Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Paviliun Pedang Bayangan
Angin musim dingin berhembus melewati Gerbang Giok Akademi Jiannan, menyapu keheningan yang luar biasa canggung.
Tetua Mo Yin, salah satu pilar kekuasaan di akademi yang ditakuti karena ketegasannya, masih mematung dengan sebelah tangan memijat pelipisnya. Ia melirik Zhao Ying yang berdiri anggun di belakang Zeng Niu, lalu beralih menatap wajah datar murid barbarnya itu.
"Masuk. Semuanya masuk ke Paviliun Pedang Bayangan sekarang," perintah Tetua Mo Yin dengan suara tertahan, buru-buru memungut buku catatan gioknya dari lantai. "Jika Tetua lain melihat 'Dewi Es' bersikap sejinak ini padamu, Zeng Niu, setengah dari petinggi akademi akan mengalami penyimpangan Qi hari ini juga."
Zeng Niu hanya mengangkat bahu, melangkah melewati Lu Feng yang masih gemetar dan mengompol di lantai. Bao Tu dan Xiaoyu mengikuti dari belakang sambil menahan tawa, sementara Qian Fugui berjalan dengan dada membusung, merasa bangga bisa masuk ke sekte besar tanpa harus ikut ujian.
Mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang diapit oleh hutan bambu ungu. Akademi Jiannan benar-benar luas. Pegunungan spiritualnya mengalirkan Qi murni, meski bagi Lei Ling di dalam kepala Zeng Niu, energi ini masih terasa kurang.
"Cih, Qi di sini tipis sekali! Pantas saja kultivator fana di benua ini lambat berkembang," cibir roh petir itu. "Niu, kapan kita akan membelah gunung lagi? Aku bosan!"
Istirahatlah. Kita baru saja tiba, tegur Zeng Niu santai di Lautan Kesadarannya.
Setibanya di Paviliun Pedang Bayangan sebuah bangunan kayu elegan tiga lantai yang menjorok ke tepi tebing Tetua Mo Yin segera mengaktifkan Formasi Pengedap Suara tingkat Golden Core.
Mereka semua duduk melingkar di ruang tamu paviliun. Tetua Mo Yin menghela napas panjang, menatap Zeng Niu lekat-lekat.
"Sekarang, ceritakan padaku," ucap Mo Yin serius. "Satu tahun yang lalu, Formasi Alam Rahasia Tengkorak Beku runtuh. Kami mengira semua murid pelataran luar yang dikirim ke sana tewas, termasuk Tetua Zhao yang saat itu sedang memantau dari pusat formasi. Bagaimana kau bisa hidup? Dan bagaimana kultivasimu bisa mencapai Foundation Establishment dengan fisik yang semengerikan ini?"
Zeng Niu mengambil cangkir teh yang masih kosong di depannya.
"Aku jatuh ke retakan dimensi yang terhubung ke Benua Selatan," jawab Zeng Niu dengan nada yang sangat datar, seolah ia sedang bercerita tentang perjalanannya ke pasar. "Dantianku dihancurkan oleh Tetua sekte sana. Aku menjadi manusia fana, memungut pedang patah, membantai sekte mereka, menjahit ulang Dantianku dengan racun, menemukan kolam es, dan pulang ke sini."
Kesunyian pekat turun di ruang tamu itu.
Bao Tu menutupi wajahnya dengan telapak tangan besar. Xiaoyu menggelengkan kepalanya pasrah. Qian Fugui sibuk mengunyah kue di meja seolah tidak peduli, meski tangannya sedikit bergetar mengingat kengerian yang dihilangkan Zeng Niu dari ceritanya.
Urat di dahi Tetua Mo Yin berkedut hebat.
"Menjahit... Dantianmu dengan racun? Membantai sekte Benua Selatan sebagai fana?" Tetua Mo Yin menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya. Ia menoleh ke arah Zhao Ying, berharap mendapat penjelasan yang lebih masuk akal. "Tetua Zhao... apakah muridku yang tidak tahu sopan santun ini mengarang cerita?"
Zhao Ying, yang duduk di sebelah Zeng Niu, dengan sangat anggun mengambil teko porselen dan menuangkan teh hangat ke dalam cangkir Zeng Niu terlebih dahulu, sebelum menuangkan untuk dirinya sendiri. Sebuah tindakan melayani yang membuat mata Mo Yin nyaris melompat dari rongganya.
"Dia tidak berbohong, Tetua Mo," jawab Zhao Ying, suaranya tenang bak gemericik air surgawi. "Bahkan, dia meringkas bagian di mana ia harus menahan rasa sakit dikuliti hidup-hidup, dan bagaimana ia menantang arwah dewa kuno demi membuka jalan pulang. Zeng Niu... adalah pria yang jalannya tidak bisa diukur dengan logika langit fana."
Mendengar pujian tulus dan tatapan lembut Zhao Ying pada Zeng Niu, Mo Yin merasa usianya memendek sepuluh tahun. Ia segera menenggak habis teh di cangkirnya untuk menenangkan diri.
"Baiklah... Aku tidak akan bertanya lebih jauh tentang rahasia kalian di bawah sana," ucap Mo Yin, wajahnya kembali mengeras, memancarkan aura seorang Jenderal Akademi. "Namun, kepulanganmu hari ini membawa masalah besar, Zeng Niu."
Zeng Niu menyesap tehnya. "Karena Lu Feng?"
"Lu Feng hanyalah anjing peliharaan," dengus Mo Yin meremehkan. "Tuan sebenarnya adalah Wakil Kepala Akademi, Tetua Agung Gui Huan. Saat kau hilang, Kepala Akademi mengalami cedera serius setelah mencoba menambal segel dimensi di utara dan terpaksa melakukan mediasi tertutup. Sejak saat itu, Gui Huan mengambil alih kendali akademi."
Mo Yin memukul meja dengan pelan namun penuh tenaga.
"Gui Huan sedang mencoba menyingkirkan faksi loyalis Kepala Akademi, termasuk aku. Dia mencoret namamu dari daftar murid, mengklaim kau mati karena 'kurang bakat dan lari dari tugas'. Jika dia tahu kau kembali hidup-hidup, terlebih dengan kultivasi Foundation Establishment, dia pasti akan mencari cara untuk menyingkirkanmu secara legal agar Paviliun Pedang Bayangan tidak mendapatkan tambahan kekuatan."
"Menyingkirkan secara legal?" Zeng Niu menyeringai tipis, ujung jarinya mengetuk meja. "Bagaimana caranya?"
"Dua hari lagi, akademi akan mengadakan Seleksi Garda Depan," jelas Xiaoyu yang lebih tahu soal politik internal. "Ini adalah turnamen hidup mati untuk memilih murid inti yang akan dikirim ke medan perang melawan invasi Suku Li dan sekte sesat. Gui Huan pasti akan memaksamu ikut, dan dia akan menyuruh murid-murid setianya dari Pelataran Dalam untuk 'membunuhmu tanpa sengaja' di atas arena."
Bao Tu menggertakkan giginya. "Bajingan tua Gui Huan itu! Dulu dia yang mengusulkan agar murid pelataran luar dijadikan umpan di Alam Rahasia!"
Zeng Niu terdiam. Ia memandangi pantulan wajahnya di permukaan teh. Ingatan tentang murid-murid fana yang mati konyol di salju Benua Selatan kembali melintas. Darah nya perlahan mendidih.
"Aku akan ikut," ucap Zeng Niu datar.
"Zeng Niu, kau tidak mengerti!" cegah Mo Yin. "Murid Pelataran Dalam di bawah Gui Huan berada di tahap Foundation Establishment Tahap Menengah hingga Puncak! Mereka dilatih dengan sumber daya terbaik dan artefak tingkat bumi! Kau baru saja pulih!"
"Tetua Mo," Zeng Niu mengangkat wajahnya, menatap lurus mata gurunya dengan Niat Membunuh yang sangat pekat, sedingin pedang es yang ditempelkan ke urat nadi. "Aku telah menginjak-injak ahli Nascent Soul di Makam Asura. Aku telah membelah Tetua Tahap Menengah di Kolam Kunlun layaknya memotong tahu. Jika Gui Huan ingin mengirim murid-murid emasnya kepadaku di atas arena yang sah..."
Seringai kejam Sang Algojo mengembang sempurna. "...maka aku berterima kasih padanya karena memberiku samsak untuk pemanasan."
Bulu kuduk Tetua Mo Yin berdiri seketika. Selama ratusan tahun ia berkultivasi, baru kali ini ia merasa terintimidasi oleh muridnya sendiri!
Zhao Ying menutupi senyum bangganya dengan cangkir teh. Ia tahu, di dunia ini, tidak ada yang bisa menghentikan pemuda gila ini jika ia sudah memutuskan untuk mencabut nyawa.
"Aku akan kembali ke Puncak Bintang Es untuk mengambil kembali posisiku sebagai Tetua Pelataran Dalam," ucap Zhao Ying tiba-tiba. "Dengan begitu, Gui Huan tidak akan berani melakukan kecurangan terbuka dari kursi penonton saat turnamen berlangsung."
Mo Yin mengangguk cepat. "Bagus. Jika Tetua Zhao berada di pihak kita, faksi Gui Huan akan berpikir dua kali."
Tepat pada saat itu, sebuah fluktuasi Qi yang sangat agresif menghantam Formasi Pengedap Suara Paviliun Pedang Bayangan.
DUAANG!
Formasi itu bergetar. Sebuah token kayu berwarna merah darah yang memancarkan aura Golden Core menembus jendela dan tertancap kuat di pilar kayu tepat di sebelah wajah Bao Tu, membuat pemuda gemuk itu menjerit kaget dan menjatuhkan kue nya.
"Surat Perintah Berdarah dari Aula Penegak Hukum!" desis Mo Yin, wajahnya menjadi sangat gelap.
Dari luar paviliun, sebuah suara angkuh yang diperkuat Qi menggema ke seluruh bukit bambu.
"Murid Pengkhianat Zeng Niu! Kau dituduh melakukan desersi dari Alam Rahasia dan melukai Kakak Seperguruan Lu Feng tanpa alasan! Atas perintah Tetua Agung Gui Huan, serahkan dirimu ke Aula Penegak Hukum sekarang juga untuk dicabut kultivasinya dan dibuang ke Penjara Es! Jika kau melawan, kau akan dieksekusi di tempat!"
Di luar paviliun, melayang tiga orang Tetua Penegak Hukum berjubah merah darah. Mereka semua berada di tahap Golden Core Awal. Di belakang mereka, puluhan murid penegak hukum bersenjata lengkap telah mengepung tempat itu.
"Sialan! Berita kepulanganmu sampai ke telinga mereka terlalu cepat!" umpat Mo Yin, menghunus pedangnya yang memancarkan cahaya biru bayangan. "Zeng Niu, kalian lewat jalan belakang! Biar aku yang menahan anjing-anjing Gui Huan ini!"
Xiaoyu dan Bao Tu langsung mengeluarkan senjata mereka, bersiap bertarung mati-matian. Fugui sudah bersembunyi di bawah meja sambil memeluk kepalanya.
Namun, Zeng Niu tidak bergerak. Ia berdiri dengan santai, membersihkan debu dari lengan jubah hitamnya.
"Jalan belakang diperuntukkan bagi pengecut," ucap Zeng Niu.
Zeng Niu melangkah menuju pintu utama paviliun dan menendangnya hingga terbuka lebar.
Angin dingin menyapu masuk. Zeng Niu melangkah keluar ke teras kayu, menatap tiga Tetua Golden Core yang melayang arogan di langit.
"Kalian mencariku?" tanya Zeng Niu, suaranya tidak keras, namun menggema di seluruh pegunungan berkat dorongan Qi yang sangat murni.
"Berlututlah, Sampah!" bentak salah satu Tetua berjubah merah. "Jika kau tidak menghancurkan Dantianmu sendiri dalam tiga tarikan napas, kami akan merobek anggota tubuhmu!"
Zeng Niu perlahan mengangkat tangan kanannya ke udara. Langit yang kelabu di atas Akademi Jiannan tiba-tiba bergemuruh.
"Dantianku baru saja selesai dibangun ulang," Zeng Niu menyeringai, kilat ungu mulai memancar dari kedua pupil matanya. "Jika kalian menginginkannya, silakan turun dan ambil sendiri."
CTAAAAR!
Petir surgawi menyambar dari awan, jatuh tepat ke telapak tangan Zeng Niu, memadat menjadi Pedang Petir Dewa yang bersinar membutakan. Niat Pedang dari hukum penghakiman langit meledak, menekan fluktuasi Golden Core ketiga Tetua itu hingga mereka terhuyung turun dari langit!