Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 21
Sudah genap satu Minggu rumah besar itu kehilangan satu sosok yang biasanya hadir, meski kehadirannya kerap terasa dingin seperti dinding batu yang sulit di sentuh. Dipta belum juga pulang sejak pertengkaran malam itu. Tidak ada kabar, tidak ada pesan singkat, bahkan sekedar panggilan untuk menanyakan rumah pun tak pernah datang.
Rumah itu tetap berdiri megah, tetap ramai oleh suara langkah kaki para pekerja, tetap hangat oleh tawa dua anak kecil yang berlarian kesana-kemari. Namun bagi Rana, ada ruang kosong yang terasa begitu nyata- ruang yang tidak bisa diisi oleh apa pun.
Sudah berkali-kali Alaric dan Masayu menanyakan keberadaan ayah mereka.
"Bunda...Ayah kerja terus, ya?" tanya Masayu dengan mungilnya semalam, matanya bulan penuh rasa ingin tahu.
Rana tersenyum tipis, menyembunyikan getir yang menggumpal di dada.
"Iya, sayang. Ayah sedang sibuk sekali. Kalau pekerjaan sudah selesai, Ayah pasti pulang."
Masayu mengangguk polos. Anak sekecil itu masih percaya bahwa semua penjelasan bundanya adalah kebenaran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi itu, cahaya matahari masuk dari sela-sela tirai kamar, menimpa lantai marmer dengan warna keemasan yang lembut. Rana berjongkok di hadapan putra sulungnya, memasangkan sepatu hitam kecil milik Alaric dengan rapi.
Namun berbeda dari biasanya, wajah kecil itu terlihat murung. Bibirnya mengerucut, kedua alis mungilnya bertaut.
"Mas Al kok cemberut?" tanya Rana lembut sambil menepuk lutut putranya.
Alaric menunduk, memainkan seragam baju TK-nya.
"Padahal hari ini Mas Al pentas seni..." gumamnya pelan. "Mas Al mau nyanyi di panggung..."
Rana tersenyum hangat, mengusap pipi anak laki-lakinya.
"Itu kabar bagus, dong. Bunda pasti datang lihat Mas Al tampil."
Alih-alih terlihat senang, wajah Alaric justru semakin muram.
"Tapi Mas Al juga mau Ayah datang..."
Kalimat polos itu menohok tepat di jantung Rana. Sesat, perempuan itu terdiam. Luka di hatinya seperti dibuka paksa. Namun di depan anaknya, ia menelan semua sesak itu bulat-bulat.
"Coba kita kasih tahu Ayah, ya?" ucap Rana setenang mungkin.
Mata Alaric langsung berbinar. Bocah lima tahun itu segera meraih ponsel milik bundanya yang tergeletak di atas sofa. Dengan jemari kecilnya, ia membuka aplikasi WhatsApp- karena ia hafal betul wajah ayahnya dari foto profil yang terpajang.
Nama itu terpampang jelas.
Ayah.
Alaric menekan tombol panggil.
Satu kali...
Dua kali...
Nada sambung terdengar, namun tidak ada jawaban.
Panggilan itu berakhir begitu saja. Wajah kecil Alaric kembali meredup. Rana bisa melihat kekecewaan yang berusaha ditahan oleh anak seusia itu.
Namun Alaric tidak menyerah.
Dengan polos, ia menekan ikon mikrofon, lalu mendekatkan ponsel ke bibir mungilnya.
"Ayah...ini Mas Al." suaranya kecil, bening, dan begitu tulus. "Hari ini Mas Al pentas seni jam sembilan pagi. Mas Al nyanyi di sekolah..."
Bocah itu terdiam sejenak, lalu berkata dengan suara yang hampir seperti memohon-
"Ayah datang ya...Mas Al mau ayah lihat Mas Al nyanyi..."
Voice not itu terkirim.
Centang satu.
Lalu dua.
Sudah di baca? Belum.
Alaric memandangi layar beberapa saat, seolah berharap balasan datang saat itu juga.
Namun tak ada apa-apa.
Rana menahan napas panjang, lalu memeluk putranya erat.
"Ayo, Mas Al. Nanti terlambat sekolah."
Dengan langkah kecil yang masih menyisakan kecewa, Alaric berjalan menuju depan rumah. Di belakang mereka, Masayu yang digendong Mbak Sari tampak melambaikan ringan kepada Mbak Yuni yang masih beres-beres baju kotor.
"Dadah...Ayu mau cekolah..." celotehnya lucu, tak tahu ada hati kecil kakaknya yang sedang menunggu sesuatu yang mungkin tak akan datang.
Sementara Rana berdiri sesaat di ambang pintu. Matanya menatap layar ponsel. Voice not dari putranya masih terkirim tanpa balasan.
"Nyonya...mau saya panggilkan Pak Vito?" tawar Pak Yatno- satpam rumahnya itu memecah sunyi pada Rana.
Rana mengalihkan pandangannya dari ponsel, "tidak, Pak. Kebetulan ada acar di sekolah. Saya titip rumah, kemungkinan saya pulang sore. Kalau nanti Mas Dipta pulang lebih dulu...bilang saya saya dan anak-anak pulang ke rumah ibu saya."
"Baik, Nyah." Sahutnya seraya berjalan cepat ke arah gerbang rumah.
...****************...
Bersambung...