NovelToon NovelToon
Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cthulhu / Dunia Lain / Action / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: DaoisttjmlCe

Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.

Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?

Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.

Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.

Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 - Rostav Zertu

Volume 1 - Mawar Hitam

.....

'Ugh!'

'Menyakitkan!'

'Kepalaku sakit sekali, rasanya seperti kepalaku bisa meledak kapan saja!'

Kegelapan yang dipenuhi oleh gumaman keputusasaan itu hancur seketika. Bagas Pratama yang masih tertidur merasakan kepalanya seperti dipukul menggunakan tongkat berkali-kali, lagi dan lagi. Tidak, itu lebih seperti kepalanya dihantam oleh benda tajam, menusuk tepat di pelipisnya, memutarnya dalam prosesnya. Kepalanya seperti di bor hingga berlubang, seolah-olah kepalanya adalah tembok rusak yang harus diperbaiki.

'Agh!' suara yang penuh kesakitan dan keputusasaan itu kembali lagi, seolah-olah tak ingin membiarkan Bagas beristirahat. Dalam tidurnya dia berusaha untuk menggerakkan salah satu anggota tubuhnya, tapi yang tidak dia duga adalah, seluruh anggota tubuhnya tidak bergeming, tidak merespon keinginan Bagas.

'Aku pasti tertidur lagi di meja kantor, dan rasa sakit ini karena aku terlalu banyak bekerja, tidak pernah diberikan hari libur, atau uang bonus karena lembur… mungkin sebentar lagi aku akan berpikir bahwa aku sudah bangun, padahal masih tertidur, apakah ini semacam lucid dream?' Bagas berusaha berfikir positif bahwa apa yang dia alami kini hanyalah sebatas mimpi, dia pernah mendengar sebuah informasi bahwa kadang-kadang seseorang dapat tersadar bahwa mereka sedang berada di dalam mimpi dan mampu mengendalikan mimpi sesuka hati.

Dengan berpikir bahwa rasa sakit yang dia alami akan segera berakhir ketika dirinya terbangun, hal itu membuat Bagas menjadi sedikit tenang.

'Memang aku berusaha untuk tenang, tapi rasa sakit kepala ini seolah-olah ingin membunuhku. Kepalaku seperti akan meledak dari dalam,' Bagas yang sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya memaksa dirinya untuk bangun. 'Bangunlah! Bangunlah! Aku harus kembali bekerja... tidak, ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan pekerjaan sementara aku sendiri berada dalam kondisi yang sulit... untuk apa aku memikirkan pekerjaan yang membuatku sakit seperti ini? Sialan, semoga perusahaan ini bangkrut, dan bos yang suka semena-mena itu akan hidup melarat.'

Bagas berharap bahwa perusahaan tempatnya bekerja ini cepat bangkrut agar dia bisa kembali bebas, tapi dia segera memikirkan hal itu kembali. 'Tidak, kalau perusahaan ini bangkrut, aku pasti dipecat, dan di zaman sekarang, mencari pekerjaan seperti mencari berlian di trotoar. Tidak, tidak, perusahaan ini jangan bangkrut, semoga bos-nya cepat diganti dengan yang lain.'

Memikirkan hal itu entah kenapa membuatnya lupa tentang rasa sakit yang baru saja dia alami, tapi kini dia merasakannya lagi. Rasa sakit itu... bahkan jauh lebih parah dari sebelumnya, kali ini bahkan ditambah dengan bisikan-bisikan aneh yang segera memenuhi kepalanya, memenuhi setiap inci kepalanya.

Bagas berusaha melepaskan dirinya sendiri dari penjara "mimpi" ini, dia berteriak di dalam hati, meminta dirinya untuk bangun. 'Bangun! Bangun! BANGUN!'

Dan, entah keajaiban apa yang sedang bekerja pada tubuhnya saat itu, dia benar-benar terbangun. Kelopak matanya terbuka perlahan, berat dan gemetar, seakan ada sesuatu yang menahannya untuk kembali sadar sepenuhnya. Begitu kesadarannya terkumpul, napasnya langsung memburu tidak beraturan—kasar, berat, dan tergesa-gesa—seperti seseorang yang baru saja dipaksa berlari tanpa henti menembus lintasan maraton puluhan kilometer.

Suara tarikan napasnya memenuhi ruangan yang sunyi. Setiap helaannya terdengar serak dan panik, mirip seseorang yang baru muncul dari dasar lautan setelah hampir kehabisan oksigen di tengah perjalanan menuju permukaan. Seakan-akan beberapa detik lagi saja terlambat, tubuhnya mungkin benar-benar akan menyerah. Dan ketika akhirnya berhasil "mencapai permukaan", tubuhnya bereaksi liar, rakus menyerap udara sebanyak-banyaknya, seperti orang yang baru pertama kali merasakan bernapas lagi.

Tangannya gemetar kecil. Keringat dingin membasahi pelipis dan tengkuknya, sementara jantungnya berdetak begitu keras hingga terasa memukul rongga dadanya dari dalam. Pandangannya masih kabur, berputar-putar, sulit membedakan mana nyata dan mana sisa mimpi buruk yang belum sepenuhnya pergi.

"Hah, untung saja aku bisa terbangun. Aku pikir aku akan mengalami rasa sakit itu selama delapan jam," Bagas menghela napas lega karena tak harus mengalami rasa sakit selama itu. Kenapa delapan jam? Karena dia berpikir bahwa rasa sakit yang dia alami kini karena dia tertidur, dan berapa lama biasanya orang tidur? Setahu Bagas adalah delapan jam, itu yang paling ideal.

Beberapa detik dalam keheningan, pandangannya yang awalnya kabur dan berputar-putar kini secara perlahan kembali normal. Pandangannya kini menjadi jelas. Bagas menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan sisa-sisa rasa sakit yang baru saja dia alami, dan melanjutkan dengan mengusap wajahnya. Punggungnya bersandar pada kursi kuningan dengan detail rumit yang terlihat kuno, kepalanya mengarah ke atas, dan ketika dia membuka matanya lebar-lebar, Bagas Pratama mematung.

Matanya membelalak tak berkedip, tubuhnya tak bergerak sedikit pun selama kurang lebih sepuluh detik, sebelum akhirnya secara spontan Bagas melompat dari kursinya, menatap sekelilingnya.

Sekali lagi matanya membelalak, jelas itu bukan pertanda yang baik.

Dia kini berada di dalam sebuah ruangan yang cukup besar dengan meja perunggu yang terlihat kokoh dan kursi kuningan dengan paku keling, entah untuk dekorasi atau apa. Selain itu, di ruang ini juga terdapat sebuah lemari yang terbuat dari bahan-bahan aneh dengan banyaknya gir-gir kecil yang saling berhubungan dengan gir besar di bagian depan.

Dia belakang kursi kuningan juga terdapat sebuah kepala kambing yang terlihat sangat asli, tidak ada tanda-tanda kepala itu dibuat dengan tangan atau bahan murahan. Detailnya terlalu luar biasa untuk bisa dibuat dengan tangan.

Di ujung ruangan juga terdapat sebuah kasur yang terlihat empuk, seperti diisi oleh bulu domba premium. Dan di beberapa sudut dinding ruangan, terpajang sebuah pedang dan revolver yang masih terlihat baru, seolah-olah belum pernah digunakan.

Bagas Pratama menelan salivanya dengan berat dan dalam, dia melangkah mundur sebelum akhirnya dikejutkan dengan suara burung otonom yang dia tabrak.

Burung otonom itu terbuat dari berbagai rangkaian berbahan kuningan, besi, gir, serta sistem uap yang memungkinkannya untuk bergerak dan mengeluarkan suara sumbang.

Bagas berbalik arah dan melihat burung otonom itu yang menempel di dinding. Dia sekali lagi mundur hingga menabrak meja, meraba-raba meja itu, dan dengan kaki gemetar duduk di kursi.

"Apa yang... sebenarnya terjadi?" Bagas berusaha mencerna seluruh informasi yang baru saja dia dapatkan ini. Dia menundukkan kepalanya dan menggenggamnya dengan kedua tangan. "Tidak, tidak, mari coba kita rangkai apa yang baru saja terjadi padaku. Aku adalah Bagas Pratama, usia dua puluh lima tahun, seorang designer di perusahaan yang tidak pernah libur, tidak pernah mendapatkan uang lembur, dan tidak pernah naik gaji. Suatu hari aku iseng membeli sebuah lotre, berharap mendapatkan banyak uang agar aku tidak bekerja dan bisa hidup foya-foya. Karena itu, aku diam-diam melakukan sebuah ritual peningkatan keberuntungan, dan tiba-tiba saja aku pingsan, lalu mengalami rasa sakit itu, dan akhirnya tiba di tempat aneh ini."

Bagas mengangkat kepalanya, menyapu pandangan ke sekeliling, berharap bahwa semua ini adalah mimpi. Tapi yang dia lihat bukanlah tempat kerja atau kamarnya, tapi sebuah tempat asing yang dipenuhi oleh barang-barang aneh. Bagas pun menampar wajahnya sendiri untuk lebih memastikannya.

"Aduh!" dia merasakan sakit saat menampar wajahnya sendiri, dan mengusap pipi kanannya yang kini berubah menjadi sedikit kemerahan. "Hahaha, ini tidak mungkin, ini pasti mimpi..." Bagas tertawa mencela diri sendiri, sebelum akhirnya dia menyadari kebenarannya. "Tapi, mimpi seperti apa yang dapat memberikan rasa sakit seperti ini, dan sensasi senyata ini? Ini bukan mimpi. Agh!!!"

Pada momen itu, kepalanya diburu oleh rasa sakit dan bisikan-bisikan aneh yang segera memenuhi kepalanya. Kepalanya seperti sebuah sendok yang harus menampung air di dalam galon.

"Agh! Menyakitkan!" Bagas meraung tanpa sadar, memukul meja hingga tangannya berdarah, untuk setidaknya mengurangi rasa sakit yang dia alami ini.

"Rostav Zertu..."

"Rostav Zertu..."

"Rostav Zertu..."

Bisikan-bisikan itu mengatakan sebuah nama di kepala Bagas, dan setelah nama itu terucap, rasa sakit dan bisikan-bisikan itu menghilang sepenuhnya, seolah-olah lenyap ditelan kehampaan.

Bagas mengambil napas terlebih dulu sebelum menggumamkan nama tersebut, "Rostav Zertu, tujuh belas tahun. Jadi namaku sekarang adalah Rostav Zertu. Apa aku bertransmigrasi ke dunia lain? Apa ini seperti cerita di film-film atau di novel?"

Bagas tidak ingin memikirkan apakah dia bertransmigrasi ke dunia di suatu film atau novel, yang jelas dia tahu satu hal: dia kini telah bertransmigrasi dan kemungkinan besar berada di dunia yang sama sekali berbeda dengan Bumi.

1
anggita
klo bisa novelnya dipromosikan Thor, biar dikenal pembaca NT.
anggita: ga pa" ijin promo aja. ditempat kami bebas. banyak kok teman" author yg promo dsini.
total 2 replies
anggita
ikut dukung like👍 iklan☝aja, moga novelnya lancar👌.
Blueria: semangat gann🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!