NovelToon NovelToon
Putri Tanpa Cahaya

Putri Tanpa Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Akademi Sihir / Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dyana

Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 – Niat yang Tersembunyi

Malam itu…

Hujan turun pelan di luar akademi.

Butiran air jatuh satu per satu, membasahi dinding batu tua dan jendela tinggi yang berderet di sepanjang lorong. Suaranya lembut… namun konstan.

Seolah mengisi kesunyian.

Udara menjadi dingin.

Sepi.

Dan entah kenapa menekan.

Di dalam ruang alkimia, cahaya lampu sihir berpendar lembut, berwarna keemasan redup. Bayangan bergerak pelan di dinding, mengikuti nyala api kecil yang bergetar.

Sakura duduk di kursi kayu.

Tubuhnya penuh luka baru.

Beberapa masih segar. Beberapa lainnya mulai mengering. Balutan sederhana terlihat di lengannya, dan sedikit noda darah masih tertinggal di kerah bajunya.

Namun ia tidak mengeluh.

Tidak lagi.

Di depannya Master Kaelen Arcturus berdiri dengan tenang.

Seperti biasa.

Gerakannya halus. Terukur. Hampir tanpa suara saat ia mencampur berbagai bahan di atas meja.

Botol kaca. Bubuk halus. Cairan berwarna gelap.

Semua bercampur dalam ritme yang terlatih.

“Minum ini.”

Suaranya datar.

Sakura menerima botol itu tanpa bertanya.

Ia sudah terbiasa.

Cairan itu masuk ke dalam tubuhnya hangat.

Menyebar perlahan.

Namun kali ini…

Tidak terlalu menyakitkan.

Sakura sedikit mengernyit.

“…Berbeda.”

Kaelen tidak menoleh.

“Perubahan.”

Jawabannya singkat.

“Tubuhmu mulai menyesuaikan.”

Sakura menatap tangannya.

Jari-jarinya masih sedikit gemetar.

Namun lebih ringan dari sebelumnya.

“…Aku merasa sedikit lebih ringan.”

Kaelen mengangguk pelan.

“Karena beberapa meridianmu mulai terbuka.”

Sakura terdiam.

Ia tidak sepenuhnya mengerti.

Namun ia bisa merasakannya.

Sesuatu di dalam tubuhnya mulai berubah.

“Sedikit saja,” lanjut Kaelen.

Nada suaranya tetap datar.

“Jangan berharap terlalu banyak.”

Namun tatapannya tidak berpindah dari Sakura.

Terlalu fokus.

Terlalu dalam.

Seolah ia tidak hanya melihat tubuh Sakura

tapi sesuatu yang jauh lebih dalam dari itu.

Sakura merasakannya.

Dan untuk pertama kalinya

ia merasa sedikit… tidak nyaman.

“…Kenapa?” tanyanya pelan.

Kaelen sedikit mengernyit.

“Kenapa… Anda membantu saya sejauh ini?”

Hening.

Pertanyaan itu menggantung.

Tidak ringan.

Tidak sederhana.

Kaelen tidak langsung menjawab.

Ia berbalik.

Berjalan pelan ke meja lain.

Mengambil botol berbeda.

Cairan di dalamnya berwarna lebih gelap.

Lebih pekat.

“…Karena kau berbeda.”

Jawaban itu keluar dengan mudah.

Terlalu mudah.

Sakura menunduk.

Jawaban itu… tidak cukup.

“Banyak murid terluka di akademi ini,” lanjut Kaelen.

Tangannya tetap bergerak.

Mencampur bahan.

Mengaduk perlahan.

“Tapi tidak semua… bertahan seperti dirimu.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu menoleh.

Tatapannya kembali terkunci pada Sakura.

“Dan tidak semua… punya kondisi seperti ini.”

Tangannya terangkat sedikit.

Menunjuk tepat ke dada Sakura.

“Meridian rusak… tapi tidak hancur.”

Matanya menyipit.

“Itu menarik.”

Sakura mengernyit.

Ada sesuatu dalam kata “menarik” itu…

yang terasa dingin.

“…Hanya karena itu?”

Ia bertanya lagi.

Lebih pelan.

Lebih hati-hati.

Kaelen menatapnya.

Lama.

Tanpa berkedip.

Untuk sesaat ada sesuatu di matanya.

Sesuatu yang tidak bisa dibaca.

“…Sebagian.”

Jawaban itu lebih jujur.

Namun masih belum lengkap.

Sakura tidak melanjutkan.

Namun di dalam hatinya ada sesuatu yang bergerak.

Rasa tidak nyaman.

Kecil.

Namun nyata.

“Sekarang berdiri.”

Nada suara Kaelen berubah.

Kembali profesional.

Tidak memberi ruang untuk berpikir terlalu lama.

Sakura berdiri.

Tubuhnya masih lelah.

Namun ia tetap tegak.

Kaelen mengambil botol lain.

Lebih kecil.

Namun aura dari cairan di dalamnya terasa berbeda.

Lebih… berat.

“Kali ini… kita paksa alirannya.”

Sakura langsung menegang.

“…Paksa?”

Kaelen menatapnya.

Dingin.

Tenang.

“Kalau kita menunggu terlalu lama,” katanya,

“tubuhmu tidak akan pernah siap.”

Sakura menggertakkan gigi.

Ia tahu.

Ini bukan latihan biasa.

Namun ia tidak mundur.

Ia mengambil botol itu.

Menatapnya sejenak.

Lalu meminumnya.

Beberapa detik tidak terjadi apa-apa.

Tenang.

Sunyi.

Namun hanya sesaat.

“AAAH!”

Rasa sakit menghantam.

Tiba-tiba.

Kuat.

Tidak seperti sebelumnya ini lebih dalam.

Lebih brutal.

Tubuh Sakura langsung jatuh berlutut.

Tangannya mencengkeram lantai.

Aliran energi di dalam tubuhnya

meledak.

Tidak terkendali.

Seperti arus deras yang dipaksa masuk ke saluran sempit.

“UGHH!”

Napasnya kacau.

Matanya bergetar.

Ia bisa merasakannya energi itu bergerak.

Memaksa jalan.

Merobek.

Menghantam setiap bagian tubuhnya.

Kaelen tidak bergerak.

Ia hanya berdiri.

Mengamati.

Matanya tajam.

Menghitung.

Menilai.

“Jangan melawan.”

Suaranya tenang.

Namun tegas.

Sakura menggertakkan gigi.

“Kalau kau menolaknya… meridianmu akan hancur.”

Kata-kata itu seperti pisau.

Jelas.

Tanpa emosi.

Sakura terdiam.

Rasa sakitnya masih menggila.

Namun perlahan ia berhenti melawan.

Ia mencoba…

mengikuti.

Mengalir.

Seperti yang Kaelen katakan.

Perlahan…

sedikit demi sedikit…

energi itu mulai stabil.

Tidak sepenuhnya namun cukup.

Untuk tidak menghancurkannya.

Napasnya masih berat.

Namun tidak lagi kacau.

Kaelen menyipitkan mata.

“…Bagus.”

Namun di dalam pikirannya lebih cepat dari perkiraan…

Tatapannya berubah.

Lebih dalam.

Lebih serius.

Kalau begini… dia akan mencapai tahap itu lebih cepat…

Ia tidak menyelesaikan pikirannya.

Namun satu hal jelas ini menguntungkannya.

Sakura akhirnya jatuh terduduk.

Tubuhnya lemas.

Namun masih sadar.

“…Kenapa… harus secepat ini…”

Suaranya lemah.

Namun penuh tekanan.

Kaelen menjawab tanpa ragu.

“Karena waktumu tidak banyak.”

Sakura membeku.

Matanya sedikit melebar.

“…Maksudnya?”

Hening.

Kaelen berbalik.

Membelakanginya.

“Kalau kau terus seperti ini… tubuhmu akan hancur.”

Jawaban itu benar.

Namun tidak sepenuhnya jujur.

Sakura menunduk.

Ia tidak tahu harus percaya atau tidak.

Namun satu hal jelas ia tidak punya pilihan lain.

Beberapa saat kemudian latihan selesai.

Sakura bersiap pulang.

Langkahnya masih berat.

Namun lebih stabil dari sebelumnya.

Ia hampir mencapai pintu saat suara Kaelen menghentikannya.

“Jangan mendekati pintu itu.”

Nada suaranya lebih tajam dari biasanya.

Sakura berhenti.

“…Kenapa?”

Kali ini Kaelen langsung menjawab.

“Karena kau belum siap.”

Ia menoleh.

Tatapannya dingin.

“Kalau kau mendekat sekarang…”

“…kau akan kehilangan kendali.”

Sakura terdiam.

Jantungnya berdetak pelan.

Ia mengangguk.

“…Baik.”

Namun saat ia berbalik pikirannya tidak tenang.

Rasa penasaran itu…

tidak hilang.

Tidak sedikit pun.

Setelah Sakura pergi ruangan kembali sunyi.

Hanya suara hujan di luar.

Dan cahaya lampu yang bergetar pelan.

Kaelen berdiri sendirian.

Wajahnya tidak lagi setenang tadi.

Ekspresinya berubah.

Lebih dingin.

Lebih serius.

Ia mengangkat tangannya.

Perlahan.

Lingkaran sihir kecil muncul di udara.

Berwarna gelap.

Berputar perlahan.

Energinya… berbeda dari sihir biasa.

“…Perkembangan stabil.”

Suaranya rendah.

Seolah berbicara pada sesuatu atau seseorang yang tidak terlihat.

“Meridiannya mulai terbuka.”

Hening.

Beberapa detik berlalu.

Lalu suara samar menjawab.

Tidak jelas.

Tidak berbentuk.

Namun cukup untuk dipahami.

Kaelen menunduk sedikit.

“…Namun belum siap.”

Matanya menyipit.

“Jika dipaksakan sekarang… dia akan hancur.”

Hening lagi.

Lebih lama.

Suara itu kembali.

Lebih dalam.

Lebih berat.

Seolah memberi perintah.

Kaelen menghela napas pelan.

“…Aku mengerti.”

Nada suaranya tetap tenang.

Namun ada sedikit tekanan di dalamnya.

“…Aku akan mempercepat prosesnya.”

Lingkaran sihir itu bergetar.

Lalu perlahan menghilang.

Seolah tidak pernah ada.

Kaelen menurunkan tangannya.

Wajahnya kembali datar.

Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.

Bukan sekadar rasa ingin tahu.

Bukan sekadar pengamatan.

Tapi tujuan jelas.

Terarah.

Dan dingin.

Matanya menatap ke arah pintu ke arah yang sama dengan Sakura pergi.

“…Jangan hancur terlalu cepat.”

Bisiknya pelan.

Tidak terdengar oleh siapa pun.

“Karena aku masih membutuhkanmu.”

Hening.

Hanya suara hujan yang tersisa.

Dan di balik kegelapan sesuatu terus bergerak.

Perlahan.

Menunggu.

----

1
Yarim Yovan
menarik
Kali a Mimir
padahal ceritanya bagus kok sepi
Kali a Mimir: siap🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!