Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Sudah pukul sebelas malam. Haris masih di luar, duduk di atas motornya, di tepi jalan. Ia membuka helm-nya,menghirup udara malam yang menyesakkan dadanya. Bukan udara malamnya, melainkan karena ia belum bisa menemukan Tara.
Ia sudah berkeliling ke semua tempat yang pernah didatangi Tara, termasuk ke rumah Devan. Namun nihil. Di rumah Devan yang baru pun, pemilik rumah tak terlihat. Rumahnya terlihat sepi. Haris mengusap wajahnya.
Kemana lagi ia mencari?
Haris mengambil sebungkus rokok, menarik satu batang, dan menyalakannya. Dalam diam ia berpikir, dimanakah tempat yang sekiranya Devan bisa menyembunyikan Tara tanpa ia duga?
Haris mengetahui semua property milik Devan. Baik itu rumah ataupun toko-tokonya. Devan tak mungkin menyembunyikan Tara di rumah barunya karena ia pun tahu Alan tinggal di sana.
Seiring hembusan asap dari rokoknya mengudara, pikirannya tertuju pada salah satu rumah, cukup jauh dari sini. Tapi, Devan jarang ke sana.
Haris menginjak rokoknya yang masih menyala. Gegas memakai helm dan menyalakan motornya menuju tempat itu.
Kembali ke Tara dan Devan yang masih duduk di sofa. Tara yang terus berbicara dan Devan yang hanya diam, menatap tajam.
“Percuma aku ngomong dari tadi, kamunya nggak denger,” keluh Tara. Ia belum mengantuk sama sekali.
Devan masih betah diam.
“Beliin aku ponsel gih. Atau buku novel. Aku jenuh kalau cuma diam aja di rumah sekecil ini. Aku tahu kamu pasti nggak bakal ngasih ponselku, jadi beliin aja yang baru.” Tara kembali berkata.
“Kamu mau nelpon David? Atau Haris, hah?” Devan balas menatap.
Tara mengedikkan bahunya,” Aku aja nggak hafal nomor mereka.”
Devan mengernyitkan dahi, jelas tak percaya dengan ucapan Tara.
“Aku mau tidur. Besok pagi aku mau sarapan nasi kuning di perempatan dekat kampus itu. Harus yang di sana. Aku udah hafal rasanya. Jadi, kamu nggak bakal bisa bohong. Setelah itu, siapin buku-buku novel terbaru yang tentang romance atau aksi. Apapun itu. Yang penting harus ada.” Tara berdiri, melangkah menuju kamar.
Sebelum ia membuka pintu kamar, Tara balik badan, melihat Devan,” Terserah kamu mau menahanku di sini berapa lama. Asal penuhi apapun yang aku minta. Buat aku nyaman sebelum aku berbuat hal yang nggak pernah kamu pikirin sebelumnya. Aku bisa melakukannya, Dev, kalau aku mau.”
Tara membuka pintu kamar, masuk, lalu menutupnya lagi. Terdengar kunci diputar. Tara mengunci kamarnya dari dalam agar Devan tak sembarangan masuk ke dalam kamarnya dan melakukan apapun yang pria itu mau.
Devan menghela napas panjang. Bukan ini yang dia mau. Dia mau Tara ketakutan, memohon padanya untuk dilepaskan, lalu ia bisa mengajukan syarat agar ia mau membebaskan Tara. Yaitu rujuk dengannya.
Namun, respon Tara justru sebaliknya. Tara bersikap santai seolah ia hanya pindah rumah. Devan penasaran, benarkah surat undangan pernikahan itu palsu?
***
Sial bagi Haris. Ia tak bisa memasuki kawasan perumahan yang ia duga tempat Devan menyembunyikan Tara. Sudah masuk jam malam.
Satpam kompleks melarangnya masuk dengan alasan apapun, kecuali kalau pemilik rumah menjemputnya di pos satpam. Ini demi kenyamanan dan keselamatan warga kompleks perumahan tersebut.
Haris menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia tidak bisa datang besok karena harus bekerja. Ia tak bisa meminta ijin pada perusahaan tempatnya bekerja.
Tak ada pilihan lain selain meminta bantuan David. David harus memastikan di dalam kompleks itu, adakah Tara di sana?
Haris menelepon David yang langsung diterima pria itu di seberang. David memang sedang menunggu kabar dari Haris.
“Gue punya alamat yang harus lo datengin besok pagi, Vid.” Haris menyebutkan nama kompleks perumahan itu beserta nomor rumah.
“Lo jangan gegabah. Lo cukup mengamati dan memastikan apa Tara ada di sama atau enggak. Selanjutnya, urusan gue. Kalau benar, gue bakal ajak Devan ngobrol dulu.”
David mengernyitkan dahi,” Kalau emang Tara ada di sana, aku bisa nyelamatin dia, Bang. Aku bisa meminta bantuan satpam buat buka pintunya. Kenapa mesti nunggu Abang ngobrol dulu sama Devan?”
David terlihat tak terima dengan saran Haris yang tidak sak set.
Haris menggeleng pelan, menempelkan ponsel di telinganya,” Lo nggak tahu selicik apa Devan, Vid. Gue minta jangan gegabah sebelum Devan bawa Tara lebih jauh lagi. Itu baru dugaan gue. Sisanya biar gue yang urus. Kalau lo nyelamatin Tara, bisa aja. Tapi, gimana kalau Devan marah dan merencanakan hal yang lebih buruk dari ini? Lo mau Tara dalam bahaya?”
David terdiam di kamarnya.
“Gue nyuruh lo karena besok gue harus kerja. Gerbang perumahan terbuka buat umum dari pagi sampai sore aja. Tolong ikuti cara main gue kalau lo pingin Tara aman dari Devan buat selamanya.”
David mengembuskan napas. Mengangguk.
“Ya, Bang. Besok aku ke sana dan ngabarin Abang.”
“Oke. Ingat, jangan berbuat hal yang bakal kamu sesali nantinya, Vid. Hati-hati. Devan bisa datang kapan aja. Sekali lo ketahuan Devan, gue jamin Tara bakal semakin jauh dari kita. Percaya sama gue, Tara baik-baik aja di sana. Devan nggak mungkin nyakitin dia selama Tara nurut. Dan gue yakin, Tara tahu cara menghadapi mantan suaminya itu.”
Tak ada pilihan lain selain mengangguk, mengikuti cara main Haris. Haris lebih tahu bagaimana Devan. David juga tak ingin Tara celaka. Maka, ia akan menuruti permintaan Haris.
***
Pagi harinya, Tara tersenyum melihat sebungkus nasi kuning di atas meja ruang tamu. Tapi hanya satu. Tara mengedarkan pandangan, tak terlihat tanda-tanda Devan ada di rumah ini.
Tara gegas membuka bungkusan nasi kuning favorite-nya dan menikmatinya. Devan membelikannya sesuai pesanan tadi malam. Bagus deh. Masih nurut.
Saat Tara sarapan, ia mendengar ketukan pintu dari luar. Dahiya mengernyit. Siapa yang mengetuk pintu?
Kalau Devan, jelas tak mungkin. Ini rumahnya. Ia pegang kuncinya. Kenapa mengetuk pintu?
Atau satpam kompleks?
Tara mencoba mengabaikannya, kembali fokus pada makanannya. Ketukan pintu kembali terdengar diiringi suara pelan.
Tara mematung. Ia menoleh ke pintu. Berdiri dan menyibak hordeng. Mata Tara membulat. David berdiri di depan pintu, mengetuk, dan memanggil namanya dengan pelan.
“David? David!” Tara mengetuk kaca jendela.
David yang berada di luar, menoleh ke samping. Ke jendela. Ia tak bisa melihat apapun karena kaca jendela Devan gelap dari luar.
Demi melihat David menoleh ke arahnya, Tara mengetuk lagi jendela dan berseru sedikit kencang.
“David! Aku di dalam!”
David beranjak ke jendela, mengintip. Matanya terbelalak saat bertatapan dengan mata Tara. David tersenyum lega.
“Tara? Kamu baik-baik aja, Sayang?” Seru David.
Tara mengangguk. Matanya berkaca-kaca. Melihat David membuatnya ingin menangis.
David terus mengintip ke arah jendela yang dipasangi teralis dari besi.
“Buka jendelanya, Sayang.”
Tara membuka kuncinya. Jendela terbuka sedikit. Kini, mereka bisa berhadapan dibatasi teralis itu. David menyentuh jemari Tara sebisanya.
“Kamu sungguh baik-baik aja, Sayang?” David menatap khawatir pada Tara.
Tara mengangguk, balas menyentuh jemari David sebisanya.
“Nggak terluka?”
Tara menggeleng,” Aku baik. Tahu dari mana rumah ini, Vid?”
“Abang yang ngasih alamatnya. Aku nggak bisa ngeluarin kamu dari sana, Sayang. Abang bilang itu urusan dia. Ini demi keselamatan kamu.”
Tara mengangguk, mengerti. Haris lebih mengenal Devan ketimbang dirinya.
“Kamu harus pergi dari sini, Vid. Bilang sama Abang. Aku ada di sini dan baik-baik aja.” Tara melepaskan tangan David dari jemarinya.
Walau enggan, tapi Tara benar. Ia tak boleh terlalu lama di sini. Devan bisa datang kapan saja.
“Tunggu Abang ya. Aku juga akan menunggumu, Sayang.”
Tara mengangguk,” Aku mencintaimu, Vid.”
David balas mengangguk,” Aku lebih mencintaimu, Sayang. Baik-baik ya di sini. Aku akan segera ngabarin Abang.”
Tara menutup kembali jendela. David mundur, menatap sejenak sebelum pergi dari sana. Tara menatap kepergian David dari jendela,” Sepertinya, pernikahan kita harus ditunda.”
Bersambung…