Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Sesampainya di rumah, Adella tidak langsung masuk ke kamar. Ia mencuci tangannya berkali-kali di wastafel dapur, seolah ingin menghilangkan bekas sentuhan Pak Adwan saat menyematkan bros tadi. Bau cendana itu seakan menempel di serat seragamnya, masuk ke pori-pori kulitnya.
Ia melepas bros burung walet itu dengan ujung kuku, meletakkannya di atas meja belajar, lalu mengambil kaca pembesar dari laci—salah satu alat yang ia beli karena kegemarannya mengoleksi prangko lama.
Sisi pandai Adella bekerja. Ia membalikkan bros itu. Di bagian belakang, di antara ukiran sayap perak yang sangat halus, terdapat goresan kecil. Bukan ukiran pabrik. Itu adalah inisial yang digores secara manual: N.A.
"Nadia," bisik Adella. Napasnya tercekat.
Ini bukan barang baru. Pak Adwan tidak membelinya di toko perhiasan. Ini adalah barang milik orang lain—mungkin milik korban sebelumnya—yang diberikan kembali sebagai semacam trofi. Memberikan barang milik korban lama kepada calon korban baru adalah bentuk dominasi yang sangat sakit.
Adella segera membuka laptopnya. Ia tidak lagi mencari di mesin pencari umum. Ia masuk ke forum-forum diskusi regional Kota B, tempat SMA Tunas Bangsa berada. Ia mencari thread lama tentang orang hilang.
Setelah hampir dua jam menyaring ratusan komentar sampah, ia menemukan sebuah tautan blog pribadi yang sudah tidak aktif selama setahun. Judul blognya: Mencari Nadia.
Blog itu dikelola oleh kakak laki-laki Nadia. Di salah satu postingan terakhir, ada sebuah foto Nadia sedang tersenyum di taman sekolah. Di kerah seragamnya, tersemat bros burung walet yang identik dengan yang ada di meja Adella sekarang.
"Nadia sangat menyayangi bros pemberian almarhum nenek kami. Dia tidak pernah melepasnya," tulis keterangan foto itu.
Tangan Adella dingin. Pak Adwan tidak hanya memanipulasi keadaan; dia adalah seorang kolektor. Dan sekarang, dia sedang memakaikan "label" itu pada Adella.
Keesokan harinya di sekolah, suasana terasa lebih menyesakkan bagi Adella. Ia sengaja tidak memakai bros itu. Ia menyimpannya rapat-rapat di dalam kantong kecil di tasnya, terbungkus tisu.
Saat pelajaran Sastra dimulai, Pak Adwan masuk dengan senyum yang sama. Namun, matanya langsung tertuju pada kerah seragam Adella yang polos.
"Selamat pagi, anak-anak," sapanya sambil meletakkan tas di meja. Pandangannya tidak lepas dari Adella selama beberapa detik, ada kilat kekecewaan yang tertutup rapi oleh keramahan palsu. "Hari ini kita akan membahas tentang Simbolisme. Bagaimana sebuah benda kecil bisa mewakili perasaan yang besar."
Selama pelajaran, Pak Adwan berkali-kali memberikan contoh tentang "pemberian" dan "kesetiaan". Adella hanya menunduk, pura-pura sibuk mencatat, padahal ia sedang menuliskan strategi di lembar belakang bukunya.
Setelah kelas berakhir, Pak Adwan tidak memanggilnya ke depan kelas. Ia justru berjalan menghampiri meja Adella saat siswa lain mulai berhamburan keluar.
"Brosnya tidak dipakai, Adella? Apa ada yang rusak?" tanyanya lembut, namun ada penekanan di setiap kata.
Adella mendongak, matanya berkaca-kaca—sebuah akting yang sempurna. "Maaf, Pak. Saya takut menghilangkannya. Itu barang yang sangat indah, saya merasa tidak pantas memakainya ke sekolah yang berdebu ini. Saya menyimpannya di rumah, di kotak perhiasan ibu saya."
Rahang Pak Adwan yang kaku sedikit mengendur. Kebohongan Adella tentang "menyimpannya di kotak perhiasan ibu" memberikan kesan bahwa Adella sangat menghargai pemberian itu.
"Ah, saya mengerti. Kamu memang gadis yang sangat berhati-hati," Pak Adwan mengelus sudut meja Adella. "Ngomong-ngomong, saya baru saja mendapatkan edisi pertama buku The Collector karya John Fowles. Sangat langka. Saya ingat kamu suka cerita yang mendalam. Bagaimana kalau Sabtu ini kamu mampir ke perpustakaan kota? Saya akan ada di sana untuk riset pribadi, dan saya bisa meminjamkannya padamu."
Sabtu. Di luar jam sekolah. Di tempat yang—meski publik—punya sudut-sudut sepi.
Sisi pandai Adella berteriak: Jangan pergi!
Tapi sisi cerdiknya berbisik: Inilah kesempatanmu untuk melihat apa yang dia bawa di dalam tasnya saat tidak ada orang lain.
"Perpustakaan kota jam berapa, Pak?" tanya Adella dengan nada antusias yang dibuat-buat.
"Jam sepuluh pagi. Di ruang referensi lantai dua. Biasanya sepi di jam-jam itu, bagus untuk membaca dengan tenang," Pak Adwan tersenyum, kali ini senyumnya terlihat benar-benar puas. "Jangan sampai terlambat, Adella. Saya tidak suka menunggu."
Setelah Pak Adwan pergi, Adella meremas pulpennya hingga buku jarinya memutih. Ia tahu, Sabtu nanti bukan sekadar bimbingan belajar atau peminjaman buku. Itu adalah undangan ke dalam jaring laba-laba yang sebenarnya.
Adella mengambil ponselnya. Ia mengirim pesan ke satu-satunya nomor yang ia temukan di blog Mencari Nadia semalam. Nomor sang kakak.
“Saya punya sesuatu yang mungkin milik adik Anda. Kita perlu bicara.”
Permainan ini bukan lagi soal Adella yang bertahan hidup. Ini soal Adella yang mulai menyerang balik.
Adella menatap layar ponselnya selama beberapa menit setelah pesan itu terkirim. Statusnya masih centang satu. Ada debar jantung yang tidak biasa; campuran antara ngeri dan gairah karena akhirnya ia memiliki kartu as untuk melawan.
Ia tahu, mengirim pesan itu adalah langkah yang sangat berisiko. Jika Pak Adwan memiliki akses ke jaringan komunikasi atau jika pria itu entah bagaimana memantau ponselnya, Adella tamat. Namun, Adella yang pandai telah mengantisipasi ini—ia menggunakan kartu SIM sekali pakai yang ia beli dengan uang saku tabungannya di toko kecil dekat terminal.