Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
"Stop di sini!" pinta Bella jauh sebelum memasuki gerbang perusahaan investasi yang saat ini dikelola oleh Fahri suaminya.
Fahri menginjak rem, menepi di pinggir jalan. "Kenapa, sayang?" tanya Fahri sambil menoleh ke arah Bella yang duduk di sampingnya.
Bella sengaja meminta Fahri berhenti, dia ingin turun di sana dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Dia tidak mau kedatangannya disalahartikan oleh karyawan lain, apalagi mengingat dua tahun pernikahan rahasia sebelumnya. Sampai saat ini tidak ada yang tau bahwa Fahri sudah menikah.
Setelah turun dari mobil, Fahri melengos ke arah Bella yang sudah menjauh dari pandangannya. Kening Fahri mengernyit, sebelah alisnya terangkat.
Ada apa dengan Bella? Padahal sejak bangun tadi hingga detik ini hubungan mereka baik-baik saja, keduanya masih mengobrol sepanjang perjalanan barusan.
Tidak ingin mendahului Bella, Fahri menginjak gas pelan, mengikuti dari belakang. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Setelah memastikan Bella sudah masuk ke gedung perusahaan, Fahri menjadi lega, dia memarkirkan mobil dan lekas turun.
"Pagi, Bu Bella." sapa Reza menyambut kedatangan Bella sambil tersenyum, dia sengaja menunggu di lobby lalu membawa Bella ke lantai lima.
Di atas sana, Reza mengantar Bella ke meja kerja yang ada di depan ruangan Fahri. Tak lupa pula dia memperkenalkan Bella kepada karyawan lain.
Untuk saat ini Bella bekerja sebagai sekretaris kedua, dia akan bekerja sama dengan sekretaris utama bernama Venny yang sudah lima tahun menjadi sekretaris Fahri.
"Hallo semuanya, mohon kerja samanya karena ini merupakan pengalaman pertama jadi sekretaris." ucap Bella sambil melambaikan tangan.
Para karyawan lain balik menyapa, ada yang senang menyambut kedatangan Bella ada juga yang julid.
"Tidak punya pengalaman tapi bisa masuk ke perusahaan sebesar ini, memangnya siapa dia?"
"Jangan-jangan masuk lewat pintu belakang."
"Padahal cantik loh, tapi..."
"Jaman sekarang sudah biasa, menjual kecantikan demi..."
"Demi cuan, hahaha..."
Beberapa karyawan menggosip dengan suara berbisik sambil sesekali menatap sinis ke arah Bella. Sementara Venny yang duduk di kursi meja kerjanya, nampak kesal dengan muka cemberut.
Sudah lima tahun jadi sekretaris tapi mejanya masih satu tempat dengan karyawan biasa, sedangkan Bella yang baru masuk diberi tempat di depan ruangan Fahri. Selain akses yang mudah dan cepat, bisa juga mengintip dari balik dinding kaca.
"Diam kalian!" ketus Venny kepada karyawan lain yang sedang menggosip.
"Sudah sudah, lanjutkan kerjaan kalian!" seru Reza usai mendengar suara riuh di meja karyawan, lalu meminta Bella duduk dan pamit undur diri.
Selang beberapa menit, tampak Fahri dan Reza berjalan sambil mengobrol. Semua karyawan berdiri, menyapa Fahri sambil membungkuk, tidak terkecuali dengan Bella.
"Pagi, Pak." sapa Bella dengan tangan bertaut dan punggung membungkuk.
"P-pak...?" ulang Fahri terbata dengan kening mengernyit, sedetik kemudian menoleh ke arah Reza, sorot matanya nyalang.
Melihat tatapan Fahri yang seakan ingin mengoyak tubuhnya, Reza gelagapan dan mengangkat kedua tangan sambil menggerakkannya ke kiri dan ke kanan dengan durasi cepat.
Fahri menggertakkan gigi, kemudian berbalik menatap Bella dengan tajam. Nyali Bella menciut, dia mengatup telapak tangan dengan mata berkedip beberapa kali memberi isyarat. Memohon agar Fahri tidak mengatakan apa-apa tentang dirinya.
"Pintar kamu, ya." gumam Fahri menahan kesal.
Bruk...
Pintu ruangan terhempas sesaat setelah Fahri masuk ke dalam.
Tidak lama setelah Fahri menghilang, Venny menghampiri Bella, meletakkan tumpukan dokumen dengan kasar. "Kerjakan ini!" perintah Venny dengan senyum sinis.
Semua pekerjaan hari ini dia limpahkan pada Bella, dia tersenyum licik berpikir anak baru yang tidak punya pengalaman seperti Bella tidak akan sanggup mengerjakannya.
Bella tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengangguk dan mulai bekerja tanpa memperdulikan Venny yang masih berdiri di samping meja kerjanya.
"Kamu..." Venny merentakkan kaki, kesal melihat Bella mengacuhkannya kemudian berlalu pergi dengan wajah cemberut.
Tengah asik merevisi beberapa dokumen yang ada, telepon di atas meja kerjanya berdering, Bella mengangkatnya.
"Iya, Pak." ucap Bella sesaat setelah panggilan itu tersambung.
"Pak puk, pak puk, masuk sini!" kesal Fahri bukan main kemudian memutus panggilan tersebut.
Bella menutup dokumen di hadapannya, dia bangkit dan berjalan ke ruangan Fahri.
Krek...
Pintu berderit, Bella melangkah masuk.
Ehm...
Bella terperanjat ketika tersandar di dinding samping pintu, bibirnya tenggelam di dalam mulut Fahri yang tiba-tiba menerkamnya, me1umat bibirnya dengan rakus seperti kesetanan, Bella kesulitan mengambil nafas.
Hah...
Nafas keduanya berhembus tak beraturan setelah tautan bibir mereka terlepas.
"Apa-apaan kamu," ketus Bella dengan nafas tersengal. Bukannya meminta maaf, dia malah membuat Fahri semakin kesal.
Dengan sebelah tangan, Fahri mengangkat enteng tubuh Bella, membawanya ke sofa dan mengukungnya.
Ehm...
Bibir keduanya kembali bertaut, Fahri menghisapnya kuat, me1umatnya hingga timbul tenggelam di balik mulutnya yang terbuka, mereka membelit lidah.
Fahri benar-benar menggila, dia turun mengecupi leher Bella dan sesekali menggigitnya, menghisapnya kuat sehingga meninggalkan bekas merah kebiruan.
Ah...
Bella mendezah kecil sebelum akhirnya tersadar melihat Fahri yang sudah terbakar gairah, nafas Fahri memburu ketika tangannya merayap masuk ke dalam pakaian Bella.
"Sadar, Fahri." ucap Bella sambil mendorong kepala Fahri dengan sebelah tangan, sedangkan tangan lainnya menahan tangan Fahri yang sudah menjalar di perutnya.
Hah...
Kepala Fahri terangkat, hembusan nafasnya tak beraturan menerpa wajah Bella. Fahri tidak tahan, kepalanya berdenyut, urat di keningnya menonjol, mengeluarkan keringat menahan rasa yang entah.
"Jangan sekarang!" pinta Bella sambil menyeka kening Fahri.
Fahri beranjak dari tubuh Bella, dia duduk di sofa, tepat di sebelah istrinya itu. Dia mengendurkan dasi, merentangkan tangan lalu menghirup udara sebanyak-banyaknya dan membuangnya kasar.
Huh...
Beberapa detik berselang, Fahri mengikis jarak, dia meraih kepala Bella dan mengecup keningnya, turun ke bibir memberi kecupan lembut.
Krek...
Pintu tiba-tiba terbuka, Bella terperanjat dan mendorong wajah Fahri, dia langsung berdiri dan merapikan pakaiannya, wajahnya memucat.
Fahri menggertakkan gigi ketika tubuhnya terhuyung di sofa akibat dorongan Bella yang cukup kuat, dia bangkit dengan kesal dan memutar tubuh ke arah pintu.
"Ka-ka-kalian..." Venny melongo, dia terbata-bata usai menyaksikan kejadian barusan.
"A-aku permisi dulu," gagap Bella kemudian berjalan cepat meninggalkan ruangan.
Sepeninggal Bella, Fahri memarahi Venny yang terlalu lancang memasuki ruangannya tanpa permisi. Emosinya tersulut, membuat Venny berdiri gemetaran dengan wajah tertunduk.
Fahri kemudian memperingatkan Venny agar kejadian serupa tidak terulang lagi, ini pertama dan terakhir kalinya. Jika terulang, Fahri tidak akan segan memecatnya.
Dengan wajah pucat, Venny mengangguk patuh kemudian meninggalkan ruangan Fahri. Saat melewati meja kerja Bella, Venny melirik dengan mata terbelalak dan mulut menggembung.
Dia marah melihat pemandangan tadi, bisa-bisanya anak baru merebut perhatian direktur utama perusahaan. Sedangkan dia yang sudah lima tahun menyukai Fahri, belum pernah sedekat itu.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡