Reza. Tubuhmu hanyalah wadah yang kebetulan berada di tempat yang salah. Jika kau ingin menebus kesalahanmu pada dimensi ini, berhentilah menangis dan jadilah berguna."
Reza menyeka air matanya dengan kasar, mencoba menguasai dirinya sebagai seorang pria dewasa yang memiliki pengaruh besar di dunia sekuler Jakarta. Sebagai pengusaha muda yang mewarisi jaringan logistik dan finansial raksasa milik keluarganya, ia sadar apa yang bisa ia berikan.
"Kalian butuh logistik, bukan? Kalian butuh tempat yang tidak terpantau oleh radar pemerintah?" Reza mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Evelyne dan Sylus bergantian. "Keluargaku memiliki sebuah kompleks gudang kontainer terbengkalai di ujung Pelabuhan Tanjung Priok. Area itu sudah ditutup dari publik karena sengketa lahan, tapi sistem keamanannya masih di bawah kendaliku secara privat. Aku bisa menyediakan apapun yang kalian butuhkan—dana, kendaraan, peralatan medis, hingga apapun yang bisa dibeli dengan uang di kota ini. Tolong... biarkan aku membantu menyelesaikan kekacauan yang kumulai."
Sylus akhirnya memalingkan wajahnya sedikit, melirik Reza dari sudut matanya dengan seringai tipis yang kembali muncul. "Sikap yang bagus untuk seorang manusia. Kita punya kesepakatan, Reza."
Dua puluh empat jam setelah kembali ke Jakarta, gudang nomor 12 di Pelabuhan Tanjung Priok berubah menjadi bengkel persenjataan yang mengerikan. Suara deru mesin gerinda memercikkan api ke lantai beton yang dingin, bercampur dengan bau minyak senjata dan pelarut kimia.
Berkat dana tak terbatas dan koneksi pasar gelap milik Reza, ribuan peralatan taktis militer manusia terbaik telah digelar di atas meja besi panjang. Namun, di tangan Sylus dan Luke, senjata-senjata itu mengalami modifikasi ekstrem yang tidak akan pernah dipahami oleh tentara konvensional mana pun.
Sylus berdiri di bawah lampu gantung tunggal, memegang sebuah pisau komando militer berbahan baja karbon tinggi standar pasukan khusus. Menggunakan jemarinya yang kini kasar akibat latihan murni, ia menaburkan bubuk kristal Void yang telah dicairkan oleh Evelyne ke sepanjang bilah pisau. Cairan hitam-ungu itu meresap ke dalam pori-pori baja, membuat bilah pisau tersebut berpendar hitam pekat yang mampu merusak struktur magis pelindung musuh.
"Senjata api manusia tidak akan efektif melawan jirah sihir tingkat tinggi di Aetheria," ucap Sylus sambil menyelipkan dua pisau komando yang telah dimodifikasi ke dalam sarung taktis di paha kanannya. "Tapi senjata tajam dengan berat mekanis murni yang dilapisi racun energi... itu akan menembus perisai mereka sebelum mereka sempat merapalkan mantra."
Di sudut lain, Luke sedang menguji sebuah rompi antipeluru tingkat IV yang biasanya digunakan untuk menahan peluru kaliber besar. Ia memasukkan beberapa kepingan kristal energi bumi yang dihancurkan ke dalam lapisan Kevlar rompi tersebut. "Tuan Silas, pelindung dada ini sekarang memiliki resistensi terhadap elemen api dan petir tingkat menengah. Fisik fana kita setidaknya tidak akan langsung hangus oleh bola api penyihir faksi pengkhianat."
Sylus mengenakan pakaian taktis hitam ketat yang pas di tubuhnya, menonjolkan otot-ototnya yang terlatih sempurna selama beberapa hari terakhir di Jakarta. Di atasnya, ia memakai rompi taktis modifikasi, sabuk perlengkapan, dan pelindung lutut. Ia mengencangkan tali sepatu bot militernya dengan sentakan kuat. Pria itu kini tidak lagi terlihat seperti model pakaian Black-Label yang berpose di bawah lampu studio; ia telah kembali menjadi lambang maut yang berjalan, meskipun tanpa satu tetes pun pendaran sihir di tubuhnya.
Mephisto bertengger di atas tumpukan peti amunisi di samping meja. Burung gagak itu tampaknya tertular oleh atmosfer tempur di dalam gudang. Meskipun ia masih belum bisa terbang tinggi akibat gravitasi Bumi yang padat, ia mematuk-matuk sebuah granat asap taktis dengan paruhnya, seolah-olah mengerti bahwa benda kecil itu bisa membantunya menciptakan kekacauan di medan perang nanti.
"Jangan menyentuh itu, Mephisto. Kau bisa meledakkan bulu gemukmu sendiri sebelum kita sampai di seberang," tegur Sylus tanpa menoleh, membuat burung itu mengeluarkan suara protes pendek yang terdengar konyol.
Malam penentuan pun tiba. Di tengah gudang pelabuhan yang luas, struktur gerbang buatan telah didirikan menggunakan lingkaran kontainer besi yang disusun melingkar, meniru arsitektur menara sirkuit di Aetheria. Di pusat lingkaran tersebut, sebuah altar besi darurat dihubungkan dengan kabel-kabel tembaga tebal ke generator listrik berdaya tinggi yang disediakan oleh Reza.
Reza berdiri di dekat panel kendali utama, wajahnya tegang namun penuh tekad. "Semua sistem siap, Silas. Generator akan mengalirkan daya puncak dalam tiga menit. Setelah itu, kendali penuh ada di tangan Evelyne."
Luke melangkah maju, memanggul sebuah kapak besar modifikasi yang dilapisi baja hitam Bumi dan sisa energi Void. Ia berdiri di batas garis lingkaran, matanya menatap lurus ke titik kosong udara tempat dimensi akan robek. "Orde Bayangan... siap mati demi Panglima."
Sylus berjalan mendekati pusat altar, namun langkahnya terhenti saat Evelyne menarik lengan bajunya. Gadis itu berdiri di hadapannya dengan jubah Katalisnya yang melambai ditiup angin laut yang masuk melalui celah pintu gudang. Di bawah temaram lampu pelabuhan, wajah Evelyne tampak begitu cantik namun dipenuhi kepedihan yang teramat dalam.
"Sylus..." Evelyne menggenggam kedua tangan manusia Sylus yang terasa hangat. Air matanya tidak bisa lagi ditahan, jatuh membasahi sarung tangan taktis yang dikenakan Sylus. "Ini adalah jalan satu arah. Begitu kita melangkah masuk, kita akan kembali ke dunia yang sedang terbakar. Kau tidak akan memiliki keabadianmu untuk menyembuhkan luka-lukamu lagi. Jika... jika sebuah pedang menembus dadamu di sana... kau akan mati seperti manusia biasa."
Sylus menatap Evelyne lama. Di dalam matanya yang hitam kelam, tidak ada ketakutan, tidak ada keraguan. Hanya ada refleksi cinta yang begitu besar dan murni untuk gadis di hadapannya. Ia menarik Evelyne ke dalam pelukannya, memeluk tubuh gadis itu begitu erat seolah ingin menyatukan detak jantung mereka yang kini berjalan dalam ritme fana yang sama.
"Evelyne," Sylus berbisik di telinganya, suaranya terdengar sangat maskulin dan penuh kehangatan yang menenangkan. "Aku menghabiskan ratusan tahun mencari musuh yang bisa membunuhku di Aetheria, karena hidup yang abadi itu terasa seperti penjara yang dingin. Tapi sekarang, di dunia ini, kau memberiku alasan untuk ingin terus hidup setiap harinya. Aku tidak akan mati di sana... karena aku memiliki janji untuk kembali ke sini, menghabiskan sisa umur manusianya bersamamu di apartemen kecil kita."
Sylus melonggarkan pelukannya sedikit, menangkup wajah Evelyne dengan kedua tangannya, lalu mencium bibir gadis itu dengan ciuman yang sangat intens, dalam, dan penuh keputusasaan yang romantis di bawah gemuruh mesin generator yang mulai meraung tinggi. Ciuman itu adalah segel tak tertulis bahwa takdir mereka telah terikat melampaui batas ruang dan waktu.
"Aktifkan gerbangnya, The Grand Catalyst," ucap Sylus setelah melepaskan tautan bibir mereka, memberikan satu senyuman tipis yang sangat menawan.
Evelyne menyeka air matanya, membalikkan tubuhnya dengan ketegasan yang luar biasa. Ia melangkah ke pusat altar, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara. Botol berisi bubuk kristal Void dipecahkannya di atas altar besi, sementara sisa energi Katalis ungunya meledak keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya, menyatu dengan aliran listrik jutaan watt dari generator pelabuhan.
CRACK-BOOOOOM!!!
Udara di tengah gudang pelabuhan Tanjung Priok terbelah dengan suara hantaman petir yang memekakkan telinga. Sebuah robekan dimensi berbentuk pusaran hitam-ungu setinggi lima meter tercipta di antara kontainer-kontainer besi, memancarkan angin badai yang membawa aroma darah, ozon terbakar, dan suara dentuman senjata dari Kastil Obsidian yang sedang sekarat di seberang sana.
"Sembilan puluh detik dimulai dari sekarang!" teriak Reza dari balik panel kendali yang mulai mengeluarkan percikan api.
Mephisto melompat ke atas pundak tegap Sylus, mencengkeram kain rompi taktisnya dengan kuat. Luke bergerak lebih dulu, melompat masuk ke dalam pusaran badai dimensi dengan raungan perang Orde Bayangan yang mengguncang gudang.
Sylus Qinche menggandeng erat tangan kanan Evelyne. Ia menatap robekan dimensi di hadapannya yang penuh dengan bahaya mematikan bagi tubuh manusianya, lalu menoleh ke arah Evelyne untuk terakhir kalinya.
"Ayo kita ambil kembali rumah kita, Evelyne," ucap Sylus.
Dengan satu langkah mantap tanpa keraguan sedikit pun, sang mantan Panglima keabadian bersama gadis Katalisnya melompat masuk ke dalam badai dimensi yang bergemuruh, meninggalkan ketenangan Bumi demi menghadapi takdir berdarah yang telah menunggu mereka di Aetheria.
Bersambung